
❤️❤️❤️
Aku harus kuat. Jika Hans berani berkhianat untuk kedua kali, maka tidak akan pernah ada kesempatan lagi.
"Momi harap, kamu mengerti Nak. Jika seandainya kita harus meninggalkan Papi," lirihku seraya mengelus perut buncit.
Kurasa ibu mana di dunia ini yang mau melahirkan anak tanpa ada suami. Akan tetapi, kalau kehadirannya hanya membuat perih tak bertepi, untuk apa? Lebih baik berpisah dengan membuka lembar kehidupan baru. Bukankah setiap orang bisa dan berhak bahagia dengan caranya?
"Momi janji, kita akan tetap bahagia, Nak."
Rasa perih tanpa sadar membuatku berganti jadi pribadi yang jauh lebih kuat. Bahkan kularang air mata ini menetes menangisinya.
***
"Assalamualaikum," salam Hans sudah terdengar.
Rupanya dia sudah sampai dari Pelabuhan Ratu. Seperti biasa aku masih menyambut dan mencium punggung tangannya. Aku bersikap seolah belum mengetahui apa-apa. Biarkan saja di sisa hari-hari pernikahan ini, kujalani peran istri yang baik sebelum gugatan cerai kulayangkan.
Aku hanya ingin berpisah dengan cara yang baik. Setelahnya pun tidak akan ada dendam yang kupelihara. Karena menyimpan dendam atau kebencian hanya membuat hidup ini gelisah dan tak tenang. Tidak baik juga untuk kesehatan janin. Menjadi calon ibu, tanpa sadar membuat pribadi lebih bijak dan terkendali.
Sebelum aku menanyakan perihal struk transferan itu, aku terlebih dahulu akan menghimpun kekuatan untuk mental sendiri.
Bismillah ....
"Mas, mau makan dulu atau mandi?"
"Aku mau mandi dulu," ucapnya seraya membuka baju.
Dia pun gegas masuk kamar mandi. Aku langsung memunguti pakaian yang baru saja Hans tanggalkan.
Pluk ... ada sesuatu jatuh dari saku celananya. Kupungut kotak berwarna merah dengan varian strawberri. Meski belum pernah membeli dan memakainya, aku cukup tahu benda apa yang sekarang dalam genggamanan. Ya, sebuah alat kontrasepsi berbahan latek yang biasa lelaki pakai.
Jika dalam pengkhianatan pertama aku menemukannya dalam kondisi bekas pakai, kini kutemukan dalam kondisi masih berbungkus. Tetapi bungkusannya sudah tak tersegel. Kucoba membukanya, ternyata hanya berisi dua pcs. Dilihat dari tulisan jumlah yang ada di kemasan, harusnya isi tiga. Artinya sudah terpakai satu.
Pertanyaannya, dengan siapa alat kontrasepsi ini dipakai?
"Astagfirullah." Kutangkup mulutku.
Seketika hawa panas hingga merangsek perih ke hidung, akibat tangis yang berusaha kucegah. Sekuat apa pun, buliran itu tetap jatuh juga di pipi. Tak ingin larut dan bersedih, segera kumenuju depan tv, lalu menonton acara apa saja yang ada.
Kupukul-pukul dada yang sesak. Aku terus bermonolog dengan hati yang sulit dibawa damai. Akan tetapi, terus menerus menasehati diri agar tak stres memikirkan apa yang baru saja kutemukan kembali.
"Yang, kamu menangis," tanya Hans menyadarkanku dari ruang kesakitan.
"Eh, Mas. Sudah mandinya?"
"Yang, kamu belum jawab. Kamu menangis?" ulangnya sambil menghampiri duduk.
"Menangis?"
"Iya, ini!" ucapnya sambil menyeka air mataku.
"Oh, aku lagi nonton tv. Terbawa suasana," jawabku ngasal.
Hans langsung menoleh apa yang sedang kutonton. Untung saja pas. Sebab yang kusetel ternyata stasiun ikan terbang dengan drama Kumenangis. Aish ... ngena banget.
