Nano System

Nano System
Episode 97 Berangkat ke Sumatra


__ADS_3

Malam itu kejadian tidak terduga tengah terjadi di desa Makopassus. Saat seluruh peserta tengah beristirahat, didalam salah satu pondok terdapat dua orang yang mengenakan pakaian tetua sedang berbincang dengan seseorang dari kelompok Kurassha.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya orang dari Kurassha yang mengenakan pakaian santai


"Besok adalah pertandingan terakhir, para pesilat tangguh sudah terpilih dan persiapan kita sudah selesai" sahut salah seorang tetua


"Bagus, dengan menyamar menjadi tetua maka pemasangan alat itu akan mudah dan tidak akan dicurigai"


"Sudah seharusnya, bukan perkara mudah untuk membunuh kedua orang ini" balas seorang tetua yang merupakan anggota Kurassha


Dibalik dinding yang ada di pojok ruangan, dua tubuh tetua yang sebenarnya telah tewas akibat racun yang diberikan oleh dua anggota kurassha. Kedua orang itu sebelumnya menjadi salah satu murid perguruan silat yang ikut dalam turnamen silat sejagat untuk memasuki desa.


Mereka sengaja untuk dikalahkan pada hari sebelumnya agar dapat melaksanakan pembunuhan tetua silat di sana kemudian menyamar dan menjalankan rencana mereka. Kesunyian malam kembali melanda bersama dengan sinar rembulan di desa Makopassus.


*Kota Muriya*


Keesokan paginya keluarga Cindy dengan mengenakan pakaian santai bersama dengan Riyan tengah berada di bandara dan bersiap untuk menaiki penerbangan menuju sumatra. Pakaian jaket warna biru selaras dengan warna ranselnya membuat Riyan terlihat jelas diantara kerumunan orang yang berada di sana.


Sembari menunggu panggilan penerbangan, mereka duduk dan melakukan obrolan ringan di dalam ruang tunggu.


"jadi akhirnya kau mau menemani om ya?" ucap ayah Cindy


"sebenarnya sih menemani Cindy, om" balas Riyan dengan senyuman


"iya dong, Riyan kan harus menjaga aku dan mama" celetuk Cindy


Mereka berempat terlihat gembira seperti sebuah keluarga yang ingin pergi berlibur, bahkan ayah Cindy menjadi lebih ramah terhadap Riyan. Sesaat kemudian panggilan terhadap penumpang pesawat yang akan mereka naiki terdengar, pesawat akan segera bersiap untuk lepas landas. Keluarga Cindy dan Riyan menaiki pesawat yang akan menuju Sumatra dimana turnamen dilaksanakan.


*Desa Makopassus, Sumatra*


Sementara itu tepat di depan pintu masuk bangunan arena pertandingan, semua peserta dikumpulkan. Kemudian atas permintaan dari beberapa tetua, para peserta dimintakan untuk memasuki ruang tetua dimana mereka disuntik dengan suntikan berisi serum berwarna kuning. Setelah semua peserta mendapatkan gilirannya, barulah mereka memasuki arena pertandingan yang sudah terlambat dari jadwal yang ditentukan.


Beberapa pria yang tengah berada di ruangan tetua saling memandang, kemudian salah seorang dari mereka memasuki sebuah ruangan yang berisi dengan beberapa peralatan komputer. Terlihat beberapa buah layar monitor yang mana menampilkan data dari setiap peserta turnamen yang akan bertanding hari ini.


"sudah siap?" ucap pria tersebut


"Ya, sekarang kita tinggal merekam gerakan para pesilat itu dan mengunggahnya" balas pria yang berada didepan layar dengan tangan yang tengah memainkan keyboard komputer.

__ADS_1


***


Disaat yang sama, Riyan dan keluarga Cindy telah tiba di Kota Padang. Mereka berpisah di kota besar itu, dikarenakan ayah Cindy pergi untuk menghadiri pertemuan bisnisnya, sedangkan Riyan bersama dengan Cindy dan Ibunya pergi ke lokasi yang sudah di beritahukan kakek.


Setelah berpamitan dengan ayahnya, Cindy segera memesan kapal untuk menuju Desa Makopassus, sebuah kapal besar yang tergolong mewah. Cindy tidak ingin membuang waktu dan terlewat untuk menyaksikan pertandingan pamannya, dia pun bergegas mengajak Riyan dan Ibunya untuk menuju pelabuhan.


Tiba di pelabuhan, sebuah kapal besar yang terkenal cepat tengah berada di dermaga dan siap mengantarkan para penumpang menuju pulau pagai selatan. Mereka menaiki tangga bersama dengan para penumpang lainnya untuk memasuki kapal besar itu.


Sekitar 300 orang penumpang yang terdiri dari wisatawan lokal maupun asing di atas kapal tersebut menandakan popularitas keindahan alam Sumatra cukup terkenal hingga mancanegara, sebagian besar dari mereka merupakan turis yang berlibur untuk menikmati keindahan alam.


"Semoga pertandingan paman belum selesai" gumam Cindy begitu tiba di dalam kamar mereka.


