
Siang itu sepulang sekolah, Riyan mendapati adiknya berada di garasi sedang memukul dan menendang samsak tinju. Hal itu membuat Riyan sedikit kagum dengan semangat adiknya, diapun mendekati adik kesayangannya itu.
"Semangat sekali" ucap Riyan
"Iya kak, aku ingin lebih kuat" sahut Mila
"tidak perlu, kau belajar serius saja. Biar kakak yang melindungi kalian" balas Mila
Mila kemudian menghentikan pukulannya, terlihat keringat mengucur dari tubuhnya. Kedua tangan Mila menghentikan samsak yang berayun. Wajahnya sedikit menunjukkan keseriusan dan diapun menceritakan bahwa sepulang sekolah tadi dia terlibat dengan orang-orang yang menculiknya dulu.
"apa kau mengenal mereka?" tanya Riyan yang sudah duduk di sebuah kursi panjang dekat tembok.
"Sepertinya mereka bagian dari kelompok orang-orang yang dulu kak" ucap Mila
"kau yakin?" tanya Riyan lagi
"dari pakaian dan simbol yang mereka kenakan" balas Mila
Riyan termenung sejenak, Bersamaan dengan itu Sapri keluar dari dalam rumah melalui pintu yang terhubung dengan garasi. Sapri sedang membawa sebotol air mineral untuk Mila.
"Mila benar, mereka anggota Kurassha" ucap Sapri yang baru tiba
Sapri kemudian melemparkan botol minuman kepada Mila untuk diminumnya. Riyan pun tersenyum kecil kearah Sapri.
"Eh, tapi bagaimana kamu bisa lolos?" tanya Riyan
"apa kaka lupa kalau sekarang ada pengawal sekaligus guru Mila kak" sahut Mila menunjuk kearah Sapri
"bagaimana ceritanya?" tanya Riyan
**flashback**
Begitu Mila dan teman-temannya memejamkan mata, kedua tangan Sapri bergerak dengan cepat mengarahkan dua pistol yang menodongnya sebelah kanan dan kiri kearah dua orang di depan.
Dua peluru yang keluar dari dua pistol itu seketika melubangi kepala anggota kurassha yang berada di depan Sapri. Dengan sigap Sapri merebut pistol salah satu dari mereka dengan mukul wajahnya.
"Dor"
Suara tembakan yang ketiga kalinya membuat satu orang lagi dari kurassha tewas, tembakan itu berasal dari pistol yang dipegang Sapri. Sekarang hanya tersisa seorang dari mereka yang masih menunduk memegang wajah penuh darah karena pukulan Sapri.
Mila dan yang lainnya membuka mata setelah mendengar 3 suara tembakan. Mila tidak dapat menahan air mata bahagia ketika melihat Sapri yang masih hidup sedang menodongkan pistol kearah anggota Kurassha yang tersisa.
"Kupikir suara tembakan itu menewaskan mu..hiks" ucap Mila tersedu memeluk Sapri
"Guru mu ini cukup hebat, bahkan jika ada 3 lagi seperti mereka pun tidak akan bisa membunuhku" ucap Sapri mengusap kepala Mila
Dengan pistol yang ditodongkan oleh Sapri, dia menanyakan kepada anggota Kurassha yang terluka itu mengenai alasan perbuatan mereka.
Informasi perintah penangkapan Mila pun terbongkar bersama dengan rencana penyerangan yang akan dilakukan oleh mereka besok.
Sayangnya orang itu berhasil kabur ketika temannya yang diperintahkan mengambil mobil tiba. Orang itu mendorong Sapri dan secepat tenaga berlari kearah mobil dengan pintu terbuka seolah sudah siap menyambut dirinya.
***
"ya, padahal kami ingin membawa mereka ke kantor polisi tapi malah kabur" ucap Mila
Sapri kemudian mencukupkan latihan Mila dan memintanya untuk beristirahat. Mila pun mengangguk dan pamit untuk masuk kedalam dan mandi. Setelah Mila meninggalkan tempat itu, Sapri duduk mendekati Riyan.
