
Malam hari usai meninggalkan markas utama AII, prof Gema dan Lisa menginap di tempat Beni. Rumah berwarna biru tua yang terlihat cukup sederhana, hanya memiliki satu lantai dan ukurannya pun tidak terlalu luas dengan 4 kamar.
Mereka dipersilahkan menginap disana untuk dua malam, hal itu disebabkan karena pertemuan yang akan diadakan dengan perwakilan negara lain akan berlangsung dalam waktu 3 hari lagi. Setelah meletakkan tas berisi pakaian dikamar masing-masing, mereka berkumpul di ruang tengah untuk bersantai sejenak.
Ditengah perbincangan mereka, Beni kemudian teringat peralatan yang ditinggalkannya di mobil, diapun kembali ke mobil untuk mengambil peralatannya itu. Sebuah kotak hitam yang sering digunakannya. Beni membuka kotak hitam miliknya dan melihat robot lebahnya ternyata belum dia kembalikan dari rumah Aldo.
"Astaga, sampai lupa kalau robot kecilku masih disana, aku memang sengaja meninggalkan robot itu untuk mengintai disana" ucap Beni
Diapun membawa masuk kotak hitamnya dan meletakkan dimeja ruang tengah kemudian membukanya. Saat itu prof Gema dan juga Lisa bertanya-tanya dalam hati mereka dengan apa yang dilakukan Beni.
"masih ada kerjaan?" tanya prof Gema
"Tidak, saya hanya ingin memeriksa sesuatu disini" sahut Beni
Prof Gema dan Lisa yang duduk di ruang tengah, memperhatikan Beni yang sedang mengoperasikan laptop miliknya. Melihat ada terdapat file video rekaman dari rumah Aldo, wajah Beni sedikit terlihat ceria mengetahui kalau robotnya masih belum diketahui lawan.
"saat itu aku menekan tombol mode merekam robot lebah saat mengikuti rombongan Aldo ke Muriya waktu itu. Kalau begitu coba kita lihat apa yang di dapat robot kecil ini" gumam Beni
Rekaman yang dia dapat dari robot lebah yang masih berada dikediaman Aldo menampilkan sejumlah orang disana. sesaat kemudian terlihat Aldo yang sedang menerima telpon berdiam didepan robot lebah. Merasa penasaran dengan yang diucapkan Aldo, Beni memainkan jemarinya pada keyboard untuk memunculkan suara Aldo dalam video rekaman tersebut.
Prof Gema dan Lisa kemudian mendekat kearah Beni untuk ikut menyaksikan video rekaman yang sedang dilihat Beni.
"Itu Aldo?" tanya Lisa
"Ya, dilihat dari jumlah orang, ini sepertinya tadi sore" sahut Beni
Suara Aldo yang tengah menjawab telpon terdengar jelas bahwa dia akan menyiapkan semuanya untuk anggota Kurassha yang tiba besok hari. Sontak Beni dan yang lainnya kaget mendengar jumlah anggota Kurassha yang disebutkan oleh Aldo didalam rekaman video adalah 1500 orang.
"1500 orang, Gila. Apa mereka mau memulai perang?" Ucap prof Gema dengan nada tinggi
"Kalian beri tahu Riyan! Aku akan mengirimkan rekaman ini kepada Julian, dia bisa meminta direktur untuk memberitahukan pak menteri mengenai hal ini" ucap Beni
*Kota Muriya*
Saat itu jam 9 malam Riyan baru saja keluar dari sebuah bioskop bersama Cindy usai nonton Film. Nada dering di handphone Riyan berbunyi, Riyan mengambil handphone miliknya dari saku celana.
"Dari siapa?" tanya Cindy
"Lisa" jawab Riyan
Riyan kemudian menerima panggilan dari Lisa. Setelah beberapa menit, Riyan menutup telponnya ketika semua informasi telah disampaikan Lisa.
"Ada masalah?" tanya Cindy
"Kita cari tempat makan dulu" ucap Riyan
"Baiklah"
Setelah tiba di sebuah rumah makan dan memesan dua porsi nasi goreng seafood, Riyan memberitahukan kepada Cindy bahwa Lisa mengatakan kalau kota Muriya akan kedatangan kelompok Kurassha dalam jumlah besar untuk mencari mereka.
