
Di ruang pertemuan, Rei yang telah membantu para pemimpin kurassha menghadapi para agen, kembali mundur dan duduk di atas meja setelah membuat kelima agen kelelahan dan terjatuh.
Dia menyerahkan sisa pekerjaannya kepada para pemimpin kurassha untuk memberi pelajaran kepada para agen elit indonesia itu.
"orang itu kuat sekali" gumam Markus
"Jangan menyerah, kita tunjukkan siapa kita" balas Radit
Beberapa menit kemudian, terjadi hal diluar dugaan Rei. Kemampuan agen elit Indonesia tidak semudah itu ditaklukkan oleh para pimpinan kurassha. Meski dengan kondisi stamina yang kelelahan, para agen masih bisa melawan para kriminal itu hingga membuat Rei kembali merasakan kesal.
Rei yang menyaksikan anak buahnya sampai kewalahan menghadapi para agen tersebut, membuat dia merasa tidak puas dan kecewa.
"Orang-orang ini kenapa bisa menjadi ketua, menghadapi orang-orang kelelahan saja tidak bisa" gumam Rei
Diapun kembali mendekat kearah perkelahian, dengan cepat menendang Julian dan Radit hingga memisahkan perkelahian. Para agen dan pemimpin kurassha terkumpul pada sisi yang berbeda.
Dengan wajah kesal Rei kemudian memerintahkan para pemimpin kurassha untuk mundur dan memperhatikannya. Dia ingin menghadapi kelima agen itu seorang diri untuk memperlihatkan kemampuannya.
Para pemimpin itu terpaksa mengikuti perintah Rei dan mundur perlahan meninggalkan kelima agen yang tengah dalam posisi kuda-kuda bertarung.
"Dasar sombong" gumam salah seorang dari mereka
"Sssttt..diam saja! kalau dia dengar, kau akan habis. Orang itu dan pengawalnya memang diperuntukkan untuk jadi mesin pembunuh"
Rei yang masih mengenakan setelan formalnya, mengangkat tangannya setinggi dada dan menggerakkan jarinya. Itu merupakan sebuah isyarat untuk meminta para agen menyerangnya.
Setelah saling melihat satu sama lain, kelima agen itu pun menyerang bersamaan dengan serangan kombinasi yang menakjubkan. Markus dan Julian meninju bersamaan, sedang Radit melakukan tendangan dari samping.
Begitu Rei mundur untuk menghindari semua serangan itu, Maria dan Clafita melompat dengan dibantu pijakan tangan dari Julian dan Markus.
Terjangan tinggi kedua wanita itu seperti sebuah torpedo mengarah kepada Rei. Melihat hal itu Rei hanya tersenyum dan berdiam diri.
"Wuush"
Tendangan Maria dan Fita hanya menghantam angin kosong, sosok Rei yang tadi berdiri di sana sekarang hilang entah kemana.
Kelima agen yang bingung, mencari-cari keberadaan Rei dengan menoleh kanan kiri. Tiba-tiba Rei sudah berada di belakang Julian dan Markus dan langsung memberikan serangan cepat kepada keduanya.
Menendang bergantian bagian belakang lutut kedua agen itu hingga membuat mereka terpaksa berlutut satu kaki, kemudian memukul kepala Julian dan Markus bergantian membuat mereka terjatuh kembali.
Berikutnya Radit yang mencoba meninju Rei, mendapatkan tiga pukulan cepat di wajahnya setelah tinjunya ditangkis oleh Rei. Bahkan Maria dan Fita yang kembali menyerang Rei, hanya dipermainkan olehnya.
Kemampuan Rei yang sudah terlatih sejah kecil, membuat serangan kombinasi para agen elit itu seperti melawan anak kecil.
Meski tanpa menggunakan senjata, serangan cepat Rei memberikan perlawanan yang hebat hingga membuat para agen kewalahan. Hanya dalam lima belas menit, kelima anggota AII mendapatkan beberapa memar dan wajah berdarah ketika menghadapi Rei.
Terlebih Maria dan Clafita yang hampir tidak bisa berdiri. Saat Rei akan menghajar Radit dengan gerakan cepatnya, Markus tiba-tiba mendekap Rei dari belakang dengan kondisi tubuh yang tengah terkena banyak pukulan.
"Kalian pergilah!aku akan menahannya" ucap Markus
Teman-temannya yang sempat ragu, terpaksa mengambil keputusan berat untuk meninggalkan Markus. Radit menjauh dan membantu Fita untuk berlari, sedang Julian membantu Maria.
Namun usaha mereka sia-sia, Rei dengan kedua tangannya membuka paksa dekapan Markus. Wajah Markus menunjukkan ekspresi kaget, dia tidak menyangka untuk ukuran tubuh biasa seperti Rei bisa mengalahkan tenaganya.
