
Saat itu waktu menunjukkan pukul 2.30, meski melewati jalan yang bisa dibilang tidak nyaman, mobil angkutan akhirnya tiba berhenti tepat di depan gerbang desa Makopassus dimana umbul-umbul turnamen silat sejagat masih terpampang di sana. Seluruh penumpang yang berada di dalam mobil sekarang turun seluruhnya.
"Apa kita terlambat?" gumam Cindy
"Kalau begitu sebaiknya kita cepat!" ajak Riyan
Begitu turun dari mobil, mereka bergegas mencari tempat pertandingan dengan bertanya kepada penduduk lokal. Akhirnya ketujuh orang itu berhasil menemukan bangunan dimana pertandingan tengah berlangsung.
Didepan bangunan yang mereka tuju, Cindy melihat paman dan kakeknya tengah duduk disebuah kursi yang ada dibawah pohon rindang.
"Itu paman dan kakek, apa pertandingan paman sudah selesai" ucap Cindy ragu
Cindy bergegas menemui paman dan kakeknya yang diikuti oleh ibunya dan Riyan dari belakang. Paman Cindy yang melihat kedatangan keponakan satu-satunya itu segera berdiri dan menyambut mereka.
"Apa pertandingan paman sudah selesai?apa Cindy terlambat?" tanya Cindy
"Untuk putaran pertama dan kedua memang sudah selesai setengah jam yang lalu, sedang putaran ketiga sudah hampir setengah jalan dan sekarang adalah waktu istirahat" sahut kakek
"yaah" Cindy merasa kecewa dan raut wajahnya terlihat sedih
"Tapi tenang saja, paman masih akan bertanding di putaran berikutnya karena paman berhasil mengalahkan lawan paman" tambah paman Cindy
Wajah sedih Cindy seketika berubah bercahaya seperti mendapatkan sinarnya lagi yang baru saja redup. Cindy dan ibunya merasa senang mendengar kabar dari pamannya. Mereka semua berkumpul untuk sementara menghabiskan waktu istirahat dibawah pohon besar itu, suasana pun menjadi gembira membuat semangat paman Cindy kembali membara.
Pertanyaan mengenai ayah Cindy yang tidak berada disitu pun muncul dari mulut kakek, Ibu Cindy kemudian menceritakan mengenai pertemuan penting yang dilakukan suaminya sehingga mungkin nanti sore baru suaminya itu bisa berkumpul bersama.
Karena waktu yang diberikan untuk istirahat para peserta telah usai, para peserta dimintakan untuk masuk kembali kedalam gedung agar bersiap melanjutkan pertandingan putaran ketiga.
Semua orang masuk kedalam gedung pertarungan dan menduduki kursi yang telah disediakan. Disana Riyan tidak melihat keberadaan Kenjo dan dua orangnya, hal itu membuat kecurigaan Riyan semakin menguat. Namun anehnya Steve malah masuk kedalam bangunan menyaksikan jalannya pertarungan.
Steve memilih tempat duduk terpisah dari kelompok Cindy dimana mereka duduk di kursi urutan baris keempat dari bawah. Terlihat kakek Cindy berada di kursi paling bawah dekat dengan arena pertarungan yang tergabung dengan perwakilan perguruan lain.
__ADS_1
Menurut informasi yang diceritakan paman Cindy barusan, hari ini akan diselesaikan sebanyak 5 putaran. Saat ini terlihat dari papan yang berada dipojok sebelah kanan bagian atas panggung menunjukkan pertandingan telah usai sebanyak tiga kali, dalam hal ini berarti putaran ketiga hari ini hanya tersisa 4 pertandingan lagi.
Beberapa nama pemenang pertandingan sebelumnya masih terpampang dipapan, sedang yang kalah ditandai oleh sebuah coretan.
Dan pertandingan yang saat ini telah dimulai merupakan pertandingan keempat, dimana yang sedang berada di atas arena adalah peserta dari Harimau putih yang diwakili oleh Wira melawan Yadi yang menggunakan teknik silat dari padepokan gondala wilayah Jawa Timur.
"Harimau putih? Sepertinya pernah dengar, itu bukannya yang pernah latih tanding dengan kalian?" ucap Riyan kepada Cindy
"Betul, itu om Wira yang sedang bertanding, beliau guru dari harimau putih" sahut Cindy
"Ooh begitu"
"Syukurlah pertandingan paman masih belum" ucap Cindy
"Iya kau benar, masih 2 pertandingan lagi sebelum paman" sahut ibu Cindy
Keterlambatan yang disebabkan pemberian serum oleh anggota Kurassha yang sedang menyamar membuat Cindy dan yang lain jadi bisa menyaksikan pertandingan pamannya.
"apa kecurigaan ku berlebihan ya?tapi orang itu bersama dengan Kenjo" ucap Riyan dalam hati.
Teriakan suara dari arah penonton sesekali terdengar sangat riuh, pertandingan akhir memang mendebarkan. Gerakan harimau putih terlihat sangat garang dalam menyerang, sedangkan teknik dari padepokan gondala terlihat anggun seperti tarian.