"Jadi bagaimana rencanamu sekarang bos?sepertinya masalahmu dengan Kurassha sudah semakin mendalam" ucap Sapri
"sepertinya begitu, aku akan menyelesaikannya besok" sahut Riyan
"aku tau kau hebat, tapi melawan 1500 orang sendirian bukan ide yang bagus" ucap Sapri
Riyan sedikit terkejut dengan perkataan Sapri, dia tidak tau dari mana Sapri mendapat informasi itu.
"orang yang menyerang Mila, dia menceritakan tentang penyerangan Kurassha besok. Sebaiknya kalian pergi saja!" ucap Sapri ketika melihat Raut wajah Riyan.
Riyan tersenyum mendengar permintaan Sapri, diapun kemudian berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"besok kau lindungi Tari dan Mila dirumah, aku akan menghalau mereka" ucap Riyan
"serius ingin melawan orang sebanyak itu?" tanya Sapri dengan sedikit heran
"tenang saja, aku punya rencana" balas Riyan melangkah masuk kedalam rumahnya meninggalkan Sapri disana.
*Kediaman Aldo*
Hari berikutnya, tambahan orang-orang Kurassha termasuk Rei datang di rumah Aldo. Kali ini bahkan jumlah anggota Kurassha yang hadir sampai memenuhi jalanan di depan rumah Aldo.
Mobil berwarna hitam terlihat berjejer sangat banyak di tepi jalan. Petugas kepolisian dari kelompok unit 1 yang bersiaga didepan gerbang masuk seketika menampilkan ekspresi terkejut di wajah mereka. Melihat jumlah orang sebanyak itu pastinya akan terjadi sesuatu yang besar juga.
"Ini sih lebih dari mencurigakan" gumam salah satu petugas polisi.
"Beritahukan hal ini kepada komandan! kita perlu lebih banyak orang seandainya terjadi bentrok disini" balas salah satu petugas lain.
Tidak berapa lama setelah rombongan terakhir Kurassha yang dipimpin Hendrik tiba disana dan menuju gerbang masuk kediaman Aldo. Saat itu mereka berpapasan dengan beberapa anggota kurassha lain yang mengenakan kaos hitam dan udeng bali dikepala. Masing-masing dari mereka membawa senjata api di tangan dan dengan mantap berjalan menuju jalan raya.
"Mau apa orang-orang Adiyana membawa senjata?apa sudah mau berangkat sekarang?" pikir Hendrik
Mata Hendrik mengikuti para rombongan itu, namun langkahnya tetap terus kedepan menuju rumah Aldo. Menyaksikan sekelompok orang keluar dari kediaman Aldo membawa senjata api, anggota tim 1 menjadi khawatir.
Tiba-tiba anggota Kurassha yang baru saja keluar dari rumah besar itu mengacungkan senjata dan langsung menghujani mobil yang berisi tim pengintai kepolisian dengan peluru.
Dua anggota tim 1 tewas seketika dengan banyak luka tembak di tubuhnya. Sedang tiga orang lainnya berhasil berlindung dan turun dari sisi lain mobil mereka untuk menunggu agar bisa membalas serangan.
"Pak kirim bantuan sekarang, kami diserang" ucap salah satu petugas menggunakan alat komunikasi ditangannya.
Suara senjata api yang berasal dari anggota Kurassha berbunyi keras hingga terdengar sampai ke tempat tim 1 dan 2. Merasa ada yang tidak beres, mereka pun segera bergegas menuju tempat asal suara tembakan tersebut.
Rentetan suara senjata api itu seketika membuat aktivitas disekitar tempat kediaman Aldo terhenti. Orang-orang berlarian karena takut dan panik, kendaraan yang melaju di jalur itu berhenti.
