Nano System

Nano System
Episode 125 Perang Bag VII Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

*Beberapa tahun yang lalu*


Sapri yang sangat ingin ikut Turnamen silat Nasional, diberikan sebuah syarat oleh gurunya. Dia harus berhasil menyentuh atau memukul saat melawan gurunya yang menggunakan gagang sapu dari kayu dengan tangan kosong.


"Plak,,plak"


Beberapa kali sapri menerima pukulan kayu itu hingga membuat tangan dan tubuhnya memar. Tiap malam dia kesakitan menerima pelatihan dari gurunya.


"Kau harus bisa menghadapi lawan yang lebih kuat dengan situasi yang sulit. Kalau tidak bisa, tidak perlu ikut Turnamen itu"


Perkataan gurunya itu dijadikan sebagai motifasi oleh Sapri. Dia selalu mencari cara bagaimana mengalahkan gurunya yang menggunakan gagang sapu.


Seandainya itu berupa pedang, tentu Sapri sudah tewas berkali-kali. Hasil dari latihan itu Sapri mendapatkan pengalaman dan teknik baru.


Satu minggu berlalu namun tetap tidak bisa menyentuh tubuh gurunya. Sapri yang sudah hampir menyerah, meminta saran kepada kakak seniornya yaitu Fadli.


Malam itu Fadli sedang duduk sambil minum teh di Gazebo tempat mengawasi latihan murid-murid silat. Sapri mendekati seniornya dan langsung merebahkan diri.


"Masih belum berhasil?" Tanya Fadli


"Ya, Apa ada cara mengalahkan guru?"


"Ada"


Sapri langsung bangkit dan dengan penuh semangat meminta agar Fadli memberitahukan caranya.


"Bagaimana kak?apa perlu latihan sulit?"


"Tidak, cukup tunggu sampai guru berusia 70 atau 80 tahun, maka kau bisa dengan mudah mengalahkan beliau.hahahaha"


"Huh..Ku pikir kau serius"


"Guru itu kuat, kita tidak akan mampu mengalahkannya. Mungkin sebaiknya kau menyerah saja untuk ikut Turnamen"


Semalaman Sapri memikirkan perkataan seniornya untuk menyerah saja. Namun hati kecilnya ingin mengalahkan gurunya dan mengikuti Turnamen.


Keesokan harinya Sapri diminta membeli bahan makanan ke pasar. Diperjalanan dia melihat seorang anak yang lari dikejar oleh ibunya yang marah-marah.


Sapri hanya berjalan mengacuhkannya, namun saat itu dia terpikir untuk melatih teknik baru untuk melawan gurunya.


"Kak, bisa bantu aku?" ucap Sapri


"Bantu apa?" tanya Fadli


"Latihan"


Fadli setuju membantu Sapri, saat itu Sapri berbalik membelakangi Fadli. Kemudian meminta seniornya itu untuk melemparnya dengan potongan kayu kecil.


"Apa kau ingin melatih reflek?" tanya Fadli


"Kurang lebih begitu"


Fadli mulai melemparkan kayu kepada Sapri. Awalnya dari 100 lemparan, hanya 20 yang bisa dihindari Sapri.


Satu bulan telah berlalu, akhirnya Sapri bisa sepenuhnya menghindari lemparan seniornya itu. Dengan percaya diri dia melakukan tantangan kembali menghadapi gurunya.


Reflek Sapri menjadi sangat bagus, dia bisa menghindari serangan kayu gurunya tanpa harus menangkis. Bahkan beberapa kali Sapri hampir bisa menyentuh gurunya.


Hingga ketika sapri berlari membelakangi gurunya dan kayu mengarah ke punggung Sapri, dia berbalik dan dengan cepat mengambil tongkat sapu gurunya kemudian menyentuh tubuh gurunya itu.


***********

__ADS_1


Tombak Miura melayang kearah punggung Sapri, kemudian dengan cepat dia memutar tubuhnya menangkap tombak Miura yang berada diudara.


Dengan daya dorong yang masih tersisa dari tombak itu, Sapri memutar tubuhnya mengikuti aliran dorongan tombak dan berakhir dengan menusukkan ujung rombak ke dada Miura hingga tembus kebelakang.


Tubuh Miura terdiam, darah menetes dari tubuhnya yang tertembus tombaknya sendiri.


Masih memegang tombak Miura, Sapri melompat dan menendang orang itu hingga terlepas dari tombak yang menancap di tubuhnya.


Hanya selang beberapa menit, Miura kehilangan nyawanya. Sapri memutar tombak milik Miura ke belakang tubuhnya.


"Boleh juga ni tombak" ucap Sapri


Usai meminta Jonathan dan Adrian untuk membantu Lei, Riyan berharap Jonathan dan Adrian paling tidak bisa menahan Kakushikijo sedikit lebih lama.


