
KB-15
"Hans, stop!" teriakku kala dia akan mendorong lagi tubuh Meti yang tak berdaya.
Pergerakan Hans terhenti. Akan tetapi, ia belum melepaskan cengkraman tangan dari leher bajunya. Sehingga tubuh wanita yang tengah hamil muda sedikit terangkat dari pijakan.
"Bang, lepaskan, kumohon!" pinta Meti mengiba bercampur takut.
Cengkramannya malah semakin kuat dan tubuh Meti semakin terangkat.
"Hans, tolong! Demi anak kita. Kuyakin anak kita tidak mau memiliki ayah yang seperti ini," bujukku mengatasnamakan anak agar dia luluh.
Benar saja, bujukanku tak sia-sia. Perlahan cengkeraman terlepas. Hans mengusap kasar wajahnya. Lambat laun sorot matanya meredup. Begitu pun wajah Meti yang tadi sudah pucat pasi bagai mayat, kini mulai tampak bernyawa.
"Kalau bukan karena Salma, mungkin darah sudah mengalir dari betismu. Pergilah! Jangan pernah tunjukkan dirimu lagi di depanku!" geram Hans.
"Aku tidak akan melupakan kejadian hari ini. Akan kupastikan kamu menyesalinya!" Meti berucap sebelum pergi.
***
"Hans, kenapa telurnya enggak mateng?" protesku di meja makan.
Sementara dia masih bergelut dengan baju kotor di mesin cuci.
"Iya, Sal, bukankah kamu suka telur yang setengah matang?" Setengah berteriak dari ruang laundry.
"Itu 'kan dulu. Kalau sekarang tergantung bawaan Dede bayi."
"Iya, ini aku akan gorengkan lagi telurnya yang matang."
"Buruan! Aku laper. "
"Sabar...."
Terdengar Hands pun beranjak dari ruang laundry ke ruang dapur. Bunyi wajan dan spatula sudah mulai terdengar beradu. Aku cengar-cengir menyadari semua kekonyolan ini. Ada sedikit rasa kasihan kepada Hans yang terus sibuk mengurusiku setiap hari. Padahal dia juga harus tetap mencari nafkah untuk aku dan calon anaknya. Untunglah sedikitpun aku tidak pernah mendengar dia mengeluh. Benar-benar tidak menyangka kalau dia akan rela berkorban seperti ini saat mengira aku hamil.
Tidak lama kemudian, Hans sudah membawakanku telur ceplok matang.
"Jangan deket-deket! Bau!"
"Ya, bukan mau dekat-dekat, hanya mau naruh telur ceplok. "
Aku memang selalu berpura-pura merasa bau setiap kali dekat Hans. Lagi-lagi bawaan Dede bayi dijadikan alasan. Sebenarnya, aku hanya tidak ingin berdekatan saja. Karena dia akan mengusap-usap perutku. Tentu saja aku tidak mau hal itu. Meskipun kami belum resmi bercerai, tetapi aku tidak sudi disentuhnya.
"Hans, nanti kamu tidak usah ke sini lagi. Mual muntah ku hari ini sudah lebih baik. Kamu pulang saja ke kontrakan. Nanti juga kalau ada apa-apa pasti aku telepon."
"Ya sudah, sekarang aku mau narik dulu. Oh ya, ini hasil kuli panggul tadi pagi di pasar. Aku taruh di atas kulkas ya!"
"Iya."
__ADS_1
Hans pun berlalu untuk mengais rezeki dengan mengojek. Setelah tidak ada, aku segera cek uang yang dia taruh di atas kulkas. Kuhitung jumlahnya terkumpul delapan puluh ribu rupiah. Berapapun penghasilan yang didapatkan, dia selalu menyetornya kepadaku. Uang yang diberikan memang tidak seberapa dengan penghasilanku selama ini. Akan tetapi, aku sangat menghargainya. Coba saja kalau dia bekerja keras seperti ini dari dulu dan tidak selingkuh pasti aku akan sangat bersyukur.
***
Setelah Hans memberitahu ibunya Kalau aku sedang hamil, mertua jadi sering sekali berkunjung ke rumah. Sungguh hal ini membuat tidak nyaman.
"Mantu, apa kamu akan tetap melanjutkan gugatan cerai?"
" Memangnya kenapa, Bu?" Kubalik bertanya dengan santai.
"Apa tidak bisa kamu pikirkan lagi? Ini semua demi anak yang kamu kandung. Kasihan sekali cucu Ibu kalau harus lahir dalam keadaan keluarga yang tak utuh."
"Sudah terlanjur, nasi sudah jadi bubur."
"Ibu rasa masih bisa diperbaiki."
"Itu 'kan hanya perasaan Ibu, berbeda dengan perasaanku."
"Ibu jamin, Hans tidak akan mengulangi kesalahannya lagi."
"Lalu jaminan apa yang bisa aku dapatkan, kalau Hans mengecewakan? Tidak ada 'kan? Hati yang hancur, tidak bisa utuh kembali," tandasku.
