Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Hans Vs Li


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Salma!" panggil lelaki berkacamata minus.


Disampingnya berdiri seorang wanita berusia setengah abad lebih dengan mata berkabut.


"Papa? Mama?" Aku menoleh tak percaya.


Perasaanku bercampur aduk. Suka, senang, terkejut, sedih dan ketakutan bercampur menjadi satu. Kemudian kuraih punggung tangan mereka bergantian untuk bersalaman. Hans tentu langsung mengikuti. Meski Papa-mama tidak menyukainya. Akan tetapi dia tetap sangat menghormati.


"Apa khabar?" tanya Mama dengan logat khas negri Jiran, seraya mengelus rambutku.


"Alhamdulillah, baik, Mah."


"Oh, ya ampun, anak Mama. Lama tak jumpa."


"Salma kangen." Kami pun berpelukan.


Setelahnya, kami semua mengobrol di dalam rumah.


"Kenapa jarang telefon kita?" papa ikut bicara.


"Maafkan, Salma, Pah, Mah," sesalku.


"Kenapa pula, awak pindah rumah?"


"Kami hanya ingin suasana baru, Mah," jawab Hans.


"Oya, kalian tahu dari siapa alamat rumah ini?"


"Daripada jiran awak (dari tetangga kamu)."


"Siapa? Ceu Lia?"


"Iya, betul. Ceu Lia."


"Papa sama Mama, kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke indonesia? Kan bisa Hans jemput di Bandara."


"Kita mahu beri kejutan saja."


"Ah, Mama." Kami saling berpelukan lagi.


"Hans,  tolong buka beg pakaian! Di dalamnya ada kek  kegemaran Salma."


"Iya, Pah."


"Wah, Tau sar piah!" seruku ketika Hans mengeluarkan dua toples kecil dari koper.


Kalau di Indonesia Tau Sar Piah itu semacam kue bakpia. Di dalamnya berisi kacang hijau dan kacang merah. 


Kini Irama jantungku semakin terautur. Terlebih setelah melihat sikap papa dan mama kepada Hans yang lumayan ramah. Padahal kalau mengingat sebelumnya, Hans selalu diacuhkan, sekali diajak ngobrol, malah direndahkan. Syukurlah, sekarang tampaknya berubah.


Kami semua terus mengobrol sambil menikmati oleh-oleh khas negri jiran tersebut. Kehamilanku menjadi pembahasan yang panjang, sulit diakhiri. Rasa bersalah tambah menghantui lantaran kebohonganku bergulir semakin jauh. Terlebih saat menangkap binar bahagia di mata kedua orang tuaku. Betapa bersenang hati karena akan memiliki cucu.


***


Mama dan Papa akan tinggal di Indonesia selama satu minggu dan akan mereka habiskan untuk berwisata. Katanya pesona Indonesia sulit sekali terlupakan. Dahulu waktu masih tinggal di sini, mereka memang gemar jalan-jalan.


"Yang, aku berangkat kerja dulu, ya!" Hans bersiap-siap pergi ke pasar untuk kuli panggul.


"Ya, hati-hati."


"Oya, nanti aku pulang lewat magrib. Mau bertemu dengan Pak Joni dulu."


"Pak Joni?"


"Ya, salah satu atasanku dulu waktu di Pabrik."


"Oh, iya."


Hans pun pergi tanpa pamit ke orang tuaku, sebab mereka masih  belum bangun. Aku bergegas ke dapur untuk memasak sarapan. Kalau sekadar goreng telor dadar, sekarang aku sudah mahir. 


Namun, niatku berubah seketika saat melihat di meja makan sudah tersaji masakan. Ada sayur bayam-jagung dan  ayam goreng lengkuas sebagai lauknya. Siapa lagi kalau bukan Hans yang memasak. Entah bangun dari jam berapa dia? 


Aku kembali bersantai di depan Tv. Sebab rumah pun selalu sudah bersih plus rapi saat kuterbangun di pukul 06:00 pagi. Sebenarnya Hans sering membangunkan pas adzan subuh berkumandang. Akan tetapi, karena belum terbiasa, aku tidak mau bangun. 


Dia memang banyak berubah. Dulu, ia banyak bicara, suka ngegombal, jarang solat, gengsian, tapi sangat manis dan nurut kepadaku. Sekarang dia sedikit bicara, tampak sabar, rajin solat,  jarang ngerayu, nurutnya tergantung keadaan. Satu lagi tegas. Seperti pemimpin rumah tangga pada umumnya.


Sayang sekali dia berubah hanya demi anak yang kukandung. Coba kalau dia tahu sebenarnya. Apa yang akan terjadi?


"Sal, awak berkhayal (melamun)!" seru Mama.


"Eh, Mama. Sudah bangun?"


"Sudah bangun? Sudah mandi tahu."


"Yuk, kita sarapan dulu," ajakku.


"Pah, kita sarapan dulu." Mama setengah berteriak.


Papa pun keluar dari kamar dengan penampilan sangat rapi. Kami menikmati masakan yang Hans sudah siapkan.