"Jangan cemas!kabarnya kapal ini adalah kapal yang paling cepat" sahut ibu Cindy


"Sudah seharusnya kan, harga tiketnya seperti hotel bintang 5" celetuk Riyan


Benar saja, didalam kapal tersebut memang tersedia kamar untuk penumpang beristirahat. Cindy yang merasa senang langsung menuju dek kapal meninggalkan Riyan dan ibunya usai meletakkan tas bawaannya. Perasaan Cindy sangat gembira ketika berada di atas dek kapal, dek yang luas dan tampak seperti taman.


Cindy berjalan sedikit cepat menuju kearah tepi kapal melewati beberapa kursi dan meja yang terpasang sebuah payung besar untuk berlindung dari terik matahati. Dengan berpegangan kepada pagar kapal, Cindy menyaksikan laut dan ombak yang menghempas terkena dinding kapal besar itu.


"Ini benar-benar terasa seperti sedang berlibur" gumam Riyan melihat dek yang seperti taman.


Bahkan semenit kemudian seorang pelayan dengan seragam putih menghampiri Riyan dan ibu Cindy membawa sebuah menu minuman dan makanan untuk ditawarkan.


Lima belas menit kemudian tiga gelas ice lemon tea dan beberapa cemilan kue berada di atas meja siap untuk dinikmati.


Diantara banyaknya penumpang yang berada di atas kapal menuju Pulau Pagai Selatan itu, tanpa sengaja Riyan melihat salah seorang yang dia kenal ketika pandangannya menuju Cindy. Orang yang pernah bertarung dengannya ketika di markas utama Kurassha. Itu adalah Kenjo, seorang pria keturunan jepang dengan rambut sebahu.


Kenjo yang saat itu sedang duduk di kursi tidak jauh dari Cindy, membuat Riyan menjadi lebih waspada dan mengawasinya tanpa henti.


"Orang itu tidak mungkin sendirian, sedang apa mereka disini? karena mereka itu Kurassha, sepertinya mustahil akan berakhir damai" pikir Riyan


"Hei, ngelamun aja" ucap ibu Cindy mengagetkan Riyan yang tengah melihat Kenjo.


"nggak apa-apa Tante, hehe" balas Riyan sambil tertawa kecil dengan wajah menoleh kepada ibu Cindy yang tengah bersandar pada kursi.


"Itu diminum dulu biar segeran!" ucap ibu Cindy

__ADS_1


"Makasih tante" balas Riyan sopan


"Disini ada Cindy dan juga ibunya, aku tidak boleh membahayakan mereka" pikir Riyan lagi


Sesuai dugaan Riyan, tidak berapa lama kemudian dua orang lain datang mendekat dan bergabung dimeja Kenjo. Riyan pun berdiri sedikit menjauh dari ibu Cindy dengan alasan ingin sedikit menikmati angin laut.


"Tidak boleh ambil resiko" pikirnya


"Alpha, pindai handphone Kenjo untuk jaga-jaga!" ucap Riyan


Cindy yang kala itu masih menikmati pemandangan laut, tiba-tiba berpaling dan mendekati ibunya dan Riyan yang tengah berdiri sejauh 4 meter dari tempat duduk. Cindy kemudian pamit untuk pergi ke kamar kecil.


Riyan melontarkan senyuman kepada Cindy. Namun begitu dia berpaling kembali, Kenjo dan beberapa orang yang bersamanya telah hilang entah kemana.


"Untunglah Alpha sudah memindainya, paling tidak aku bisa tahu dimana orang itu berada" pikir Riyan


**


Meski lorong yang menuju kamar kecil termasuk lebar, Cindy yang Keluar dari kamar kecil wanita tidak sengaja bersenggolan dengan seorang pria asing berambut pirang.


"Maaf" ucap pria itu


"Saya juga minta maaf tadi tidak hati-hati" balas Cindy


Pria itu menyodorkan tangan dan menyebutkan nama "Steve" namun Cindy hanya menjabat tangan besar itu sambil tersenyum, kemudian meneruskan langkahnya tanpa menyebutkan namanya meninggalkan pria asing itu.


Seolah terpukau dan terpesona dengan sosok wanita Asia yang baru saja ditemuinya, pria asing tersebut terus melihat Cindy yang tengah menjauh. Pria asing itu pun melanjutkan memasuki kamar mandi sambil tersenyum setelah pandangannya tidak lagi dapat melihat Cindy.


Pria asing bernama Steve itu kembali menuju kamarnya dimana didalam kamar tersebut telah menunggu Kenjo dan tiga orang lainnya.


"Sebaiknya jangan terpisah dari kami! Saya tidak mau anda turun di tempat yang salah" ucap Kenjo


"Aku tau" balas Steve


"Aku tidak mengerti kenapa kita harus repot-repot menaiki kendaraan umum seperti ini, kita bisa saja pergi dengan helikopter" ucap salah satu orang di sana.


"Kita tidak perlu perjalanan mencolok seperti itu untuk menuju desa kecil, menjadi wisatawan adalah yang terbaik" balas Kenjo

__ADS_1


__ADS_2