Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Ternyata


__ADS_3

🌻🌻🌻


Part-40


Dalam situasi seperti ini aku harus sebisa mungkin mengontrol diri. Aku harus tenang agar bisa berpikir jernih dan Qia cepat ditemukan. Sebaiknya sekarang aku hubungi Hans untuk memberitahunya.


“Hallo, Hans ….” Sapaku setelah tersambung.


“Ya, ada apa?” Nadanya terdengar ketus. 


Aduh, apa dia juga sedang ada masalah? Bagaimana reaksinya kalau tahu bahwa Qia hilang?


“Mom, mom, momm ….”


Terdengar suara Qia di telepon. Terus suara itu langsung hilang. Hanya grasak grusuk yang tertangkap kuping. Aku tidak mungkin salah dengar. Tadi itu pasti Qia. Apa artinya Hans yang telah membawa Qia tanpa izinku?


“Hans, Hans, apa itu Qia? Kamu ‘kan yang mengambil Qia? Hans!” cecarku.


Namun, tiba-tiba sambungan terputus. Kuhubungi ulang, tetap tidak tersambung lagi. Sepertinya Hans sengaja tidak mau mengangkatnya. Itu membuatku semakin yakin kalau yang tadi memang Qia.


Ada sedikit perasaan lega saat tahu Qia sedang dengan Hans. Setidaknya dia aman bersama papa-nya. Akan tetapi, apa maksud dari semua ini? Kenapa Hans membawa Qia begitu saja? Aku harus cepat-cepat mengambil tindakan.


Aku sendiri langsung melajukan roda empatku menuju rumah kontrakan Hans. Untung saja aku pernah menanyakannya.


Sesampai di alamat yang pernah Hans kasih, aku mencari-cari rumah dengan model kontrakan. Kutinggal mobil di tepi jalan. Sebab setelah kutanyakan kepada seorang warga, menerangkan kalau mau ke rumah kontrakan harus melalui jalan gang.


Berjalan beberapa langkah dari jalan besar menyusuri sebuah gang. Tampaklah rumah berjejer dengan gaya dan warna yang sama. Tidak salah lagi ini pasti rumahnya.


“Permisi, Bu. Bu, apa di sini ada yang bernama Hans mengontrak rumah?” tanyaku kepada salah satu penghuni yang sedang duduk santai di teras.


“Hans?” Si ibu yang kutanyain terlihat mengingat-ngingat. “Oh, Pak Hans yang kurus agak hitam itu? Yang tukang ojeg?” lanjutnya.


“Iya, betul. Ini orangnya!” kuperlihatkan foto Hans yang ada di profil kontak aplikasi chat.


“Ya itu, benar.”


“Kontrakannya yang mana, ya?”


“Oh, kontrakannya yang itu. Yang depannya ada tong sampah biru.”


“Terima kasih, Bu.”


“Tapi, tunggu! Mau ke Pak Hans?”


“Iya.”


“Sayang sekali Pak Hans sedang keluar kayaknya.”


“Apa? Sejak kapan?”


“Sejak tadi pagi, Bu. Mungkin ngojeg.”


 “Dia membawa anak saya pergi tanpa izin.”


“Ya ampun. Pak Hans menculik anak Mbak?” tanyanya terkejut.


“Itu anaknya juga. Tapi, kami sudah berpisah. Tidak biasanya dia sepert ini. Benar-benar tidak habis pikir.”


“Kalau Pak Hans bapaknya, insya allah anaknya akan baik-baik saja, Mbak.”


“Iya. Tapi … ya, sudahlah. Terima kasih, Bu atas informasinya. Oya, boleh minta nomer ibu? Nanti kalau missal Pak Hans pulang, bisa tolong kasih tahu saya?”


“Oh, boleh-boleh. Simpan, ya, Mbak! 08-56 23-45 55-xx,” diktenya.


Aku langsung menyimpannya di ponsel.

__ADS_1


“Saya miscall, ya, Bu!”


“Iya.”


Tidak lama bunyi dering terdengar dari sakunya.


