Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Mencurigakan


__ADS_3

Semoga yang mengikuti cerbung ini dideraskan rizkinya dan dilimpahkan kebahagiaan atas rumah tangganya 🤲


KB-6


Meski pesan dari nomer yang tidak dikenal itu cukup menghentak jantungku dan mengusik hati, tetap saja kuabaikan. Aku anggap saja itu hanya orang iseng.



Dreett … ponselku bergetar. Segera kugeser ikon hijau di layar.



“Hai Ayang … istriku tercinta. Aku kangen,” seru Hans setelah panggilan video terhubung.



“Kalau kangen, kenapa pergi juga ke Bali?” Bibirku mengkerut.



“Mohon pengertiannya Ayang. Aku harus menjaga adikku satu-satunya dari lelaki badboy itu.”



“Ya. Mas, sudah makan?”



“Ini lagi makan.”



“Mana? Kok, makanannya enggak kelihatan?”



“Kan menu makan-nya kamu, Ayang. Hanya dengan melihat dan mendengarmu, aku pasti kenyang.”



“Alah, gombal. Paling ada maunya. Apa kehabisan uang? Katakan butuh berapa?”



“Idih, bukan! Aku benar-benar lagi butuh kamu. Di sini banyak sekali hilir mudik pasangan yang pamer kemesraan. Bikin hatiku kepanasan. Coba kamu ikut, Ayang. Suamimu ini tidak akan menderita.”



“Ya, aku bisa apa? Orang kita jauh.”



“Ayang, pliss … kirimkan aku videomu.”



“Kan di ponsel Mas juga videoku udah banyak.”



“Jangan lamban begitu napa? Yang suamimu mau itu bukan video biasa. Tapi video yang bisa menemani malam panjang nan dingin ini.”



“Maksudnya?”



Sebenarnya aku sudah paham video seperti apa yang dimaksudkan. Tetapi tidak percaya saja kalau Hans sampai memintanya. Bahkan dia menjelaskan secara gamblang, bahwa dengan videoku tanpa sehelai kain akan memenuhi kebutuhan biologisnya.



Meski awalnya terdengar itu ide gila, tetapi akhirnya demi suami aku lakukan juga. Dari pada dia jajan di sana, ya, sudah aku penuhi dari jauh melalui cara itu. Setelah video terkirim, kuwanti-wanti agar dia hati-hati dengan ponselnya. Jangan sampai hal memalukan tersebut bocor. Jangan lupa menghapusnya, jika sudah selesai.



“Siap, Ayang. Terima kasih istriku memang yang terbaik.” Hans berujar seraya mengacungkan jempol.



Panggilan video pun berakhir. Jadi teringat akan kontrasepsi bekas pakai yang kutemukan. Sekarang kuyakin, kalau Hans melakukannya sendirian sambil menonton video. Akhir-akhir ini aku memang selalu sibuk dan karena cape, mudah sekali tertidur kalau malam hari. 



“Maaf Mas, aku terus berpikiran yang tidak-tidak sampai mencurigaimu,” sesalku.



\*\*\*



Pagi ini aku terbangun dengan malas. Rasa kantuk masih menggelayuti kedua mata. Pasalnya semalam tidurku tidak pulas. Mungkin karena tidak terbiasa tidur tanpa Hans. Saat pagi, dia selalu menghujaniku dengan kecupan hingga tubuh ini menggeliat seperti bayi.



“Oh, suamiku betapa kusudah sangat merindukanmu.”



Tiga puluh menit kemudian. Aku sudah rapi dengan setelan kantor. Duduk manis di meja makan sambil memakan satu buah apel sebagai menu sarapan.



Tung … satu notifikasi chat masuk. Kuraih ponsel yang tergeletak di meja. Jari jentik langsung menggeser layar. Satu pesan dari nomer tidak dikenal lagi.



\[Kamu ini lugu atau bego, sih? Masa suami selingkuh tidak tahu.\]



“Siapa sih, ni orang iseng?”



Segera kusentuh nomer yang terpampang. Memanggil, lalu berdering. Tidak disangka orangnya mengangkat cepat.



“Hallo, kamu siapa?”



“Ekhm,” dehamnya. Ternyata suara milik seorang wanita.


__ADS_1


“Hei, dengar ya! Aku yakin kamu hanya orang iseng yang iri dengan kebahagiaanku. Asal kamu tahu, suamiku itu selalu setia. Bahkan sangat setia. Aku istrinya, lebih tahu dari siapa pun. Jadi jangan mengada-ngada!” cecarku meluap-luap saking kesalnya.



Tuutt … dia malah menutup panggilan sepihak.



“Isshh … kurang ajar!” umpatku.



“Nyonyak, kenapa?” tanya Meti yang ternyata tengah memerhatikan.



“Eh, Met. Tahu tuh, orang iseng banget.”



“Iseng kenapa, Nyak? Kok, kayak yang kesal gitu?” 



“Masa dia ngatain Mas Hans selingkuh.”



Crakk … satu cangkir teh di nampan yang dipegang Meti terjatuh begitu saja.



“Ma-maaf, Nyak. Saya ceroboh.” Meti langsung memungut pecahan keramik di lantai.



“Kamu kenapa, Met? Kok mencurigakan? Apa ada yang kamu sembunyikan?” todongku langsung. Sebab tangan dia tampak terus bergetar.



“Maksud Nyonya apa?”



“Kamu tidak biasanya seperti ini. Kamu terlihat gelisah, Met.”



