Nano System

Nano System
Episode 101 Perang Kecil


__ADS_3

Mendengar suara Kenjo dari arah belakang, Steve langsung membalikkan tubuhnya.


"Hei jangan salahkan aku, itu salah anakbuahmu sendiri yang tidak mengenaliku " sahut Steve


"Sudahlah, ayo masuk! " ajak Kenjo meninggalkan para penjaga yang tengah terbaring di atas tanah.


"kalian tetap berjaga disini!" tambah Kenjo


Begitu tiba didalam ruang komputer tempat operasi perekaman yang dilakukan kelompok Kurassha, Steve memandangi monitor hasil pekerjaan mereka disana. Dia menganggukkan kepalanya perlahan beberapa kali seolah sedikit puas dengan apa yang dilihatnya.


"Bagaimana? " tanya Kenjo memastikan pendapat Steve


"Bagus, sesuai harapan. Tidak percuma kalian kami berikan peralatan dan software ini " balas Steve


Steve dan anggota Kurassha yang tengah menyaksikan dari layar monitor di bangunan tetua, sangat puas menyaksikan teknik jurus silat yang mereka dapatkan itu dari para petarung.


Tidak jauh dari bangunan itu, Riyan baru saja keluar dari toilet. Ketika melintas didepan bangunan tetua, dia melihat para pengawal yang sedang memegang wajah dan tubuh memar mereka.


"Apa yang terjadi dengan mereka" pikir Riyan tanpa curiga


Namun matanya kemudian tertuju kepada kilauan sebuah pin yang terkena sinar matahari. Pin itu berada diatas tanah tidak jauh dari para penjaga. Pin yang sangat dia kenal, yaitu pin ular berbentuk huruf K.


Riyan berjalan mendekat kearah para pengawal dan mengambil pin tersebut dari tanah.


"Maaf ini mungkin punya kalian jatuh" ucap Riyan menyodorkan pin yang dipugutnya.


"Sini kembalikan! sudah sana pergi!" sahut salah satu pengawal dengan ketus


Riyan meninggalkan ketiga penjaga itu dengan langkah santai, sekarang dia yakin kalau para penjaga itu adalah anggota Kurassha. Dan pastinya dia meyakini kalau mereka tengah merencanakan sesuatu didalam bangunan yang ada dibelakang para penjaga itu.


Riyan meminta Alpha untuk memindai bangunan tersebut, kemudian dari hasil pindaian menunjukkan sekitar 20 orang berada didalam termasuk Kenjo.


"Apa kau tau apa yg mereka lakukan?" ucap Riyan sambil terus berjalan menuju bangunan pertandingan.


[Entahlah Tuan, namun banyak komputer yang ada disana. Saya bisa mencari tahu kegiatan didalam komputer mereka, namun itu perlu waktu]


"Baiklah, kalau begitu lakukan saja!" ucap Riyan


[Satu hal lagi tuan, terdapat tiga mayat didalam sebuah ruangan sempit dalam bangunan itu]


"Bagaimana kau tau itu mayat?"

__ADS_1


[Fisik orang itu tidak memiliki suhu tubuh tuan]


Dengan kehadiran Kurassha ditempat itu, Riyan memang sudah menduga pasti terjadi sesuatu namun dia masih belum tau. Bangunan tetua yang tergolong sempit dan banyaknya orang didalam membuat Riyan tidak bisa menyelinap.


"Aku coba memberitahu kakek saja, siapa tau dia kenal seseorang disini yang bisa memeriksa kejadian disana" gumamnya


Sebelum Riyan kembali ke kursi penontonnya, Riyan mendatangi kakek Cindy yang berada di depan arena dan memberitahukan mengenai keanehan penjaga yang ditemuinya pada bangunan tetua. Kakek yang mengenal beberapa panitia acara, meminta mereka mengirim orang untuk memeriksa ketempat itu.


Setelah menyerahkan tindakan selanjutnya kepada kakek, Riyan pun kembali duduk dikursinya. Menyaksikan pertandingan Putaran keempat yang menyisakan 2 orang petarung di arena, membuat Riyan sedikit kaget. Dua dari pemenang sebelumnya telah terjatuh dan menyisakan dua orang lagi, bahkan Yadi yang telah mengalahkan Wira tidak mampu bertahan di putaran ke empat ini.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, salah satu yang masih berada di arena pertandingan adalah seorang wanita. Riyan yang baru kembali di kursinya menanyakan mengenai wanita itu kepada Cindy.


Ternyata wanita itu adalah perwakilan dari Maluku, sebuah perguruan silat bernama Teratai Suci. Menurut Cindy gerakan silat dari wanita itu mirip dengan wing chun yang menyerang cepat sekaligus bertahan namun juga tenang seperti aliran aikido.


"Tidak heran dua orang lainnya tidak mampu bertahan" ucap Riyan


"Tidak, yang mengalahkan dua peserta lainnya adalah orang itu" ucap Cindy menunjuk kepada pria dengan tinggi 160cm dengan raut wajah ramah dan tersenyum meski di tengah arena.


"Eh orang sekecil itu bisa mengalahkan dua orang peserta lainnya?kalau dilihat dari usia, mungkin dia seumuran kita kan" ucap Riyan


"Kau benar, namanya Sandi perwakilan dari Sulawesi. Menurut informasi dia dari perguruan Tinju Angin, namun aku tidak pernah mendengar perguruan itu sebelumnya" balas Cindy


Riyan menjadi semakin tertarik dengan orang bernama Sandi itu, namun wanita yang bisa bertahan darinya juga berarti bukan sembarangan dimana dua laki-laki perwakilan daerah lain dapat dikalahkan.


