Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Menunggu


__ADS_3

🌼Story by Dinara L.A🌼


❤️❤️❤️


KB-37


Usai melaksanakan solat empat rakaat, kami makan siang bersama di rumah dengan menu ikan goreng dan tumis-tumis. Kebetulan Mama dari dulu memang pandai masak dan rasanya selalu enak.


“Sal, awak harus sering-sering belajar masak. Biar Li nanti tambah betah di rumah,” cetus Mama.


“Aku akan tetap betah Mah, mau Salma pintar masak atau tidak. Dimana pun dan siapa pun yang masak, asal makannya bareng dia, pasti akan enak,” jawab Li.


“Ekhm, mulai keluar nih, gombalnya,” goda mama.


“Yuk, kita makan dulu. Gombalnya kita lanjutkan nanti selesai makan,” usul papa.


“Iya, pah.”


Padahal dari dulu sudah sering sekali makan bareng Li, tetapi sekarang kok rasanya ada yang beda. Aku jadi tidak bisa bebas ngunyah dan nambah. Memang ribet ya, kalau hati sudah terlibat. Hehe ….


Akhirnya proses makan pun selesai.


“Jadi kalian mau menikah kapan?” tanya papa.


“Secepatnya, Pah,” jawab Li.


“Bagus. Lebih cepat lebih baik. Papa mama juga ‘kan harus pulang, soalnya kemarin memakai visa liburan ke sini. Jadi tidak bisa stay sesuka hati.”


“Apa besok saja?”


“Cepat juga, tapi tidak secepat itu Li. Kalian ‘kan harus urus-urus dulu berkas ke KUA. Emang kalian mau nikah siri?”


“Enggak, Pah. Salma enggak mau nikah siri,” selaku.


“Iya, aku juga ingin tercatat secara hukum Negara,” timpal Li.


“Justru sebab tuh. Konsep pernikahan kalian sendiri mau seperti apa? Ini ‘kan pernikahan pertama untuk Li. Terus lamaran resminya kapan? Mama awak emang sudah setuju awak mau menikahi Salma?” cecar papa.


Seketika wajah Li pucat setelah dibrondong pertanyaan oleh papi.


“Li kenapa?” tanyaku.


“Sebenarnya … Mami belum tahu soal ini.”


“Apa awak cakap, Li? Lho, kenapa? Apa mami awak tak restu?” tebak papi.


“I-iya, Pah.”


"Apa karena aku janda, Li?" tanyaku membidik.


Li mengangguk sebagai jawaban.


“Mana bisa awak lamar Salma, sementara mami awak tak restu. Tak betul ini.”


“Tapi Pah, aku tetap akan menikahi Salma.”


“Itu tak boleh. Restu mami awak tu penting.”


Meski hatiku kecewa, tetapi aku setuju dengan papi. Aku pun tak setuju jika harus menikah tanpa restu. Sekali pun mami Li non muslim, restu orang tua tetaplah restu.


“Iya Li. Kita harus mendapat restu mami kamu dulu,” imbuhku.


“Baiklah, aku akan mencoba membujuk dan memberi pengertian sama mami.”


Padahal baru saja aku merasa hidupku indah bertabur bunga, dengan mudahnya Allah merubah rasa ini. 


Kenapa hubungan kami selalu terpentok restu. Dulu karena berbeda keyakinan, papa juga tak merestui karena hal itu. Sekarang sudah sama, eh restunya mami Li karena aku janda. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.


*** 


Papi mami sudah pulang ke negaranya. Aku kembali ke kehidupanku sebagai single parent. Kelanjutan lamaran Li belum terlihat lagi hilalnya. Kalau kami bertemu di pengajian mingguan pun, aku lebih memilih menghindar. Rasanya jadi canggung dan serba salah. 


Aku masih belum terima tawaran papa untuk membeli rumah. Jadi aku masih tinggal di kontrakan dekat Lidia.

__ADS_1


Seperti biasa sore hari aku mengajak main Qia di teras. Tiba-tiba ada Hans datang. Beberapa hari yang lalu ia sempat telepon menanyakan alamat rumah. Awalnya aku tidak mau memberi tahu, tetapi dia memohon-mohon karena katanya sangat kangen sama Qia. Ya dari pada ketemuan di luar, lebih baik dia saja yang berkunjung.


“Hallo Qia, anak Papa,” sapanya dan langsung menggendong Qia.


“Mau dibuatkan minum apa Hans?”


“Apa ajalah.”


Aku membawakannya secangkir teh manis.


“Kamu baru ingat sama Qia?”


“Aduh, Sal, maaf. Kemaren-kemaren aku benar-benar lagi pusing. Jadi tidak bisa menemui Qia. Padahal kangen banget.”


“Oh.”


“Oh doang? Enggak mau tanya kenapa aku pusing?”


“Buat apa? Bukan urusan.”


“Gitu banget. Aku sudah ceraikan Meti.”


“Apa? Lho kenapa? Kan kasihan si Daffa.”


“Reaksinya kok begitu? Harusnya kamu senang aku cerai dengan Meti.”


“Apa untungnya?”


“Ya sebenarnya dia memohon-mohon enggak mau cerai. Tapi aku udah tidak kuat dengan kelakuannya. Untung saja pernikahannya belum disahkan secara hukum Negara, jadi gampang buat ninggalin dia,” terang Hans enteng.


“Ish,” desisku.


“Mana ada suami yang tahan dengan kelakuannya? Dikit-dikit curiga. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Posesif.”


“Lho, emang kamu main perempuan ‘kan di luar?”


“Iya, sih. Tapi untuk tidak serius. Hanya jajan saja. Bosan dengan yang di rumah.”