Tangan Markus perlahan terbuka akibat paksaan tangan Rei. Saat tangan Markus terbuka sepenuhnya, Rei membalikkan tubuhnya membuat dia berhadapan dengan Markus. Dengan tendangan yang kuat kearah dada, membuat Markus melayang hingga menghantam beberapa kursi di ruang itu.
Disisi lain, Kenjo dan Teru sudah tiba di depan ruang pertemuan. Melihat para agen di depan pintu, kedua pengawal elit itu langsung menyerang mereka. Maria dan Fita menerima tendangan kedua pengawal itu hingga terjatuh kebelakang.
Meski dengan lukanya, Teru masih bisa melayangkan tebasan kearah Julian. Walaupun Julian dapat menghindari tebasan katana Teru, namun tidak dengan tendangan berputar Teru yang tepat mendarat kewajah Julian hingga membuat tubuhnya terpental dan terjatuh.
__ADS_1
Sedangkan Radit saat itu terlilit rantai Kenjo, kemudian dengan tenaga kuat dia menarik rantai itu hingga membuat tubuh Radit berputar seperti gasing.
Melihat kedatangan para pengawalnya, Rei kembali tersenyum bangga. Empat agen itu diseret kehadapan Rei dan disatukan dengan Markus.
"Jadi kalian sudah menghabisi orang itu?kupikir aku akan membunuhnya sendiri" tanya Rei
Dengan berat hati dan ketakutan, Kenjo dan Teru kemudian melaporkan mengenai sosok hitam yang mereka hadapi. Serta ketidakmampuan mereka melawan sosok hitam dengan dua pedang itu.
"Apa" teriak Rei mencekik kedua pengawalnya itu
"Ampun bos, kemampuan orang itu diluar dugaan kami" ucap Teru
Rei pun melepaskan cekikannya kepada dua pengawalnya itu. Kedua pengawalnya batuk beberapa kali setelah lepas dari tangan Rei.
"Pantas saja dia berani menyerang Xforu dan markas Julia, ternyata dia memilki kemampuan" ucap Rei
Julian dan Markus tersenyum-senyum saat tidak sengaja mendengar informasi dari Teru dan Kenjo. Mereka semakin yakin kalau kemampuan Riyan memang luar biasa.
Rei kemudian mengambil sebuah kursi dan duduk sambil menyalakan sebatang rokok. Dia menyuruh pengikutnya untuk mengikat para agen yang tengah lemah.
Beberapa kunai terbang menuju para pimpinan Kurassha yang tengah mengikat anggota AII.
"Shut...shut...shut"
Satu dari empat orang pemimpin kurassha tertancap kunai tersebut pada bagian bahu. Sedang tiga yang lain mampu menahan atau menghindari kunai yang mengarah kepada mereka.
Dari luar ruangan terlihat sosok dengan armor hitam memegang dua pedang yang sudah siap untuk menyerang, sosok itu berlari cepat kearah mereka.
Riyan yang tidak menghentikan langkahnya, bersiap menebas salah satu pemimpin kurassha yang tengah terluka akibat kunai. Dia berniat menjauhkan semua pemimpin Kurassha dari rekan-rekannya.
Ketiga orang yang memang punya basik beladiri segera mundur setelah serangan kunai tersebut. Sedang satu orang yang sudah terkena kunai Riyan, bernasib sial karena harus menerima tebasan dari pedang oriental yang berlanjut dengan tusukan katana dari tangan kiri Riyan.
"Sreek"
Riyan menarik katananya dari tubuh orang itu hingga membuat tubuh salah satu pemimpin kurassha itu terjatuh.
Ketiga pemimpin kurassha yang berada di sana berkumpul dengan Rei dan pengawal elitnya yaitu Kenjo dan Teru.
"Kalian baik saja?" tanya Riyan setelah memotong tali yang sempat mengikat tangan Julian dan Markus.
"Memangnya menurutmu bagaimana?" balas Julian menyapuh darah yang keluar dari mulutnya
"Kenapa lama sekali?" tanya Maria
"Ituuuuu....aku sedikit sibuk barusan" ucap Riyan ragu
Sebenarnya saat Kenjo dan Teru melarikan diri, Riyan mengambil semua wechas di sana terlebih dahulu dan memutuskan untuk melepas alat komunikasi di telinganya. Itulah kenapa dia sedikit lama tiba di ruang pertemuan.
"Kita harus mundur dulu, kau mungkin bisa melawan mereka. Tapi tidak dengan kami dengan kondisi seperti ini" ucap Markus kepada Riyan
"Kalau begitu kalian pergilah! aku akan menahan mereka" ucap Riyan
"Kau hati-hatilah, terutama pemimpin mereka yang mengenakan setelan putih" ucap Julian
Semua rekan Riyan mencoba pergi meninggalkan ruangan itu meski perlahan.