Jurus terjangan dan terkaman harimau yang dilancarkan Wira mampu dihindari secara halus oleh peserta dari daerah Jawa Timur yang bernama Yadi itu.
Meski sudah mengeluarkan kemampuan penuhnya dengan menggunakan jurus pamungkas, Wira akhirnya harus tetap menerima kekalahan akibat dorongan dan pukulan keras dari Yadi hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Nama Wira pun dicoret dari papan, kekecewaan atas kekalahan harus dirasakan oleh ketua perguruan harimau putih itu ketika sadar dan sudah berada dibawah panggung.
"bahkan Wira bisa kalah dipertarungan hari ini, lawan hari memang ditingkat yang berbeda" gumam paman Cindy melihat Wira yang baru saja terbangun.
Pemandu acara memanggil peserta untuk pertandingan berikutnya yaitu pertandingan kelima. Sejak diumumkannya tanda pertandingan dimulai, pertarungan kedua peserta semakin lama semakin sengit dan seru. Kedua belah pihak mengeluarkan teknik terhebat mereka dan dalam waktu singkat keduanya saling beradu teknik dan mendapatkan luka.
Salah seorang peserta dengan kepala plontos akhirnya memenangkan pertandingan kelima dengan sebuah tendangan telak mengenai wajah. Orang kepala plontos itu diketahui sebagai perwakilan perguruan garuda hati besi yang bernama Bayu.
__ADS_1
Usai pemandu acara mengumumkan pemenang pertandingan kelima itu dan mencoret nama yang kalah dari papan pengumuman, sekarang giliran paman Cindy yang dipanggil untuk naik keatas panggung. Lawan yang dihadapi oleh paman Cindy berasal dari wilayah Maluku yaitu perguruan Elang Cahaya yang bernama Zulman.
Setelah aba-aba dari pemandu acara dan kedua peserta saling memberi hormat, pertandingan keenam resmi dimulai. Kedua peserta memasang kuda-kuda untuk menyerang, langkah kaki mereka secara perlahan bergerak mendekati lawan hingga jarak keduanya berada dalam jangkauan masing-masing.
Disaat itulah serangan cepat dari paman Cindy dimulai, tinju cakar naga dilancarkan bertubi-tubi kearah Romi. Tentu saja lawan pertandingan kali ini juga memiliki kemampuan yang tinggi sehingga mampu menghindar dan menghalau serangan cepat dari paman Cindy.
"Tak...tak...tak" tangkisan tangan keduanya terlihat cepat satu sama lain. Keduanya tidak memberikan kesempatan kepada lawan mendaratkan pukulan maupun tendangannya.
Ditengah pertarungan gerakan cepat mereka, Zulman kemudian melompat dan sebuah tendangan tinggi dilancarkan kearah kepala namun dapat ditahan oleh paman Cindy. Serangan itu membuat tubuh keduanya mundur dan kembali memasang kuda-kuda.
"Naga petir ya, nama itu sesuai dengan kecepatan serangan mu" ucap Zulman
"Tendangan tinggi itu juga cocok dengan sebutan Elang cahaya" balas paman Cindy
Kali ini peserta dari elang cahaya yang lebih dulu menyerang. Setelah dua langkah berlari, Zulman melompat dan tendangan kearah dada sebanyak dua kali. Tendangan itu dapat ditepis dan langsung seketika menerima balasan ketika mendarat.
Keduanya bergerak sangat intens dalam menyerang, kedua serangan kedua belah pihak dapat dipatahkan. Meski masing-masing telah menerima beberapa serangan, namun tidak ada satupun yang tumbang.
Paman Cindy mencoba menggunakan gerakan teknik yang digunakannya untuk mengalahkan lawannya kemarin, namun sayangnya serangan itu berhasil digagalkan oleh Zulman.
"Ternyata memang tidak bisa ya" gumam paman Cindy
Sekarang paman Cindy menatap kearah lawannya yang tengah merendahkan badannya dengan kaki kiri menekuk dan kanan lurus, kedua tangannya melebar seperti sebuah sayap. Dengan posisi seperti itu terlihat seperti seekor elang yang siap terbang mengejar mangsa.
"Dengan wajah seperti itu, sepertinya jurus miliknya bukan jurus biasa. Baiklah kalau begitu, apa boleh buat" gumam paman Cindy"
Paman Cindy berdiri tegap menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, kemudian menggerakan kedua tangannya lurus beriringan melintasi kepala. Kaki kanan bergerak maju 30cm dan gerakan berakhir dengan posisi tangan kanan dengan telapak membentuk cakar lurus kedepan, sedang tangan kiri yang juga membentuk cakar berada dibawah siku tangan kanannya.
"Eh itukan jurus hukuman petir naga, menggunakannya sekarang" gumam Riyan yang juga pernah melihat teknik itu saat mengajari Cindy dari buku kuno.
Cindy dan kakeknya malah menjadi semakin tegang, mereka masih belum mengetahui apakah jurus pamungkas itu mampu menghadapi jurus pamungkas lawan.
__ADS_1
Dipanggung arena pertandingan sekarang naga dan elang siap untuk mengalahkan satu sama lain.