Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Pak Irsyad


__ADS_3

❤️❤️❤️


jangan lupa follow Othor ya 🙏


🌻🌻🌻


Aku memutuskan untuk memberitahu Mami dan Papi tentang kehadiran Qia dan perceraianku. Siap tidak siap ini adalah kenyataan. Sesuai saran Lidia, aku harus menjalin silaturahmi yang baik dengan orang tua. 


Ternyata betapa bahagianya mereka saat mendengar kalau aku sudah punya anak. Otomatis mereka sudah menjadi datuk-nenek. Keesokan harinya mami-papi langsung terbang ke Indonesia.


“Apa nama cucu nenek nih?” tanya mami.


“Syauqia Assyifa.”


“Wah, elok sekali namanya. Anak yang dirindukan seklaigus penyembuh.”


Rupanya mami sudah mengerti kurang lebih arti dari nama cucunya. Papi mengambil alih Qia dari gendongan mami. Keduanya tampak tak bosan bermain bersama anakku yang memang menggemaskan.


 Melihat keadaanku yang tinggal di rumah kontrakan, mami papi langsung menawarkanku untuk membeli sebuah rumah. 


“Tidak apa-apa, Mih. Tidak usah.”


“Awak ini macam mana? Anak kita tuh satu-satunya awak. Harta kita buat siapa lagi kalau bukan buat awak? Janganlah awak terus-terusan menolak. Awak sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah tak banyak duit kan?” cerocos mami.


Ya kali ini aku menurut saja apa kata mereka. Lagian sekarang ada Qia yang masa depannya harus menjadi pertimbangan.


Saat kami jalan-jalan sore hari dengan roda empat untuk mencari tempat makan yang enak diluar, tidak sengaja melewati Resto cafeku yang direbut si Meti. Tetapi, cafe-nya tutup. Sungguh memancing rasa penasaranku. 


Kumenepi dan bertanya kepada si Amang yang biasa mangkal di depan Ruko.


“Mang, punten mau tanya, kalau Resto ini kok tutup, ya?”


“Oh, sudah sebulanan memang tutup Mbak.”


“Lho, kenapa?”


“Saya dengar-dengar bangkrut dan rukonya juga mau dijual.”


“Oh seperti itu. Terima kasih Mang atas informasinya.”


“Sama-sama, Mbak.”


Aku kembali mengemudikan mobil lagi dan melanjutkan perjalanan.


“Emang itu Resto siapa, Sal?” tanya Mami penasaran.


“Teman, Mih,” jawabku tak jujur.


Soalnya aku malu jika harus terlalu jujur tentang semua. Mereka pasti akan geleng-geleng betapa bodohnya putrid satu-satunya ini.


Akhirnya sampailah kami ke sebuah Resto untuk makan-makan di sore hari. Sambil menunggu pesanan kami mengobrol banyak hal.


“Coba kalau ada Li Chen, seru ya, kalau kita jalan-jalan,” ucap Papi.


“Li sudah menikah, Pah dan menetap di Beijing.”


“Ia dia menikah sampai tidak ada basa-basinya kepada Papi.”


Aku sendiri sebenarnya mengharapkan dia sesekali menghubungi. Katanya dia mau memperlihatkan foto pernikahannya. Kutunggu-tunggu tidak juga. Mungkin dia sudah bahagia dan melupakanku. Entah kenapa ada rasa kecewa yang menelusup ke relung hati.


Bagaimana pun aku dan Li sudah saling mengenal dan dekat sejak lama. Seharusnya tidak seperti ini keadaannya. Benar-benar melupakan.


*** 


Hari minggu tiba. Sejak itu aku jadi rutin mengikuti pengajian serta kegiatannya. Beberapa jemaah semakin gencar ingin menjodohkanku dengan ustaz Hadi. Jujur bukannya tidak mau, tetapi aku merasa kurang pantas. Beliau begitu tinggi ilmu agamanya. Sementara aku, untuk memutuskan berhijab saja masih ragu. Aku berhijab kalau ke acara pengajian saja.


Minggu ini kebetulan jadwal ustaz Hadi lagi yang mengisi pengajian. Apa yang disampaikannya seru seperti biasa. Sampai aku dan Lidia lupa kalau Qia yang sudah aktif belajar jalan tidak ada di sekitar kami.


“Teh, aku cari dulu Qia,” pamitku panik.

__ADS_1


“Tenang. Paling dia ke depan. Pagarnya dikunci kok, ada penjaga juga. Tidak akan hilang. Mbak jangan terlalu panik.”


