
💖💖💖
part-42
Jika biasanya pengantin baru berbulan madu hanya berdua, berbeda dengan kami. Aku dan Irsyad memilih untuk memboyong dua keluarga yang baru bersatu ini. Awalnya tentu keluarga kami menolak karena berpikiran akan mengganggu. Akan tetapi kami terus bersikukuh untuk mengajaknya.
Aku, Irsyad, Qia, mama, papa, mami Mohan serta asisten rumah tangganya yang sudah dianggap keluarga itu menghabiskan waktu keliling Indonesia. Dari mulai Gorontalo, Bangka Belitung, Lombok, Bali, hingga pulau Komodo. Kami benar-benar berlibur.
“Mih, malam ini Qia biar tidur sama kita aja,” tawar Irsyad.
“Enggak! Qia malam ini giliran tidur dengan Mama lagi, Syad.”
“Mah. Aku juga kangen sama Qia,” ucapku.
“Kalian ‘kan bisa sama Qia siangnya. Malamnya biar Qia tidur sama Mama, ya!”
Sejak pergi bulan muda, belum pernah sekalipun Qia tidur bersama aku dan ayahnya. Oya, anakku memanggil Irsyad dengan sebutan ‘ayah’. Kami sangat paham kenapa orang tuaku dan mami Mohan melakukan semua itu. Mereka hanya ingin agar kami bisa menikmati malam berdua saja tanpa gangguan.
Katanya agar Qia secepatnya bisa mendapatkan seorang adik. Kurang lebih tiga bulan kami menjelajah pesona Indonesia yang begitu kaya akan keanekaragaman. Kini kami kembali ke Sukabumi dan ke rutinitas semula. Terutama suamiku, Irsyad. Ia yang memiliki segudang kegiatan begitu kembali sudah pasti sangat disibukkan.
Walau pun Qia sudah memiliki papa baru, hubunganku dengan Hans masih terjalin baik. Bahkan Irsyad juga menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya. Tetapi, entah Hans merasa gengsi atau bagaimana, ia menolak halus tawaran suamiku.
Aku pun sudah tidak tinggal di kontrakan lagi. Irsyad ternyata sudah menyiapkan sebuah rumah yang menurutku mewah lengkap dengan fasilitasnya. Tidak tanggung-tanggung dia juga sudah memperkerjakan tujuh asisten rumah tangga.
Aku tahu kalau suamiku itu memang kaya raya, tetapi tidak sangka akan mendapatkan semua ini. Dari dulu aku memang tidak pernah kepo dengan kekayaannya. Kata Irsyad, semenjak dia rajin zakat serta sodaqoh, hartanya terus bertambah dari arah-arah tak terduga. Mungkin ini yang disebut the miracle of sedekah. Maka dari itu memberi seakan sudah menjadi candu baginya.
Sesuai janji Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Walau pun Qia sudah memiliki papa baru, hubunganku dengan Hans masih terjalin baik. Bahkan Irsyad juga menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya. Tetapi, entah Hans merasa gengsi atau bagaimana, ia menolak halus tawaran suamiku.
**
Lima tahun yang lalu kami memutuskan pindah ke Bandung. Karena usaha Irsyad yang di Bandung benar-benar harus dipantau langsung. Sementara yang di Sukabumi cukup dipercayakan saja kepada bawahannya. Tentu mami Mohan juga kami bawa serta pindah.
Alhamdulillah, meski mami mertuaku itu masih tetap pada keyakinannya, tetapi kami rukun-rukun saja tinggal satu atap. Selama ini aku sering mendengar keluhan para menantu kalau tinggal serumah dengan mertuanya dari mulai A sampai Z. Ajaibnya justru aku sama sekali tidak pernah sekali pun merasa tidak nyaman dengan kehadiran beliau.
Bahkan inginnya hari ini, mami Mohan bisa ikut dengan kami ke Sukabumi. Akan tetapi, karena mami sedang kurang fit, jadi tidak bisa ikut.
Kami jarang sekali ke Sukabumi. Terakhir kali ke kota kecil ini entah berapa tahun yang lalu. Sekitar empat jam sudah kami habiskan waktu untuk perjalanan. Akhirnya sampai juga di alun-alun Mesjid kota. Ya, kami akan melaksanakan solat dzuhur terlebih dahulu.
Mobil telah terparkir di area yang disediakan. Kami mulai memasuki halaman mesjid yang rindang. Irsyad langsung menuju ****** khusus ikhwan. Sedangkan aku dan Qia rehat sejenak di bawah pohon Kiara Payung. Duduk di kursi taman Besi sambil menikmati embusan angin.
Halaman Masjid memang lumayan luas dan langsung terhubung dengan taman Alun-alun Kota. Banyak orang yang berkunjung untuk sekadar nongkrong-nongkrong.
“Momi, liat anak itu!” Tunjuk Qia kepada seorang anak laki-laki yang sedang menawarkan barang dagangannya.
“Iya, kenapa?”
__ADS_1
“Kasihan masih kecil sudah harus jualan cari uang,” ungkap Qia sendu.
