
❤️❤️❤️
“Pagi-pagi udah rapi. Mau kemana, Yang?”
“Mau keluar sebentar. Oya, sepulang aku nanti, pastikan istri dan anakmu harus sudah tidak ada di rumah,” tegasku.
“Baik, Yang.”
“Satu lagi, bersihkan area dapur sebersih mungkin,” titahku seraya menyorot tajam.
“Area dapur?” Hans keheranan.
“Terutama area wastafel. Jangan sampai lupa!” Aku gegas keluar.
Matanya membeliak baru menyadari apa yang dilakukannya semalam di area itu. Sebelum pergi ke kantor kelurahan untuk membuat surat keterangan gugatan cerai, aku mampir dulu ke Resto & cafe untuk mengambil sejumlah uang.
“Maaf, Bu, tapi harus seizin Bapak. Kami tidak berani mengeluarkan uang kas tersebut,” tolak karyawan kepercayaan Hans.
“Ini Resto saya, milik saya, saya yang beli. Kenapa saat mau ambil uang harus izin dulu Pak Hans? Uang ini milik saya, hak saya.”
“Tetap saja, Bu. Bos kami yang memperkerjakan itu Pak Hans. Kami tidak berani membantah.”
“Apa kalian mau saya pecat?”
“Silahkan, Bu, kalau memang bisa.”
Karyawan itu bahkan tak mampu kugertak. Sial! Selama ini aku terlalu mempercayakan pengelolaan kepada Hans.
“Ya, sudah. Saya akan hubungi Bos kalian itu.”
Aku pun langsung menelepon Hans dan meminta sejumlah uang. Kupikir dia akan memberikannya dengan mudah seperti biasa. Tetapi, kali ini ternyata tidak.
“Buat apa. Yang, uang sebanyak itu? Kita harus menghemat. Jatah bulanan dariku apa masih kurang cukup?”
“Mas, kamu harus ingat, aku yang beli cafe ini. Jadi aku berhak dong, atas uangnya.”
“Memang Yang, tapi aku yang mengelola. Aku yang bekerja selama ini. Tanpa aku, cafe itu tidak akan menghasilkan uang. Pokoknya aku tidak mengizinkanmu mengambil uang cafe seenak jidat.”
“Apa? Seenak jidat katamu? Hans ….”
Tut … sambungan telepon terputus. Pupus sudah harapanku. Terpaksa aku harus merogoh uang tabungan sendiri untuk biaya pengacara.
***
Setelah dokumen gugatan cerai kukumpulkan dan menyerahkannya kepada pengadilan agama, aku langsung memberi tahu Hans.
“Mas, mari kita berpisah dengan cara baik-baik. Aku sudah daftarkan gugatan cerai ke pengadilan. Nanti kalau ada surat panggilan, sebaiknya Mas tidak usah datang. Biar persidangan berjalan cepat.”
__ADS_1
“Apa? Maksudmu kita bercerai?”
“Iya, Mas. Aku tidak akan menghalangimu bersatu dengan Meti juga anakmu itu.”
“Haha … Salma! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu. Anak ini anakku, kita harus membesarkannya bersama,” Hans menatap nyalang sambil mengelus kasar perutku.
“Mas, meski kita sudah bercerai, aku janji, aku tidak akan memisahkanmu dari anak kita. Kamu boleh datang kapan saja. Aku juga tidak mau membuat anak kita tumbuh tanpa Papa-nya.”
“Tetap saja, tidak! Jangan harap aku akan mneceraikanmu. Kamu pikir gugatanmu akan dikabulkan pengadilan? Heh!” sinisnya.
“Kenapa tidak? Jelas-jelas kamu bersalah, sudah selingkuh dan menikah lagi tanpa sepengetahuanku.”
“Semua itu harus ada saksi dan bukti, Salma!”
“Aku punya kok, buktinya. Saksi juga aku punya.”
“Hahaha ….” Hans tertawa menggelegar.
Aku tidak tahu kenapa dia bisa sepercaya diri itu. Padahal aku memang sudah mengantongi bukti dan saksi. Ya, ibu mertuaku katanya mau menjadi saksi di persidangan nanti kalau memang diperlukan.
***
Pengacara meminta bukti yang kupunya. Akan tetapi, betapa terkejutnya diriku, saat video dan foto Hans bersama Meti di dapur malam itu, raib dari ponsel. Padahal, tadi pagi masih ada dan sempat kuputar. Bodohnya aku karena tidak memiliki salinan.
Pengacara mengajakku untuk cek cctv rumah, di hari dimana Meti dan anaknya datang. Rekaman cctv pun ternyata sudah raib. Aku kalah cepat dari Hans. Kenapa dia bisa jadi selicik itu?
“Pak, apa bukti yang dulu bisa dipergunakan? Kebetulan tetangga saya masih menyimpan bukti perselingkuhan yang pertama itu.”
“Tidak bisa, Bu. Bukti itu sekarang sudah tidak valid. Karena sudah lama terjadi dan ibu sendiri sudah berdamai dengan suami.”
“Lantas, saya harus bagaimana?” tanyaku gamang.
“Tenang dulu, Bu. Saya akan meminta seseorang untuk mencari saksi dan bukti di Pelabuhan Ratu. Tempat mereka melangsungkan pernikahan.”
“Iya, Pak. Saya harap, bisa secepatnya. Saya tidak mau perjalanan sidang nanti terlalu memakan waktu.”
“Siap, Bu.”
Hanya kepada pengacara lah aku menaruh harapan besar. Bagaimana pun aku harus memenangkan gugatan ini. Aku tidak sudi menjadi istrinya lagi.