"ternyata membersihkan semut" gumam Hendrik
**10 menit sebelumnya**
Rei memasuki kediaman Aldo diikuti 4 pengawal elit miliknya, termasuk Teru yang sudah pulih dari lukanya saat melawan Riyan di markas Kurassha.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Rei
"Semua sudah disini kecuali orang-orang Hendrik" jawab Kenjo
"Orang itu memang selalu terlambat" balas Rei
"Satu lagi, sejak kemarin beberapa polisi mengawasi tempat ini"
"Lalu kenapa dibiarkan? habisi saja mereka!" perintah Rei
"Boleh?"tanya Kenjo heran
Selama ini Kurassha hanya bergerak secara diam-diam sambil terus mengacaukan pondasi pemerintahan dan memanfaatkan situasi.
"Kita tidak akan bersembunyi lagi, jadi lakukan saja sesukanya" sambung Rei
Meski sedikit bingung dengan apa yang membuat Rei memutuskan Kurassha tidak akan bersembunyi lagi, Kenjo kemudian memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengambil senjata api dan menyerang para polisi pengintai yang ada di depan kediaman Aldo.
**Saat ini**
Jalanan didepan kediaman Aldo sudah seperti arena peperangan skala kecil, hanya saja serangan hanya berasal dari satu pihak. Tim unit 1 hanya bisa berlindung dibalik mobil mereka yang sudah hampir hancur akibat peluru yang terus menerus menerjang tanpa henti.
"Bagaimana ini?kalau tetap disini kita akan mati" ucap salah satu polisi
"Menyerang pun sama saja" balas satu orang lagi
Suara pecahan kaca yang bersahutan dengan suara selongsong peluru yang jatuh ke jalan terus berbunyi tanpa henti. Sesaat kemudian bantuan serangan dari rekan mereka tiba, tim 2 dan 3 yang baru saja sampai langsung membantu rekannya dari arah kiri dan kanan anggota Kurassha.
Peluru yang keluar dari pistol milik tim 2 dan 3 berhasil menewaskan 4 orang Kurassha yang sedang menembaki tim 1. Terkejut dengan serangan yang datang tiba-tiba, anggota Kurassha segera mundur ke tembok dan beberapa lainnya berlindung dibalik mobil.
Kala itu Hendrik baru tiba dihadapan Rei dan ketua yang lainnya yang siap berangkat. Keriuhan suara dari peperangan kecil di luar rumah Aldo sampai terdengar ke telinga mereka.
__ADS_1
"apa yang mereka tembaki?" tanya Hendrik
"hanya beberapa penghalang kecil" sahut Kenjo
"Lalu kenapa mengirim anak buah Adiyana?apa mereka bisa melakukan pekerjaan dengan benar?" Ejek Hendrik
"Apa maksudmu?" ucap Adiyana
"Apa kau tuli?suara tembakan itu masih terus terdengar sejak tadi, artinya anak buahmu belum membereskan masalah didepan" sahut Hendrik
Kedua Ketua pimpinan itu saling menatap tajam yang kemudian dihentikan oleh Rei. Pimpinan Kurassha dari Bali yang bernama Adiyana dan Hendrik memang selalu bersiteru.
"Hentikan tingkah kalian! karena semua sudah lengkap, kita berangkat sekarang!" ucap Rei
Seluruh anggota Kurassha dipersiapkan untuk berangkat, begitu mereka melangkah keluar dari gerbang Aldo. Kenjo mengangkat tangannya sejajar telinga kemudian melambaikannya kedepan, kemudian tiga orang maju ke depan dengan membawa peluncur granat dan menembakkannya kearah tiga tim polisi yang sedang berlindung dari tembakan.
Granat yang diluncurkan cukup untuk membuat mobil tempat para polisi berlindung meledak dan hancur seketika. Beberapa dari mereka sempat menghindar dari ledakan itu, namun keselamatan yang mereka rasakan hanya sementara.
Dengan banyaknya anggota Kurassha yang berada disana, hujan peluru puluhan kali lipat dari sebelumnya membuat semua petugas dari tim pengintai tewas seketika.
Semua anggota Kurassha menaiki mobil mereka dan meninggalkan jasad para polisi beserta sisa mobil yang terbakar.