Sandi dengan masih tetap tersenyum, tiba-tiba menyerang wanita lawan tandingnya yang bernama Ranti. Langkah cepat Sandi membawanya seketika kehadapan Ranti, pukulan cepat secara bertubi-tubi dilayangkan Sandi.


"Tak...tak...tak"


Setiap pukulan mampu ditahan oleh Ranti, kecepatan yang dimiliki oleh keduanya sama cepat. Ranti yang tidak bisa membaca gerakan Sandi, hanya mengandalkan refleknya untuk bertahan dan menyerang.


Beberapa saat kemudian keduanya mendapatkan memar karena serangan lawan. Meski begitu tidak ada dari mereka yang mengalah, keduanya mengeluarkan kemampuan terhebatnya.


Setelah terus menerus menerima serangan, Ranti akhirnya tidak mampu membendung pukulan Sandi dan terpaksa keluar dari arena.


"Sepertinya gerakan Ranti melambat karena lelah" ucap Cindy


"Bukan, tapi itu kecepatan Sandi yang bertambah cepat" ucap Riyan


Dalam pertarungan itu, kecepatan serangan Sandi semakin lama semakin bertambah cepat secara perlahan sehingga akan terlihat seolah Ranti yang melambat.


"Alpha, apa kau tau jurus yang digunakan Sandi?" Gumam Riyan

__ADS_1


[Tidak Tuan, gerakannya terlihat biasa tetapi disaat terakhir pergerakannya memang bertambah cepat setiap detik]


"Apa itu lebih kuno dari sundang majapahit milikku ya? atau perkembangan teknik yang lebih modern?kalau peningkatannya bisa tanpa batas, itu bisa lebih cepat dari hukuman naga petir tingkat II paman" Pikir Riyan


Sandi pun akhirnya dinobatkan sebagai pemenang putaran ke empat pada ronde pertama. Sekarang untuk ronde kedua, tiga pemenang pertandingan putaran sebelumnya diminta untuk menaiki arena.


"Sekarang giliran paman" ucap Cindy dengan semangat


Bayu yang merupakan pemenang pertandingan ke empat, paman Cindy, dan pemenang pertandingan ke tujuh bernama Karsa telah berada diatas arena. Setelah saling memberi hormat, ketiganya membuka gerakan kuda-kuda jurus masing-masing.


Begitu pertandingan dimulai, Karsa yang berada di sebelah kanan langsung menyerang paman Cindy. Begitu juga dengan Bayu yang juga menyerang paman Cindy.


Tiba-tiba seorang murid perguruan silat datang membisikkan sesuatu kepada salah seorang panitia yang juga merupakan seorang guru silat. Guru itu menaiki panggung berjalan disisinya menuju kursi salah seorang tetua dan berbisik.


Riyan yang memperhatikan kearah guru silat itu, yakin bahwa telah terjadi sesuatu didalam bangunan tetua.


*Setengah Jam sebelumnya*


Sesaat setelah Riyan memberikan informasi kepada kakek Cindy, para guru memerintahkan muridnya melakukan pengecekan. Dengan alasan pembersihan ruangan tetua, orang suruhan para guru yang juga panitia pertandingan secara kasar ditolak untuk masuk kemudian disuruh pergi. Hal itu kemudian disampaikan kepada gurunya, kecurigaan mereka pun semakin kuat akan adanya ketidak beresan.


Lima orang guru silat yang menjadi panitia ditemani dua anak murid mereka, langsung menerobos melewati penjaga dan masuk ke bangunan tetua secara paksa. Begitu pintu dibuka, para guru terkejut melihat beberapa orang yang bukan dari sana ditambah seorang bule.


Banyaknya perlengkapan komputer disana yang menampilkan data pertarungan, membuat para guru bertanya keras dan menyuruh mereka untuk menghentikan kegiatan disana.


"Apa yang kalian lakukan ditempat ini?cepat hentikan" Teriak salah satu guru


Bukannya menerima jawaban, namun sebuah tendangan dari sepatu kulit milik Steve melayang kearah wajah sang guru. Perkelahian pun terjadi di ruangan itu, hingga salah satu tubuh anggota Kurassha terpental dan membuat sebuah pintu terbuka dimana mayat tetua yang asli tergeletak.


Para guru dan murid semakin marah melihat mayat tetua mereka, kemudian salah satu guru memerintahkan salah seorang muridnya untuk pergi dan meminta bantuan kepada yang lain. Namun hal itu tidak dibiarkan begitu saja oleh para penjahat itu, Kenjo yang sudah berada di depan pintu membuat murid tergeletak di lantai.


"Habisi mereka semua!" ucap Kenjo


Pertarungan sengit tidak dapat dihindari, perang kecil terjadi di bangunan tetua. Begitu kakinya hendak menginjak kepala murid yang berada di lantai, tangan seorang guru menangkap kaki Kenjo dan melemparkannya. Guru itu membantu murid untuk bangun dan menyuruhnya pergi, namun serangan dari anggota kurassha terus berdatangan.


"Cepatlah, kami akan menahan mereka" ucap guru tersebut


Begitu murid dapat keluar bangunan tetua, diapun berhadapan kembali dengan tiga pengawal yang sudah terbangun dari pingsan akibat terobosan dari para guru.


Sedang di dalam ruangan itu, 20 orang Kurassha tengah bertarung melawan para guru. Kenjo mengeluarkan senjata wechasnya, dan berniat menghabisi semua guru yang ada disana.


"Ini gawat, satu orang telah kabur. Mereka pasti akan menyerang kesini. Cepat simpan saja data yang sudah terkumpul!" Ucap Kenjo sambil terus bertarung

__ADS_1


Para guru berusaha menghancurkan komputer yang ada disana namun anggota kurassha selalu menghalangi hingga data yang diperlukan terus berpindah kedalam hardisk portabel.


__ADS_2