Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Ribut


__ADS_3

❤️❤️❤️


Kehadiran anak di tengah kami membuat amarah mereda. Akan tetapi kebaikan Hans menolongku persalinan tidak mengubah sedikit pun keputusan. Kupikir hal yang wajar jika ia membantuku. Toh yang kulahirkan adalah anaknya juga.


Sekarang bayiku sudah berusia empat bulan. Perkembangannya baru bisa tengkurap. Kuberi nama dia, Syauqia. Sesuai arti dari namanya, ia adalah bayi yang dirindukan. Setelah aku keguguran dua kali.


Aku masih tinggal di rumahku. Sesekali Hans datang menjenguk anak kami dan memberi nafkah. Setiap ia berkunjung, kami hanya bercengkrama di teras. Tidak pernah kuizinkan dia masuk rumah. Aku ingin menjaga kehormatan sebagai janda dengan tidak memasukkan lelaki yang bukan mahrom. Kadang aku juga meminta tetangga untuk menemaniku saat dia datang.


“Assalamualaikum,” salam papa-nya Syauqia terdengar.


Aku gegas gendong Syauqia dan pergi ke teras. “Waalaikum salam.”


“Hallo Qia anak Papa yang paling cantik,” sapa Hans dan langsung mengambil alih Syauqia dari gendongan.


“Itu apa Hans?” tunjukku pada sebuah kantong yang barusan ia bawa.


“Oh, itu buah dan sayur. Kamu harus banyak makan sayur hijau ‘kan biar ASInya melimpah.”


“Oh. Ya udah, aku titip Qia kalau begitu. Soalnya aku belum masak.”


“Siap. Qia sama Papa aja ya! Mominya mau masak dulu,” ujar Hans sambil menciumi anak kami.


Begitulah kalau Hans ke rumah, aku sibuk di dalam. Maklum ibu single, jadi melakukan semua sendiri. Mumpung ada anak yang ngasuh, ya udah aku lakukan pekerjaan rumah.


Namun lima belas menit kemudian lamat-lamat ada suara ribut dari arah teras. Aku yang akan menggoreng ikan, terpaksa mematikan kompor dahulu. Gegas aku menghampiri. Ternyata ada Meti sedang cek cok dengan Hans.


“Ayo, Bang, kamu pulang sekarang juga!” titahnya.


“Sebentar lagi Met. Momi-nya Qia lagi masak dulu. Kasihan tidak ada yang mengasuhnya.”


“Bodo amat. Enak saja kamu ngasuh anak Salma. Emang anak kamu si Qia doang apa?”


“Anak kita ‘kan ada baby sitter. Lagian aku tidak tiap hari ke sini.”


“Harusnya kamu cukup beri ia uang bulanan saja, enggak usah dijenguk-jenguk segala. Kalian ini udah cerai. Jangan cari alasan untuk bertemu terus dong,” cerocos Meti meledak-ledak.


“Sini Qia sama Momi,” aku mengambil alih Qia dari gendongan Hans.


“Nih dia, wanita yang tidak tahu malu. Dasar janda gatel!”


Ingin sekali aku membalas ucapan rombengnya itu. Tetapi meladeninya hanya sia-sia saja. Dia akan semakin menjadi dan memancing keributan seperti bulan lalu. Tetangga sampai pada datang ke rumahku.


“Sudah sana Hans! Bawa istrimu pergi!” titahku kesal.


Hans segera mengajak Meti pulang, akan tetapi rupanya dia belum puas untuk mengeluarkan segala makiannya.


“Sebentar Bang!” Meti menepis tangan Hans dari pundaknya.

__ADS_1


“Eh Salma, jangan kamu jadikan anak sebagai alasan untuk terus memepet Hans. Hans itu suamiku, Papanya Daffa. Kamu jangan coba-coba merebutnya. Kalau tidak aku akan memberhentikan jatah bulanan buat anakmu itu. Paham!” Telunjuknya sampai dituding-tuding ke mukaku.


“Meti, kamu jangan melewati batas!” bentak Hans.


“Bang, kamu membentakku? Kamu membentak hanya demi membela mantan istrimu itu?” Meti tidak terima.


“Bukan begitu, Met. Aku hanya ingin kamu menjaga ucapanmu.”


“Salma, kamu apakan suamiku? Sehingga dia terus membelamu. Kamu pasti sudah menggodanya ‘kan? Ayok ngaku!” berangnya.


Darahku sampai mendidih ke ubun. Qia yang berada di gendongan mulai menangis. Segera kubawa masuk agar bayiku tidak mendengarkan kata-kata kasar lebih banyak dari mulut Meti.


Namun perempuan kurang waras itu bukannya mengerti dan berhenti, ia malah menyusulku ke dalam. 


