
Selamat membaca 🌻🌻🌻
Jangan lupa peluk novelnya. Bagi yang berminat silahkan hubungi author di nomer 085722200907 🙏
Akhir yang Baik
Akhirnya urusan Irsyad sudah selesai. Dia langsung menjemput kami dari rumah neneknya Qia. Mengingat mami sedang kurang fit di rumah, jadi kami memutuskan untuk langsung pulang lagi ke Bandung.
Namun sebelum pulang, kami membeli dulu oleh-oleh khas Sukabumi. Pilihan jatuh kepada Mochi. Sebuah kue yang terbuat dari beras ketan, bertekstur lembut dan lengket. Bercita rasa manis dengan aneka varian isi.
Usai membeli oleh-oleh sampai bagasi mobil penuh, kami melanjutkan perjalanan pulang.
“Ayah, tolong berhenti!” teriak Qia tiba-tiba.
“Ada apa, Sayang?” Irsyad terkejut.
“Berhenti dulu, Yah!” pintanya lagi.
Irsyad pun menepikan mobilnya.
“Ada apa, Nak?” tanyaku.
“Mom, itu anak yang tadi!” tunjuknya kepada sosok anak yang sedang berjalan di trotoar.
“Oh, iya.”
“Anak yang tadi apa, sih?”
Aku pun menceritakan tentang tadi sewaktu di Mesjid.
“Kasihan, Yah,” ujar Qia.
“Hei, Dek! Sini sebentar!” Irsyad melambaikan tangan ke anak itu.
Anak itu tampak celingukan. “Saya?” Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Iya.”
“Ada apa, Pak?” tanyanya setelah menghampiri. “Eh, kalau tidak salah … ibu yang tadi di Mesjid, ya?”
“Iya betul.”
“Dek, kamu jualan apa?”
“Ini jualan kanebo. Kalau tadi siang jualan tissu.”
“Adek sekolah enggak?”
Dia menunduk. Ada raut kesedihan terpancar.
“Dek, boleh beli kanebonya?” tanyaku untuk mengusir rasa sedihnya.
“Boleh-boleh, Bu.” Ia langsung tersenyum kembali.
“Berapa semuanya?”
“Wah, Ibu mau borong lagi?”
“Iya.”
“Semuanya ada sepuluh. Jadi seratus ribu rupiah.”
Aku langsung membayarnya.
“Dek, maaf kami tidak bermaksud apa-apa. Hanya salut dan bangga kepada Adek. Sudah bisa mencari uang di usia ini. Tapi, sebaiknya anak-anak seumuran adek ini masanya belajar dan bermain. Bukan mencari nafkah,” tutur Irsyad.
“Yam au bagaimana lagi, Pak? Papaku tidak ada. Sedangkan Mama sakit. Jadi aku harus cari uang buat makan.”
Akhirnya dia bercerita dengan lesu.
“Memangnya Mama Adek sakit apa?”
“Kata dokter, kanker.”
“Apa? Kanker?” sontak aku terkejut.
Kami tidak bisa membayangkan anak seumurannya harus mencari uang karena mamanya menderita kanker. Sedangkan ia mengaku papanya tidak ada. Jadi penasaran, ingin tahu lebih jauh.
Kami pun bertanya lagi. Dia menjelaskan kalau kemarin-kemarin mamanya suka berobat. Berkat bantuan dari pemerintah dan orang-orang. Tetapi, sekarang sudah tidak lagi. Mamanya memutuskan untuk berhenti berobat, karena merasa sudah menghabiskan uang banyak, tetapi tidak kunjung sembuh-sembuh.
“Dek, apa kami boleh menjenguk mamanya?”
Lama dia mematung dan tampak berpikir.
“Boleh tidak, Dek?” ulangku.
“Boleh. Tapi aku tidak mau masuk mobil.”
“Lho, kenapa?” tanya suamiku.
“Takut diculik,” jawabnya polos.
Rasanya ingin tertawa. Lucu sekali. Bagaimana pun dia memang masih bocah.
“Terus, kami harus bagaimana agar Adek percaya kalau kami bukan culik?”
“Kalian turun dan jalan kaki saja. Ikuti aku. Lagian rumahku tidak jauh dari sini, kok.”
Kami pun menuruti syaratnya. Sebelum mengikuti anak tersebut, mobil terlebih dahulu kami parkirkan di sebuah mini market terdekat. Tentu menitipkan dan membayar kepada tukang parkir.
Setelah berjalan lima belas menit, kami masih belum sampai di rumah si anak.
“Dek, masih jauh?”| tanyaku karena napas mulai ngos-ngosan. Maklum efek jarang olah raga, jarang jalan kaki juga.
“Sebentar lagi, kok,” ujarnya selalu seperti itu setiap kali ditanya.
__ADS_1
“Mom, cape,” keluh Qia.
