
Dua hari telah berlalu sejak Riyan meninggalkan Kota Jakarta. Riyan yang sudah berada di kota asalnya yaitu Muriya, melakukan keseharian aktifitas seperti biasa. Tidak ada kejadian yang mengganggu hidupnya, semuanya berjalan dengan normal di Muriya. Sayangnya kedamaian itu tidak berlaku di daerah lain, kerusuhan dan bentrokan yang terjadi di berbagai daerah sering menjadi berita di televisi.
Kerusuhan yang di pelopori oleh kelompok Kurassha telah dimulai, bentrok antara warga dengan aparat sering menjadi berita utama. Para Agen AII secara diam-diam melakukan tugas mereka menghabisi maupun menangkap anggota kurassha yang menjadi dalang kejadian tersebut.
Malam itu bulan purnama bersinar terang di langit hitam kota Muriya, Riyan sedang bersantai dengan Cindy di sebuah cafe ditemani alunan lagu live musik.
"aku tidak menyangka kalau perkembangan kemanpuanmu secepat ini" ucap Riyan
"Ini juga berkat bantuan Lisa yang selalu menemaniku latihan diwaktu senggang, lagipula dia juga sendirian karena prof Gema masih belum kembali" balas Cindy
"begitu ya"
Pembicaraan mereka terus berlanjut menghabiskan malam, sesekali gelak tawa hadir diantara mereka. Setelah perbincangan lumayan lama, sebuah pertanyaan kemudian keluar dari mulut Cindy.
"Jadi bagaimana?mau nggak?" tanya Cindy
Saat itu Cindy menanyakan mengenai ajakannya untuk menyaksikan turnamen silat sejagat yang diikuti pamannya. Karena untuk satu minggu kedepan, murid kelas satu dan dua diliburkan untuk pelaksanaan persiapan ujian kelulusan kelas tiga.
"Memang belum selesai?sudah beberapa hari kan?" ucap Riyan
"Masih, kan pesertanya dari seluruh Indonesia jadi pasti masih lumayan lama kan. Kemarin kakek telpon katanya paman terus mengalahkan pesaingnya dan terus lanjut bertanding" jelas Cindy
"wah, paman mu memang hebat" ucap Riyan
"trus?" balas Cindy sambil menatap Riyan dengan senyum manis
"haaah kau ini,,yasudah kalau kamu nggak masalah sih nggak apa. Sudah ijin orang tua?" balas Riyan
"Sudah kok, papa juga katanya ada pertemuan di Sumatra, jadi berangkat sama-sama aja" ucap Cindy
Riyan akhirnya setuju menemani Cindy berangkat menemui kakek dan pamannya yang sedang mengikuti turnamen silat.
"Kapan berangkat?" tanya Riyan
__ADS_1
"Lusa"
Riyan mengangguk pelan beberapa kali sebagai isyarat konfirmasi atas perkataan Cindy sambil meminum coffemix dari sedotan. Seperti biasa Riyan mengantarkan Cindy pulang, namun kali ini tidak menggunakan motor melainkan mobil.
*Sumatra*
Diwaktu yang sama, pada sebuah Desa berlokasi di pulau Pagai selatan yang bernama desa Makopasus, sebuah desa yang baru saja terbentuk dan menjadi pilihan turnamen silat sejagat tahun ini karena lokasi yang selalu dijadikan tempat turnamen sebelumnya telah hancur terkena gempa.
Terdapat suatu lokasi dimana banyak pondok seukuran perumahan sederhana yang tersusun rapi untuk setiap perguruan silat yang hadir, dimana merupakan tempat berkumpul dan beristirahat bagi para peserta turnamen. Malam itu usai melakukan meditasi di dalam pondok peristirahatannya, Haris yaitu paman Cindy bergabung untuk makan malam dengan ayahnya yang mana adalah kakek Cindy.
"Bagaimana menurutmu dengan peserta yang tersisa, apa kau yakin bisa menang?" tanya kakek Cindy
"Entahlah ayah, semua yang hadir merupakan pemimpin perguruan dan yang tersisa kali ini pasti lebih sulit dari hari ini, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin" sahut paman Cindy
"Ya, memang ada beberapa jurus silat yang kuat. Sebaiknya kau istirahat usai makan untuk mempersiapkan diri buat besok"
Di Malam yang gelap itu, cahaya bulan purnama bersinar terang menyinari atap setiap pondok yang ada di desa makopasus. Kesunyian malam berlalu dengan cepat di tempat yang sunyi dan tenang itu.
***
Tepat disebelah utara desa, terdapat sebuah bangunan seluas 300 meter persegi dengan atap berbentuk lingkaran, didalam bangunan tersebut terdapat panggung setinggi 1 meter dengan ukuran luas 10 meter persegi tepat ditengah bangunan yang dikelilingi oleh kursi penonton. Selain itu juga terdapat arena kecil yang tersusun sebanyak 6 buah dengan lantai yang merupakan matras tepat di sekitar panggung besar.
Pada sisi utara panggung, terlihat sebuah tempat yang terdiri dari kursi dengan sandaran setinggi 2 meter dimana tempat itu disediakan untuk mereka yang dianggap sebagai para tetua atau master oleh para pesilat di Indonesia, kehadiran orang-orang itu bertindak sebagai juri sekaligus untuk mencegah perkelahian yang berlebihan antar peserta turnamen selama kegiatan berlangsung.
Setelah semua orang berkumpul didalam bangunan itu, para peserta diminta berbaris didepan panggung dan penonton menempati kursinya. Sesaat kemudian sebuah pria yang diperkirakan berumur 47 tahun yang ditunjuk sebagai pemandu acara, berjalan ke depan seluruh peserta untuk membuka acara pertarungan hari ini.
