
Ketika para agen hampir tiba di ruang tengah markas kurassha, suara terdengar di telinga mereka dari alat komunikasi yang dimiliki para agen.
"Eemmm teman-teman, ada masalah diluar. Banyak orang dengan senjata yang sepertinya anggota kurassha, dan mereka terlihat ingin masuk kesana"
"Beni?kenapa kau juga ada disini?" ucap Julian seolah tidak percaya
"Nanti saja penjelasannya! Beni, apa kau bisa mengeluarkan kami?" tanya Fita
"Entahlah, aku hanya sendirian diluar sini" balas Beni
"Gunakan launcher di bagasi belakang! pakai bom asap yang banyak" ucap Markus
"Baiklah, asalkan ada pengalihan besar, aku akan membuat asap tebal untuk kalian keluar" sahut Beni
"Tidak masalah, aku punya satu pengalihan yang kurasa cocok" ucap Julian
"Kalian membawa maskernya kan?" tanya Beni
"Tentu saja" sahut mereka
"Kalau begitu kita lakukan" balas Beni
Mereka kemudian mencoba memanggil Riyan melalui alat komunikasi, namun tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk menjemput Riyan.
"Aku akan mendatanginya" ucap Fita yang masih memiliki cukup tenaga diantara rekan-rekannya setelah berdiam diri.
"2 menit, kalau tidak pasukan di luar akan masuk dan menyerang kalian" ucap Beni
Fita bergegas kembali menuju ruang pertemuan untuk meminta Riyan agar mundur.
******
Sementara itu pasukan kurassha sudah berkumpul di depan markas utama dengan menaiki puluhan mobil. Mereka diperintahkan untuk menerobos dan menangkap beberapa orang yang didalam.
Tiga dari mereka mendekati empat orang yang saat itu berada di teras markas utama bersama mayat penjaga.
"Sedang apa kalian kemari?" tanya salah seorang dari empat orang yang berada di teras.
"Maaf pak Hendrik, kami diminta pimpinan untuk kemari. Menurut informasi, tempat ini telah diserang dan sebagian besar pimpinan telah tewas" jelas orang itu
"Jadi ada penyerangan, ternyata ada untungnya juga kita terlambat" ucap tangan kanan Hendrik bernama Tom.
Seorang pria muda dengan postur sedang namun berotot, dia merupakan petarung beladiri muaythai yang dipekerjakan Hendrik.
"Kalau benar begitu, sebagian jaga di luar, sisanya ikut masuk kedalam!" ucap Hendrik
Sekitar 50 orang bersenjata menyiapkan senjata mereka dan bersiap masuk kedalam markas utama, dan sepuluh orang bersiaga di luar.
*******
Disaat yang sama, Fita telah tiba di lorong depan ruang pertemuan dan menemukan empat orang tergeletak di lantai dengan luka yang cukup parah.
Pandangannya kemudian beralih tidak jauh dari tempat dia berdiri, dia tertegun sesaat melihat perkelahian tiga orang itu. Ditambah pakaian Riyan yang sekarang berubah.
"Eh apa itu Riyan?tapi kostumnya sedikit berbeda" gumam Fita
Tidak lama kemudian dirinya kembali sadar kalau kedatangannya adalah untuk mengajak Riyan pergi dari markas itu.
"Kita harus pergi dari sini, situasi sangat berbahaya sekarang" teriak Fita
Saat itu Riyan yang sedang mengayunkan kedua pedangnya yang ditahan oleh Rei dan juga Kenjo, menoleh kearah teriakan Fita. Begitu juga dengan dua orang lainnya, mereka pun menoleh kearah Fita yang sedang berdiri di lorong.
Riyan seketika merasa khawatir kedua orang itu akan menyergap Fita, dia pun segera menambahkan kekuatan dorongan tangannya sehingga terlepas dari adu kekuatan itu.
"Padahal aku belum mengambil wechas orang-orang ini" pikir Riyan
__ADS_1
Riyan kemudian pergi dengan cepat kearah Fita, menghilang dari pandangan dan muncul tiba-tiba di samping Fita hingga membuatnya terkejut.
"Apa maksudmu bahaya?" tanya Riyan
"Nanti saja penjelasannya, sebaiknya lekas kita pergi dari sini" balas Fita
"Klink...klink...klink"
Beberapa shuriken yang dilemparkan Rei dan Kenjo berjatuhan karena ditangkis oleh Riyan dengan pedangnya.
"Beam Attack" ucap Riyan
Riyan melepaskan tebasan bertubi-tubi ke arah Rei dan juga dinding lorong sehingga membuat hambatan di sana. Hal itu membuat Rei dan Kenjo kesulitan mengejar Riyan dan Fita yang sudah mulai pergi menjauh.