Mendengar hal itu membuat Cindy menjadi bingung, jumlah orang-orang Kurassha yang disampaikan Riyan tidak sedikit. Mereka tidak mungkin menghadapi orang sebanyak itu, ditambah Lisa dan prof Gema sedang berada di Jakarta.
"Kamu tidak usah cemas, mereka tidak akan mengamuk sembarangan di tengah kota" ucap Riyan
"Kapan mereka tiba?" tanya Cindy
"Kalau mau menunggu jumlah sebanyak itu terkumpul, kemungkinan lusa" jawab Riyan
Sebenarnya Riyan juga sedikit cemas dengan informasi yang dia dapat. Bukan dirinya yang dia khawatirkan, tetapi keselamatan orang-orang terdekat yang harus dia lindungi.
Anggota Kurassha mungkin saja bertindak brutal setelah apa yang dilakukan Riyan terhadap kelompok mereka.
Sepanjang perjalanan pulang setelah mengantar Cindy kerumahnya, Riyan terus memikirkan cara mengantisipasi kelompok Kurassha. Penghadangan seperti sebelumnya tidak akan berhasil dengan jumlah sebanyak itu.
"Alpha, apa kau punya sesuatu jurus atau teknik untuk menghadapi ratusan orang sekaligus?" tanya Riyan
[Bukankah anda bisa melawan semuanya tanpa terluka atau terbunuh, lagipula yang mereka cari adalah anda Tuan]
"Aku tau, tapi tentu akan sangat merepotkan dan perlu waktu lama dan dimana juga ada tempat untuk bertarung dengan orang sebanyak itu. Terlebih pasti Rei dan pasukan elitnya akan ikut besok. Walaupun tidak mati, aku akan tersiksa menghadapi semuanya" ucap Riyan
[Saya bisa membantu menghadapi mereka]
"Caranya?"
[Apa anda lupa kalau saya adalah program Super Komputer yang ada dikepala anda]
"Lalu?"
[Robot kemarin, program perintah yang ada didalamnya sudah dirusak oleh rekan anda. Namun program beladiri capoera masih tersimpan, saya bisa memanfaatkan itu]
"Jadi kau ingin memprogram ulang robot itu untuk melawan Kurassha?kalau tidak salah menurut Beni itu program yang rumit"
__ADS_1
[Tidak masalah, saya bisa melakukannya]
"Kalau begitu kenapa tidak sekalian saja kau tambahkan beladiri lainnya, seingatku kau punya banyak database beladiri di dunia" ucap Riyan
[Database yang saya miliki bersifat pengaplikasian latihan, hanya bisa disinkronkan dengan nano material yang langsung melatih saraf dan otot, sedangkan untuk robot ini perlu rangkaian program]
"Begitu ya, aku mengerti"
Riyan kemudian mempercepat laju kendaraannya menuju rumah, tidak sabar mencoba ide dari Alpha. Begitu tiba dirumahnya, semua orang rumah sedang tidur. Riyan pergi ke kamarnya dimana robot BANE berada.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kulakukan?" ucap Riyan
[Serahkan pada saya]
Alpha meminta Riyan untuk duduk menghadap robot besar itu. Dari tangan kanan Riyan, nano material berkumpul memanjang membentuk sebuah kabel dan menancap di remot pengendali milik Beni. Beberapa detik kemudian kabel dari nano material tersebut terbagi dua, satu tempat tetap berada di pengendali dan satu lagi menuju transmiter yang ada di leher robot.
Riyan hanya diam saja melihat kabel hitam yang berasal dari tangannya memunculkan kelap-kelip cahaya biru seperti ekor kunang-kunang di sepanjang kabel hitam itu. Sekitar 20 menit kemudian remot pengendali dan transmiter hancur membuat Riyan kaget.
Riyan bersiap untuk bertarung, tangan kirinya sudah menciptakan sebuah cakram untuk dilemparkannya. Kabel hitam itu kemudian kembali ke tangan Riyan, dan sekarang Riyan dapat berdiri.
[Selesai tuan]
"Sudah?"