“Sudah, ya, Bu! Itu nomer saya. Panggil saja Salma.”


Setelah dari kontrakan Hans, aku benar-benar bingung harus kemana. Kenapa Hans tega menculik anaknya sendiri? Apa dia cemburu karena aku mau menikah? Kutarik napas dalam dan hembuskan.


Aku kemudikan roda empat dalam keadaan galau, resah tak menentu. Selama belum menemukan Qia, aku tidak bisa tenang.


“Kamu diaman, Nak?” 


Mana belum bisa lapor polisi lagi karena belum 24 jam. Astaghfirullahaladzim ….


Nama kontak Teh Lidia menari-nari di layar ponsel. Kutepikan mobil segera.


“Teh, gimana Qia sudah ketemu?” todongku langsung tanpa menjawab salamnya.


“Ya Allah, Mbak tenang dulu!”


“Gimana mau tenang, aku Qia belum ketemu,” ucapku serak dan tangis pecah lagi.


“Qia ada di sini. Sudah pulang.”


“Maksudnya?”


“Nih, sama papa-nya. Mbak cepat pulang saja!”


“Iya-iya.”


Kuhapus air mata yang berderai. Pulang Qia membuatku tenang. Apa-apaan Hans tadi membawanya tanpa izin? Ditelepon malah diputus. Heh, apa dia berubah pikiran? Syukurlah! Bagaimana pun Qia itu anaknya. Dia pasti tidak mau terjadi sesuatu dengan darah dagingnya.


Kulajukan mobil dengan tergesa. Ingin segera sampai dan memberi peringatan kepada lelaki tidak tahu diri itu. Sudah untung selama ini kuizinkan dia menemui buah hati kami, setelah apa yang dilakukannya.


Setibanya, aku langsung menyambar Qia dari pangkuan papa-nya.


“Keterlaluan kamu, Hans! Apa kamu akan membawanya kabur dariku? Lalu kenapa kamu balik lagi? Apa karena Qia rewel memanggil Momi-nya? Seharusnya kamu jangan tidak tahu diri seperti ini! Mulai sekarang jangan harap, aku akan memebri izin untuk bertemu dengan Qia,” sungutku berapi-api sampai dada naik turun menahan luapan amarah.


“Sal, kamu salah paham!” sangkalnya.


“Salah paham apa, hah? Masih mau mengelak!” tudingku.


“Aku tadi hanya mengajak Qia jajan ke mini market.”


“Lalu kenapa kamu tidak izin?” bentakku.


“Ya ampun, tadi aku manggil-manggil kamu, tapi tidak menyahut. Anteng dengan ponselmu. Aku juga bahkan pamit. Aku piker, tadi kalian mendengarnya.”


“Alah, alasan!”


“Buat apa coba kubawa kabur Qia?”


“Ya mungkin kamu … lalu kenapa telepon diputus? Ditelpon lagi malah enggak aktif,” cecarku.


“Tadi waktu kami menelepon, Qia merebutnya dan ponselku jatuh. LCD-nya pecah dan langsung mati. Kalau tidak percaya, lihat nih!” Hans menyodorkan ponsel dari sakunya. 


Ternyata benar ponsel dia tampak retak. Layarnya pecah lumayan parah.


“Iya, Mbak. Sepertinya tadi kita terlalu fokus ngitung jumlah catering, jadi tidak sadar kalau Pak Hans pamit,” kata Lidia.


“Jadi … benar kamu enggak bermaksud culik Qia?” Nadaku menurun.


“Harus bagaimana lagi, aku jelaskan? Sal, Qia itu anakku juga. Masa aku culik anak sendri? Qia itu masih bayi, masih butuh ibunya. Tahu sendiri, keadaanku ini bagaiaman? Sudah susah, ditambah culik Qia, ya pasti tambah susah.”

__ADS_1


“Syukurlah, kalau kamu bisa berpiki cerdas.”


“Ngomong-ngomong kamu sampai segitu fokusnya ngitung catering. Sibuk boleh, tapi jangan sampai lupa dong, dengan Qia. Kalau yang datang tadi culik beneran gimana, hayo?” tegur Hans.


