Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Pembalasan Dimulai


__ADS_3

"Bang, kamu berani menamparku?" Meti meradang.


"Ma-maaf, Sweety!" sesalnya.


"Apa, Sweety?" Geli sekali rasanya aku mendengar panggilan si Hans kepada gundiknya.


"Eh, maksudnya Meti," jelasnya sambil nyengir.


Tiba-tiba Hera dan Pak Rt menerobos kamar.


"Ada apa ini ribut-ri--" tanya Hera menggantung saat melihat keberadaanku, ceu Lia dan kawan-kawan.


"Oh, jadi di rumah ini kalian doble date, doble zina gitu?" sinis Ceu Lia.


"Diam kamu, Ceu! Kalian semua yang masuk tanpa izin akan saya persulit jika butuh sesuatu menyangkut ke-RTan," gertak Pak Rt.


"Haha ... jabatan Rt aja belagu! Ada juga Pak Rt yang akan kami lengserkan," teman Ceu Lia gertak balik.


"Iya. Kami tak sudi punya Rt model begitu," imbuh teman yang lain.


Keributan tidak bisa dihindari lagi. Semuanya beradu mulut bahkan saling dorong. Kalau saja tidak melihat perut si Hera yang besar, sudah kubejek-bejek juga dia.


"Kalian semua akan saya laporkan ke polisi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan," cetus Hera tidak tahu malu.


"Apa enggak kebalik?" sengit Ceu Lia.


"Tenang saja Ceu, perselingkuhan perzinahan sudah diatur hukumannya dalam pasal 284 KUHP," terangku berusaha santai. Padahal hati bergejolak dan perih menyayat.


"Jadi mereka bisa dipenjara?" tanyanya.


"Tentu saja. Toh, kita sudah mengantongi bukti," tandasku.


"Ayang, tolong jangan laporkan kami!" Hans langsung memohon dengan gurat kecemasan. 


"Tergantung."


"Tergantung apa, Ayang?"


"Yuk Ceu, kita ke kantor polisi sekarang saja," ajakku.


Repleks Hans sibakkan selimut dan turun dari ranjang tanpa sehelai kain pun. Ia memburu kakiku, bersimpuh mohon ampun.


"Aww!" seketika Ceu Lia dkk. menjerit saat melihat kepunyaan Hans terekpos.


"Tukang selingkuh itu, ternyata burungnya besar," gumam teman Ceu Lia yang tak jauh dariku berdiri.


"Ayang, kumohon. Ampuni aku!" 


Sama sekali tidak kugubris. Kutinggalkan segera pemandangan yang sangat memuakkan tersebut. Tentu saja Ceu Lia dkk. mengekor setelah mengambil beberapa foto lagi. 


"Hei! Lancang kalian!" teriak Meti.


*** 


Pikiranku benar-benar semrawut. Aku belum memutuskan apa akan melaporkan Hans atau tidak. Pasalnya kalau ia dihukum kurungan, paling hanya beberapa bulan saja. Kurasa tidak sepadan dengan rasa sakit atas pengkhianatannya.


Tiga hari pasca penggerebegan, aku sama sekali belum buka suara kepada Hans. Sementara lelaki laknat itu menjalani hari-hari seperti biasa. Mengurus rumah dan memasak. Menyebalkan! Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan rumah tangga kami. Mungkin yang tidak ia lakukan, hanya tidak keluar rumah. Tentu saja sebab malu dengan para tetangga. Kabarnya memang sudah menyebar ke kemana-mana.


"Yang, harusnya kamu tidak bawa-bawa tetangga. Kan malu, sekarang orang-orang terus bergunjing tentangku. Padahal aku ini suamimu. Aibku, harusnya kamu tutupi karena ini aib kamu juga."


"Apa, aibku? Haha ...." Aku tergelak.


"Haha ...." Hans mengikuti.


Lucu sekali cara berpikirnya. Dia yang berbuat, aku malah harus ikut menanggung.

__ADS_1


"Gila kamu!" tudingku.


Ting, tong ... bel rumah ada yang menekan. Lekas menuju ruang depan dan membukanya.


"Li?"


"Hey, Sal."


"Kamu ngapain ke sini?"


"Suruh tamu duduk dulu, napa?"


"Oh iya. Silahkan masuk!"


Kami pun duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu sakit, Sal?"


"Iya, enggak enak badan. Sorry, bolos mulu."


"Ya, aku ke sini hanya khawatir saja. Enggak biasanya tidak masuk kerja berhari-hari."


"Thank's. Oya, mau minum apa?"


"Apa sajalah."


"Hans, tolong ambilkan air buat tamu," teriakku.


"Kamu kayak ke pembantu saja sama suami. Emang ART-mu kemana?'


"Sudahlah jangan dibahas."


Li menurut tanpa protes meski dahinya mengkerut.


"Eh, ada semut," seru Li seraya mau menangkapnya dari rambutku.


"Silahkan diminum, Pak Bos," ucapnya dengan senyuman.


Ya, Hans sudah mengenal Li hanya sebatas dia, Bosku. Begitu pun sebaliknya. Li ,mengenal Hans hanya sebatas dia, suamiku.


"Iya, terima kasih."


"Ok. Lanjutkan kembali ngobrolnya." Dia berujar ramah sebelum berlalu.


"Eh, Sal, suamimu kok, santai banget liat kamu dipegang kepalanya. Kalau lelaki lain bisa salah paham, lho. Hans justru ramah sekali. Beruntung kamu punya suami sebaik dia. Kayaknya percaya banget sama kamu," tutur Li.


