
“Aku pulang,” kataku yang baru sampai rumah pukul sepuluh malam.
“Eh Ayang,” sapa Hans, suamiku yang sedang menunggu di depan TV.
Hans langsung mengecup dahiku setelah kusun punggung tangannya.
“Belum tidur, Mas?”
“Mana bisa aku tidur sebelum istriku tercinta pulang ke rumah.” Ucapannya selalu membuatku tersanjung lagi dan lagi.
Seperti biasa kalau kerja lembur, pulang pasti malam. Sesampai di rumah aku langsung mandi air hangat agar bisa tidur lelap. Setelah meneguk segelas susu yang selalu disiapkan Hans-suamiku, langsung beranjak keperaduan. Kubaringkan tubuh menyamping dengan tangan menelengkup ke bawah bantal.
“Ini apa, ya?” gumamku saat satu telapak tangan menyentuh sesuatu di bawahnya.
Aku terbangun dan lekas mengangkat bantal. Pupil mata langsung melebar saat netra menangkap alat kontrasepsi bekas pakai. Terkejut bukan main. Kenapa? Pasalnya selama ini setiap kali kami melakukan hubungan, tidak pernah suami memakai KB berbahan lateks tersebut.
Lantas kenapa kontrasepsi bekas pakai ini bisa ada diranjangku? Apa jangan-jangan selama aku bekerja, Mas Hans … Tidak! Dia adalah sosok suami yang begitu setia. Akan tetapi, bukankah tidak ada yang tidak mungkin?
“Awas saja kalau berani mengkhianatiku akan kujadikan gembel kamu, Mas!”
Kedua tangan mengepal, napas berat naik turun dan mukaku terasa sangat memanas. Suhunya terus memanas seiring darah tersirap ke kepala. Seperti lava yang meletup-letup dari puncak gunung merapi.
Ceklek, suara dari gagang pintu kamar ada yang memutar. Segera kututup kembali apa yang telah kutemukan dengan bantal. Dalam keadaan marah biasanya keputusan yang keluar tidak akan bijak. Aku tidak mau gegabah. Harus kuselidiki terlebih dahulu apa sebenarnya yang terjadi?
“Ayang, susunya sudah diminum?” tanya Hans setelah daun pintu terbuka.
“Su-sudah. Terima kasih.”
“Ayang, kenapa wajahmu memerah sekali?” Ia pun segera mengecek suhu tubuhku dengan menempelkan telapak tangan di dahi. “Tapi, enggak panas,” sambungnya.
__ADS_1
“Oh, aku kegerahan. Panas sekali!” jawabku asal sambil mengibas-ngibas tangan.
“Panas?” dahinya mengernyit. Kemudian ia meraih remot AC di atas meja.
“Jangan!”
“Lho, katanya kegerahan?”
“Sudah lebih baik kita tidur saja. Besok aku harus pagi-pagi berangkat ke kantor,” tukasku.
“Baiklah.”
Sebenarnya Hans memang suami penurut.
Aku memejamkan mata. Pura-pura terlelap menjemput mimpi. Hans berbaring di sampingku tanpa curiga. Setelah sekitar satu jam dengkur halusnya baru terdengar sebagai tanda sudah pulas.
Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek ponsel milik suami. Tentu aku leluasa memeriksa apa saja yang ada di dalamnya. Sebab ponsel dia tidak pernah memakai PIN ataupun kata sandi sebagai pengaman. Hans memang sangat terbuka kepadaku. Rasanya tidak mungkin kalau berkhianat. Namun apa salahnya jika aku selidiki?
Padahal tidak mungkin suamiku melakukan hal demikian. Untuk apa coba? Gajinya sangat cukup untuk biaya bensin dan rokok hingga sebulan. Sementara untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari penghasilanku sudah jauh mencukupi. Bukannya sombong, aku sebagai istri memang tidak pernah perhitungan.
Mataku menyipit kepada akun tanpa nama. Telunjuk langsung mengetuk hingga layar chat terbuka. Kutarik napas sesaat sebelum membaca isiannya.
[Hans Pratama ….] sapa Si Akun.
[Iya]
Kusentuh foto akun tersebut. Tampak jelas seorang wanita berlesum pipi dan berkaca mata square. Deg! Jantungku memompa cepat. Sehingga darah terasa mendesir. Apa Hans berselingkuh dengannya? Kubaca kembali riwayat chat mereka.
[Ketemuan, yuk?]
__ADS_1
Busyet ini cewek langsung ngajak ketemuan. Agresif!
[Tidak bisa]
[Lho, kenapa?] Kali ini diikuti emot cemberut.
[Untuk apa? Tidak ada urusan]
Plong … hatiku lega dengan balasan Hans.
[Kamu, kok gitu banget. Sombongnya tidak pernah berubah]
Jadi Hans memang selalu seperti ini kepada cewek lain? Kedua pipiku terangkat menarik garis senyuman.
[Waktuku selalu habis bersama seseorang]
[Ih, kamu ini menyebalkan! Habis dengan siapa, Hah?]
Mulutku yang terbuka lebar ditangkup cepat oleh telapak tangan. Agar tidak mengeluarkan suara cekikikan. Kedua sudut mata ikut mengkerut. Sebuah senyum tertahan terbit di wajah. Riang hati melihat foto mesra kami berdua yang dikirim Hans kepadanya.
“Rasain kamu! Makanya jangan gatel sama suami orang.” Aku bergumam nyaris tak terdengar.
Jadi merasa bersalah sudah curiga sama suami sebaik dan seromantis Hans. Kupandangi wajah polosnya kala tertidur pulas. Tiba-tiba ponsel Hans yang masih dalam genggaman bergetar. Nama 'Alam' menari-nari di layar.
Hah? Ini siapa? Kenapa malam-malam menelepon? Alam? Temannya yang mana? Kok, aku merasa asing. Atau jangan-jangan ini sebuah nama yang dibalik.
ALAM \= MALA
Seketika napasku memburu cepat disusul gigi bergemeletuk.
__ADS_1
***