"Sal, ini Hans yang masak?"


"Kok, Mama tahu?"


"Ya, kalau awak yang masak, takkan sedap macam ni."


"Iya, pasakan Hans emang selalu mantap," timpalku.

__ADS_1


"Ya, sejak dulu si Hans cuma masak dan kemas rumah saja tuh!" sinis Papa.


"Pah ... tidak sepatutnya begitu." tegur mama.


"Ini realiti."


"Heumm ..."


"Eh, Sal, suami awak masih bekerja di pabrik?"


"I-iya, Pah." Aku berbohong lagi.


Habisnya kalau aku ceritakan semua, yang ada aku pasti dipaksa pindah ke Malaysia bersama mereka.


Kami pun sudah menyelesaikan sarapan paginya. Duduk-duduk di depan Tv sambil membahas mau ke tempat wisata mana hari ini. 


Dreett ... ponselku bergetar. Terlihat nama Li yang menghubungi.


"Ya, hallo, ada apa Li?"


"Sal, kamu mau sampai kapan break?"


"Aduh, aku mau re-sign kayaknya."


"Apa? Plis, jangan Sal. Ok deh, kamu break saja sepuasnya. Tapi jangan resign, ya!"


Papa langsung bisa menerka, kalau yang sedang menelepon adalah Li. Satu-satunya temanku yang kenal dekat dengannya.


"Sal, itu Li 'kan? Coba Papa mau bicara," pintanya.


"Sal, itu ada siapa di sana?" tanya Li.


"Ini ada Papa. Katanya mau bicara denganmu."


"Oya? Mana-mana coba?" Li antusias sekali.


Kuserahkan segera benda pipihku kepada Papa.


"Hallo, Li, apa khabar?"


"Ya Tuhan, ini benar Papa Salma?"


"Iya, lama tak jumpa."


"Pah, boleh Li bertemu?"


"Sudah tentu. Kita kena jumpa."


"Kalau begitu, sekarang aku ke rumah Salma, ya, Pah. Kebetulan sedang tidak ada kerjaan."


"Oh, boleh-boleh. Ditunggu, Li," balas Papa.


Papa lekas mengembalikan ponselku.


"Iya, Sal. Ada apa? Boleh 'kan aku ke sana?"


"Tapi aku sudah pindah."


"Apa? Pindah?"


"Alamat barunya aku sherlock saja, ya!"


"Ok-ok."


Kami akhiri sambungan teleponnya. Tidak lupa kukirimkan lokasi rumah terkini.


Setengah jam kemudian. Sudah terdengar suara mobil terparkir di pekarangan rumah. Itu pasti Li. Dia selalu bersemamgat emang sedari dulu kalau bertemu orang tuaku.


"Hai, Li. Lama tak jumpa," sambut Papa dari teras.


"Wah, Papa lama tidak bertemu masih sama saja seperti dulu. Awet muda."


"Ah, awak bisa saja."


Li sama sekali tidak terlihat canggung. Mereka langsung akrab seperti biasanya. Bahkan kudengar-dengar, sesekali kalau Li sedang ada urusan di Malaysia, dia suka sempatkan berkunjung ke rumah Papa-mama.


Aku jadi malas kalau sudah mendengar mereka mengobrol panjang dikali lebar itu. Ada saja yang mereka bahas. Lebih klop dengan Li emang ketimbang denganku-anaknya. Apa lagi dengan Hans, jauh banget! Antara bumi dan langit.


Aku asyik saja rebahan di kamar sambil dengerin musik. Eh, pintu kamar ada yang ngetuk.


"Sal," panggil mama.


"Ya, Mah." 


Gegas kubuka.


"Ayo siap-siap, kita pergi!"


"Kemana, Mah?"


"Ya, ke tempat wisata."


"Oh."


Aku hanya berganti pakaian saja dan menenteng sebuah tas. Ternyata mereka sudah menunggu di teras. 


"Sal, kunci kereta untuk apa?" tanya Papa saat melihat kunci mobil digenggaman.


"Lho, katanya mau jalan-jalan."

__ADS_1


"Iya. Kita guna kereta Li."


"Li? Jangan Pah! Dia itu orang sibuk. Sudah pakai mobil Salma saja," kataku.


"Siapa bilang sibuk? Orang aku mau jalan-jalan dengan Papa-mama, kok," sela Li.


"Tuh 'kan. Ayo cepat naik!" titah Papa.


Kalau sudah begini terpaksa deh, aku mengikuti. Sepanjang jalan, mereka juga masih mengobrol ini itu. Aku putuskan untuk tidur sajalah.


Entah berapa jam berlalu. Aku terbangun menggeliat. 


"Ekhm, nyenyak banget yang tidur," kata Li.


"Hah, kita dimana? Kok, belum sampai-sampai?"


"Nih, bentar lagi sampai."


Setelah beberapa menit, mataku menangkap ke sekeliling jalan yang terlewati. Suhu panas, hembusan angin kencang saat jendela kaca mobil diturunkan menyapa.