Bukan beruntung, tetapi buntung. Li memang belum tahu sebenarnya apa yang telah terjadi kepada sahabat sekaligus bawahannya ini. Tunggu! Pernyataan Li membuatku tersadar, selama ini Hans memang tidak pernah cemburuan. Aku pikir sebelumnya karena dia sangat percaya dan menghargaiku. Akan tetapi, sekarang aku berpikir bahwa dia tak cemburu karena tak mencintaiku.


Kutertunduk menelan kembali pil pahit kenyataan.


"Li, maaf, aku enggak enak badan. Aku mau rehat. Sebaiknya kamu pulang saja."


"Aku baru saja datang. Kenapa, apa ada yang salah denganku?"


"Tidak. Pulanglah!"


"Sal, kalau butuh teman curhat, ingat aku selalu siap," tawarnya tulus.


"Ya, kapan-kapan. Sebaiknya kamu pulang."


"Ok. Semoga cepet sembuh. Kalau gitu, aku pamit," ucapnya dengan gurat kekhawatiran.


Li berlalu di balik pintu.


*** 

__ADS_1


"Yang, kamu belum tidur?" Hans menghampiriku di kamar depan.


Ya, semenjak kejadian hari itu, aku tidak pernah lagi memasuki kamarku sendiri. Mengingat kalau ranjangku sudah pernah dipakai duo laknat berzina. Aku juga sudah menutup permanen pintu ke ruang rahasia itu. Rumah ini pun sudah kuniatkan akan dijual segera.


"Apa kamu tidak pernah mencintaiku?" pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibirku.


"Tentu saja cinta. Ya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Seluas samudera, sedalam lautan. Sungguh-sungguh cinta. Kamu wanita paling berarti, paling berharga bagiku," cerocos Hans.


Kalau dulu, mungkin hidungku kembung kempis saat mendengarnya. Tetapi sekarang, aku mendengarnya seperti sebuah olok-olokan. 


"Aishh!" Aku mendesis sebal.


"Ekhm, Yank, sudah lama kita enggak bercinta. Aku tidak bisa menahannya lagi," tuturnya sambil menelan saliva. "Aku kangen. Kamu juga sama 'kan? Ayo, seperti biasa aku akan memuaskanmu," sambung Hans.


Secepat kilat dia menyambar bibir dan membaringkanku. 


"Apaan, sih?" 


Kudorong tubuhnya yang hendak menindih. Tetapi, ia tidak mau kalah. Tangannya mengunci tubuhku agar tidak bisa terbangun. 


"Ayolah Ayang, jangan melawan!"


"Ih, lepas!"


"Kamu nikmati saja punyaku yang besar, Ayang!" Hans berbangga diri.


"Tidak sudi! Jijik! Aku tidak mau bekas si ****** rendahan."


"Tenang saja, sudah kucuci bersih, kok. Sebelum tahu, kamu tidak pernah protes. Toh, tidak mengubah rasanya 'kan?" Dia berujar dengan enteng.


Seketika darah ini mendidih ke ubun. Bisa-bisanya ia bilang sudah dicuci bersih? Sedangkal itukah pemikirannya?


"Dasar gila!" geramku. 


Tiba-tiba kurasakan transferan energi yang datang entah dari mana. Tanganku berhasil mendorong tubuhnya. Gegas kuterbangun dan langsung menendang barang pusakanya.


"Auw!" racaunya meringis.


Ia terus memegangi yang tengah kesakitan di antara ************ sampai bertekuk lutut dan terus merunduk.


"Kenapa, sakit?" Daguku terangkat mengejek.


Lumayan lama ia terdiam. Akhirnya berdiri tertatih dengan mata yang berkaca menahan nyeri.


"Mari kita bercerai saja!" ucapnya tiba-tiba laksana petir yang menyambar tanpa wujud.


Kemarin-kemarin, ajakan itu terus kulontarkan kepadanya. Akan tetapi, dia bersikukuh mempertahankan dengan sejuta dalih rayunya. Bodoh sekali aku hampir memberinya kesempatan yang pasti akan dihancurkan kembali. 


"Yakin? Bagaimana caramu hidup tanpa belas kasihku?"


"Sombong! Aku masih bisa cari kerja. Kemarin-kemarin juga banyak yang menawariku pekerjaan, tapi sengaja tak kuambil karena aku masih punya mesin pencetak uang. Haha ...," tawanya menyeringai.


Sungguh aku tidak mengenali Hans yang ada di depanku sekarang.


"Apa ini wajah aslimu?"


"Dasar istri bodoh. Ngurus rumah enggak becus, masak enggak becus, di ranjang enggak becus, jagain anakku di perut juga enggak becus," sinisnya.


Ucapan terakhir Hans membuat kenangan itu mencuat kembali menghujam jantung. Bukan inginku, bukan kehendakku atas dua kali keguguran yang pernah kualami. Hampir saja buliran bening menerobos kelopak mata. Kukuatkan agar tidak jatuh setetes pun di depannya. Haram bagiku menangisi suami biadab macam Hans.


"Ok. Enyahlah! Dirimu sudah aku buang mulai detik ini. Pergilah ke gundikmu. Sebab sampah hanya cocok dengan sampah lagi."


Dibalik perkataan tajamku, ada rencana yang terbesit untuk membalasnya. Sebab, terlalu enak baginya jika kubiarkan pergi begitu saja setelah meluluhlantahkan hati hingga berkeping. 


Balasan apa yang akan kuberikan? Yuk tebak! Jika reader ada usul atau masukan, boleh banget. Komen di kolom komentar, ya ...terima kasih. 🙏❤️

__ADS_1


"


__ADS_2