"Ya ampun, Ayang. Sampai segitunya kamu meresapi cerita. Sampai nangis segala. Itu kan hanya cerita drama. Hanya akting!"
"Iya, Mas. Itu hanya cerita, hanya akting. Istri-istrinya menangis juga dibayar. Tapi, rasa sakitnya dikhianati aku tahu betul bagaimana. Jadi baper, deh!"
__ADS_1
Selepas kuberujar demikian, riak muka Hans langsung berubah merah dan salah tingkah.
"Yang, aku laper," katanya buru-buru.
"Mas, kamu kelihatan tegang, kenapa?"
"Enggak ah, biasa saja." Dia berujar sambil ngusap tengkuk.
"Ya sudah, tunggu, aku siapkan dulu makannya."
Aku lekas ke dapur. Makanan yang tadi aku beli dari rumah makan, segera kusembunyikan. Sekarang ini, aku lebih rela kalau pesmol ikan nila kesukaan dia, untuk kucing saja. Sedangkan sebagai gantinya aku gorengkan telor ceplok yang overcook diluar, undercook di dalam. Alias gosong, tapi mentah. Amis, amis sekalian. Heh!
Setelah kutata di meja makan, Hans dengan tak sabar menarik kursi dan segera duduk. Pergerakan tangannya yang menyodok nasi langsung terhenti saat mata dia menangkap hanya ada telor ceplok gosong di atas meja.
"Yang, kamu hanya masak telor?"
"Iya, Mas. Aku akhir-akhir ini sering puyeng lagi. Jadi enggak kuat cium aroma bumbu masakan."
"Kata aku juga, Yang, udah beli saja. Tidak usah repot-repot masak."
"Aku tahu, pasti karena masakanku yang enggak enak," rajukku.
"Lho, kok jadi marah? Aku hanya tidak ingin kamu kecapean Ayang. Ingat apa kata dokter."
"Ya, aku memang istri payah. Enggak becus masak, enggak becus di ranjang juga."
"Astaghfirullah, Yang. Kamu tidak payah, kamu yang terbaik. Udah dong, jangan ngambek. Nih, mau aku makan, kok."
"Serius, mau dimakan?"
"Iya, nih. Lihat!" Hans mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Iya, siap."
Namun, saat sendok mencoba membelah telor, tampaklah ketidak matangannya. Nempel di sendok dan kalau diendus, tentu bau amis. Hans menahan suapannya yang hendak masuk mulut.
"Kenapa? Katanya masakanku enak. Hayo dimakan!" desakku.
Tidak ingin aku merajuk, akhirnya dia memakannya juga. Aku yakin yang lumer kuning dimulutnya itu bikin eneuk. Terlihat dari bibir yang mengunyah pelan serta mata terbuka lebar. Segera ia meraih segelas air untuk menenggelamkan makanan yang seperti takut melewati tenggorokan.
"Yang, aku kenyang."
"Bohong! Masa baru dua suap sudah kenyang?"
"Bener, Yang, kenyang."
"Alah, ngaku aja kalau telornya enggak enak! Enggak usah ngeles, jangan pura-pura, jangan kebanyakan akting!" cebikku.
"Akting?" dahinya mengernyit. "Oya, aku lupa. Aku jago akting, ya? Yang, kalau aku terjun ke dunia hiburan, kayaknya popularitas Arya Saloka juga pasti kegeser, deh. Hahaha ...," lanjutnya ngehalu.
Ding! Arya Sakola? Hallo ... pengen tak hih!
"Heum."
"Yang, mukanya jangan jutek gitu dong! Mana senyumnya? Aku dahaga, jika tak melihat senyummu."
"Mau aku tersenyum?"
"Tentu saja, Yang."
__ADS_1
"Habiskan ceplok telornya!"
Hans hanya menatap telor ceplok di piring sambil menelan saliva. Akhirnya, dia tetap melanjutkan makan.
Rasanya senang bisa ngerjain suami. Ya Tuhan, berdosakah aku? Tetapi yang kulakukan kepadanya tidak seberapa.