“Sini Ayah gendong,” tawar Irsyad.
Dengan senang hati Qia melompat ke punggung Ayahnya sampai hampir tersungkur. Aku hanya geleng-geleng melihat tingkahnya setelah menegur.
Sepuluh menita kemudian anak yang kami ikuti berhenti di sebuah gubug ujung gang. Jadi total 25 menit kami berjalan. Lumayan membakar lemak.
Gubug kecil yang ada di hadapan kami hampir ambruk. Keramiknya sudah pada belah dan kotor tak terurus. Cat dinding mengelupas dan kaca jendela yang pecah hanya ditambal oleh kardus.
Aku menghela napas berat.
“Bu, Pak, ayok silahkan masuk,” ajaknya.
Kami pun langsung masuk dan duduk di tikar yang sudah tergelar. Aku menatap langit-langit rumah yang sudah jebol. Terdengar suara gaduh dari arah sana. Sepertinya tikus sedang main kejar-kejaran.
“Mom, apa itu?” tanya Qia kaget sambil mendongakkan kepala.
“Mungkin tikus.”
Mendengar jawabanku, bahunya bergidik.
Anak pemilik rumah datang dari arah belakang. Di tangannya sebuah nampan yang di atasnya tiga gelas berisi air minum.
“Tidak usah repot-repot, Dek.”
“Tidak repot, Bu. Hanya air putih,” kata dia. “ Mah, ini ada tamu!” lanjutnya memanggil sang mama seraya masuk sebuah kamar.
Lamat-lamat terdengar si Bocah berbicara di dalam sana dengan suara mamanya yang ringkih.
Tidak lama mereka berdua menyembul dari balik pintu kamar. Mamanya berjalan dipapah sampai duduk berhadapan dengan kami.
Tubuh kurus tinggal tulang, wajah pucat bak mayat hidup, mengenakan daster kumal dengan sebuah ciput rajut menutupi kepalanya. Kedua bola matanya yang say uterus menatap ke arahku. Lalu sontak ia membeliak.
“Mbak Salma!” serunya.
“Anda kenal saya?”
“Mbak, syukurlah kalau Mbak tampak sehat dan bahagia,” ucapnya lirih.
“Apa kamu … Meti?” keningku mengernyit.
Dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Ya Allah, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat sekarang ini. Sungguh tidak pernah menyangka. Berarti bocah lelaki tadi ….
“Ibu kenal dengan mamaku?” tanya bocah itu.
“Kamu, Daffa ‘kan?”
“Iya, Bu.”
Tiba-tiba ada rasa iba dan air mata jatuh tanpa permisi. Kuraih anak kurus, berkulit hitam legam itu. Mendekapnya ke pelukan. Bagaimana pun, dia darah daging Hans, secara biologis adalah kakanya Qia.
Dua bola matanya yang selalu memancarkan harapan kini mendongak ke wajahku. Ia bingung dengan apa yang kulakukan. Tetapi, sama sekali tak menolak saat kudekap. Malah ia seperti menikmati hanganya pelukan seorang ibu.
“Mom?” Qia tampak kebingungan.
“Eh, maaf. Ibu terlalu terbawa perasaan,” ucapku sambil melerai pelukan.
Irsyad mengusap-usap punggungku, berusaha menenangkan. Karena saat ini perasaanku sangat bercampur aduk. Kaget, haru, kasihan, rasa sakit dulu yang kembali mencuta, semua menjadi satu.
“Mbak, dari dulu aku adalah wanita tidak tahu malu. Sampai sekarang pun, masih sama.”
“Kamu sakit, Met?”
Dia mengangguk. “Setiap malam aku berdoa mohon diberi keajaiban untuk dipanjangkan umur demi Daffa. Tapi, sepertinya sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Mau kah Mbak, merawat dan membesarkan Daffa?”
“Maksudmu?”
“Aku sunggung tidak tahu malu, bukan? Setelah apa yang kulakukan, aku malah memintamu merawat anak hasil selingkuhan suamimu dulu.” Tangisnya menyeruak begitu saja. “Tapi, meski aku seorang ibu yang jahat, ketahuilah Daffa-anakku tidak mewarisi sikapku atau pun sikap papanya. Alhamdulillah, ia telah tumbuh menjadi anak yang soleh. Percayalah!” sambung Meti sambil meraih tanganku.
“Met, kalau kamu sakit, kenapa tidak pulang ke kampung atau ke Uwa-mu yang di Pelabuhan Ratu?”
“Mana mungkin aku pulang kampung setelah mengecewakan banyak kepada orang tua? Mana mungkin kubawa anak yang mereka panggil ‘haram’ sebab lahir tanpa ayah. Sedangkan Uwa, yang selalu menerimaku apa adanya sudah lama meninggal,” tuturnya parau.