Mata robot Bane kemudian memancarkan cahaya, warna biru cerah itu tampak menyorot Riyan. Kepalanya bergerak namun tubuhnya tetap diam tegap disana.
[Program robot ini ternyata menggunakan voice control, sekarang robot itu akan bergerak sesuai arahan saya]
Riyan teringat saat pertarungan sebelumnya dimana James juga memberikan perintah kepada robot besar itu.
"Jadi sekarang programnya kau ubah menjadi suara mu ya" ucap Riyan
[Sederhananya seperti itu, namun saya langsung menuju sistemnya. sama seperti berbicara dengan anda]
Riyan senang mengetahui hasil pekerjaan Alpha, sekarang Robot itu akan menjadi tambahan kekuatan yang besar.
*Palangkaraya, Kediaman Aldo*
Keesokan harinya sekitar pukul 10.00 pagi hampir 500 anggota Kurassha yang sudah dipersenjatai beserta petarung elitnya telah hadir disana. Rumah Aldo yang luas menjadi terasa sempit seketika, bahkan masih banyak anggota dari beberapa daerah yang belum hadir.
"lebih sedikit dari yang direncanakan?" tanya Aldo kepada Kenjo
Menurut Kenjo, akan datang sekitar 700-800 orang lagi ketempat itu. Saat semua sudah siap, Rei yang akan memimpin untuk pergi ke Muriya.
Aldo juga mengatakan kalau beberapa orang anggota mereka sudah dikirim terlebih dahulu ke Muriya untuk melihat situasi disana dan bergerak mencari informasi keberadaan gadis yang sedang mereka cari dan orang berpakaian hitam.
"jadi bos Rei baru datang besok, bagaimana dengan bos besar?" tanya Aldo
"beliau tidak akan ikut, lagipula bos Rei ingin melampiaskan sendiri amarahnya dengan orang berpakaian hitam itu" balas Kenjo
Aldo memahami maksud dari pengawal elit Rei itu, kemudian menyiapkan tempat beristirahat bagi para ketua Kurassha. Namun ada satu hal yang membuat Aldo tidak mengerti, Aldo kemudian menanyakannya kepada Kenjo sambil berjalan menuju ruang tengah.
"Satu lagi, bukannya kita selama ini bergerak dibelakang layar?dengan jumlah sebanyak ini, kita akan terlihat jelas di permukaan" ucap Aldo
"Asalkan akar cukup dalam dan kuat, pohon besar tidak akan roboh diterpa angin" sahut Kenjo
Aldo tidak begitu mengerti maksud perkataan Kenjo, namun dia tau pasti kalau akar Kurassha bahkan sudah masuk kedalam departemen pemerintahan. Semua petinggi yang hadir diberikan ruang kamar masing-masing, dan para bawahan bebas tidur dimana saja di rumah yang luas itu.
*****
Disisi lain ketika mendapatkan rekaman dari pihak AII mengenai rencana Kurassha, pak menteri segera memerintahkan pihak kepolisian dari unit khusus untuk bersiaga di kota Muriya.
Hampir seluruh unit khusus dari tiap daerah pun disiapkan untuk membantu bersiaga di Muriya, bahkan kepolisian Palangkaraya siang itu langsung bergerak menuju kediaman Aldo untuk memeriksa situasinya.
Benar saja, tempat itu dipenuhi oleh banyak sekali anggota Kurassha. Petugas kepolisian yang memeriksa tempat itu segera melaporkan apa yang dilihatnya kepada atasan.
Meski sudah mengetahui hal itu, pertanyaan pun muncul di kepala mereka. Apa yang membuat kelompok Kurassha mengerahkan orang sebanyak itu untuk berangkat ke kota kecil seperti Muriya.
"Bahkan sampai pasukan khusus ikut diminta bergerak. Apa mereka ingin memulai pergerakan dari kota kecil terlebih dahulu?" Pikir Kapolres Palangka
"Apa kita harus menangkap orang-orang itu sekarang?" tanya anggota polres Palangka
"Kita tidak bisa menangkap tanpa bukti, perintahkan saja petugas untuk siaga disekitar rumah itu. Jika terlihat adanya senjata atau gerakan mencurigakan, laporkan saja!jangan menyerang!" balas Kapolres
Permintaan penambahan bantuan pun dilayangkan, anggota dari Kapolda dikirim untuk membantu dan bersiaga disekitar kediaman Aldo.