Tidak berapa lama kemudian beberapa buah mobil polisi yang mengangkut banyak petugas tiba, namun sayangnya tempat itu sudah tidak ada satupun orang kelompok Kurassha.
"Sial, kita terlambat. Suruh orang mengurus jenazah rekan kita! Kita harus mengejar para penjahat itu" ucap komandan
*Kota Muriya*
Siang itu Riyan menyalakan mobilnya bersiap untuk pergi menghadang Kurassha. Sapri dan Mila mendekati Riyan yang sedang berada di dalam mobil.
"kau yakin?aku bisa membantu jika kau mau" ucap Sapri
"kau jaga mereka disini saja!" balas Riyan
Saat itu Mila tidak tau kalau Riyan akan menghadang sejumlah besar anggota Kurassha. Karena kebetulan hari libur, Riyan hanya mengatakan akan berangkat ke pantai untuk berlibur hari itu.
Begitu akan menjalankan mobilnya, dirinya dikejutkan oleh kedatangan dua buah mobil minibus hitam yang masuk ke terasnya. Riyan kemudian turun dari mobil dan meminta Sapri dan Mila untuk masuk kedalam.
Riyan hanya berdiam menunggu siapa yang akan turun dari mobil tersebut. Beberapa orang dengan pakaian set tempur lengkap turun dari mobil itu
"Aku tidak mengira kalian semua akan ada disini" ucap Riyan
"Kenapa tidak? Kelompok Kurassha akan tiba dalam jumlah besar, ini kesempatan bagus menghabisi mereka" sahut Markus
Hampir semua agen AII sekarang berada di hadapan Riyan, mereka bersiap untuk menghadapi Kurassha hari ini. Julian, Maria, Fita, Beni, bahkan Markus tidak melatih para junior untuk memimpin tim mereka masing-masing yang terdiri 3 orang.
"kita tidak bisa tiba-tiba ikut bergabung dengan polisi atau tim khusus, maka dari itu kita harus menyusun rencana" ucap Beni
Riyan membawa semua orang masuk kerumahnya untuk merundingkan rencana mereka. Menurut informasi dari lebah milik Beni, Kurassha sudah berangkat setengah jam yang lalu.
"jadi kau punya bantuan ya?" ucap Sapri yang muncul dari ruang tengah
Riyan kemudian memperkenalkan Sapri dengan mereka. Yakin bahwa anggota Kurassha tidak akan ada yang datang kerumah Riyan, maka Sapri juga ikut bergabung dengan mereka.
Selembar kertas besar diletakkan di meja ruang tamu Riyan, dari kertas itu mereka membuat sebuah rencana untuk menghadapi Kurassha yang akan datang. Setelah sepakat, mereka semua keluar rumah Riyan untuk menjalankan rencana yang sudah tersusun.
"kau tidak mengajak Cindy?" tanya Lisa kepada riyan
"tidak, aku tidak ingin melihat dia terluka seperti kemarin" sahur Riyan
"so sweet banget, hahaha" ejek Lisa
"Tunggu!" teriak Riyan
Semua orang disana terdiam dan menatap Riyan. Karena mobil mereka lebih besar, Riyan memutuskan memindahkan Robot BANE yang sudah dikendalikan Alpha kedalam mobil AII.
Beberapa dari mereka terkejut melihat BANE yang keluar dari mobil Riyan, terlebih Beni yang tidak mengira robot itu bergerak tanpa pengendali. Beberapa dari anggota AII mengacungkan senjata mereka kepada Robot BANE.
"tahan! tahan! robot ini berada dipihak kita, aku meminta seorang teman untuk memprogram ulang robot ini" jelas Riyan
__ADS_1
Harapan keberhasilan pun menjadi lebih besar, orang-orang itu dengan percaya diri berangkat memasuki mobil mereka. Karena adanya rencana baru, Riyan tidak jadi berangkat dengan menggunakan mobil. Dia pun mengeluarkan motornya dan melaju terlebih dahulu dari yang lain.