
🌻🌻🌻
Part-39
Hari ini adalah hari ulang tahun Qia. Aku belum ada rencana apa-apa. Bahkan aku bingung mau belikan kado apa? Mungkin aku hanya akan membelikannya cake ulang tahun bertema Kuda poni kesukaannya.
Habisnya kami hanya berdua, mungkin tambah Lidia saja. Coba kalau datuk-nenek ada di sini, akan lain cerita.
Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunan. Ternyata datuk-nenek Qia melakukan panggilan video call. Gegas kuangkat.
“Assalamualaikum, mana cucu nenek?” sapa mama setelah panggilan terhubung.
“Waalaikum salam Nenek. Nenek apa kabar?” balasku sambil memperlihatkan kepada Qia layar ponsel dimana datuk-nenek berada.
“Kabar kita baik. Wah comelnya cucu Nenek. Hari ini hari jadi, ya?”
“Iya, Nenek.”
Mama pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun, “happy birthday to you ….”
Dengar neneknya menyanyi, Qia langsung joget-joget sambil melambaikan tangan.
“Lihat tuh, Mah!”
“Iya. Aduh lucu! Jadi mahu cepat-cepat ke sana lagi.”
“Secepatnya datuk dan nenek mahu ke sana. Tunggu, ya!” papa ikut nimbrung.
“Iya, Atuk.”
“Oya, Atuk tadi sudah kirim kado buat Qia, wang 2000 ringgit.”
“Alhamdulillah … terima kasih Atuk. Banyak sekali.”
“Buat beli cake atau mainan atau apalah.”
“Iya Nek, terima kasih.”
“Sama-sama.”
Setelah melakukan video call-an, datanglah Lidia dengan berpenampilan rapi.
“Mau kemana Teh?”
“Mau ajak Mbak dan Qia jalan-jalan.”
“Wih, banyak uangnya Ate.”
“Ayo buruan, kita berangkat.”
“Serius?”
“Iyalah. Udah cantik begini masa becanda?”
“Ok. Bentar kalau begitu, aku ganti baju dulu.”
“Iya, dandan yang cantik, ya!”
“Ah, Teteh.”
Aku gegas mengganti baju dengan gamis dan memakai pashmina. Qia pun aku ganti bajunya dengan yang lebih girly dan baru.
__ADS_1
Kami pun berangkat menggunakan roda empatku. Qia tampak senang sekali setiap kali diajak jalan. Bibir mungilnya tak berhenti mengoceh.
Sekitar dua puluh menit, sampailah kami di restoran cepat saji sesuai intruksi dari Lidia. Dari luar sudah kelihatan, rupanya restoran lagi rame. Padahal ini hari biasa bukan akhir pekan.
“Surprise!” seru orang-orang begitu kami masuk.
Ternyata banyak orang-orang sudah menunggu. Ruangan pun sudah berhiaskan balon dan aksesoris lainnya. Begitu meriah karena dihadiri banyak anak yatim dari yayasan Irsyad.
Irsyad? Ya, sepertinya dia yang menyiapkan ini semua. Siapa lagi coba? Aku sungguh terharu ada yang perhatian kepada Qia sebesar ini.
Tunggu! Bukankah itu tante Ratna. Dia ikut menghadiri acaranya? Tidak terasa senyum menyungging manis dari bibirku.
“I-ini kamu yang siapkan?” tanyaku dengan mata berkaca.
“Iya. Untuk Qia,” jawab Irsyad. Ia juga langusng menuntun Qia ke panggung mini yang sudah didekorasi dengan tema kuda poni.
Putriku sangat kegirangan dan bersorak saat melihat balon dan gambar kuda poni bertebaran.
“Terima kasih,” ucapku penuh syukur juga haru.
Tahu air mataku semakin menggenang, Lidia langsung mengulurkan tisu. “Udah, jangan menangis!” bisiknya.
“Teteh sudah kompromi, ya sama Irsyad? Ih, enggak ngasih tahu.”
“Kalau dikasih tahu, bukan kejutan lagi, dong.”
Aku pun begitu terkejut karena tante Ratna langsung menghampiri serta menggendong Qia.
“Tante, bagaimana kabarnya? Apa sudah baikkan?”
“Iya. Tante sudah sehat, kok.”
Padahal setahuku baru kemarin beliau keluar dari rumah sakit, harusnya istirahat di rumah. Tetapi, tampaknya sangat antusias dengan perayaan ulang tahun Qia.
Entah berapa kocek yang sudah Irsyad rogoh untuk siapkan ini semua. Aku jadi tidak enak hati. Habis acara aku harus menyampaikan perihal ini. Lagi pula aku baru saja dapat transferan dari mama-papa.