Pria botak menyerang dengan tombaknya untuk menghentikan langkah para agen. Belum sempat tombak itu mencapai punggung Julian, pedang oriental Riyan hampir menebas leher pria botak itu.
Pria itupun terpaksa menggagalkan serangannya untuk menghindari serangan Riyan.
__ADS_1
"Kalian tetap disini!" ucap Riyan sambil mengacungkan pedang oriental kepada enam orang di depannya.
Bahkan Kenjo sadar meski dia bisa melemparkan sabit berantainya, itu hanya akan digagalkan dengan mudah oleh sosok hitam didepannya.
Sekarang kelima rekan Riyan telah keluar dari pintu besar itu. Saat itu Rei berdiri sambil tersenyum, meletakkan rokoknya pada ujung meja dan mengambil dua buah pisau ninja dari balik setelannya.
Pisau sepanjang 15cm yang memiliki empat lubang untuk memasukkan jari itu sangat mirip dengan pisau cakra milik Asuma sarutobi dalam serial Naruto, hanya saja senjata milik Rei memiliki tambahan sebuah tombol kecil pada ujungnya.
"Sepertinya memang harus aku yang menghadapimu" ucap Rei
"Kami akan membantu" ucap para pemimpin kurassha
"Tidak perlu, bahkan melawan kelima orang kelelahan saja tidak bisa. Bagaimana kalian mampu melawan orang yang bahkan bisa mengalahkan dua pengawal elitku. Tangkaplah kelima orang yang pergi itu!" ucap Rei
Rei yang telah siap dengan pisau ninja terpasang di kedua genggaman tangannya, berjalan santai kehadapan Riyan.
"Klink...klink...klink"
Tanpa bergerak dari posisi mereka, serangan dan tangkisan Rei dan Riyan berlangsung sangat cepat membuat orang-orang di sana terdiam kagum. Dua pisau ninja dengan dua pedang saling beradu dengan sengit.
Kenjo menyadarkan para pemimpin kurassha dan mengingatkan untuk mengejar kelima orang yang baru saja pergi. Orang-orang itupun bergerak menuju pintu besar untuk mengejar kelima anggota AII.
Riyan tiba-tiba menghilang dari hadapan Rei dengan sangat cepat dan menyerang kelima orang yang ingin keluar dari ruangan itu. Mereka semua kaget dengan kedatangan Riyan yang tiba-tiba.
Beberapa dari mereka sempat terkena torehan pedang Riyan, namun Rei bergerak cepat dan berhasil menahan serangan Riyan berikutnya dengan pisau ninja miliknya.
"Kau cepat juga, lawanmu adalah aku" ucap Rei
Meski terluka, kelima orang itu melanjutkan pergi keluar pintu besar. Riyan yang ingin menghentikan mereka, kembali tertahan oleh Rei meski dengan kecepatannya.
"Kalau mereka lolos, Julian dan yang lainnya tidak akan selamat" pikir Riyan
Jarak kelima orang itu sekarang semakin menjauh dari ruang pertemuan, sedang Riyan masih terus bertarung melawan Rei dengan kecepatan tinggi.
"Tidak ada pilihan lain. Alpha gunakan mode dua" ucap Riyan
[Laksanakan Tuan]
"Slaash"
Pisau ninja milik Rei menebas angin, dia benar-benar kehilangan sosok hitam didepannya. Tiba-tiba suara teriakan terdengar dan matanya teralihkan kepada asal teriakan yang ternyata dari salah seorang pemimpin kurassha yang tengah berlari.
"Perhitunganku untuk melepas alat komunikasi itu saat di ruang tengah tadi ternyata memang tepat" gumam Riyan
Empat orang yang lainnya terhenti melihat salah satu teman mereka tewas bersimbah darah di hadapan mereka, bersama dengan sosok yang sekarang armor hitamnya sudah berubah lebih ramping tidak seperti armor jirah lagi melainkan seperti pakaian ketat superhero.
*****
Disaat yang sama, langit luar sudah berubah warna menjadi hitam. Malam sudah menyambut hari itu, sebuah sedan hitam dengan lampu terang berhenti di depan pintu masuk markas utama kurassha. Empat orang pria turun dari mobil hitam tersebut.
Dalam gelap remang-remang malam, mereka melihat mayat para penjaga yang berada di pagar dan teras markas.
"Apa yang terjadi disini"
"Entahlah, sepertinya tempat ini diserang"
"Ayo kita lihat kedalam"
Masing-masing dari mereka menyiapkan senjatanya. Namun belum sempat menginjakkan kaki ke teras markas itu, puluhan mobil berdatangan dibelakang mereka menurunkan ratusan orang dengan memegang senjata masing-masing.
__ADS_1
Tiga orang dari mobil terdepan mendekati keempat orang yang tengah berada di depan teras markas kurassha.