“Ya Teh.”


Aku gegas mencari Qia ke depan. Akan tetapi sosok anakku tidak ditemukan. Ingin rasanya aku menangis saat ini juga. Bagaimana bisa aku seteledor ini. Pikiran buruk sudah memenuhi pikiranku. Bagaimana kalau Qia diculik? Tidak!


Dengan gamang aku berlari ke kiri dan kanan mesjid. Berharap Qia ditemukan. Kakiku sampai tersandung sisian teras dan terjatuh.


“Mom, mom, mom ….” Terdengar suara imut Qia memanggilku.


Seketika kudongakkan kepala dan benar saja. Alhamdulillah Qia kini ada di hadapanku. Aku langsung mengambil alih dari gendongan lelaki yang membawanya.


“Qia, ini Momi sayang.” Kuciumi terus Qia dengan sisa linangan air mata.


“Ekhm … Assalamualaikum, Salma,” sapa lelaki yang ada di hadapanku.


Sesaat aku menoleh dan baru menyadari sosok yang tengah berdiri. Beberapa kali aku mengerjapkan mata tak percaya dengan yang kulihat.


“Apa aku salah lihat? Apa aku salah orang? Ya ampun Salma, kamu merindukan Li sampai begini amat,” gumamku.


Namun tetap saja lelaki yang ada di hadapanku tersebut tampak seperti Li Chen. Hanya saja penampilannya sangat berbeda. Tentu lelaki ini memakai setelan koko dan berpeci.


“Kamu tidak salah lihat, Sal,” ucap lelaki itu. Rupanya ia mendengar gumamanku.


“Maksudnya?”


“Ya Allah, Mbak Salma. Ternyata di sini. Qia sudah ketemu, ya?” tanya Lidia menghampiri setelah setengah berjalan tergesa. “Oh ada Pak Irsyad juga?” sambungnya.


“Oh ini Pak Irsyad?” tanyaku kepada Lidia.


“Ia, Mbak. Kenapa? Pak Irsyad bukan yang menemukan Qia?”


“Pak Irsyad?” Aku menatap kembali lelaki itu.


“Mbak, jaga pandangan!” tegur Lidia.


“Teh, Pak Irsyad mirip sekali dengan seseorang,” jelasku.


“Apa mirip Li Chen?” tanya lelaki itu.


“Iya, Kok bisa tahu?”


“Sal, aku ‘kan Li Chen temanmu. Irsyad itu nama mualafku. Masa kamu tidak mengenaliku, sih?”


“Jadi … ini benar kamu? Ya Allah,” seruku sambil menepuk pipinya.


Li Chen menarik diri sedikit menjauh dariku. “Maaf, Sal, kita bukan mahrom,” ucapnya.


“Eh, maaf.”


“Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Lidia.


“Iya, ini lelaki yang pernah aku ceritakan itu.”


“Oh, jadi lelaki yang Mbak Salma rindukan itu ternyata Pak Irsyad?”


Aku langsung menyenggol lengan Lidia.


“Apa tadi? Lelaki yang Mbak Salma rindukan?” Li Chen memastikan.


Aku tersipu dan pipi ini menghangat. 


“Aduh, lebih baik kita lanjutkan obrolannya nanti. Tidak enak, pengajiannya masih berlangsung di dalam,” kata Lidia.


“Oh iya. Maaf-maaf.”


“Kalau begitu, aku mau masuk dulu ke dalam, ya! Tunggu sampai selesai, ya!” pesanku.


“Eh, itu anak kamu biar sama aku saja,” tawar Li Chen.

__ADS_1


“Serius, tidak apa-apa ini?”


“Serius. Tadi juga anteng.”


Aku serahkan Qia ke gendongan dia. Benar juga Qia tampak senang dan asik-asik saja bersama Li Chen. Padahal Qia sendiri baru mengenalnya.


Di dalam majlis, hatiku benar-benar tak tenang. Ingin segera acaranya cepat selesai kali ini. Bahkan jiwaku sudah tak duduk di tempat. Pikiranku sungguh kacau, melayang kepada Li yang sedang di luar Mesjid bersama Qia.


“Sabar, Mbak …,” kata Lidia yang sedari tadi memerhatikan gelagatku.  


Usai acara pengajian aku kembali ditemani Lidia menemui Li Chen. Sayang kami belum bisa mengobrol banyak. Karena seperti biasa setelah pengajian ada jadwal selanjutnya. Kali ini membagikan nasi kotak ke setiap supir angkot, becak, tukang ojek dan lainnya.