Saat itu dihadapan Riyan, Karura memutar-mutar senjata nodachi miliknya. Riyan pun ikut memutar kedua pedangnya yang ada pada masing-masing tangannya.


"hiaaat"


Bersamaan dengan teriakan yang keluar dari mulut Karura, pertarungan keduanya pun dimulai. Dengan dua tangan memegang gagang nodachi, Katana sepanjang satu meter itu ditebaskan lurus vertikal kearah Riyan.


Kali ini Riyan tidak menangkis serangan dari lawannya itu, tetapi menghindari tebasan Karura hingga nodachi miliknya tepat melintas di hadapan tubuh Riyan hingga menghantam lantai.


Tanpa menunggu lama, Riyan membalas dengan melayangkan tusukan kearah perut Karura menggunakan pedang oriental yang ada ditangan kanannya.


Kemampuan Karura memang cukup hebat, dia mampu melihat arah serangan Riyan. Seketika Karura memutarkan tubuhnya untuk menghindari tusukan pedang Riyan.


Bukan hanya itu, Karura sekaligus melepaskan tebasan diagonal dari lantai bersamaan ketika dia memutar tubuh untuk menghindari tusukan dari Riyan.


"Tiiing"


Nodachi milik Karura tertahan oleh pedang Riyan sejenak. Laju nodachi milik Karura sekejap naik keatas dan menukik turun seolah ingin membelah tubuh Riyan.


"Orang ini sagat hebat, bahkan dengan pedang seperti itu" pikir Riyan


Karura sangat ahli menggunakan nodachi miliknya. Gerakannya mampu menandingi Riyan. Sekali lagi keduanya saling serang dengan senjata masing - masing.


"Tiiing...tiing....tiingg"


Beberapa kali senjata kedua orang itu berbenturan hingga sampai menimbulkan sedikit percikan api akibat gesekan nodachi Karura dengan katana milik Riyan.


Beberapa saat kemudian Riyan mengganti mode pedang oriental menjadi absolut attack. Serangan berikutnya dari Riyan akhirnya dapat menembus nodachi Karura dan berhasil menyabet tubuh Karura. Hanya saja pakaian yang dikenakan anggota Ju Shin Kira itu sangat tebal dan kuat hingga pedang Riyan tidak berhasil mengenai kulit Karura.


Sebagian pakaian Karura jatuh kelantai karena terpotong pedang oriental. Serangan terakhir Riyan membuat Karura lebih waspada. Dia pun mengeluarkan katana pendek yang terpasang di belakang pinggangnya.


Sekarang tangan kiri Karura memegang katana pendek untuk pertahanan lanjutan dari serangan yang bisa menembus benda itu.


"Formles Attack"


Pedang Oriental mengeluarkan bunyi khasnya dan gear yang ada di pedang itu berputar. Beberapa detik kemudian ujung hingga pangkal pedang menghilang, Riyan terlihat hanya memegang gagang tanpa bilah pedang di tangannya.


Karura pun menjadi lebih waspada ketika melihat hal itu, dia bergerak perlahan dengan posisi nodachi didepan dan katana dibagian belakang.


Riyan menebaskan gagang oriental kearah Karura. Meski tidak mengerti apa yang dilakukan lawannya itu, dia mengangkat nodachinya seolah sedang menangkis sebuah tebasan yang datang dari atas.


Benar saja, suara dentingan terdengar meski tak terlihat adanya pedang yang bersentuhan. Meski begitu, pakaian bagian punggung Karura robek.


Karura menjadi semakin bingung, ditambah sekarang Riyan melesat kehadapannya menebaskan katana ditangan kirinya. Senjata kedua orang itu kembali beradu.


Tangan kanan Riyan kembali mengayunkan gagang pedang yang terlihat kosong. Karura yang memperhatikan hal itu pun memutuskan untuk mundur sebagai antisipasi gerakan tangan Riyan.


Sayangnya jangkauan pedang oriental bentuk Formless attack lebih jauh dari pedang biasa. Akibatnya bagian paha Karura mendapatkan luka sayatan yang cukup dalam.

__ADS_1


Riyan berkali-kali mengayunkan gagang pedang oriental, wujud yang tidak terlihat dan sifat seperti cambuk membuat Karura tidak bisa berbuat banyak untuk menghindari serangan Riyan.


"Sreet...sreet"


Pakaian tebal yang melindungi Karura dari peluru dan sabetan pedang sekarang hancur akibat serangan Riyan yang bertubi-tubi.


Karura sama sekali tidak bisa menebak dari mana arah serangan Riyan, hingga akhirnya dalam sekali gerakan Riyan maju dan mengayunkan pedang oriental sekali lagi hingga melilit tubuh Karura.


Dengan sekali tarikan kuat Riyan, tubuh Karura mendapatkan luka lebar yang mengelilingi tubuhnya. Sosok itu pun jatuh dengan tubuh terkoyak dan darah yang membasahi tubuhnya, satu lagi anggota Ju Shin Kira telah tewas.


