Nano System

Nano System
Episode 94 Latih Tanding


__ADS_3

Pukul 12.00 siang sehari sesudah kejadian di markas utama kurassha, Riyan melakukan check out dan melangkah keluar dari penginapan. Karena tadi malam terlalu fokus mengembangkan kemampuannya dan menyerap nano material, membuat Riyan sampai lupa untuk memesan tiket pesawat secara online melalui ponselnya.


"mungkin beli tiket langsung di bandara saja" gumam Riyan


Ketika siap berangkat untuk pergi ke Bandara, beberapa saat kemudian dia teringat bengkel dimana mobilnya diperbaiki kemarin. Keinginan Riyan untuk pulang sedikit gundah karena dia merasaa mempunyai tanggung jawab terhadap mobil yang dipinjamkan kepadanya.


Riyan bahkan sempat berpikir untuk membawa mobil itu ke Muriya, namun akan menyusahkan jika harus membawa serta mobil itu serta menyiapkan alasan logis lainnya yang pastinya akan menimbulkan kecurigaan.


"Mungkin sebaiknya kutanyakan kepada Julian saja, semoga tidak merepotkan mereka" gumam Riyan


Diapun menghubungi Julian dan mengatakan kalau dia ingin kembali ke kota asalnya serta mengenai mobilnya dan lokasi bengkel. Julian kemudian memberikan penjelasan kalau Riyan tidak perlu cemas karena mobil itu akan ada yang mengambilnya dan mengembalikan ke markas.


Riyan akhirnya bisa lega dengan perkataan Julian. Mengenakan jaket dari bahan jeans biru dan ransel menggantung di punggungnya, dia menghentikan sebuah taksi untuk mengantarkan ke bandara.


"Akhirnya aku bisa pulang" ucap Riyan


Setibanya di bandara, Riyan membeli tiket pesawat dan mendapatkan keberangkatan sore hari pada pukul 16.00. Dia harus puas dengan itu karena memang tiket untuk keberangkatan siang sudah habis.


"Sekarang baru pukul 14.00 , harus menunggu dua jam lagi" gumam Riyan


*Hotel Nova*


Rei bersama dengan pengawal dan pemimpin kurassha yang selamat, tengah berkumpul di hotel Nova lantai 7. Zaki yang merupakan pemimpin cabang jakarta pusat sekaligus pemilik hotel itu menyiapkan tempat untuk pertemuan Kurassha sekaligus penginapan Rei dan pengawalnya.


Pemimpin daerah kurassha sekarang telah banyak berkurang akibat pertarungan di markas pusat. Sekarang yang tersisa hanya 8 pemimpin daerah, yaitu 5 orang yang tidak ikut pertemuan di markas utama termasuk Hendrik panser dan 3 orang yang terluka parah karena bertarung dengan Riyan.


Siang itu atas perintah Rei, mereka semua berkumpul dan duduk bersimpuh di atas karpet merah dengan bir dan makanan yang tersedia di atas meja panjang didepan mereka.


Rei memberikan arahan kepada para pemimpin Provinsi yang tersisa didalam ruang rapat, setelahnya beberapa putusan dibuat secara cepat untuk mengisi kekosongan para pemimpin provinsi yang telah tewas dalam pertempuran.


"Untuk sementara, perintahkan para pemimpin cabang untuk mengambil alih posisi para pimpinan provinsi yang telah tewas. Aku akan kabarkan berita ini kepada ayah! untuk sementara kita harus membenahi organisasi" balas Rei


"Bagaimana dengan rencana menciptakan kerusuhan yang akan dijalankan?" tanya yang lain


"Tetap jalankan, keributan di tiap daerah juga berguna untuk pengalih perhatian pemerintah. Satu lagi, cari informasi mengenai orang-orang yang menyerang kita! terutama yang mengenakan pakaian hitam itu. Kerahkan semua anggota untuk mencari informasi, temukan siapa dia" jawab Rei


Pertemuan mereka berakhir dengan penyebaran perintah untuk melakukan pelacakan dan mencari Riyan.


****


Suara bising pesawat yang baru lepas landas terdengar jelas di telinga Riyan yang sedang berada pada sebuah restoran tepat di depan bandara. Menu ayam bakar saos lada hitam menjadi pilihan Riyan untuk santapan makan siangnya.


Ketika menunggu makanannya tiba di meja bundar berhias beberapa tangkai bunga warna warni diatasnya, dua orang pria yang dikenalnya menarik kursi yang ada dimeja Riyan dan duduk dihadapannya.

__ADS_1


"Pak Rudy, Pak Topan" ucap Riyan reflek berdiri menyodorkan tangan menyambut kedua orang itu karena sedikit kaget atas pertemuan tiba-tiba yang tanpa rencana tersebut.


"Santai saja Riyan, tidak perlu kaget begitu. Kami juga ingin makan siang disini dan kebetulan melihat kamu, boleh gabung kan?" ucap pak Rudy


"Tentu saja pak, silahkan-silahkan" balas Riyan


Mereka pun berbincang sejenak sebelum pramusaji dengan seragam restoran berwarna biru laut menghampiri meja dimana mereka berada. Dengan membawa buku menu restoran dan catatan kecil ditangannya, pramusaji tersebut menyerahkan buku menu kepada pak Rudy dan pak Topan.


Tanpa membuka buku menu, mereka berdua sudah menyebutkan apa yang mereka inginkan kepada pramusaji.