Akhirnya perayaan ulang selesai. Semua tamu sudah bubar. Kini tinggallah Irsyad, tante Ratna, aku dan Qia. Kami duduk satu meja.
“Hmm … terima kasih banyak, ya! Maaf, jujur aku jadi tidak enak Li. Kamu pasti sudah habiskan banyak. Apa boleh aku juga membantu? Qia ‘kan putriku.”
“Tidak usah Sal. Ini tanda sayang kami untuk Qia. Mami juga turut membantu," tolak Li halus.
“Tante? Aduh, saya jadi malu. Terima kasih banyak. Bagaimana cara saya membalas kebaikan Tante juga Li?”
“Tentu saja kamu harus membalasnya,” cetus tante Ratna.
“Mih …,” tegur Li.
“Iya Li. Salma harus membalasnya. Enak saja gratisan!” ketusnya.
“Berapa yang saya harus bayar?” tanyaku gugup.
Jangan sampai melebihi sepuluh juta. Aduh, bisa tekor nih.
“Bayarannya, menikahlah dengan Li!”
“A-pa Tante?” tanyaku karena takut salah dengar.
“Maukah kamu menikah denganku, Salma?” tanya Li menimpali.
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Iya, menikahlah kalian. Mami sudah merestui,” jelas tante Ratna seraya tersenyum lebar.
“Ya Allah ….” Aku menangkup mulut. Tidak tahu harus berkata apa.
“Terimalah lamaran, anak Tante!”
Li mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin berlian. Kilaunya sungguh menyilaukan.
“Mih,” panggil Li sebagai isyarat untuk menyematkannya di jariku.
“Tangannya, Sayang!” pinta tante Ratna.
Aduh, aku dipanggil ‘sayang’. Apa tidak salah dengar lagi? Kuulurkan pelan tanganku. Cincin itu pun kini melingkar pas di jari manis. Ternyata Li hapal ukurannya.
Semua ini benar-benar kado terindah tidak hanya untuk Qia, melainkan untukku juga. Terima kasih, ya Allah.
Puji dan syukur kupanjatkan kepada-MU yang Maha pembolak balik hati. Atas izin-Mu, restu telah kudapatkan untuk merajut kembali benang mahligai perkawinan.
Kami langsung membahas segala sesuatunya terkait rencana pernikahan. Qia seperti sangat mendukung. Ia sama sekali tidak mengganggu obrolan yang tengah berlangsung. Malah terlelap di pangkuan Irsyad.
**
Minggu-minggu ini aku dan Li sibuk memeprsiapkan segalanya. Pesta pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel. Hanya keluarga, sodara, karib kerabat serta beberapa kenalan saja yang akan diundang. Kami memutuskan hanya akan menyelenggarakan pesta sederhana.
Meski ini yang pertama untuk Li, tetapi ini yang kedua untukku. Aku malu jika harus melangsungkannya secara meriah. Untung saja tante Ratna dan Li tidak keberatan.
Tidak lupa kabar bahagia ini aku segera sampaikan kepada mama-papa. Mereka pun secepatnya akan datang ke Indonesia.
[Mau mahar apa?] tanya Li via chat.
[Apa saja yang tidak memberatkan.]
[Benar apa saja akan diterima?]
[Iya. Apa saja. Asal halal dan baik.]
[Baiklah. Aku akan mempersiapkannya.]
Lidia sebagai satu-satunya orang yang dekat denganku saat ini, tentu dia ikut sibuk membantuku mempersiapkan ini itu. Karena aku juga akan mengadakan pengajian ibu-ibu di kompleks kontrakan tempatku tinggal.
Kesibukan membuatku lupa, kalau Qia sedang asik main di teras. Kenapa perasaanku tidak enak?
“Qia!” panggilku keras. Sebab tak kudapati dia di teras.
Lidia yang sibuk menghitung biaya catering di dalam langsung ikut keluar menghampiriku.
“Kenapa Mbak? Qia mana?”
“Qia hilang,” lirihku.
“Astaghfirullah. Tenang dulu, mungkin main ke tetangga. Ayok kita cari!” ajaknya.
Aku dan Lidia pun langsung berlarian ke sekitar kontrakan, lalu ke rumah tetangga. Tetapi sosok Qia tidak ditemukan juga. Semua tetangga bilang sama sekali tidak melihat Qia.
Laksana petir menyambar langit di atasku. Tubuhku lemas dan gemetar. Qia kamu dimana, Nak?
“Qia!!!” teriakku membelah jagat.
Duh, kemana ya Qia? 👧
Bagi teman-teman semua yang mau memeluk novel Salma, silahkan hubungi Othor, ya! Di nomer 0857 2220 0907
__ADS_1
Sedang proses terbit. Alhamdulillah ada penerbit yang meminang. 🥰