Kuletakkan segera Qia yang sedang menangis di kamar. Kuambil botol susu berisi ASI yang tadi telah disiapkan sebelum Hans datang. Syukurlah Qia mau menyusu meski lewat dot. Aku sampai mengganjal botol susu dengan guling kecil agar bertahan di mulut mungilnya.


 Kemudian aku keluar kamar menemui perempuan yang mulutnya masih gatel. 


“Meti, jangan biasakan ribut di depan anak. Itu tidak baik. Kayak kamu yang enggak punya anak saja,” tegurku.


“Alah, bayi tahu apa. Urusan kita belum selesai, ya!”


“Ada urusan apa lagi, sih?”


“Dengar ya, Bang, Salma, mulai sekarang aku melarang Abang temui Qia.”


“Abang boleh temui Qia. Tapi … sebulan sekali. Itu juga harus bersamaku.”


“Kamu jangan seenaknya memberi peraturan, Meti.” Hans tidak suka.


“Pokoknya kalau sampai Abang ketahuan menemui si Qia tanpa izin dan tanpa aku, uang bulanan untuknya aku STOP.”


“Eh Meti, bagaimana pun Resto itu aku yang beli. Apa kamu tidak malu ngatur-ngatur seperti ini?” 


“Hahaha … Salma, Salma. Bodo amat!”


“Hans, sudah bawa istrimu pergi!”


“Ayo, Met. Kita pulang saja. Daffa nanti menangis kalau ditinggal lama-lama.”


Mendengar Daffa takut menangis karena ditinggal lama, Meti melembut dan nurut.


“Baiklah, ayok! Ingat Salma jangan macam-macam, nanti uang bulananmu aku STOP,” ancamnya sebelum keluar dari rumah.


Geram rasanya. Aku membiarkan dia begitu saja, bukan berarti aku takut atau merasa akan kalah. Tetapi, aku hanya tidak mau bersikap barbar. Setelah memiliki Qia, aku memang berubah menjadi pribadi yang lebih sabar.


Oe … terdengar suara Qia menangis. Mungkin susunya habis. Aku segera menghampirinya ke kamar.

__ADS_1


***  


Tring … satu pesan masuk ke ponselku.


[Sal, sepertinya untuk sementara waktu aku tidak bisa menemui Qia dulu.] Isi pesan dari Hans.


[Lho, kenapa Hans?] balasku.


[Aku tidak mau sampai Meti berhenti member jatah bulanan untuk Qia]


[Kan kamu, Hans yang pegang keuangan. Ya, pinetr-pinter kamu lah dalam mengatur. Kamu itu kepala keluarga. Lagian kita bukan mencuri, hanya mengambil hak anak.]


[Tapi masalahnya sekarang yang memegang dan mengatur keuangan adalah Meti.]


[Apa? Kok, bisa Hans?]


[Dia mengambil alih begitu saja. Bahkan semua kartuku dia yang pegang. Aku hanya dikasih uang bensin dan roko]


Tanpa membalas lagi, aku hanya bisa mengusap dada. Lelaki ini masih tidak berubah, masih saja kalah dengan si Meti. 


“Dia memang bodoh!” umpatku kesal.


Tanggal dimana Hans biasa transfer pun tiba. Aku sudah menulis rincian pengeluaran bulanan sehemat mungkin. Bulan ini aku harus bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung. Tetapi betapa terkejutnya kau saat mendapati uang yang dikirimnya hanya satu juta rupiah. Padahal biasanya dua juta bahkan lebih. Segera kuhubungi si pengirim.


“Hallo Hans, kok transferannya hanya satu juta?” tanyaku setelah telepon tersambung.


“Eh, janda gatel! Sudah untung ya masih dikasih jatah juga. Harusnya kamu itu bersyukur dengan berleha-leha, tapi setiap bulan dapat transferan,” sembur Meti.


“Kenapa ponsel Hans kamu yang pegang, Meti?”


“Mulai sekarang ponsel Hans aku sita.”


“Apa-apaan ini?”


 “Kenapa kamu keberatan? Karena tidak bisa goda-goda lagi suamiku gitu?” katanya terdengar sinis.


Tut … langsung kutututp saja teleponnya. Mulutnya memang penuh bisa. Dia selalu saja ketakutan Hans kembali lagi kepadaku. Padahal tidak ada niatan sedikit pun untuk kembali setelah menggugat cerai dengan susahnya. Dia sendiri tahu betul prosesnya. Tetapi masih saja berpikiran yang tidak-tidak tentang kami. Begitulah kalau punya suami hasil rebut, hidupnya tidak pernah sekali pun tenang. 


Dengan uang satu juta aku harus berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa cukup untuk satu bulan. Kalau jualan atau bekerja di luar, rasanya tidak mungkin. Karena Qia masih terlalu lecil. 


“Ya Allah, beri aku jalan.”


❤️❤️❤️


novel ini sedang proses terbit ya.


terima kasih yg sudh mampir 🙏

__ADS_1


__ADS_2