“Permisi, Nyonya, saya mau ke belakang dulu,” pamit Meti sambil membawa pecahan cangkir yang telah dikumpulkannya.



Dia kenapa, ya? Begitu aku menceritakan orang iseng tadi, glagatnya langsung berubah. Aku yakin ada apa-apanya. Tetapi, kalau kudesak sekarang, mungkin dia tidak akan ngaku. Sebaiknya kulakukan pelan-pelan. Lagian sekarang harus berangkat kerja juga.



\*\*\* 



Ketika kumenaiki anak tangga menuju ruang kerja di lantai tiga, tiba-tiba high heelku terpeleset. Untung ada Li yang menangkap tubuh ini.



“Ya ampun, Sal. Kamu ini kenapa?”




“Kamu melamunkan apa?”



“Tidak penting.”



“Terus kenapa juga jalan tangga? Kan ada lift.”



“Oya, lupa.”



Aku ngeloyor pergi menuju lift tanpa menghiraukan Li lagi. 



“Eh, tunggu. Main tinggal saja.”



“Sorry.”



Kami tak saling bicara lagi sampai aku masuk ruangan. Li sengaja memberi jeda waktu untukku sendiri dulu. 



Tumpukkan dokumen yang harus kuperiksa sedari pagi masih saja menumpuk. Biasanya sebelum duhur, semua sudah kelar. Ini sudah lewat duhur, aku hanya baru bisa menyelesaikan beberapa saja.



Sial! Gara-gara chat tidak dikenal dan gelagat Meti yang mencurigakan, semuanya jadi kacau. Sungguh aku tidak bisa fokus.



Ponsel di saku terdengar berbunyi membuyarkan lamunan. Kulihat nama ibunya Hans di layar menari-nari. Mau apa dia menelepon? Pasti tidak jauh dari perkara uang. Seperti biasa kalau dia menghubungi, selalu ada maunya. Harus bayar uang arisanlah, harus bayar inilah, itulah. Tiba-tiba kali ini aku merasa jengah dan bosan.



“Assalamualaikum, mantu Ibu yang cantik,” sapanya setelah kuangkat.



“Waalaikum salam, Bu,” jawabku berusaha tenang.



“Bagaimana kabarnya, mantu?”



“Baik, Bu.”

__ADS_1



“Sudah makan siang belum?”



“Sudah.” Aku berbohong agar tidak jadi panjang.



“Oh, syukurlah. Begini mantu, apa boleh Ibu pinjam uang? Kali ini Ibu benar-benar pinjam. Bulan depan kalau Hans kasih jatah, Ibu akan bayarkan jatah itu kepadamu.”


Nah, nah ... Tuh 'kan! Emang ada maunya.


“Maaf, Bu. Aku lagi tidak ada uang. Proyek juga belum pada goal.” Aku berbohong lagi.



“Apa, mantu?” Dia terdengar terkejut. Sebab baru kali ini aku tidak bisa meminjamkan. 



“Aku tidak bisa pinjamkan, Bu. Lagi tidak ada uang,” ulangku.



“Lima juta saja, mantu,” bujuknya.



“Tidak ada, Bu.”



“Oh, tidak ada, ya? Ya, sudah tidak apa.” Terdengar suaranya lemas.



Panggilan pun berakhir.



“Ekhm,” deham Li tiba-tiba.



“Sejak kapan kamu di situ?”



“Sejak kamu angkat telepon.”



“Kebiasaan. Bukan ketuk dulu sebelum masuk.”



“Orang pintunya terbuka. Apanya yang harus diketuk. Oh, iya ketuk ini ajalah, nih!” Li ketuk-ketuk dahiku.



“Ih, apaan sih?” desisku sebal.



“Kamu yang apaan? Ini kerjaan dari pagi masih belum kelar-kelar.” Tunjuknya kepada tumpukan dokumen.



“Sorry.”



“Sorry? Enggak bisa! Lebih baik kamu pulang gih! Rehat saja di rumah. Kalau sudah merasa baikan, baru kerja lagi. Ambillah cuti sepuasnya!”



“Kamu enggak pecat aku ‘kan?”



“Ya Tuhan, enggaklah. Bos-mu ini hanya tidak tega melihat keadaan bawahannya seperti ini.”



“Ya sudah. Aku balik, ya!”



Dahi Li mengernyit. Mungkin tumben sekali aku langsung memutuskan pulang dengan sekali perintah. Padahal aku teringat Meti, tidak sabar ingin mengintrogasinya.



Kubergegas menyambar tas dan meninggalkan ruangan. 



“Hati-hati di jalan!” pesan Li setengah berteriak.



\*\*\* 



Setengah jam kuhabiskan dengan mobil pribadi untuk sampai ke rumah.



“Met, Met ….” Dari ruang depan aku sudah teriak saja memanggilnya.



Langsung kudatangi ruang demi ruang. Sosok Meti belum ditemukan. Netraku tertuju ke secarik kertas di atas meja depan TV. Rupanya tulisan tangan Meti terangkai untukku.



Nyonya, maafkan saya. Saya pergi tanpa izin. Tolong jangan cari! Apa lagi ke kampung halaman saya. Sebab, saya tidak pulang ke sana. Terima kasih atas kebaikan Nyonya selama ini. Semoga Nyonya selalu baik-baik saja.



                                            -Meti-



Spontan kuremas kertas yang bertuliskan pesan dari asisten rumah tangga itu. Napasku mulai menderu berat seiring bibir yang mengatup rapat.

__ADS_1


Tinggalkan jejak komen, agar Othor semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih.


__ADS_2