Usai habiskan telor, ia langsung masuk kamar mandi. Mungkin muntah di sana atau entah lah. Bodo amat!
Astaghfirullah, gara-gara menemukan alat kontrasepsi, aku sampai lupa minum obat yang dokter resepkan setiap kontrol. Benar-benar merugikan pengkhianatannya. Merampas senyuman, merampas waktu dan pikiran. Baiklah, jangan sampai berdampak lebih jauh.
Aku adalah korban. Jangan menambah beban dengan mengingat apa yang sudah terjadi lagi. Hempaskan! Tak layak. jika terpuruk dan bersedih hati. Aku harus menjadi ibu yang bahagia terlepas dari segala luka yang menganga.
"Nak, yuk kita berjuang bersama. Insya alloh, kamu akan terlahir dari ibu yang kuat dan bahagia." Seulas senyum kuterbitkan, meski mentari segera terbenam.
***
Pagi-pagi aku sudah mendapati Hans mengubek cucian di mesin cuci. Kebetulan ART kami sedang izin hari ini untuk tidak masuk. Jadi pagi buta, aku sudah memasukkan semua pakaian kotor ke mesin. Niatnya mau langsung dicuci. Tetapi, udara dingin mengurungkan niatku.
Kuperhatikan dia mengambil sebuah celana yang ia pakai kemarin. Setiap sakunya, ia periksa. Hmm ... pasti dia baru ngeuh dengan alat kontrasepsi itu. Pergerakannya tampak rusuh dan panik. Karena dia tidak menemukan apa yang dicari di saku celana, lalu mulai mengambil semua pakaian kotor satu demi satu. Mungkin dia berpikir, benda itu sudah terjatuh.
Aku segera mengambil alat kontrasepsi yang sudah kuamankan di laci nakas. Kemudian pura-pura tak tahu apa yang tengah terjadi.
"Ekhm, Mas."
"Ayang!" serunya terlonjak.
"Lagi ngapain? Kok bajunya diacak-acak?" Kupasang wajah bingung.
"Eh, anu, itu ...."
"Apa Mas? Anu itu apa maksudnya?"
"Aku cari sesuatu. Tapi tak ada."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Itu ... pokoknya sesuatu."
"Mau aku bantuin cari?" tawarku.
"Oh, Enggak usah Yang. Ayang duduk saja, ya. depan Tv!" titah dia sambil menggiringku agar mau duduk sesuai permintaannya.
Ya, apa boleh buat? Aku duduk saja sambil santai menonton acara masak di Tv. Sementara Hans kembali lagi ke ruang laundry. Cukup lama ia di sana. Setelah sekitar setengah jam, ia baru terlihat batang hidungnya. Dengan wajah lemas campur pucat, ia berjalan. Sesekali menggaruk kepalanya yang mungkin banyak ketombe. Kedua bola matanya berputar tampak sedang mengingat-ingat suatu hal.
"Apa mungkin ...," gumamnya terdengar.
Lalu setengah berlari menuju kamar? Apa dia berpikir benda itu terjatuh di sana? Benar saja saat kuikuti, terlihat dia merangkak di lantai dengan matanya fokus mencari sampai kolong ranjang.
"Ekhm, Mas. Belum ketemu?" tanyaku enteng.
Padahal tahukah, dalam hati sedari tadi sudah bergemuruh. Ingin sekali meledak dan menghakimi. Akan tetapi, sayang sekali jika energiku sia-sia untuk manusia tidak tahu diri ini. Maka dari itu meski sulit, kuterus redam emosi yang bergejolak.
"Belum, Yang," jawabnya tanpa menolehku.
"Apa Mas, cari ini" Akhirnya kukeluarkan kotak kecil berisi kontrasepsi dari saku baju dan menunjukkan kepada Hans.
Yuk Follow IG othor 👉 dinarala2022
Bagaimana ya, reaksi Hans? Akankah dia berkelit?
__ADS_1
❤️❤️❤️