
❤️❤️❤️
part-29
“Ekhm, Mas. Belum ketemu?” tanyaku menghampiri ke kamar.
“Belum, Yang,” jawab Hans tanpa menoleh. Matanya masih sibuk beredar ke seluruh ruang kamar.
“Apa Mas, cari ini?” Akhirnya kukeluarkan kemasan kotak kecil yang ia cari-cari dengar suara sedikit bergetar.
Barulah dia menolehku. Ia terlonjak dengan dua bola mata yang seakan melompat dari kelopak. Saat itu juga wajahnya pucat bagai mayat.
“Yang, ternyata kamu sudah menemukannya,” ucap dia terbata.
“Katakan, kamu berzina dengan siapa, Mas?” pekikku.
“Aku tidak berzina, Yang,” sangkalnya dengan yakin.
“Lantas?”
“Aku melakukannya dengan istri yang lain,” akunya.
Istri yang lain? Kata itu seperti belati yang menyayat-nyayat kepingan hati yang telah susah payah kusatukan kembali.
“Apa kamu menikahi Meti?” tanyaku bergetar.
“Dari mana Ayang tahu?”
Meski bukan sebuah jawaban, tetapi pertanyaan baliknya sudah lebih dari menjelaskan.
“Apa kamu tidak pernah memikirkan nasib anak kita, Mas?” suaraku mulai parau.
“Justru kulakukan semua ini demi anak. Ingat anakku bukan hanya yang ada dalam kandunganmu, anak yang dulu Meti kandung itu, anakku juga. Tentu kamu mengetahuinya ‘kan? Bisa-bisanya kamu dulu memfitnah Meti. Tapi tak apa, sekarang anak itu sudah lahir dan … apakah kamu tahu? Wajahnya lucu sekali. Sangat tampan, mirip sekali denganku.”
Hans terus bicara dengan entengnya. Sementara kepalaku tiba-tiba terasa berat dan kleyengan. Perlahan kesadaran menurun hingga entah apa yang terjadi.
***
Kuterbangun di ruangan serba putih. Aroma obat menghampiri indra penciuman. Kulirik sebelah tangan yang terikat selang infus.
“Yang, kamu sudah siuman?” tiba-tiba suara itu menarik kesadaran penuh.
“Hans?”
“Iya, Yang. Syukurlah kata dokter kamu tidak kenapa-kenapa. Hanya shock saja.”
“Apa aku pingsan?”
“Iya. Karena lebih dari beberapa menit kamu tak sadar-sadar, makanya aku langsung membawamu ke rumah sakit.”
“Anakku baik-baik saja ‘kan?”
“Alhamdulillah baik. Kata doker kamu itu tidak boleh stress, tidak boleh banyak pikiran.”
“Ini semua gara-gara kamu, Mas. Kalau sampai terjadi hal yang buruk dengan bayinya, aku tidak akan memaafkanmu.”
“Yang, kamu tenang. Jangan emosi seperti itu! Ingat setiap kamu sedih dan marah akan langsung sampai ke bayi kita.”
“Maafkan Momi, Nak,” lirihku sambil mengusap perut.
“Yang, begini … ini semua demi kebaikan dan kesehatan anak kita dalam perut. Mulai sekarang kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Fokus saja kepada kehamilan. Sebentar lagi kamu akan melahirkan, lho. Kamu harus selalu sehat, harus stabil. Maka dari itu … ikhlaslah dipoligami. Aku janji, kamu sebagai istri pertama akan selalu menjadi prioritas. Lagian dengan Meti, aku hanya nikah siri. Kamu yang sabar saja. Kamu pasti bisa. Kalau kamu ikhlas menerima, keadaannya akan baik-baik saja. Demi anak kita, Sayang.” Dia berujar tanpa rasa bersalah.
“Mas, pergilah!” titahku lemah setelah mendengar ucapannya yang begitu memuakkan.
“Pergi kemana? Di saat kamu seperti ini, mana mungkin aku pergi. Aku ini suami siaga. Bahkan demi kamu, dari tadi panggilan Meti tidak kuhiraukan. Padahal dia ngancam kalau tidak mengangkatnya juga, nanti kalau ke Pelabuhan Ratu tidak akan dikasih servis. Tapi aku tetap saja mengabaikannya. Ini semua demi kamu, Yang.”