“Iya, maaf. Habisnya waktu sudah mepet.”


“Kalian ini mau kawin enggak sabar banget. Kebelet, ya?”


“Ish, apaan sih?”


“Cie yang mau kawin, pipinya sampai kayak kepiting rebus,” godanya.


“Udah ah! Oya, maaf aku sudah syuudzon sama kamu. Nanti tolong jelaskan saja sama tetangga kontrakan kamu kalau dia tanya.”


“Jelaskan apa?”


“Ya, jelaskan kalau kamu tidak menculik Qia.”


“Oh, jadi tadi kamu ke kontrakanku? Dan bilang ke tetangga kalau aku culik Qia, gitu?”


“Iya, maaf.”


“Aduh, pasti dicecar nih, aku ntar pas pulang. Mereka ‘kan hobi banget bergosip. Kepo lagi.”


“Masa?”


“Iya. Samapai ada yang perhatikan ukuran sempakku saat dijemur di depan.”


“Haha … makanya jemur ****** ***** di kamar mandi saja, atau di belakang. Jadi kena ‘kan sasaran netizen.”


“Hadeuh!” Dia tepok jidat.


Karena ada Lidia, aku mempersilahkan Hans masuk. Dia malah membaca satu persatu oret-oretanku tentang persiapan. Hans memang dalam urusan catering dan segala rincian, jago dan handal. Dulu ‘kan aku yang bekerja, dia yang di rumah. Jadi lebih paham urusan beginian ketimbang aku.


“Menurutmu gimana?” Aku minta pendapat.


“Sebaiknya, ini catering lebihnya tambah lagi. Soalnya suka ada yang tak terduga, dari pada kurang, ya lebih baik sisa. Sisanya nanti bisa dibagikan ke yang tidak bisa hadir atau orang ke orang yang butuh.”


“Oh, iya, ya.”


“Kamu jangan pelit-pelit itu menunya. Ingat calon kamu itu Bos. Duitnya banyak. Semakin banyak duit yang kalian keluarkan untuk kenyangkan tetangga, semakin berkah tuh ntar rumah tangganya.”


Ngena banget apa yang dikatakan Hans. Dia pun membantuku membuat perincian baru. Dia juga menyarankan WO yang sesuai dengan karakterku. 


Ternyata apa yang direkomendasikannya benar-benar cocok, sesuai seleraku. Hans memang sangat mengenalku dengan baik. Apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Stop! Kondisikan hati.


Bagaimana pun Hans adalah bagian dari masa lalu. Alhamdulillah, jika pasca perceraian kami masih akur seperti ini. Banyak ‘kan biasanya setelah bercerai, jadi saling acuh bahkan musuhan? Jangan sampai. Qia harus memiliki orang tua yang selalu ada untuknya meski telah berpisah.


“Kamu jangan pilih kebaya yang model duyung! Bokongmu ‘kan kayak bebek. Nanti malah tambah kayak bebek lagi.”


“Haha ….” Kami tergelak bersama saat melihat beberapa contoh gaun pengantin di ponsel Hans yang dikirim oleh WO kenalannya.


“Ekhm,” deham Li mengejutkan kami.


Tiba-tiba saja dia sudah ada di ambang pintu tanpa ucapkan salam. Seakan aliran darah berhenti begitu saja. Riaknya sungguh dingin. Pasti Li cemburu. Apa lagi saat aku sadar kalau Lidia sedang di kamar mandi cebokin Qia karena pup.


“Li?” hanya itu yang berhasil terucap. 


Sisanya tercekat dikerongkongan.


Matanya yang biasa menunduk atau dialihkan karena harus menjaga pandangan, kali ini justru menatap tajam. Deg! Kena tepat di jantungku.


Novel ini sedang proses terbit, ya 🥰 yang mau peluk novelnya boleh banget. Jafri othor aja di 085822200907. Terima kasih.


Maaf kemarin ada kesalahan publish 🙏

__ADS_1


follow IG othor yuk dinarala2022


__ADS_2