Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Lebih Baik


__ADS_3

❤️❤️❤️


Minggu yang cerah, aku dan Qia akan ikut Lidia menghadiri pengajian rutin di Mesjid Raya.


“Mbak, sudah siap belum?” tanya Lidia menghampiri ke rumah.


“Sudah Teh.”


“Mbak maaf sekali. Tapi, apa tidak ada kerudung yang panjang sampai menutup dada?”


“Lho, memangnya kenapa dengan kerudung yang aku pakai?” Aku heran kenapa aku juga harus memakai kerudung panjang sepertinya.


Jujur, aku merasa gerah dan ribet jika harus memakai kerudung panjang. Bagiku semua kerudung sama saja, fungsinya untuk menutup kepala.


“Mbak … kita berkerudung bukan hanya sekadar untuk menutup kepala, melainkan untuk menutup aurat,” terangnya seraya tersenyum seolah paham dengan apa yang kupikirkan.


“Jadi kerudungku harus diganti nih?”


“Sebenarnya memakai kerudung segi empat juga tidak apa-apa. Tapi, jangan dililit ke leher. Itu dadanya jadi terlihat,” ucapnya tidak luput dari senyuman.


Kedua gunung kembarku memang terlihat seksi, terlebih dress yang kukenakan berbahan lycra. Jadi jenis kainnya jatuh dan mengikuti lekuk tubuh. Selama ini aku tidak pernah memikirkan tentang penampilan sampai detail. Toh, aku juga bukan wanita berhijab.


“Terus digimanain?”


“Karena kerudungnya memang kurang lebar, jadi biarkan saja terjuntai begini dan sematkan pin di depannya biar belahannya rapat.” Lidia membantuku merapihkan kerudung hingga menutup dada. “Oya, Mbak punya cardigan atau vest tidak?” lanjutnya.


“Punya.”


“Coba pakai deh sebagai pelengkap. Pasti lebih cantik.”


Aku pun lekas mengambil salah satu cardigan yang warnanya cocok dengan dress. Kumematut diri di depan cermin setelah memakainya. Aku merasa diriku lebih elegan dan terjaga dengan hijab. Terlintas apa aku sebaiknya berhijab juga dalam keseharianku?


“Mbak, sudah belum?” tanya Lidia dari depan membuat lamunanku ambyar.


“Oh iya, sudah.”


Aku segera kembali ke depan di mana Lidia sedang menunggu.


“Subhanallah, cantiknya Mbak Salma,” pujinya.


“Ah Teteh. He ….”


“Serius lho, sudah cantik, kewajiban juga tertunaikan.”


“Kewajiban? Maksudnya kewajiban apa Teh?”


“Yuk, kita ngobrolnya sambil jalan biar tidak kesiangan, ya!”


“Ok.”


Kami memakai mobilku. Aku mengemudikannya dan Lidia menggendong si kecil Qia.


“Lihat, Qia terus saja menatapmu, Mbak!”

__ADS_1


“Iya, ya. Dia tidak kenal Momi-nya kalau dikerudung.”


“Bukan tak kenal, tapi pangling. Kok, Momi aku anggun sekali, ya?”


“Hehe … oya Teh, tadi kewajiban apa yang dimaksud?” Aku kembali menanyakannya karena benar-benar tidak paham.


“Kewajiban menutup aurat, Mbak. Aurat kita sebagai wanita itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.”


“Apa? Jadi hukumnya wajib?”


“Iya, Mbak. Perintah menutup aurat itu ada dalam surat Al-Ahzab ayat 59.”


Lidia menjelaskan kandungan dalam surat tersebut. Bahwa Allah SWT memerintahkan seluruh kaum wanita, termasuk mulai dari para istri Nabi hingga anak perempuan Nabi, untuk mengenakan pakaian yang sopan dengan jilbab yang menutup tubuh. Terutama saat keluar rumah.


Perintah ini ditujukan untuk melindungi kaum wanita dari gangguan orang-orang yang menyalahgunakan kesempatan. Sebagaimana pada zaman Nabi, berjilbab dapat membedakan para wanita merdeka dengan para budak saat itu. Sedangkan zaman sekarang agar bisa dibedakan dari wanita non muslim. Dengan menutup aurat juga bertujuan agar wanita bisa menjaga kehormatannya.


Dalam hadist riwayat Muslim disebutkan kalau sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang solehah. Dikatakan solehah jika wanita tersebut menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Salah satu perintah Allah yang harus dijalankan oleh wanita muslimah yaitu tadi menutup aurat.


Wanita dalam islam sangat dimuliakan. Ia berharga bak berlian. Jika kita memiliki perhiasan seberharga berlian, apa kita akan menyimpannya begitu saja? Diletakan di meja begitu saja? Atau menyimpannya tanpa membungkusnya? Apa sebaliknya? Kita simpan dengan hati-hati dalam sebuah kotak yang tertutup. Menyimpannya sudah tentu tidak di sembarang tempat. Iya ‘kan? Nah, begitulah. Semakin kita menutup aurat sesuai tuntunan syariat, maka semakin berharga nilai diri kita.


