Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Di Luar Dugaan


__ADS_3

“Iya, Bu. Foto Dea sewaktu kecil mana?”



“Eeu … anu, itu.”



“Apa, Bu? Kenapa enggak jelas?”



“Foto Dea sewaktu kecil tidak ada.”



“Lha, kok bisa?”



“Hilang, ya, hilang albumnya.”



“Jangan bohong, Bu! Kasih tahu aku yang sebenarnya!” tekanku.



“Ibu tidak bohong, Mantu.”



“Katakan! Dea itu siapa sebenarnya?” bentakku.



“Mantu, kamu bentak Ibu?”



“Ya. Memangnya kenapa? Kaget? Aku bisa bertindak lebih jauh dari ini.” Mataku menyalang.


Emosiku benar-benar sudah memuncak ke ubun. Sulit sekali diredam.


“Dea itu adiknya Hans. Memang siapa lagi?”



“Jadi Ibu tetap tidak mau bilang? Tidak mau memberitahu aku?”



“Apa yang harus Ibu bilang? Dea itu memang adiknya Hans,” kukuhnya.



“Justru sikap Ibu menunjukkan sebaliknya.”


__ADS_1


“Apa maksudnya?”



“Heh! Masih menanyakan apa maksudnya?”



“Ibu benar-benar tidak mengerti.”



“Aku akan memberi Hans, Ibu dan si Dea perhitungan.” Telunjukku mengacung ke mukanya.



“Perhitungan apa, Mantu? Memangnya apa yang telah kami lakukan?”



“Masih bertanya? Lucu!”



Gegas aku beranjak dan menyambar tas untuk pergi dari rumah orang penipu ini.



“Mantu,” panggil ibunya Hans seraya mengejarku yang melenggang keluar rumah.




“Mantu, mantu!” panggilnya lagi dengan berteriak. Sebab aku sudah membunyikan mesin mobil dan siap melaju dari pekarangan.



\*\*\* 



Sesampai di rumah kujatuhkan bobot tubuh di kasur. Air mataku tumpah ruah tanpa izin. Sebenarnya aku benci jika harus menangisi lelaki pengkhianat. Tetapi, hati ini terlampau nyeri. Teremas tanpa ampun.



Aku yakin Hans dan Dea ada apa-apanya. Dea pasti bukan adik kandung Hans. Kenapa selama ini aku tidak peka dengan keakraban Kakak beradik itu? Keakraban yang lebih menjurus romantis. 



Kuteringat akan kontrasepsi bekas pakai yang kutemukan di kamar ini. Sungguh tidak ada akhlak jika suamiku melakukan bersama \*\*\*\*\*\* Dea di ranjang milikku.



“Oh Tuhan … kurang apa aku selama ini? Aku begitu royal terhadap mereka semua. Jadi selama ini aku telah membiayai selingkuhan suamiku sendiri? Miris!” 



Tiba-tiba aku teringat akan Mami dan Papi di negri Jiran. Bahkan waku itu dengan keras kepalanya aku menolak mentah-mentah ajakan mereka untuk pindah ke sana. Lantaran tidak mau pisah dengan Hans. 

__ADS_1



Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamarannya. Padahal terang-terangan orang tua tidak merestui. Aku tetap nekat. Dari sejak itulah, hubungan kami kurang baik. Terakhir bertemu hanya di hari pernikahanku saja. Berarti sudah lima tahun tidak saling bertemu.



Kini terasa begitu menyesal karena tidak menuruti dan mendengarkan mereka. Tetapi semuanya terlambat. Aku benar-benar malu jika harus menghubungi Mami secara tiba-tiba. Lebih baik derita rumah tangga ini aku jalani sendiri, tanggung sendiri. Toh, sudah menjadi resiko atas keputusan yang diambil.



Aku tidak menyangka akan memiliki stok air mata sebanyak ini. Kedua mata sudah sangat perih dibuatnya. Akan tetapi, belum mereda juga. Ditambah sekarang, dua makhluk laknat itu tengah asyik liburan di Bali dengan modal uang dariku.



\*\*\* 


Kubuka mata pelan. Kedip-kedip karena silau oleh cahaya mentari pagi yang menerobos masuk melalui jendela. Kuberingsut dari ranjang. Saat kaki menapaki lantai, dua netra menangkap sosok pantulan diri di cermin. Wajah pucat, rambut awut-awutan, kelopak mata bengkak serta tatapan layu. Nyaris seperti orang yang depresi.