"Kamu itu lho, kok egois mantu."
What? Egois? Omongannya sudah mulai deh, menggeser batas kesabaran.
"Bu, di sini aku korbannya. Bukankah Ibu juga dulu pernah dikhianati suami? Pasti tahu rasanya bagaimana?"
"Iya. Tapi Ibu lebih memilih memaafkan demi anak. Beda sama kamu yang lebih mementingkan diri sendiri."
Apa yang dibilang mertuaku memang ada benarnya juga. Masalahnya hamilku ini hanya tipuan untuk Hans. Kalau saja aku benar memiliki anak, mungkin memaafkan akan jadi bahan pertimbangan. Akan tetapi, tetap saja aku tidak suka cara ibu menyampaikannya kepadaku. Terkesan memojokkan.
"Maaf, Bu. Aku mau istirahat dulu. Kata dokter juga, aku tidak boleh banyak pikiran. Tidak boleh stres."
Aku memilih menghindari obrolan lebih lanjut. Bukan apa-apa, tidak enak juga berdebat dengan orang tua.
"Ya, silahkan. Lagian Ibu juga mau pamit," ucapnya agak ketus.
"Iya. Hati-hati saja di jalan."
"Oya, mantu ada uang enggak? Gocap saja, buat ongkos," pintanya tidak tahu malu.
"Heum, enggak ada, Bu."
"Masa enggak ada? Hans 'kan selalu menyetorkan uangnya sama kamu."
Aduh, ibu pikir anaknya itu suka setor berapa, sih?
"Uangnya udah aku bayarkan ini itu, Bu."
__ADS_1
"Cuma gocap, Mantu. Kamu kok, pelit banget sekarang?"
Tadinya aku mau berubah pikiran dan kasih mertua uang sesuai permintaannya. Berhubung dia bilang, aku pelit banget, ya, tidak jadi.
"Enggak ada, Bu!" ulangku tegas.
"Dasar Mantu pelit, sombong lagi," gumamnya pelan. Akan tetapi, aku masih bisa mendengar.
Kubiarkan saja. Pura-pura tak mendengar lebih baik.
Mertua pun pamit dengan bibir sedikit mengerucut. Seperti bocah yang tidak dikasih uang jajan.
Selepas mertua pulang, akhirnya aku bebas. Bisa santai berleha-leha dan makan apa pun yang aku mau. Sesederhana ini menikmati hidup.
"Hahaha." Aku tergelak sendiri.
Badanku kurang enak, pundak terasa berat dan sedikit mual. Sepertinya masuk angin. Soalnya semalam gadang maraton nonton drama korea. Biasanya aku minum air bersoda untuk meredakan mual. Akan tetapi, sekarang tidak pernah menyetoknya lagi dalam kulkas. Takut memancing kecurigaan Hans nantinya. Masa ibu hamil konsumsi minuman bersoda?
Untunglah, sore ini aku sudah melarang Hans untuk datang. Jadi aku bisa leluasa minum apa pun. Segera kupesan minuman bersoda dan beberapa Snack via ojek onlen. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, yang kupesan sampai.
Tak sabar kuputar tutup botol minuman bersoda itu. Cesss! Bunyinya saat terbuka. Segera kuteguk glek glek ....
Eeuuu ... sendawanya keluar juga.
"Salma!" seru Hans tiba-tiba sudah ada di belakangku.
Aish! Aku lupa kunci pintu.
"Hans?" Tentu saja aku terkejut kayak maling tertangkap basah. "Kamu kenapa ke sini?" sambungku.
Hans langsung menyambar minuman bersoda dari tangan.
"Apa-apaan kamu? Mau anak kita kenapa-kenapa?" sengitnya tampak khawatir.
"Jangan berlebihan, Hans! Anak kita baik-baik saja. Iya 'kan baby?" tanyaku kepada perut yang diusap-usap.
"Ayo, kita periksa ke dokter!"
"Kan mahal, Hans."
"Tenang saja, aku tadi mendapat rezeki lebih. Yuk, kamu siap-siap! Kita berangkat sekarang juga. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan bayi kita. Lagian aku tak sabar ingin melihatnya di layar monitor USG," cerocosnya.
Deg! Gawat ini. Kalau Hans memaksa terus untuk ke Rumah sakit, yang ada tamat riwayatku.
"Percaya sama aku! Aku tidak apa-apa. Aku males kemana-mana hari ini, mau rebahan saja," tolakku.
"Tidak usah ganti baju, daster yang kamu pakai cukup bagus."
"Hans, lain kali aja, ya! Besok gimana?" tawarku.
__ADS_1
Hans tidak menggubris. Ia malah mengambil tasku. Ia juga memakaikan jaket serta menyisir rambutku, kemudian mengikatnya cukup rapi.
Halah, bagaimana ini? Panik gak? Panik gak? Paniklah! 😁