"Sialan kau, aku pasti akan menemukanmu" gumam Rei
Belum sampai semenit, Riyan dan Fita telah berkumpul kembali dengan yang lainnya. Saat itu mereka sedikit kaget dengan perubahan kostum Riyan.
Mereka kemudian menjelaskan mengenai pasukan yang ada diluar sambil terus melewati ruang tengah menuju ruang tamu saat Riyan bertanya situasi yang mereka hadapi.
"Sebaiknya kalian sudah siap, mereka akan masuk kedalam bangunan itu" ucap Beni
Saat itu para agen mengambil benda kecil di kantong mereka dan meletakkannya pada kening. Seketika benda itu berubah menjadi masker fullface yang dilengkapi penglihatan malam setelah tombol pada alat itu di akfifkan.
"Wah, aku ketinggalan alat keren lagi" ucap Riyan
"Bukannya helm mu itu juga sama saja" balas Maria
"Baiklah, mari keluar dari sini!" ucap Julian mengeluarkan sebuah benda kecil seperti remote dan menekan tombol di sana.
"Duaaar"
Ledakan terdengar keras berasal dari parkiran halaman depan sesaat ketika Julian menekan tombol pada remote itu. Semua mobil di parkiran halaman depan melambung satu persatu akibat ledakan.
Pasukan kurassha yang sudah berada di depan pintu dan siap untuk masuk, seketika kaget dan mengalihkan pandangan mereka kepada mobil yang meledak. Untungnya malam itu saat ledakan terjadi, tidak ada mobil maupun motor yang lewat di depan bangunan itu.
Beni yang berada di seberang jalan, bersiap menembakkan bom asap dari launcher yang dibawanya.
"Wow teman, itu pengalihan yang berlebihan" ucap Beni menekan pelatuk launchernya.
Bom asap keluar dari senjata itu dan mendarat tepat di tengah pasukan kurassha. Sebanyak empat bom asap ditembakkan Beni, menimbulkan kabut yang sangat tebal menutupi seluruh halaman hingga membuat mereka semakin kebingungan dan panik.
Asap tebal itu juga membuat pandangan pasukan kurassha menjadi terbatas, bahkan beberapa dari mereka kesulitan dalam bernafas.
"Cepat, sebelum asap itu hilang!" ucap Beni
Para agen kemudian keluar dengan mengenakan masker spesial, hingga asap tebal itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Keenam anggota AII keluar perlahan sambil bergerak kearah pagar. Selama perjalanan menuju keluar, para agen menjatuhkan pasukan kurassha yang menghalangi jalan mereka satu persatu secara diam-diam dsn cepat didalam kabut asap itu.
Beberapa saat kemudian keenam anggota AII berhasil keluar hingga pagar masuk, merekapun segera menyebrang dan menuju mobil masing-masing. Riyan kembali menaiki mobil bersama dengan Julian dan Maria, sedang Markus bersama dengan Radit dan Fita menaiki mobil dimana Beni telah menunggu.
"Baiklah teman-teman, kita kembali ke markas" ucap Markus
Dua mobil yang mengangkut para anggota agen elit Indonesia itu meninggalkan lokasi markas utama kurassha.
*****
Saat itu Rei baru keluar dari markas utama dan berada di teras bersama dengan Kenjo. Tidak lama kemudian asap semakin tipis, sejumlah pasukan terlihat di halaman depan dengan beberapa pasukan yang tumbang di tanah.
Rei yang tengah kesal, berteriak keras sambil memukul dan menendang beberapa pengawal yang baru saja tiba.
Hendrik mendekati Rei dan Kenjo, dia meminta maaf karena datang terlambat. Kemudian setelah itu menanyakan hal yang terjadi di sana.
Rei yang sedang emosi menyuruh Kenjo untuk menjelaskan kepada Hendrik. Setelah mendengar penjelasan Kenjo, Hendrik memerintahkan anak buahnya untuk menjemput seseorang di dalam mobilnya.
Sesaat kemudian anak buah Hendrik membawa seseorang yang sudah mereka kenal, yaitu Afri.
__ADS_1
"Kami melihatnya saat perjalanan kemari, tingkahnya mencurigakan. Jadi membawanya kembali" ucap Hendrik
Rei yang masih emosi, semakin marah melihat Afri. Dia pun mendekat kearah Afri hingga membuat Afri mengeluarkan keringat dingin.
"Aaaaampuun bos" ucap Afri
"Aku tidak membutuhkan seorang pengecut dalam kelompok ini" ucap Rei
"Sreet...sreet"
Dua kali tebasan pisau ninjanya dengan cepat melewati leher Afri, untuk sesaat nampak terlihat tidak terjadi apa-apa. Namun beberapa detik kemudian wajah Afri berubah, matanya melebar dan darah mulai mengalir dari leher Afri. Tidak satupun perkataan bisa keluar dari mulutnya, hanya sendatan suara yang terdengar saat ini.