Segera kutanggalkan baju dan masuk kamar mandi. Di bawah guyuran sower kukembali terisak. Akan tetapi, ini akan menjadi isakan yang terakhir. Kuharap segala nestapa dan kepedihan tergerus habis oleh air yang mengaliri tubuh.


Setengah jam berlalu. Kini sudah berada di depan cermin. Merias diri ala kadarnya seperti biasa. Polesan lipstik ombre membuat bibir sensualku tampak segar. Kusapukan sedikit blush on merah muda ke tulang pipi. Dua sudut bibir terangkat menerbitkan senyum untuk pagi ini.


Keputusan sudah bulat. Kurasa tak perlu penjelasan darinya. Aku tak mau hati ini goyah apa lagi luluh. Kemudian akan kudepak ia saat pulang. Mengusirnya tanpa satu pun barang yang ikut serta. Sebab semua yang ada di rumah ini milikku termasuk baju-baju mahalnya di lemari.


Masih ada sehari sebelum lelaki itu pulang. Hari ini aku akan menyiapkan dokumen untuk menggugat cerai. Surat nikah asli, KTP, KK serta fotokopian-nya telah dikumpulkan dalam satu map. Sekarang aku harus ke kelurahan terlebih dahulu untuk membuat surat keterangan.


Baju terusan yang kukenakan hari ini berwarna coklat tua. Tentu tas yang akan kutengteng warnanya harus matching. Kubuka lemari tempat menyimpan koleksi tas branded. Akan tetapi, tas warna coklat susu yang kucari tidak ada di tempatnya.


Tas itu memang sudah lama tidak kupakai. Tetapi, kuyakin selalu menyimpannya di sini. berulang kali mataku menyapu deretan tas. Siapa tahu mataku melewatkannya.


“Ah, kemana, sih? Kok, enggak ada.”


Kubuka-buka lemari lainnya. Mungkin saja salah simpan. Tak kunjung aku temukan juga. Kini hanya lemari baju Hans satu-satunya harapanku. Semoga tas itu ada di sana. Sayang sekali kalau sampai hilang. Itu tas, harganya cukup fantastis meski modelnya sangat sederhana. Justru karenya aku jatuh cinta saat pertama kali melihat.


Kusibak-sibak deretan kemeja Hans yang tergantung. Kubidik setiap sudut dalam lemari. Apa yang kucari masih tidak ketemu.


“Dimana, sih? Aneh banget. Apa si Hans menjualnya? Atau si Meti mencurinya sebelum kabur?” Aku mendumbel sendiri. “Arghh!” 


Saking kesal kuobrak-abrik saja isian lemari Hans. Baju-bajunya kutarik dari gantungan hingga berantakan. 


Guprakk! Hanger yang terbuat dari kayu berjatuhan. Kupungut kasar beberapa dan melemparnya ke dalam lemari.


Seketia ada bunyi terdengar Bipp.


Aku melangkah lebih dekat ke dalam lemari berukuran tiga meter persegi yang hampir menyentuh langit-langit kamar. Lemari bergaya klasik ini, dulu Hans pesan khusus dari toko furniture sahabatnya.


Kutelusuri bunyi yang tidak sengaja keluar akibat lemparan hanger. “Dari mana ya, asalnya? Bunyi apa, sih?”


Di dalam lemari tidak ada apa-apa. Tetapi, aku yakin barusan tidak salah dengar. Walau bunyi itu pelan, pendengaranku masih cukup normal untuk menjangkaunya.


Kuambil lagi tiga hanger kayu, kulempar ulang persis seperti sebelumnya.


Bipp! Kulempar ulang lagi dan lagi. 


Bunyi yang sama keluar. Kuperhatikan lekat-lekat dinding lemari dalam yang menjadi sasaran lemparan. Karena penasaran, iseng kuraba-raba permukaan yang tampak rata dengan sedikit menekan.


Terjadilah sesuatu. Sungguh di luar dugaan sampai tubuhku terlonjak mundur.


Tinggalkan jejak like dan koment. Agar othor semangat melanjutkannya. 🥰

__ADS_1


__ADS_2