Tidak kurang dari tiga unit operasi yang berjumlah 15 orang petugas polisi berada di sekitar rumah Aldo. Unit 1, 2 dan 3 diperintahkan untuk memantau pergerakan apa yang akan terjadi di rumah besar itu.
*Kota Muriya*
Siang itu murid di sekolah Mila dipulangkan lebih cepat karena akan ada rapat guru. Mila keluar dari gerbang sekolah bersama dengan teman-temannya, sebagian ada yang pulang sendiri dan ada juga yang menunggu jemputan.
__ADS_1
Belum jauh dari gerbang, suasanya sudah sepi karena masing-masing siswa telah pulang. Saat itu hanya tersisa 4 orang siswa, satu laki-laki dan tiga perempuan yang salah satunya adalah Mila. Mereka berada di halte dengan ukuran lumayan panjang yang biasa digunakan siswa untuk berteduh sambil menunggu jemputan atau angkutan umum.
Biasanya Mila pulang bersama Ririn kalau tidak dijemput Sapri atau pulang cepat seperti saat ini, namun kebetulan hari ini Ririn sakit sehingga tidak masuk sekolah. Mila pun menelpon Sapri untuk minta dijemput saat itu.
"menunggu jemputan Mil?" tanya Nico teman satu kelasnya
"iya, soalnya dia tidak tau kalau hari ini pulang lebih awal" sahut Mila
"kalau begitu biar kami temani sebentar" balas temannya satu lagi
Tanpa sengaja lima orang dewasa yang merupakan anggota Kurassha berjalan melewati seberang halte dimana para siswa SMP itu berada. Salah seorang dari mereka berhenti melangkah dan memanggil keempat temannya. Orang-orang itu serentak mengarahkan pandangannya kepada Mila yang berada di seberang jalan.
Dengan langkah pasti, kelima pria itu mendekati sekumpulan anak SMP yang sedang berada di halte. Melihat akan didekati oleh sekumpulan pria dewasa dengan wajah yang kurang ramah, anak-anak itu merasa sedikit takut. Mereka berkumpul dan merapatkan jarak satu sama lain ketika lima orang itu mendekat, teman-teman Mila berlindung dibelakangnya dan Nico.
"ada apa?siapa kalian?" tanya Nico
Orang-orang itu hanya menunjukkan wajah garang mereka tanpa menjawab pertanyaan dari teman Mila dan malah semakin mendekat. Salah satu dari anggota Kurassha itu mengangkat tangannya yang berisi sebuah foto. Mata orang itu berpindah dari foto ke wajah Mila berulang kali seakan sedang memeriksa sesuatu.
"benar anak ini, bawa dia!" ucap orang itu
Dua orang dari Kurassha itu menggenggam tangan Mila, saat itu Mila ingin berontak namun Nico yang berada di sampingnya mencoba membantu dengan memukul lengan orang yang dekat dengannya. Melihat keberanian Nico, teman-teman Mila yang lain juga ikut memukul kedua orang yang memegang Mila hingga pegangan orang kurassha terlepas.
Beberapa kali setelah teman-teman Mila berteriak minta tolong, suara mereka di bungkam oleh todongan pistol oleh salah satu anggota Kurassha.
"Diaaam!" teriak salah satu pria mengeluarkan pistol dan mengacungkannya kepada siswa SMP.
Nico mendapat pukulan keras diwajahnya, dan dua siswi lain menunduk memegang kepala. Tentu saja hal itu membuat anak-anak itu makin ketakutan, bahkan sampai membuat mereka tidak bisa bergerak.
"Tak..buk..buk" Mila melakukan tendangan sebanyak tiga kali.
Tendangan pertama dengan kaki kiri membuat pistol yang dipegang oleh anggota Kurassha terlepas dari tangannya. Mila melanjutkan tendangan itu dengan kaki kanan dan kirinya kearah dada secara beriringan, gerakan Mila seperti tarian yang terus berlanjut.