“Astaghfirullah.” 


“Iya, jajan enggak, tapi punya yang gratisan di ruang rahasia,” sinisku.


“Haha … Salma-Salma, kamu ini masih saja diingat.”


Menyebalkan sekali. Kalau saja dia bukan papa dari Qia, sudah pasti kuusir. Seandainya bisa, aku pun ingin amnesia dengan luka hati itu. 


Hari beranjak sore. Aku meminta Hans untuk segera pulang. Tetapi dia malah terus merayu, menggombal. Dia pikir aku masih punya rasa seperti dulu apa? Yang hidungnya akan kembung kempis dengan pipi merona. Kali ini justru aku mendengarnya seperti sebuah olok-olokan dan muak.   


“Hans, jangan lama-lama ya! Aku tidak enak sama tetangga.”


“Ya ampun, kamu ini gitu banget. Ngaku aja emang enggak seneng kan dengan kedatanganku?”


“Itu kamu ngerti.”


“Ya iyalah. Udah diselingkuhin dua kali. Terus asset kamu juga hilang, tabungan habis gara-gara aku. Gimana kamu enggak sebal sama aku?”


“Hehe … sadar diri juga kamu. Tapi serius bukan karena aku sebal doang, emang beneran enggak enak. Soalnya kita bukan mahram. Meski ada Qia diantara kita, tetap saja jadi kurang nyaman kalau lama-lama.”


“Ya, Bu Haji, aku ngerti.”


“Ih enggak usah panggil Bu Haji segala!”


“Tapi kamu cantik lho, dikerudung. Tampak anggun sekali. Doakan ya, agar mantan suamimu ini bisa tobat juga.”


Sebenarnya aku sendiri masih kadang-kadang dijilbabnya. Semoga bisa Istiqomah untuk kedepannya.


“Iya. Aku doakan. Asal kamu sungguh-sungguh. Insya allah jalan taubat selalu terbuka.”


“Iya, aku pikir-pikir dulu lah.”


“Dasar!”


Hans siap-siap akan pamit pulang. Sebelum pamit, ia menyerahkan sebuah amplop.

__ADS_1


“Nih, buat Qia. Maaf sedikit. Aku bagi dua dengan si Daffa.”


“Ini halal ‘kan?”


“Seratus persen halal. Itu hasil ngojek.”


“Ngojek?”


“Iya. Pasca cerai dengan Meti, aku jatuh miskin lagi. Resto sesuai perjanjian, jatuh ke tangan Meti. Meski atas nama Daffa, sih.”


“Oya, waktu aku lewat, Resto itu kok ada keterangannya mau dijual?”


“Ya, si Meti ‘kan mana bisa mengelola. Dari pada pusing, dia milih menjualnya saja. Tapi sampai sekarang belum laku-laku. Terlalu mahal sih, dia menawarkannya.”


“Oh. Oya, Hans. Jika kamu tidak punya uang, tidak apa-apa, Qia biar aku aja yang biayain. Lagian aku juga sudah punya penghasilan lagi.”


“Salma, pliss … jangan rendahin aku kayak gitu dong. Aku tahu kamu mampu dan selalu bisa biayai hidup anak kita. Tapi, sebagai papa-nya, aku juga ingin ikut andil membiayainya, walau tidak seberapa. Jangan ikut andil pas buatnya saja, iya enggak?” godanya seraya alis terangkat membuatku makin sebal.


“Terserah kamulah. Katanya mau pulang?” aku mengingatkan.


“Iya-iya. Bawel!”


Hans pun pamit setelah menciumi Qia. 


*** 


Roda hidup terus berputar.  Tanpa kubalas dendam, Allah telah menunjukkan bahwa rumah tangga Hans dan Meti pun tidak ada kebahagiaan.


Tring … sebuah chat masuk. Segera kubuka.


[Assalamualaikum] ternyata Li yang mengirim.


[Waalaikum salam]


[Tadi waktu lewat rumah, seperti melihat papa Qia]


[Oh, tadi kamu lewat? Itu Hans mau bertemu dengan Qia. Aku harap kamu tidak salah paham]


[Kenapa harus salah paham?]


[Ya mungkin saja. Maaf, kalau salah]


[Tidak usah minta maaf. Terima kasih sudah inisiatif untuk menjelaskan]


[Kenapa terima kasih?]


[Karena artinya, kamu peduli dengan hatiku]


[Oh.]


Aku jadi senyum-senyum sendiri.


[Sebenarnya tidak perlu dijelaskan. Aku percaya sama kamu]


[Terima kasih]


[Maaf, aku belum bisa menaklukkan hati mami.]


[Tidak apa. Yang penting kamu sudah berusaha ‘kan?]


[Tentu. Jangan lupa bantu dengan doa, ya!]


[Iya. Sesuatu yang butuh perjuangan, biasanya adalah jodoh yang langgeng.]


[Aamiin.]


Lagi-lagi senyum terus tertarik dari bibirku. Mungkin kalau aku belum kenal pengajian, chat ini pasti sudah kubalas dengan love, love, love. Li … kamu bikin aku gemes. Sorak hatiku. Sebetulnya chatingan seperti ini juga kata Teh Lidia, sebaiknya dihindari. Sebab bisa memancing zina hati.


Zina hati? Iya. Jika kita menjadi terus terbayang yang kirim chat. Terus bikin otak travelling kemana-mana. Ahay … No!


Baca juga karya othor di aplikasi lain dengan nama pena Dinara L.A


Judul rekomendasi SALAH SEBUT NAMA

__ADS_1


Saling follow IG yuk --> dinarala2022


Terima kasih 🥰


__ADS_2