"Lho, kita ke pantai Pelabuhan Ratu?" sontak kuterkejut.


"Iya, Salma," sahut Mama sambil geleng-geleng kepala.


"Astaga!" kutepuk jidat. "Kupikir kita mau ke Situ gunung atau Bukit Baros gitu," sambungku.


Ya, aku memang tinggal di Kota Sukabumi. Dari kotaku ke pantai pelabuhan ratu membutuhkan waktu sekitar dua jam.


"Salma-salma." Papa ikut menggeleng.


Aku buru-buru kirim pesan kepada Hans untuk memberi tahu. Tapi masih centang abu. Mungkin sekarang Hans lagi tarik penumpang. Sudahlah, aku masukkan lagi ponsel ke dalam tas.


Li memarkirkan mobilnya. Pantai Citepus yang masih bagian dari pantai Pelabuhan Ratu, menjadi pilihan utama untuk melepas penat perjalanan. Selain posisinya yang strategi, pantai ini juga memiliki garis pantai tiga sampai lima kilo meter. Hamparan pasirnya yang luas mempunyai bentuk permukaan yang landai.


Papa dan Mama langsung terjun ke bibir pantai. Mama tampak berlari saat ombak akan menyapu kakinya. Mereka tertawa lepas tak ubahnya dua insan yang sedang kasmaran. Aku bahagia, di usianya yang sudah lewat dari setengah abad, mereka masih rukun dan harmonis. Kadang aku iri dengan kesetiaan Papa kepada mama. Karena dulu aku pun memimpikan hal yang sama. Menua bersama Hans, saling melengkapi tanpa bekas luka yang terus berusaha ditutup.


Hampir saja buliran bening lolos dari manik mataku. Segera kualihkan perhatian ke sekeliling. Li tampak melambaikan tangan agar aku menghampiri.


"Duduklah di sini!" titahnya.


Aku manut saja. Kujatuhkan  bobot tubuh di sofa balon yang telah disewa. Dengan santai menyeruput es kelapa yang diberikannya. Di bawah payung pantai beratap rumbia aku menikmati buaian angin yang menerpa mata hingga terasa berat.


"Nih!" Li tampak begitu mengerti seperti biasa. Dia mengulurkan sebuah kaca mata fashion kepadaku.


Langsung aku terima dan kini bisa menikmati kembali dengan myaman suasana pantai yang tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan hari libur dan masih jam kerja juga.


"Li, kamu enggak main ombak?"


"Enggak ah. Oya, Sal, serius kamu hamil?" tanyanya tiba-tiba seraya menatap perutku.


"Ya."


"Aku kok, ngerasa ada yang aneh?"


"Apa? Jangan mikir aneh-aneh kamu. Awas!" Mataku mendelik tajam.


"Galak banget bumil."


Aku tidak menghiraukannya lagi. Mataku tertuju kepada seorang ibu muda yang sedang menunggangi kuda bersama buah hatinya. Pikiranku travelling ... seandainya aku juga memiliki anak, pasti sudah kusewa seekor kuda untuk kutunggangi menyusuri bibir pantai yang indah.


Tidak terasa setelah seharian di Pelabuhan Ratu menjelajah beberapa pantai yang ada, hari pun beranjak sore. Dalam lelah dan perut keadaan kenyang, kami memutuskan pulang.


Sesampainya di rumah, hari sudah gelap dan jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19:00 Wib. Li juga langsung pamit pulang.


Rupanya Hans sudah menunggu di ruang Tv. Kupikir dia masih bersama temannya itu yang seorang Bos di tempat kerjanya dulu.


"Bagaimana, liburannya menyenangkan?" tanya Hans hangat.


"Ya, sudah tentu. Menyenangkan sangat," jawab Papa. "Apalagi tadi Li yang bawa kami," lanjutnya tanpa memikirkan perasaan Hans.


"Maaf, ya, Mas. Tadi dadakan perginya," sesalku.


"Tidak apa, kok." Hans tersenyum tipis.


"Awak sendiri, baru balik dari pabrik? Tak bosankah kerja di sana terus?" Nada papa mengejek.


"Pabrik? Saya sudah lama tidak bekerja di Pabrik, Pah," jelas Hans membuat jantungku berdegup kencang. 


Pasalnya aku sudah bohong sama papa-mama.


"Jadi awak pengangguran?" sentak papa.


"Tidak. Saya tetap bekerja."


"Jadi, awak kerja di mana?" Alis papa terangkat.


"Saya kerja di--"


"I-itu ... Eemm ...," selaku kebingungan.


"Dimana?" ulang papa.


"Pagi di Pasar, siang ngojek, dan malam bantu-bantu di kafe teman," jawab Hans pada akhirnya.


"Apa?!" sontak mata papa membola.


Gawat ... akan ada ultimatum keras nih!


Terima kasih yang sudah baca. Tinggalkan jejak dong 🙏 Semoga rezeki mengalir deras untuk kalian. 🤲

__ADS_1


__ADS_2