Pelabuhan Ratu? Jadi si pembantu itu ada di Pelabuhan Ratu. Jadi selama ini Hans sering ke Pelabuhan Ratu untuk … seketika darahku mendidih ke ubun-ubun.
“Pergi Hans! Pergi dari sini!” usirku berteriak.
Seorang suster sampai berlari ke ruanganku. “Ada apa, Bu? Kenapa?”
__ADS_1
“Suster, tolong usir orang ini dari hadapan saya,” ucapku bercampur tangis yang meledak.
"Bukankah ini suaminya ibu?" Dahi Suster mengerut.
"Pokoknya usir dia, Sus!" kukuhku dengan air mata yang meluncur.
“Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak keluar dulu. Jiwa pasien terguncang.”
"Tapi, Sus." Hans keberatan.
"Tolong, Pak!" ucap Suster.
Dengan terpaksa Hans pun keluar.
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini aku dizinkan pulang. Selama dirawat, aku tidak mengizinkan Hans menjenguk apalagi menungguiku.
Bismillah ….
Aku sudah siap hadapi lelaki bermuka beton itu. Insya alloh kepalaku sudah dingin dan sudah bisa kendalikan emosi. Aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi. Meski bukan berarti ikhlas dimadu. Aku akan mengajukan perceraian dengan cara baik-baik.
***
“Yang, kamu pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku? Kan bisa aku jemput?” tanyanya gugup dan mencurigakan.
Kulihat sepasang sandal wanita di depan pintu. Jelas itu bukan punyaku, bukan pula ukuranku. Apa mungkin? Belum sempat aku menuntaskan prasangka, suara seorang perempuan yang tentu belum kulupa terdengar memanggil dari arah dalam rumah.
“Bang … kenapa Daffa dibiarkan sendiri di atas soffa? Gimana coba kalau dia terjatuh?”
“Kamu bawa perempuan itu ke rumahku, Mas?”
“Maaf, Yang. Hanya mampir sebentar. Meti dan anakku akan menginap di hotel, kok.”
Aku pun merangsek masuk. Benar saja, Meti sedang menggendong anaknya di ruang Tv.
“Salma?” Ia terkejut menyadari kedatangan sang tuan rumah.
Hans dan Meti saling lempar pandang dan tegang.
“Yang, kamu tidak marah?” Senyum Hans mengembang seketika.
“Untuk apa aku marah?”
“Ya ampun, Alhamdulillah. Akhirnya … kamu memang istri shalehah Yang.”
Spontan Hans merangkulku.
“Lepaskan!”
“Oh, iya, Yang.”
“Ehmm … sebaiknya aku panggil Mbak saja, ya! Tidak mungkin ‘kan kupanggil kamu nama. Bagaimana pun kamu jauh lebih tua dariku. Kalau panggil Nyonya, rasanya sekarang tidak mungkin juga. He ….” Meti dengan percaya dirinya langsung angkat bicara.
“Ya, terserah kamu.”
“Mbak, kami baru mau makan siang. Yuk, kita makan siang bareng,” ajak Meti so ramah.
“Kalian saja yang makan. Aku sudah makan tadi di rumah sakit. Aku mau rehat saja di kamar. Kalian tidak memakai kamarku ‘kan tadi?” Mataku penuh selidik.
“Oh, tentu saja tidak Yang.”
Aku segera berlalu dari duo laknat yang come back again. Tidak habis pikir dimana otak mereka. Berani sekali datang ke rumahku. Si ****** itu sudah berlagak seperti nyonya saja.
Kuterus beristighfar dan membaca solawat. Berharap gemuruh dalam dada tidak meledak bak bom waktu. Aku tahu, ini tak mudah. Hati mana yang tak hancur saat suaminya melakukan pengkhianatan kembali. Air mata mana yang tak tumpah, saat suaminya bersama wanita lain yang juga istrinya.
Kuredam sebanyak yang kubisa. Air mataku tidak boleh merebak sia-sia. Tak pantas kutangisi lelaki seperti Hans. Aku juga tak mau buang energi untuk marah-marah.
“Rasaku untukmu sudah mati, Mas.”
Aku menyesal dulu tidak menurut kepada Mami dan Papi. Restu dan Ridho orang tua ternyata sangat berharga untuk seorang anak. Sayang sekali, semua waktu itu tidak bisa kembali.
Tok, tok, tok … pintu kamarku ada yang mengetuk.