Bersamaan dengan itu, lima orang pria paruh baya menaiki tempat khusus yang disediakan untuk para tetua. Dua diantaranya menggunakan penutup wajah, mereka duduk pada masing-masing kursi dengan sandaran yang cukup tinggi itu.
"selamat kepada para petarung yang ada disini, kalian merupakan petarung yang lebih baik dari para petarung yang gugur kemarin. Dan hari ini, akan ada separuh dari kalian yang akan melanjutkan untuk mendapatkan kehormatan bertarung di atas panggung yang ada dibelakang saya ini. Dan saya harap kalian semua sudah siap" ucap pemandu acara
Pemandu acara melambaikan tangan kanannya kepada beberapa orang di sisi kanan, beberapa saat kemudian dua orang membawa sebuah papan besar yang sudah tersusun skema pertarungan antara nomer genap vs ganjil dengan sistem gugur. Selain papan yang diletakkan dibawah panggung, seorang lagi membawa sebuah kotak yang berisi nomor para peserta dari 1 sampai 56. Setiap peserta dipanggil untuk maju dan dipersilahkan mengambil nomor secara acak dari dalam kotak, dimana nama orang yang mengambil nomer tersebut akan ditulis menggantikan nomor yang tertulis di papan.
"untunglah kita di kelompok yang sama" ucap wira setelah mengetahui paman Cindy mendapatkan nomer 24 sedang dia 32 sehingga mereka tidak akan bertanding satu sama lain.
__ADS_1
"ya,,setidaknya tidak untuk hari ini" balas paman Cindy
"kau benar, karena kita berasal dari daerah yang sama jadi paling tidak salah satu dari kita bisa menjuarai turnamen kali ini" balas Wira
Setelah seluruh peserta mendapatkan lawan bertandingnya, pertandingan pun dimulai setelah seluruh peserta mendapatkan nomer urutan masing-masing.
Dengan jumlah arena yang hanya berjumlah enam buah membuat mereka harus bergantian menaiki arena tersebut. Matahari telah meninggi namun panas matahari yang menyentuh kulit para peserta membuat mereka lebih bersemangat, hampir separuh dari mereka telah menyelesaikan pertarungan.
Tiba pertarungan paman Cindy, beliau menghadapi perguruan silat yang berasal dari daerah Tenggarong. Seorang pria dengan perawakan sedang yang mengenakan pakaian silat berwarna biru. Serangan cepat dari lawannya tidak dapat diremehkan, pertarungan saat ini memang berada pada tingkat yang berbeda dari kemarin.
"tak..tak...tak" tangkisan setiap tendangan dan pukulan dari keduanya membuat orang-orang yang menyaksikan menjadi tegang.
Seketika sebuah tendangan keras kearah wajah paman Cindy yang berasal dari lawannya membuat tubuhnya terjatuh, darah mengalir keluar dari mulut paman Cindy dan menetes dilantai arena. Kakek yang menyaksikan kejadian tersebut merasa sedikit khawatir, tangannya mengepal menahan emosi berharap putranya bangkit melakukan perlawanan.
Paman Cindy bangkit dan melakukan serangan balasan, dua kali tendangan secara bergantian dilancarkan namun dapat dihalau oleh lawannya. Paman Cindy sedikit meningkatkan kecepatan serangannya sambil mencari celah untuk melakukan serangan kejutan agar dapat merobohkan lawan secara seketika.
Sebuah gerakan tipuan akhirnya membuat celah lawannya terbuka, paman Cindy melompat bersamaan dengan itu melakukan tendangan samping. Saat tangan lawannya menghadang untuk melakukan tangkisan, arah tendangan paman Cindy berubah menuju atas kemudian turun dengan cepat mengenai kepala atas lawannya. Teknik petir langit, teknik yang sama yang dilakukan Cindy saat menjatuhkan murid dari perguruan silat harimau putih sekarang berhasil membawa pamannya maju ketahap selanjutnya.
"menunjukkan teknik tinggi seperti itu, apa dia tidak khawatir diketahui lawannya besok. Atau dia punya jurus yang lebih hebat lagi?" gumam Wira yang berdiri di luar arena.
Usai memberi penghormatan, paman Cindy turun dari Arena, kemudian salah seorang menghapus nama peserta yang telah dikalahkan dari papan tulis.
Sore itu seluruh pertandingan telah usai dan menyisakan 28 orang untuk melanjutkan pertarungan besok di atas panggung besar, Wira dan salah satu murid seniornya yang juga guru di perguruan harimau putih termasuk kedalamnya. Peserta yang kalah diperbolehkan untuk meninggalkan desa atau tetap tinggal menyaksikan kejuaraan sampai akhir.
Saat senja, paman dan Kakek Cindy berdiri menghadap laut menyaksikan ombak keemasan dibawah cahaya matahari yang menghempas ke pasir pantai dan karang.
"hari ini kau sudah bertarung dengan baik, lebih baik beristirahat untuk pertandingan besok" ucap kakek Cindy
"Saya tau ayah, hanya saja sepertinya pertandingan besok sepertinya akan sulit" balas paman Cindy
"Ngomong-ngomong, untunglah hari ini kau menang. Jadi Cindy dan kakak iparmu tidak hanya akan menjemput kita kesini besok" ucap Kakek
"Ya, aku akan menunjukkan kemampuan terbaikku untuk mereka besok. Mungkin usai turnamen kita bisa liburan disini beberapa saat" sahut paman Cindy
__ADS_1
"lebih bagus lagi kalau untuk merayakan kemenanganmu atas turnamen ini" balas Kakek