Riyan kemudian mengembalikan bentuk pedang oriental kewujud semula. Dalam detik itu dia mencari rekan yang kira-kira memerlukan pertolongan darinya.


Riyan memperhatikan pertarungan disekitarnya. Tiga anggota Thorn tengah melawan Kakushikijo dan mereka terlihat seimbang. Disisi lain Riyan melihat Hendrik Panser yang sekarang sedang bertarung dengan pimpinan Thorn yaitu Heru, saat itu Hendrik telah terlempar jatuh akibat bantingan Heru.


Lebih jauh dari tempat Riyan berdiri, robot BANE masih bertarung dengan Koomote, Sedang Hannya sekarang tengah melawan Julian dan Maria dari AII.


Sedangkan Lisa sekarang disibukkan oleh Hashihime usai memberikan serum penyembuh kepada Markus. Tidak jauh dari situ, Riyan melihat Rei sedang berjalan kearah Cindy.


Dia pun memutuskan untuk menghalau Rei yang akan bertarung dengan Cindy. Ketika Riyan baru saja melangkah sebanyak tiga kali, sebuah pedang yang terpasang rantai mengarah kepadanya.


"Kliing" Pedang itu memantul karena tangkisan Riyan dan kemudian kembali ditarik oleh pemiliknya.


Riyan menoleh kearah asal senjata itu, dia pun melihat sosok yang memakai topeng iblis berwarna hijau dan berambut merah. Topeng itu melambangkan sosok roh air dalam mitologi jepang, Kappa.


"Kenapa dia membiarkan temannya melawan robot kami sendirian" pikir Riyan


Setelah menanyakan kepada Alpha, ternyata kondisi robot BANE saat ini kurang menguntungkan. Tebasan beruntun yang dilakukan Koomote dan Kappa di satu titik kaki robot BANE telah membuat perubahan gerakan robot BANE.


Goresan yang dalam pada bagian kaki membuat Alpha harus menghentikan program robot BANE dari melakukan teknik beladiri Capoera, hal itu dikarenakan khawatir kaki robot itu akan hancur jika memaksakan gerakan beladiri itu.


"Jadi begitu, pantas saja dia percaya diri meninggalkan temannya" pikir Riyan


Sekali lagi Kappa melemparkan pedangnya kepada Riyan, kali ini Riyan membiarkan senjata itu melewati tubuhnya dengan bergerak kearah samping.


Riyan sedikit merendahkan tubuhnya kemudian melesat kearah Kappa, dengan kehadiran Riyan yang sudah tiba dihadapannya membuat Kappa kaget kemudian melompat mundur dan menarik rantai pedangnya.


"Sriiing"


Riyan menusukkan salah satu pedangnya diantara lubang rantai Kappa hingga menancap ke lantai. Hal itu membuat Kappa tidak bisa menarik kembali pedangnya. Sekali lagi Riyan melesat dengan hanya pedang oriental ditangannya.


Tanpa diduga Kappa mengeluarkan katana pendek dari bagian belakang pakaiannya dan menghadang Riyan yang melesat cepat kearahnya dengan tebasan cepat kearah leher Riyan.


"Kliiing"


Riyan menggunakan pedang oriental untuk menghentikan tebasan Kappa, saat itu katana Kappa tertahan hanya beberapa cm dari leher Riyan. Pertarungan pun berlanjut dengan gerakan cepat diantara keduanya.


Sementara itu tinju dari prof Gema selalu dapat dihindari oleh Kitsune. Prof Gema yang hanya mengandalkan kekuatan dari perubahan material kulitnya sama sekali bukan tandingan orang bertopeng rubah itu.


Bahkan beberapa kali Kitsune menebas dan memukul tubuh prof Gema. Meski tidak terluka, namun hal itu menguras stamina dan kekuatan prof Gema.


Kitsune terus menekan prof Gema hingga terpojok dan kehabisan tenaga. Hal itu mengakibatkan prof Gema kembali ke wujud manusianya dengan nafas terhengal.


"Ah..ternyata tebakanku tidak meleset seperti seranganmu. Kau benar prof Gema" ucap Kitsune yang menghentikan serangannya.


"Siapa kau?" tanya prof Gema heran


Sepengatahuan prof Gema, tidak banyak orang yang mengenal dirinya di Indonesia apalagi dari sisi kelompok kejahatan seperti Kurassha.


"tentu saja kau tidak mengenalku karena topeng ini" Kitsune kemudian melepas topengnya.


Perasaan heran berubah menjadi terkejut, yang kemudian membawa Prof Gema merasakan ketakutan dengan sosok Kitsune yang sudah melepaskan topeng dan menunjukkan wajahnya kepada prof Gema. Sosok Kitsune sepertinya berhubungan dengan masa lalu prof Gema saat berada di organisasi NOZ.

__ADS_1


__ADS_2