Selama kegiatan membagikan nasi kotak, aku terus saja kepikiran Li dan bertanya-tanya. Kenapa Li sampai bisa menjadi mualaf? Kenapa dia tidak jadi menikah dengan wanita dari Beijing itu? Dan aku juga ingin sekali bercerita bahwa aku sudah bercerai dari Hans.


“Teh, Pak Irsyad kok tidak ikut kegiatan membagikan nasi kotak?”


“Tadi aku sempat dengar, katanya beliau ada keperluan lain. Jadi pulang terburu-buru.”


“Keperluan apa, ya?”


“Aduh, mana saya tahu, Mbak.”


Tiba-tiba hatiku mencelos. Keperluan apa kira-kira? Sepertinya jauh lebih penting dari pertemuannya denganku hari ini. Apa dia tidak penasaran kenapa aku sampai bisa ikut pengajian? Apa dia juga tidak ingin tahu tentangku lebih lanjut? Apa dia tidak ingin menggendong Qia lagi? Pertanyaan terus bermunculan tanpa bisa kucegah.


“Eh, Mbak, saya perhatikan melamun terus dari tadi?” tegur Mira yang katanya setuju banget jika aku berjodoh dengan ustaz Hadi.


“Oh, enggak apa-apa.”


“Selesai membagikan nasi kotak, mau ikut acara penutupan tidak? Apa mau langsung pulang saja?” tanyanya.


“Mau langsung pulang. Soalnya di rumah sedang ada orang tua saya,” jawabku.


Karena kadang sehabis kegiatan suka ada acara makan bersama kami sebagai panitia. Tetapi kali ini aku lebih memilih pulang saja. Sebenarnya bukan karena ada Mami-papi, melainkan sudah tak bersemangat lagi. Mungkin kalau ada Li Chen dalam kegiatan ini, aku pasti akan mengikutinya sampai selesai.


Hah, kok jadi karena Li, sih? Ada apa denganku ini?


“Oh, sama saya juga mau langsung pulang. Soalnya anak sedang sakit di rumah. Jadi tadi diminta pulang cepat. Boleh nebeng tidak Mbak, sampai perapatan?” tanya Mira lagi.


“Oh boleh, tentu saja. Nanti saya antarkan saja sampai rumah Teh Mira.”


“Ih jadi merepotkan begini.”


“Tidak repot, Mbak. Jalan pulang kita kan searah. Kalau hanya belok dulu sedikit tidak apa-apa.”


“Ya ampun, terima kasih, ya!”


“Sama-sama, Mbak.”


“Semoga Mbak Salma secepatnya mendapatkan jodoh sesuai impian,” doanya.


“Aamiin ya Allah. Aamiin.”


“Amin-nya bersemangat banget,” cetus Lidia.


“Biasa saja ah!” sangkalku.


“Aku doakan semoga Pak Irsyad berjodoh denganmu, Mbak,” bisik Lidia seolah paham apa yang sedari tadi jadi pikiranku.


“Ah Teteh apaan,” balasku malu.


Eheum … dia yang ada di pikiranku malah sibuk. Kenapa dia tadi tidak minta nomer ponselku? Kalau aku minta duluan ‘kan malu. Dia juga kenapa tidak pamit kepadaku? Tahu-tahu sudah tidak ada saja. Aku masih penasaran, dia ada keperluan apa? Padahal yang kudengar-dengar Pak Irsyad itu selalu mengikuti kegiatan ini sampai selesai.


Setelah berminggu-minggu kenapa aku baru bisa bertemu sekarang? Kemarin-kemarinnya kata ustaz Hadi, Pak Irsyad sebagai donatur tetap dan terbesar tidak bisa hadir terus karena ada halangan juga. Baru kali ini ia sempat datang. Sekalinya datang hanya beberapa jam dan pergi lagi. Mungkin Li Chen memang orang yang sangat sibuk. Apa ya, usahanya sekarang? Kantor yang dulu ‘kan sudah tidak dikelolanya lagi.


Aduh, kenapa aku jadi sepenasaran ini kepada Li? Padahal untuk bisa ketemu dengannya lagi harus menunggu minggu depan. Itu pun kalau dia hadir, bagaimana kalau tidak. Argh!


Ada yang lagi galau nih 🤭


Yuk saling follow IG --> dinarala2022

__ADS_1


__ADS_2