Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Galau


__ADS_3

Hay reader, sebelum baca yuk follow akun othor dulu Dinara L.A. biar othor semangat up bab tiap harinya.


Selamat membaca. Semoga tetap suka, ya 🥰


Semalam Hans menceritakan kalau kafe temannya itu akan dijual. Karena kafenya yang di Jakarta sedang tidak stabil nyaris bangkrut. Jadi membutuhkan suntikan dana. Jika kafe ini dijual ke orang lain, otomatis Hans akan kehilangan pekerjaannya.Padahal kehidupan kami tengah membaik. Penghasilan Hans sudah merangkak di angka enam juta dari lima juta. Jalan satu-satunya kafe itu harus Hans yang beli. 


Namun, membeli sebuah kafe bukanlah membeli suatu barang dengan harga ratusan juta. Kafe tersebut dihargai 2,5 Miliar. Uang sebanyak itu membuat Hans menyerah. Sebenarnya aku menawarkan tabunganku kepadanya yang tinggal 2 Miliar. Kurangnya kita bisa gadaikan sertifikat rumah. Akan tetapi, Hans menolak. Ia tidak mau memakai uang pribadi istri.


Perdebatan cukup alot terjadi. Tentu saja aku tidak pernah keberatan untuk membantu membeli kafe itu. Toh, penghasilannya juga nanti bukan buat siapa-siapa. Ini demi kelangsungan hidup rumah tangga kami juga.


“Aku mau cari pekerjaan lain saja, Yang,” ucapnya.


“Kerja apa?”


“Mantan atasan aku ‘kan pernah menawari jadi SPV di pabrik. Siapa tahu masih ada.”


“Oh. Ayok cepat hubungi dia.”


“Sebaiknya harus bertemu langsung. Tidak enak membicarakan pekerjaan via telepon.”


“Ya, sudah. Hayoh!”


“Iya. Aku harus ajak bertemu dulu via telepon. Siapa tahu dia lagi sibuk ‘kan?”


Setelah menghubungi mantan bosnya, Hans langsung pergi.


Untung saja orang itu sedang senggang waktunya. Jadi langsung bisa, saat Hans ajak bertemu.


“Hati-hati, Mas.”


“Iya, Yang. Doakan, ya! Semoga kerjaan itu masih ada.”


“Iya, siap.”


Sejam, dua jam, belum ada kabar dari Hans terkait pertemuannya dengan mantan Bos. Waktu Isya telah tiba, aku kembali bersujud di sajadah. Kudoakan lagi dan lagi agar Hans segera mendapat pekerjaan. Kuyakin apa pun hasilnya adalah yang terbaik untuk kami menurut-Nya. Kami hanya harus terus berusaha diiringi doa.


 “Assalamualaikum,” salam Hans di teras rumah terdengar sampai kamar.


Gegas kubuka mukena dan langsung membukakan pintu yang kukunci. Sebab dia selalu berpesan, kala dirinya tak ada di rumah, pintu haruslah terus dikunci.


“Waalikum salam,” jawabku.


Segera kami masuk dan duduk. Kuambilkan segelas air putih hangat. 


“Terima kasih,” ucapnya seraya meminum hingga tandas.


“Mas, bagaimana pekerjaannya?” tanyaku tak sabar. Hans tersenyum dan memegang sebelah pipiku. “Kerjaannya masih ada, ya? Jadi kapan Mas bisa mulai kerja?” tebakku semringah.


Dia belum merespon pertanyaanku. Setelah menarik lengan, agar kududuk menempel kepadanya, Hans berbisik, “Semangati suamimu ini, dong!"


“Kerjaannya sudah tidak ada?” todongku. Kali ini suamiku menganggukkan kepala.


Yah, belum rezeki.


*** 

__ADS_1


“Mas, pagi-pagi sudah rapi banget.”


“Iya, kan mau cari kerja, Yang.”


“Lho, kepagian. Aku kan belum menyiapkan sarapan.”


“Nanti aku beli bubur saja di jalan. Jangan lupa, solat dhuha ya, Yang! Doakan suami-mu ini.”


“Siap, Mas!” sahutku lantang.


“Gemes deh, istriku ini,” ucapnya sambil mencubit pipiku yang mulai gemil. 


Kebanyakan tinggal di rumah, berat badan mulai merangkak naik.


Aku juga di rumah tidak tinggal diam, terus berselancar di internet, mencari lowongan pekerjaan untuk Hans. Susah sekali ternyata mencari pekerjaan buat lelaki, apa lagi usianya yang tak lagi muda.


Andai saja, hubungan pertemananku dengan Li Chen masih baik, mungkin dia bisa menolongku. Akan tetapi, mengingat pernyataan cintanya yang kutolak mentah-mentah itu, apa mungkin Li masih bisa bersikap murah hati?


“Argh!”


Dreett … ponsel bergetar di depan mata tanpa sebuah nama. Siapa, ya? Tetapi terasa tidak asing saat melihat deretan angkanya.


“Hallo,maaf dengan siapa?”


“Kontakku sudah dihapus, ya?”


Ternyata pemilik nomer tersebut adalah Li Chen. Tentu aku langsung dapat mengenali suara khasnya yang bersemu serak. Ampun, ternyata waktu itu, kontak dia aku hapus juga.