Serangan Mila membuat orang itu terpental sampai kejalan dengan bagian belakang kepala terhempas lebih dulu. Hal itu mengakibatkan orang itu kehilangan kesadarannya. Anggota Kurassha yang lain menangkap tas punggung Mila, dengan lincah Mila melepaskan tas itu dan melayangkan balasan tinju kearah orang yang memegang tasnya hingga jatuh.
Nico seakan takjub melihat tindakan Mila, anggota Kurassha lainnya yang berada dekat Nico mencoba untuk menyerang Mila. Nico sengaja menyandung kaki orang itu hingga kehilangan keseimbangan kedepan Mila dan hampir jatuh.
"bukk....Bukkk"
Tinju Mila yang mengenai perut dan wajah membuat orang itu tersungkur ke lantai halte. Dua orang lainnya mengeluarkan senjata api kembali, salah satunya sempat di serang oleh Mila dan kembali dibuat jatuh dengan beberapa pukulan. Sayangnya sergapan dari belakang oleh orang lainnya yang sudah kembali bangun membuat Mila tidak bisa bergerak.
Ditambah satu lagi mengacungkan senjata dihadapannya, membuat situasi benar-benar terkontrol oleh anggota Kurassha. Dua orang lainnya berdiri sambil memegang pipi dan perut menahan sakit.
"tidak disangka tinju gadis kecil ini cukup kuat" ucap salah seorang dari mereka
Disaat itu salah seorang dari mereka menelpon atasannya dan mengatakan bahwa gadis yang dicari sudah mereka temukan. Setelah panggilan diakhiri, salah seorang dari mereka pergi mengambil mobil untuk membawa Mila dan teman-temannya.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya salah satu dari mereka
"kita bawa saja, kalau nanti merepotkan kita habisi saja"
Mereka meminta anak-anak itu untuk duduk tenang di halte selama rekan mereka mengambil mobil. Mila dan lainnya pasrah karena saat itu ditodongkan pistol yang tertutupi oleh jaket.
Sesaat kemudian sebuah mobil datang dan berhenti tepat didepan halte, sayangnya itu bukan mobil milik anggota Kurassha melainkan mobil Riyan yang digunakan untuk menjemput Mila dan Tari.
Sapri turun dari mobil itu untuk menjemput Mila, dengan adanya 4 orang mengelilingi para siswa siswi SMP itu membuat Sapri sedikit curiga. Dua orang berada di sisi kanan dan kiri para murid, dan dua lagi berdiri dibelakang Mila dan Nico.
"apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sapri kepada anggota Kurassha
Keempat orang itu terlihat sedikit gugup berhadapan dengan Sapri, itu karena mereka mengenal siapa orang dihadapannya selagi masih menjadi anggota Kurassha.
"ini bukan urusanmu lagi sejak kau keluar dari kelompok" ucap seorang dari mereka
"baiklah" balas Sapri yang kemudian mendekat untuk membawa Mila pulang.
Selangkah didepan Mila, tiba-tiba orang yang berada disampingnya menodongkan pistol ke kepala Sapri.
"kau yakin ingin melakukan ini?ku beritahu kalian kalau ini bukan ide yang bagus" ucap Sapri
Dua orang lainnya kemudian ikut mengacungkan senjata mereka, sekarang terdapat pistol dibagian kanan dan kirinya serta satu lagi diarah jam 11.
"bagaimana kalau sekarang, kurasa ini merupakan ide bagus" ucap orang disamping Sapri
Setelah melihat keempat orang itu sejenak, Sapri hanya menghela nafas panjang dan menundukkan kepala. Matanya lurus menatap Mila dan memperlihatkan sedikit senyuman diwajah garang itu.
"anak-anak, pejamkan mata kalian!" ucap Sapri
Saat itu Mila sedikit meneteskan air matanya, dia merasa kalau Sapri yang merupakan guru beladirinya akan mengorbankan nyawanya demi keselamatan mereka. Meski berat, semua murid SMP itu menuruti permintaan Sapri dan memejamkan mata mereka.
"dor...dor...dor"
Ketika tembakan berakhir, air mata Mila deras mengalir saat membuka matanya. Begitu juga dengan dua teman perempuan Mila yang ikut tertahan disana, mereka ikut meneteskan air matanya.
__ADS_1