***
Sidang pertama digelar. Tentu saja Hans hadir dan bersikap kooperatif. Membuat hakim menyarankan untuk kami berdamai saja. Kalau setiap sidang Hans hadir dan bersikuku tidak mau menceraikanku, bisa-bisa gugatan yang aku ajukan ditolak pengadilan. Kenapa kamu keras kepala sekali Hans?
Terlebih aku sebagai penggugat belum memiliki bukti yang kuat. Ibunya Hans juga, tiba-tiba mundur dari kesediaannya untuk menjadi saksi. Kacau semua yang telah aku rencanakan.
Selama proses persidangan aku dan Hans masih satu rumah. Meski sudah kusuruh pergi, tetap saja dia bertahan satu atap denganku. Dia selalu bersikap biasa-biasa saja, semakin membuatku muak.
__ADS_1
“Yang, kamu tidak akan menang melawanku. Sudahlah, jangan buang-buang waktu dan uang tabunganmu itu.” Hans berujar semu mengejek.
“Aku tidak akan menyerah. Lihat saja, nanti kita pasti akan bercerai,” tukasku.
Kuperhatikan, sekarang dia memang tidak pernah menemui Meti lagi. Dia sangat hati-hati sekali. Selama keputusan sidang belum final, ia akan menjauhi istri keduanya itu.
“Yang, apa kamu ingin aku menceraikan Meti? Aku bisa saja menceraikannya. Tetapi, berjanjilah, kamu akan mencabut gugatan itu.”
Dia terus menerus dan membujuk, semudah itu dia akan menceraikan Meti dan kurasa semudah itu juga dia memutuskan menikahinya. Lelaki seperti Hans, kuyakin tak akan berubah. Penyakitnya akan kumat dan kumat lagi.
Apa pun yang terjadi, aku harus lepas dari lelaki pengkhianat macam dia. Keputusanku sudah bulat. Tidak akan pernah memberinya kesempatan lagi. Toh, salah dia sendiri telah menyia-nyiakan kesempatan yang kuberi. Enak saja, meminta lagi kesempatan itu.
***
Sidang ke dua, ketiga, ke-empat dan ke-lima, masih dengan suasana yang sama. Aku tetap ingin bercerai, sedangkan Hans kukuh tidak mau. Di sidang ke-enam, waktunya pembuktian. Bukti-bukti yang aku ajukan ditolak. Termasuk bukti transfer sejumlah uang ke perempuan itu. Karena uang itu bisa buat apa saja. Tidak mengindikasi sebuah perselingkuhan. Terlebih adanya anak antara Hans dan Meti, sudah tanggung jawab seorang ayah menafkahi. Meski tidak membenarkan Hans sepenuhnya. Karena bagaimana pun harusnya transferan itu dilakukan seizinku, bukannya diam-diam.
Saksi dari Pelabuhan Ratu yang didatangkan, hanya bisa memberi pernyataan kalau Hans memang sering mengunjungi Meti. Lagi-lagi tidak bisa dikatakan perselingkuhan, karena adanya anak. Hal itu malah diasumsikan, kewajaran seorang ayah yang menjenguk darah dagingnya.
Sayang sekali, tak ada saksi yang bisa memberi pernyataan bahwa mereka menikah siri. Semua orang yang mengetahuinya telah Hans bungkam dengan uang. Aku juga tidak bisa membuktikan.
Usai persidangan ke-enam ini, aku benar-benar lelah. Semua pikiranku terkuras. Sudah hampir dua bulan. Mana sebentar lagi aku sudah mau lahiran. Bisa-bisa ini sidang tidak kelar-kelar. Tabunganku juga sudah habis empat puluh juta dipakai bayar pengacara dan lain-lain. Kini tinggal sisa sepuluh juta.
Melakukannya serba sendiri memang sulit. Tetapi, tidak mungkin aku meminta bantuan Papi dan Mami. Seandainya aku masih berhubungan baik dengan Li Chen, pasti dia membantuku.
Iseng-iseng kuhubungi kontak Li. Untung waktu dia menghubungi terakhir kali, aku sempat simpan nomernya.
Nomer yang Anda tuju sudah tidak aktif.
Suara operator membuat hatiku mencelos. Aku lupa, dia ‘kan sudah pindah ke Beijing dan menikah di sana.
“Bu, kalau persidangan terus seperti ini, kita akan kalah. Untuk naik banding, nanti juga harus mengeluarkan uang lagi.”
“Berapa?”
“Sepuluh juta, Bu. Karena ibu sebagai penggugat. Apa lebih baik, ibu damai saja dengan Pak Hans? Saya perhatikan dia memang sangat mencintai ibu.”
Apa yang disampaikan oleh pengacara lebih terdengar seperti bentuk keputusasaannya di telingaku. Aku memilih tidak menanggapi.
Karena sangat merasa lelah dan tidak tahu harus bagaimana, aku putuskan pulang saja ke rumah. Sementara Hans pergi ke Resto untuk bekerja seperti biasa.
Baru sekitar sepuluh menitan aku rebahan, pintu rumah sudah ada yang mengetuk. Kucoba pejamkan mata, mengabaikan siapa pun yang datang. Tetapi, ketukan itu malah semakin nyaring serta berulang.
"Siapa, sih, bertamu saat keadaan tidak tepat begini?" gerutuku mau tidak mau beranjak untuk membukakan pintu.
Hei ... Kira-kira siapa ya yang datang??
❤️❤️❤️
__ADS_1
terima kasih untuk kalian semua yg sudah baca.. ikuti terus kisahnya ya. jangan lupa komen, biar othor semangat.🙏