Menutup aurat sesuai syariat itu yang seperti apa? Pakaiannya tidak tipis, tidak menerawang. Tidak ketat sehingga memperlihatkan lekukkan tubuh. Tidak memakai parfum yang menyengat wanginya ketika keluar rumah. Aroma parfum yang bisa memancing birahi lelaki saat mengendusnya.


Aku terus manggut-manggut mendengarkan setiap penjelasan yang disampaikan Lidia. Semakin ke sini, aku semakin tertarik.


“Tapi kayaknya aku belum siap deh, teh kalau harus berjilbab beneran.”


“Tidak siapnya?”


“Kan secara aku tuh mau memperbaiki diri dulu. Nanti kalau sudah hatinya soleh, baru deh berjilbab.”


Jleb! Kenapa kata-katanya ngena banget di hati?


Setelah ngobrol-ngobrol, akhirnya sampailah di Mesjid Raya. Sudah ada banyak jemaah yang hadir ternyata. 


Walau untuk pertama kali diajak ke keramaian, Alhamdulillah Qia tidak rewel. Justru ia tampak senang. Seperti mendukung momi-nya untuk menghadiri acara pengajian secara rutin. Kehadiran anak memang selalu memberi hidup menjadi lebih bermakna dan berwarna.


Kurang lebih satu jam sang ustaz berceramah. Ceramahnya membuat ibu-ibu yang hadir tidak berasa. Tahu-tahu sang ustaz sudah membacakan doa penutup saja. 


“Ceramahnya setiap minggu membahas tentang rumah tangga, Teh?”


“Tidak. Ustaznya juga setiap minggu ganti-ganti. Bergilir gitu. Kalau ini namanya ustadz Hadi. Emang favoritnya emak-emak.”


“Cakep, ya?” bisikku.


“Ya begitulah. Duda lagi.”


“Duda?”


“Iya. Istri beliau meninggal saat melahirkan anak keduanya satu tahun yang lalu.”


“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”


"Eit, jaga pandangan, ya!" Lidia mengingatkan.

__ADS_1


Kami pun berhenti berbisik-bisik karena sang ustadz menghampiri.


“Assalamualaikum,” sapanya ramah sambil menangkupkan tangan di dada.


“Waalikum salam, ustaz.”


“Sekarang kunjungan ke Panti Asuhan mana?”


“Panti Asuhan Kasih Ibu, Taz.”


“Oh, iya. Pak Irsyad ada halangan. Beliau tidak bisa ikut hari ini dan mewakilkan kepada ana,” terang ustaz.


“Oh begitu Ustaz. Oh iya, ini teman saya, Taz. Namanya Salma. Dia baru bergabung hari ini.” Lidia memperkenalkan.


“Oh pantes baru lihat. Selamat bergabung. Semoga betah ya, dengan komunitas kita ini,” sambutnya hangat dengan tetap menjaga pandangan.


“Iya, insya allah Ustaz.”


“Kalau begitu mari Teh. Saya duluan, ya!” ucap ustaz.


"Iya, silakan, Tax."


Aku hanya mengekor Lidia yang kemudian menemui beberapa jemaah yang mau turut ikut serta ke Panti Asuhan. Mereka juga membahas sebentar laporan kas keuangan. Tidak lupa Lidia memperkenalkanku juga sebagai member baru.


Kami pun pergi bersama dan ada beberapa jemaah yang ikut nebeng di roda empatku. Aku senang kalau kendaraan yang kumiliki akhirnya memiliki manfaat lebih.


“Teh Lidia, temannya mani gelis pisan (sangat cantik),” puji salah satu jemaah yang bernama Mira.


“Iya. Beda sama kita-kita. Mbak Salma memang kinclong,” imbuh Wati, masih anggota jemaah.


“Ah ibu, jangan berlebihan,” tanggapku sambil masih fokus mengemudikan mobil.


“Serius. Mbak Salma cantik banget. Baik lagi,” kukuh Mira.


“Suaminya beruntung sekali,” timpal Wati.


“Saya tidak punya suami, Bu,” sahutku.


“Oh, maaf. Saya tidak tahu,” sesal Wati.


“Jadi Mbak Salma janda, ya?” Mira memastikan.


“Iya, Bu.”


“Wah, kalau begitu cocok sekali dengan ustaz Hadi,” celetuk Mira.


“Setuju!” seru Wati.


Lidia melirikku dan berdehem, “ekhm ….”


Guyonan ibu-ibu seketika membuat wajah ini menghangat.


Hmm ... Ada yang dijodoh-jodohkan, nih 🤭

__ADS_1


Yuk saling follow IG --->> dinarala2022


__ADS_2