__ADS_1
“Ya, siapa?”
“Aku, Yang.”
“Masuklah!”
“Yang ….”
“Ada apa?”
“Kamu kan sudah tidak marah. Terus, apakah Meti boleh menginap semalam saja di sini? Ternyata harga kamar hotel di sekitar sini mahal juga. Dari pada uangnya dipakai bayar kamar, lebih baik kami gunakan untuk keperluan Daffa.”
Daffa? Lagi-lagi aku mendengar nama ini. Setelah tadi Meti yang mengucapkan. Apakah Daffa, nama anak mereka?
“Menginap?”
“Ya, Yang. Semalam saja. Bolehkan? Ya itung-itung mengasah kesabaran Ayang sampai dimana? Apa bisa akur dengan madu?” Hans merapatkan kedua bibirnya dan sedikit tersipu.
Aish! Menjijikannya dia.
“Ya, terserah. Tapi besok pagi suruh dia pulang.”
“Siap, Yang.” Hans langsung mengangkat tangan seperti orang yang memberi penghormatan.
“Sudah sana, keluar!”
“Iya, Yang. Terima kasih, Yang.”
Hans keluar dan tak lama terdengar tawanya cekikikan kegirangan. Lalu terdengar dia menyanyikan lagu milik Ahmad Dani yang berjudul Madu tiga.
Hai … senangnya dalam hati kalau beristri dua
Seperti dunia ana yang punya.
Kepada istri tua, kanda sayang padamu
Kepada istri muda, I say I love you
Silahkan saja kamu berjingkrak ria, Hans. Besok juga akan kulayangkan surat gugatan cerai.
Dengan adanya dua makhluk itu di rumah, hari terasa kian panjang. Malam cepatlah datang, agar aku bisa terlelap meraih mimpi.
***
Oeekk … lamat-lamat terdengar suara tangisan bayi saat aku terbangun malam karena ingin buang air. Mungkin anaknya si Meti ingin menyusu. Kuabaikan sajalah. Aku gegas ke kamar mandi untuk menunaikan hajat.
Setelah keluar dari kamar mandi, tangisan bayi itu belum juga berhenti. Bagaimana sih, si Meti mengurus anaknya? Masa dibiarkan terus? Tangisannya tidak terlalu nyaring, tetapi tetap saja kalau di malam hari seperti ini sangat mengganggu. Aku hanya duduk di tepi ranjang karena kantukku tiba-tiba hilang gara-gara mendengar tangisan tersebut.
Tangisan yang tak kunjung diam, memancing rasa penasaran. Apa si Meti tidur bak kebo sampai anak sendiri nangis tidak terdengar. Dengan kesal, aku ayunkan langkah menuju kamar tamu dimana mereka tidur malam ini.
“Lha, kok, pintunya sedikit terbuka?” gumamku.
Diam-diam kucondongkan kepala untuk melihat si bayi yang menangis. Betapa terkejutnya aku karena hanya mendapati bayi mereka sendirian. Kubuka pintu kamar lebih lebar dan masuk beberapa langkah. Ternyata benar-benar sendirian. Lalu kemana si Meti dan Hans?
“Kasihan sekali kamu, Nak.”
Namun, aku biarkan saja. Masa harus mendiamkan anak mereka? Kalau nangisnya kejer, baru kugendong. Sekarang lebih baik kucari dimana dua makhluk bermuka beton itu. Netraku menyebar ke segala sudut rumah yang tidak terlalu besar. Ada pergerakan dari arah dapur yang samar-samar kutangkap.
Kuberjalan pelan, lebih tepatnya mengendap. Semakin dekat dengan dapur, kedua telinga malah menangkap suara lenguhan. Napas di dada langsung turun naik seraya tangan mengepal kuat. Meski demikian tidak menyurutkan langkah untuk kian mendekat. Kuterus berjalan hingga menempel kepada bilik dapur.
“Daffa, nangis, Bang …," desahnya.
“Tanggung, dikit lagi. Aah, ouuh,” erang si brengsek.
Sekali kucondongkan kepala, tampak jelaslah sudah dua kuda lumping kesurupan di tepi wastafel.
Eumm....kira-kira harus diapakan dua kuda itu? Eh dua makhluk yang sedang main kuda-kudaan. 😛
yuk follow IG othor 👉 dinarala2022
terima kasih yang sudah mampir 🥰
__ADS_1