__ADS_1
Bahkan ibu-nya Hans sebagai nenek, aku yakin tidak akan mau merawat. Apa lagi keadaan mantan mertuaku itu sekarang terlihat kesusahan.
Hening ….
Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Selama ini aku nyaris melupakan luka-luka itu. Irsyad sudah berhasil membasuh dan membalut hingga tak tampak bekasnya. Kujalani hari-hari dengan baik dan penuh syukur.
“Kami tentu tidak akan keberatan merawat Daffa.” Suamiku buka suara. “Tapi, apa Daffa bersedia tinggal bersama kami?”
“Sampai kapan pun, aku mau tinggal sama mama saja. Meksi harus hidup seperti ini, aku bahagia. Aku bisa bekerja, bisa hasilkan uang, bisa rawat mama juga,” tegasnya.
“Nak, waktu mama tinggal sedikit. Selepas mama pergi, kamu akan tinggal bersama siapa? Ikutlah dengan mereka. Percayalah! Mereka adalah orang-orang baik.”
“Aku bukan tidak percaya kalau mereka orang baik. Tapi, aku hanya ingin terus bersama mama,” ungkapnya sambil terisak.
“Met, kamu sakit apa?”
“Kanker serviks stadium akhir.”
“Ya Allah ….”
“Dokter memprediksi umurku tidak akan lama lagi.”
“Umur hanya Allah yang tahu, Met.”
“Jangan coba-coba memberiku harapan! Aku sudah benar-benar lelah.”
“Apa kamu melakukan pengobatan?”
“Sekarang sudah tidak lagi.
“Lho, kenapa? Kamu jangan menyerah, demi Daffa.”
“Sudah kubilang jangan beri aku harapan!” nadanya penuh penekanan. “Semuanya akan sia-sia. Lihatlah ini!” sambung Meti seraya membuka ciputnya.
Aku terperangah saat melihat kepalanya tanpa sehelai rambut. Sepertinya Meti sudah benar-benar putus Asa.
Hari beranjak semakin sore. Sebentar lagi magrib datang. Setelah mengobrol panjang, Daffa tetap mau tinggal dengan mama-nya. Sebelum pulang, aku meninggalkan nomer kontak. Jadi kalau ada apa-apa, mereka tinggal menghubungi.
Namun saat kuberikan sejumlah uang, baik anak atau mamanya sama-sama menolak. Tetapi, aku terus memaksa sampai akhirnya mereka hanya menerima beberapa lembar. Kami pun pamit untuk pulang.
\*\*
Tiga bulan kemudian.
“Hallo, Bu … Ma-ma, mama su-dah dipang-gil oleh Allah,” ucapnya terdengar serak di sambungan telepon.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.”
Aku, Irsyad dan Qia langsung berangkat ke Sukabumi. Kami urus semua keperluan yang ada di rumah duka.
Setelahnya sesuai janjiku kepada Meti, akan kurawat dan besarkan Daffa. Irsyad setuju dengan hal ini. Kami akan anggap Daffa seperti anak sendiri. Terlebih sepertinya aku memang akan sulit sekali untuk bisa hamil lagi.
Bukan aku yang mandul, melainkan Irsyad. Saat kami memeriksakan diri ke dokter spesialis, ternyata suamiku bermasalah. Kemungkinan besar akibat kecelakaan dulu yang menyebabkannya sampai koma. Trauma serius yang dialami organ pentingnya memengaruhi system reproduksi.
Sebelum kami bawa Daffa ke Bandung, aku mengunjungi Hans seorang diri di penjara. Kusampaikan apa yang telah terjadi.
“Apa kamu yakin akan besarkan Daffa?” tanya Hans ragu.
“Insya allah, aku akan anggap dia seperti anak sendiri. Kamu tenang saja, aku tidak akan seperti ibumu kepada Dea.”
\*\*
Hidupku dan Irsyad sekarang merasa semakin sempurna. Memiliki satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Keduanya tumbuh dan berkembang dengan baik. Kesehatan yang terjaga serta limpahan harta. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Jangan berhenti berharap kepada Allah, karena Allah lebih tahu yang tepat mengabulkan permintaan hamba-Nya. Bukan cepat atau pun lambat.
Belajarlah dari apa yang kamu alami, maka kamu akan lebih kuat. Dikhianati seseorang bukan berarti tidak akan ada hati yang mengganti.
Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik. (Ali Bin Abi Thalib)
Jika kamu mebalaskan rasa sakit hatimu, maka apa bedanya kamu dengan dia. Ikhlaskanlah! Biarkan Allah yang mengurusinya, karena Dia-lah sebaik-baiknya penegak keadilan.(Othor)
T.A.M.A.T
Yuk follow IG othor 👉 dinarala2022
__ADS_1
Terima kasih sangat untuk semua reader yang setia ikuti kisah ini sampai ending. Tunggu cerita othor berikutnya 🥰