Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Siapa Di Dalam Kamar


__ADS_3

Mataku masih menyalang melihat nama ‘Alam’ menari-nari di layar ponsel milik Hans. Siapa sebenarnya yang menghubungi malam-malam seperti ini?


“Lho, Ayang, kenapa enggak dianggkat saja?”


Suara Hans mengejutkanku. Entah sejak kapan dia sudah terbangun.


“I-ini!” Kusodorkan ponselnya.


“Kamu saja yang angkat. Aku ngantuk banget.” Dia berujar sambil menguap. Kemudian menarik selimutnya kembali.


“Mas ….”


“Heuh,” sahutnya dengan mata yang sudah terpejam.


Kugeser gambar telepon berwarna hijau ke atas. Kontak yang memanggil pun langsung terhubung.


“Halo, Pak Hans. Maaf nih, saya ganggu malam-malam.” Terdengar suara lelaki yang bicara. “Besok bunganya mau diantar jam berapa?” tanyanya.


Tut … aku putuskan sambungan.


Bunga? Apa Hans pesan bunga? Hatiku semakin gusar. Mana besok aku ada meeting penting lagi dengan klien. Bagaimana pun hal ini tidak boleh dibiarkan. Harus terus diselidiki.


**


“Pagi, Ayang,” sapa suami seraya menghujaniku dengan kecupan.


Aku menggeliat dan perlahan membuka mata. Setiap pagi, beginilah cara dia membangunkan istrinya. Apa indera penciumannya berfungsi dengan baik saat mengendus aroma orang yang baru bangun tidur? Entahlah!


“Hoam … Sudah jam berapa?”


“Jam tujuh. Oya, malam yang telepon mau apa?”


“Apa jam tujuh?” Kedua alisku hampir menyatu. Tidak kuhiraukan pertanyaannya.


Aku bergegas mandi dan siap-siap berangkat kerja. Pasalnya meeting penting itu akan dimulai jam delapan pagi.


“Ayang, sarapan dulu,” bujuk Hans dengan satu sendok nasi goreng yang siap meluncur ke mulutku.

__ADS_1


“Enggak, Mas. Kan sudah aku bilang, aku tidak mau sarapan yang berat-berat. Badanku tambah melar, nih!”


“Yah, padahal aku sudah buatkan dengan penuh cinta.”


Hans tampak kecewa. Kulirik sepiring nasi goreng dengan telor ceplok berbentuk hati. Meski di rumah ini ada pembantu, tapi untuk urusan makan, dia selalu menyiapkannya untukku.


Seperti biasa aku tidak tega jika melihat raut wajahnya yang mengerut. “Ya, sudah lima sendok aja,” kataku pada akhirnya.


Hans selalu menggagalkan program dietku. Padahal berat badan kini sudah jauh dari ideal. Bahkan lemak sudah mulai terlihat menumpuk di perut. Bagaimana tidak, Hans yang memang pintar masak, membuatku terus makan.


“Ayang, kamu itu ‘kan kerja setiap hari. Jadi, harus selalu sehat. Harus makan banyak.” Hans berujar sambil menyuapiku. Sementara aku sibuk dengan ponsel di tangan.


Suamiku memang selalu bilang, mau segendut apa pun, dia tidak akan mempermasalahkannya. Justru ia mengaku senang dengan perubahan badanku yang melar. Tambah seksi, pujinya.


Setelah rutinitas sarapan selesai, aku lekas menuju garasi tempat mobil kesayanganku berada.


“Mas, aku berangkat dulu. Uang buat jajan sudah aku transfer.”


“Aku jadi malu. Sampai kapan akan terus bergantung kepadamu?” Ia menunduk lesu.


“Tidak apa, Mas. Selagi aku bisa, kenapa tidak?”


“Iya, Mas. Assalamualaikum,” salamku mengakhiri obrolan.


Setiap bulan aku selalu mentransfer sejumlah lima belas juta ke rekeningnya. Dengan rincian enam juta untuk keperluan dia, empat juta untuk adiknya yang kuliah, dan lima juta untuk ibunya. Karena Ayah Hans yang menjadi tulang punggung sudah lama meninggal. Jadi apa salahnya sebagai menantu aku ikut berbakti. Toh, uang sejumlah itu tidaklah sulit didapatkan.


**


“Pagi Bu Salma,” sapa salah satu karyawan.


“Pagi juga.”


Setiba di kantor aku langusng menuju ruang meeting karena jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.


Tuk, tuk, tuk, high heelku beradu dengan lantai keramik. Kupercepat langkah setengah berlari.


“Hai, tumben datangnya mepet?” tegur Li Chen, lelaki bermata sipit.

__ADS_1


“Iya, Bos,” jawabku sedikit terengah.


“Kamu lari? Ini minum dulu?” Dia menyodorkan sebotol air mineral yang segelnya sudah dibuka di depan mata.


Aku lekas meneguknya. Glek, glek, glek, hingga tersisa setengah. Untung di ruangan belum ada siapa-siapa. Sisa waktu sebelum klien datang, aku dan Li gunakan untuk membahas proyek yang akan segera digarap.


Perusahaan kami adalah perusahaan real estate yang terkenal di kota kecil ini. Bisa dibilang aku adalah orang kepercayaan Li. Maka dari itu, walau secara jabatan dia adalah Bos dan aku bawahan, kami sangat akrab. Jika tidak ada rekan kerja lain, bahasa santai selalu menjadi pilihan.


“Permisi, Pak, Bu.” Siska, sekretaris Li datang ke ruangan.


“Iya, Sis.”


“Klien sudah datang di lobi dan sudah diarahkan menuju ruang meeting,” lapornya.


“Oh, iya. Terima kasih.”


Kami pun bersiap-siap untuk menyambutnya. Kurapikan lagi baju dan rambut ala kadarnya. Li turut mebantu dengan membetulkan cepolku yang sedikit kusut.


Alhamdulillah, meeting berjalan lancar dan klien puas dengan penjelasan pihak kami. Kesibukkan hari ini cukup menguras waktu sampai aku lupa dengan telepon semalam. Aku harus menyelidiki bunga yang dimaksudkan. Apa Hans memesan bunga? Untuk apa? Untuk Siapa?


**


Setiba di rumah ternyata sudah pukul sepuluh malam. Sebab tadi ada lembur dadakan. Kalau tidak dibereskan sayang sekali. Kerjaan itu akan memberiku bonus puluhan juta rupiah.


Kurebahkan badan yang letih di sofa. Rumah sepi sekali. Apa Hans sudah tidur? Hari ini dia sama sekali tidak menghubungiku. Ada kesibukkan apa dia sampai lupa dengan istrinya? Jangan-jangan … ada kaitannya dengan bunga yang dipesannya.


Tidak! Sebaiknya aku jangan berpikiran jauh dulu dalam keadaan lelah seperti ini. Aku berjalan gontai menuju kamar.


Kuputar gagang. “Lho, kok, dikunci?” Kugedor-gedor pintu. “Mas, buka!” Terdengar grasak grusuk dari dalam kamar.


“I-iya, sebentar!”


“Ngapain, sih? Kenapa harus dikunci segala? Cepat buka, Mas!” titahku tak sabar. Sebelumnya Hans belum pernah seperti ini.


“Bentar, Yang!”


“Cepetan! Aku capek!” nadaku menghentak.

__ADS_1


Sebenarnya sedang apa suamiku di dalam? Bahkan aku mendengar seperti ada suara yang tengah berbisik-bisik.


***


__ADS_2