Situasi menjadi hening setelah apa yang dilakukan putra sulung dari bos besar Kurassha itu. Di tengah keheningan itu, sebuah perintah keluar dari mulut Rei sebelum meninggalkan tempat itu.
"Selamatkan anggota kita yang masih hidup, kemudian hancurkan tempat ini!" ucap Rei yang kemudian menghilang dengan cepat di tengah kerumunan anak buahnya.
*****
Di dalam mobil, Julian menanyakan mengenai kostum hitam yang dikenakan Riyan. Agar tetap merahasiakan mengenai Nano system, Riyan hanya mengatakan kalau kostumnya berasal dari gelang tangan yang dikenakannya.
Saat itu Riyan yang duduk di kursi bagian belakang menghilangkan armornya bersamaan dengan menciptakan sebuah gelang hitam.
"Ini" ucap Riyan menunjukkan pergelangan tangannya yang terpasang gelang hitam dengan lebar 2cm.
Riyan mengatakan bahwa armor hitam miliknya hanya sebatas pelindung yang diperkecil, Julian dan Maria pun sepertinya menerima dengan baik penjelasan Riyan.
Sebelum tiba ke markas AII, Riyan meminta kepada Julian dan Maria untuk meninggalkan dirinya pada sebuah penginapan sederhana.
Mobil pun berhenti di sebuah penginapan sederhana tidak jauh dari markas AII. Penginapan tanpa lantai bertingkat, dari luar hanya terlihat seperti rumah biasa dengan ukuran besar dan banyak kamar.
Riyan turun dari kursi belakang membawa ransel yang dia tinggalkan sebelumnya dan berpamitan dengan Maria dan Julian. Pintu kaca depan terbuka, di sana terlihat Maria tengah memandangi Riyan.
"Kenapa kau tidak ikut ke markas untuk melaporkan kejadian hari ini?" tanya Maria
"Tidak apa, urusan lapor melapor bagian kalian saja. Hehehe" ucap Riyan melambaikan tangan kepada mereka.
Maria dan Julian hanya membalas Riyan dengan tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanan menuju markas.
Tidak berapa lama handphone Riyan berdering, dari layar tertera panggilan dari Mila. Begitu panggilan dijawab, teriakan suara Mila memanggil kakaknya membuat Riyan sedikit menjauhkan handphonenya dari telinga.
"Kenapa kau teriak seperti itu?"
"Kakak tidak kenapa-kenapa kan?seharian tidak ada kabar. Kapan kakak pulang?" ucap Mila
"Iya, kakak baik-baik saja. Mungkin besok kakak sudah pulang"
Melalui telpon, Mila juga mengatakan kalau mereka juga baik saja dengan adanya Sapri yang mengantar dan menjaga mereka.
Sambil terus menelpon, Riyan melakukan registrasi penyewaan kamar di loby. Hingga berada di dalam kamar, barulah perbincangan mereka berhenti. Namun perbincangan berikutnya berlanjut dengan masuknya panggilan dari Cindy sesaat setelah Riyan selesai mandi.
Hingga pukul 10 barulah perbincangan dengan Cindy berakhir, dari sana beberapa informasi seperti paman dan kakeknya yang sudah berangkat untuk mengikuti turnamen silat sejagat.
"Turnamen silat sejagat ya, aku jadi penasaran" gumam Riyan
Pandangan Riyan kemudian beralih kepada pakaiannya tadi siang. Dia mengambil sekumpulan wechas yang telah diambilnya dari pertempuran di markas utama kurassha.
"Baiklah Alpha, sekarang kita akan meningkatkan kemampuan lagi. Kali ini akan kita buat lebih menarik"
[Siap tuan]
Sebelumnya saat di hotel Nova, Selain telah melatih kemampuan membuat benang tipis untuk menggerakkan kunai atau pisau yang dibuatnya, Riyan juga memfokuskan kemampuan armor hitamnya.
Selain armor hitam normal dimana meningkatkan kekuatan fisik dan kecepatannya, Riyan memfokuskan kemampuan armor hitamnya menjadi dua tipe. Mode satu memfokuskan nano material yang ada pada armor untuk menambah daya rusak atau kekuatan fisik, dan mode dua untuk untuk meningkatkan kecepatan dengan mengurangi kekuatan fisik.
Riyan meletakkan sekitar 20 wechas yang dia dapatkan dari pasukan kurassha dan beberapa pemimpinnya. Setelah mengunci pintu kamar, dia pun memulai proses penyerapan nano material yang ada pada wechas tersebut.
__ADS_1