“Ekhm, ada apa, ya?”


“Aku hanya mau pamit. Tadinya mau ajak ketemuan, tetapi kuyakin kamu akan menolak.”


“Pamit?”


“Ya, aku mau pindah ke Bejing.”


Hah, astaga! Apa karena patah hati dariku dia sampai mau pindah.


“Pindah dengan mami-mu?”


“Tidak. Aku saja.  Maksud aku menghubungi hanya ingin meminta maaf sekali lagi.”


“Oh."


Tuh 'kan apa kubilang. Gara-gara patah hati sampai pindah negara. Segitunya kamu ingin melupakan aku. Padahal perusahaanmu maju pesat di kota kecil ini.


“Apa kamu sudah memaafkanku?”


“Ehhmm … ya, sudah aku maafkan.”


“Terima kasih. Dengan begitu aku bisa pergi dengan lega.”


“Ya, semoga kamu bahagia dan betah di sana.”


“Iya, doakan juga semoga pernikahanku berjalan lancar,” pintanya.

__ADS_1


“Pernikahan?”


“Iya, calonku berkewarganegaraan RRC..”


“Serius, kamu?” sontak volumeku menghentak.


“Seriuslah. Nanti, aku bisa kirimkan foto pernikahan kami. Sebenarnya, mau sekali kamu datang, tetapi jauh harus ke Bejing. Jadi kamu doakan saja, sudah cukup bagiku.”


“Jadi … kamu pindah ke Bejing demi istrimu itu?”


“Calon, belum jadi istri.”


“Iya, demi calon istrimu?"


“Hehe … bisa dibilang begitu. Terus kalau bukan karena dia, karena siapa? Karena kamu gitu?”


Waw, dia seperti bisa membaca pikiranku. 


“Ya, karena apa kek.”


“Oya, untuk terakhir kali, apa kamu lagi memerlukan bantuanku? Ya, siapa tahu lagi butuh bantuan. Bantuan apa saja.”


Ih, dia kok tahu juga tentang aku lagi susah. Hadeuh … aku malah terlanjur percaya diri perihal kepindahannya karena patah hati. Habisnya si Li juga, ngakunya sudah mencintaiku sejak lama, eh move on-nya hanya dalam hitungan bulan. 


“Sal … kok diam saja?” tanyanya membuatku ambyar.


“Oh, enggak. Aku baik-baik saja. Tidak butuh bantuanmu. Terima kasih. Kalau tidak ada yang ingin disampaikan lagi, baiknya kita sudahi dulu teleponnya.”


“Oh, kamu sedang sibuk, ya?”


“Oh, tentu. Sibuk sekali.”


“Maaf sudah ganggu. Kalau begitu sampai jumpa. Semoga kamu selalu bahagia.”


“Ya, doa yang sama untukmu.”


Tut … sambungan terputus sudah. Kenapa ada yang aneh dengan hatiku? Semacam tidak rela dia akan menikah. Tidak rela ia akan pindah negara. Tidak rela ia move on cepat. Sebegitu egoisnya kah diriku?


Aku benar-benar akan kehilangan sosok sahabat yang selalu ceria dan menularkan semangat. Li Chen, si baik hati dengan segala tawa yang ia hiaskan di hari-hariku. Sebaiknya aku memang jangan serakah. Hans sudah lebih dari cukup, lelaki yang kupunya lahir batin.


Daripada terus memikirkan tentang Li Chen, Lebih baik aku ke dapur saja. Usus kecil ku terus berbunyi tanda nya minta diisi. Seperti biasa aku akan memasak nasi goreng andalan sekaligus favorit. Yaitu nasi goreng kecap dengan telur ceplok.


Ehmm ... Kenapa ya akhir-akhir ini aku semakin tidak kuat mencium aroma bumbu yang digoreng. Kali ini aku sampai memencet hidung saking tidak kuatnya. Padahal setiap masak,  aroma ini adalah aroma yang paling kusuka.


Sekitar 15 menit sudah aku berkutat dengan wajan penggorengan. Tara ...  nasi goreng sudah selesai dan siap disantap. Perutku yang sedari tadi lapar, kini tiba-tiba enek. Kupaksakan makan hingga habis. Agar tidak mubazir.


Aduh... Kenapa sekarang malah ada mual-mualnya berasa mau muntah? Ini pasti aku masuk angin karena sering keramas Subuh. Aku segera mencari obat tolak angin yang biasa tersedia di kotak P3K.


"Bismillah," ucapku seraya meminum obat cair tersebut.


Sekitar satu jam kemudian, ternyata mual-mual ku tidak kunjung hilang. Biasanya kalau masuk angin setelah minum obat langsung enakan. Apa masuk anginnya parah? Kayaknya aku harus kerokan ,deh.


"Hoek, Hoek, Hoek ....." Mual ku Sungguh tidak tertahan lagi.


Nasi goreng yang belum sempat tercerna, keluar kembali.

__ADS_1


Hei ... Reader, Kenapa Salma muntah-muntah, ya? Jangan-jangan dia hamil. Apa hanya masuk angin saja? Yuk temukan jawaban di Part selanjutnya.


Kalau banyak yang follow, nanti othor tambah up bab barunya 🥰


__ADS_2