Kuikut memerhatikan anak lelaki yang tafsiran usianya tidak jauh beda dengan Qia. Hanya saja tubuh anak itu tampak begitu sangat kurus, kulitnya kusan dan hitam sekali. Mungkin karena dia sering terkena terik sinar sang raja siang.
Drrtt … getar ponsel di dalam tas kecilku membuyarkan lamunan tentang anak yang masih diperhatikan Qia.
Ternyata Irsyad yang melakukan panggilan.
“Ya, Bang.”
“Dek, kamu masih di halaman?”
“Iya.”
“Ayok cepat masuk Mesjid. Sudah pukul 12:30 lho,” ujarnya mengingatkan.
Irsyad memang selalu menyeruku untuk melaksanakan solat segera jika sudah masuk waktunya. Solatlah di awal waktu! Pesannya tidak pernah bosan.
“Qia, ayok kita solat dulu. Ayah sudah telepon Momi, lho,” ajakku sambil beranjak.
“Bentar Momi.” Qia menahan lenganku.
“Ada apa?”
“Kita beli dulu tissu.”
“Tissu ‘kan ada di dalam tas. Di mobil juga ada.”
Ternyata barang yang didagangkan anak lelaki tadi itu adalah tissu. Aku pun memanggil anak tersebut.
“Adek!” panggilku sambil melambaikan tangan.
Anak itu gegas menghampiri. “Iya, Bu. Mau beli tisunya?” tanya dia penuh harap dengan senyuman.
“Iya. Berapa?”
“Dua ribu lima ratusan, Bu.”
“Aku beli semuanya, ya! Jadi berapa?” tanya Qia tiba-tiba.
Sebenarnya aku sudah memprediksi hal ini. Irsyad memang bukan ayah kandungnya, tetapi jiwa pedulinya telah berhasil diwariskan.
“Benar mau beli semuanya?” tanya anak itu semringah.
Qia mengangguk yakin. Si anak langsung menghitung jumlah tissu yang tersisa dalam kardus yang ia bawa.
“Semuanya ada 22 buah tissu. Jadi total lima puluh lima ribu rupiah,” terangnya cepat.
Aku segera ulurkan uang seratus ribu rupiah. “Kembaliannya ambil saja, Dek!”
__ADS_1
“Tidak usah, Bu! Terima kasih. Kembaliannya ada, kok,” tolaknya halus seraya mengulurkan kembali uang sejumlah empat puluh lima ribu rupiah.
“Oh. Dek, kalau boleh tahu, umurnya berapa tahun?”
“Delapan tahun, Bu.”
Ternyata umurnya hanya selisih setengah tahun lebih tua dari anakku. Jujur, aku salut untuk anak seumurannya begitu cepat dan tepat dalam berhitung. Mungkin karena sudah terbiasa. Salut juga, dia menolak pemberianku yang cuma-cuma barusan. Meski kuyakin keadaannya tengah susah, ia tetap berjuang dengan cara berjualan dan mengambil apa yang menjadi haknya saja.
**
Kami mampir ke sebuah Resto untuk makan siang. Kemudian sepakat berpisah karena Irsyad harus menyelesaikan beberapa urusannya. Sementara aku memutuskan untuk membawa Qia berkunjung ke nenek-ibu papanya.
“Ya ampun, cucu nenek sudah sebesar ini,” seru ibunya Hans.
Kami pun meraih punggung tangannya yang sudah keriput untuk bersalaman.
“Eh, ini ponakan Ate?” tanya Dea.
“Iya, Ate.”
Dea langsung mencium Qia yang masih terlihat menggemaskan.
Kami dipersilakan duduk. Tidak ada yang berubah dengan rumah mantan mertuaku ini. Hanya saja sekarang rumah ini sudah terlihat tua dan ada kerusakan di beberapa sudut.
“Bu, papa Qia di mana, ya? Sudah lama aku hilang kontak. Nomernya tidak bisa dihubungi. Apa dia ganti nomer?”
“Hans ….” Mantan mertuaku malah menunduk dan terisak.
“Papa Qia dipenjara, Kak,” jelas Dea mengejutkan.
“Ya Allah, kenapa?”
“Dia ditangkap karena ketahuan maling motor.”
“Astaghfirullahaladzim.”
“Iya, Sal. Hans tidak kunjung mendapat kerjaan yang layak. Dulu ngojeknya pun sepi tidak menghasilkan. Salahnya dia malah salah bergaul.” Ibu Hans berujar dengan lesu.
“Mom, kenapa papa Qia jahat?” tanya Qia tiba-tiba.
“Sayang, papa Qia tidak jahat, kok.”
“Barusan Ate bilang di penjara.”
Aku tarik napas panjang seraya berpikir bagaimana menjelaskannya kepada Qia supaya dia tidak menganggap papanya itu jahat.
***
Cerita ini sedang proses terbit, ya. Bagi yang mau peluk novel cetaknya, hubungi othor di 0857 222 009 07
__ADS_1
❤️❤️❤️