"Baik pak, silahkan ditunggu ya!" ucap pelayan setelah mencatat permintaan pak Rudy dan Topan kemudian meninggalkan meja.


Mereka melanjutkan perbincangan yang sempat terpotong, dari perbincangan itu diketahui kalau pak Topan dan Rudy ingin mengadakan sebuah pertemuan bisnis terkait penemuan mereka mengenai obat yang berasal dari antelop yang di tangkap Riyan.


"Jadi penelitiannya sukses pak?" tanya Riyan


"Benar, hasil dari penelitian itu melebihi ekspektasi. Itulah sebabnya kami akan menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan farmasi dari berbagai daerah" balas pak Rudy


Mereka menawarkan Riyan untuk ikut serta, namun arah pesawat yang dituju berbeda. Pertemuan yang dilakukan oleh pak Rudy dan rekan-rekan bisnisnya akan terjadi di Kota Padang dalam beberapa hari lagi.


"Jauh sekali, kenapa tidak di sini saja?" tanya Riyan


"Di sana kami memiliki sebuah resort jadi lebih enak untuk sebuah pertemuan"


"Bukan, itu milikku dan Surya" jawab pak Rudy


"Eh..Saya pikir beliau cuma pemilik restoran Nature Food saja" ucap Riyan sedikit terkejut


"Surya itu, tidak seperti yang terlihat dari luar. Ada alasan kenapa dia berada di kota Muriya, dan itu tidak perlu kau tau" ucap pak Rudy


"tapi kalau masih beberapa hari lagi, kenapa anda harus berangkat sekarang?" tanya Riyan


"tidak apa, kami ingin mempersiapkan pertemuannya dengan sempurna" sahut pak Topan


"jadi begitu" ucap Riyan


Setengah jam kemudian dua orang pramusaji dengan rak dorong kecil berlapis kain putih membawa makanan pesanan mereka dan meletakkannya di meja.


*Tengah Hutan Muriya*


Di tempat lain, Sore itu dua orang gadis mengenakan pakaian olahraga SMA Fajar Harapan tengah bertarung sengit pada sebuah padang rumput. Satu dari mereka menggunakan sarung tangan berlapis besi dan satu lagi menggunakan sebuah pedang.


Tidak seperti pertarungan manusia normal pada umumnya, gerakan mereka sangat cepat. Kedua gadis itu melompat kesana kemari sambil melakukan serangan maupun pertahanan.

__ADS_1


"Klink...klink...klink"


Tebasan pedang berbenturan dengan sarung tangan berlapis besi pada bagian punggung tangan.


Gerakan kedua gadis itu menimbulkan hembusan angin yang menyebabkan rerumputan setinggi lutut yang ada di sekitar sana bergoyang.


"Buuuk"


Sebuah pukulan keras dari tinju yang di tahan dengan pedang, membuat gadis itu melayang kebelakang dan mendarat dengan menancapkan pedangnya ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Aku tidak menyangka kau berkembang sepesat ini" ucap Lisa mencabut pedangnya dari tanah


"Ya, ini juga berkat serum prof Gema dan sarung tangan ini" balas Cindy


"Sudah sore, kita istirahat dulu" ucap Lisa


Kedua gadis itu kemudian berjalan bersama menuju pohon besar pada sebuah bukit dan duduk dibawahnya. Cindy dan Lisa mengambil air mineral dalam tas mereka kemudian meminumnya.


Melihat Cindy yang menghabiskan separuh dari botol berisi air putih 1,5 liter, Lisa sedikit kagum.


"Buset, itu haus apa kesurupan?" ucap Lisa


"Mau bagaimana lagi, kemampuan listrik ini menghabiskan banyak tenagaku" sahut Cindy


Setelah itu Cindy menyandarkan tubuhnya kepada akar besar pohon dibelakang mereka.


"Pantas saja mengajakku latih tanding disini, sepertinya kau sudah berlatih keras ya. Menandingi kecepatan ku bukan hal mudah meski oleh seorang ahli beladiri" ucap Lisa


"Ya, aku sedikit berlatih beladiri yang cocok dengan kemampuan dari belut listrik" balas Cindy


"Jadi begitu, pantas saja. Ngomong-ngomong, kau tidak dijemput?" tanya Lisa lagi


"Tidak, ayah sedang sibuk sekali belakangan ini" jawab Cindy


Lisa hanya mengangguk pelan sambil melihat pemandangan rumput luas didepan mereka. Dia pun kembali mengangkat botol plastik berisi air untuk menghilangkan dahaganya dengan air mineral yang dia bawa.


"Oia, kapan Riyan kembali?" tanya Lisa


”Dia bilang sih hari ini akan pulang, mungkin sore. Prof Gema bagaimana kabarnya?" balas Cindy


"Entahlah, katanya masih mengerjakan hal penting bersama temannya di India" sahut Lisa


Lisa berdiri menepuk-nepuk kecil untuk membersihkan celananya dari debu dan sedikit tanah, kemudian mengajak Cindy untuk pulang meninggalkan tempat latihan mereka yang berada di tengah hutan.

__ADS_1


Sementara itu diluar hutan, beberapa siswa bergerombol dekat motor sport Lisa. Mereka adalah sekumpulan senior kelas tiga yang pernah berselisih dengan Cindy dan Benny. Bersama dengan pemimpinnya bernama Nino, mereka berencana untuk membalas perbuatan Cindy tempo hari.


__ADS_2