Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Untung Ada Qia


__ADS_3

------------------------------------------------------------


Sore hari aku sudah memandikan Qia. Sekarang putriku yang menggemaskan ini sudah wangi dan sangat lucu dengan baju terusan pita-pitanya.


“Mom, mom, momm …,” celoteh Qia seraya belajar jalan selangkah dua langkah.


Lusa adalah hari kelahirannya tepat satu tahun.


“Anak Momi pinter.” 


Aku pun membawa Qia ke teras untuk bermain.


“Ya, ya, ya ….” Ia menepuk-nepuk tangan.


“Apa Sayang Momi? Oya, Qia mau kado ulang tahun apa?” 


“Mau papa balu, Momi,” sahut Lidia tiba-tiba muncul.


“Eh, Ate Lidia. Selamat sore,” sapaku.


“Sore anak gemoy.”


Lidia langsung menggendong dan menciumi Qia. Ia meronta tak suka karena ciuman bertubi-tubi itu membuat tak nyaman.


“Uh, uh, uh,” protes Qia.


“Dia engak mau diciumin terus, Teh.”


“Habisnya gemes banget, sih. Buat Teteh sajalah,” pintanya enteng.


“Buat Teteh? Emang Qia barang apa?”


“Ya, nanti ‘kan Mbak bisa bikin lagi sama Pak Irsyad,” candanya.


“Huss! Bikin apanya? Orang kita terpentok restu.”


“Jadi masalah ini masih belum kelar?”


“Belom.”


“Yah ….”


“Mau bagaimana lagi? Kalau sudah jodoh tak akan kemana.”


“Ya jodoh juga ‘kan rezeki. Harus diusahakan.”


“Iya, Teh. Irsyad juga sedang berusaha terus membujuk dan kasih pengertian ke Mami-nya.”


“Nah, kalau Mbak usahanya apa?”


“Doa.”


“Tak cukup dengan doa. Harus action.”


“Maksudnya?”


“Gimana Mami Pak Irsyad mau berubah setuju, kalau kenal saja tidak.”


“Kenal kok. Dulu sempat bertemu beberapa kali waktu aku belum menikah dan waktu aku kerja di perusahaannya Li.”


“Nah, dulu responnya gimana sama Mbak?”


“Biasa saja. Beliau tahunya kami berteman.”


“Oh.”


Aku pun jadi kepikiran apa yang dikatakan oleh Lidia. Apa aku harus melakukan pendekatan gitu sama beliau? Tetapi caranya bagaimana? Tidak mungkin ‘kan tiba-tiba menemuinya. Hadeuh ….


** 


Sekarang hari minggu, jadwalnya pengajian. Selama acara pengajian Li sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Hatiku terus bertanya-tanya. Kalau kirim chat kepadanya rasanya sedikit malu. 


Sampai usai acara pengajian, akhirnya Lidia mendapat informasi dan langsung memberitahu. Bahwa mami-nya Li sedang dirawat di rumah sakit. Jadi dia tidak bisa kemana-mana karena harus terus jagain. Padahal Li adalah orang sibuk dengan segudang urusan.

__ADS_1


Lidia memberi usul untuk menjenguk mami Li ke rumah sakit bersama beberapa jemaah. Wajar ‘kan kalau kami menjenguk atas nama pengajian. Karena Li adalah salah satu jemaah sekaligus pemimpin Komunitas juga donatur tetap. Sudah sepantasnya kalau kami memberi perhatian. Mengingat jasa-jasa Li begitu besar dan banyak.


Alhamdulillah usul ini disambut antusias oleh semua jemaah. Akan tetapi yang menjenguk ke rumah sakit tentu hanya beberapa orang saja sebagai perwakilan.


Aku, Lidia serta dua jemaah lain sampai di rumah sakit. Suara dorongan blankar, kursi roda, orang berjas putih dengan langkah tergesa, aroma obat, beberapa perawat yang jaga lalu lalang, serta pasien dengan wajah lesu mencoba membuang penat berjalan-jalan. Begitulah pemandangan khas dari sebuah rumah sakit. Kalau saja ini bukan hari minggu, sudah pasti orang-orang pun bertebaran.


Kami langsung menuju kamar rawat inap kelas VIP di mana tempat tante Ratna-maminya Li dirawat. Hatiku mulai berdebar-debar saat memasuki ruangan tersebut.


“Assalamualikum,” salam kami bersamaan.


“Waalikum salam warahmatullah,” jawab Li.


“Tante, kami perwakilan Komunitas yang dipimpin Pak Irsyad.” Lidia memperkenalkan diri.


“Oh, iya. Bu ibu silahkan duduk,” sambutnya ramah.


Kami bersalaman bergiliran. Tetapi, riak beliau langsung berubah begitu menyadari kehadiranku. Bahkan ia tidak membalas uluran tangan ini. Membuat dua jemaah lain yang ikut saling melempar pandang.


Aku bingung harus bagaimana? Kualihkan perhatianku kepada Qia yang untungnya bawel. 


“Pa, pa, pa,” celoteh Qia sambil menunjuk Li.


“Oh, Qia mau digendong?” tanya Li hangat.


Qia mengangguk-anggukan kepala. Li pun mengambil alih dari pangkuanku. Kemudian membawa Qia ke hadapan maminya. Di depan beliau Qia terus berceloteh dan lincah sampai memejam-mejamkan mata lalu bermain cilukba. Tante ratna mencoba terus mengabaikan. Meski bibirnya dirapatkan seperti menahan senyuman.


“Hihihi ….” Lidia cekikikan melihat tingkah anakku.


Qia tidak menyerah. Ia terus menggoda tante Ratna sambil bertepuk tangan. Lalu menunjuk buah pisang di atas meja.


“Lucu ya, Qia? Lihat tuh, dia mau pisang,” seru salah satu teman jemaah.


“Iya, lucu sekali,” timpal jemaah satunya lagi.


“Mau pisang Sayang?” tanya Li.


Lekas mengambilkannya dan Qia langsung merebut pisang dari tangan Li.


“Uu … uuu ….” Bibir Qia monyong-monyong sambil mengulurkan pisang kepada tante Ratna.


“Ih, gemesnya kamu Nak.” Spontan tante Ratna mencubit pipi gembil Qia.


Tidak disangka-sangka Qia berekpresi senang sampai tubuh mungilnya melonjak kegirangan.


“Wah, Qia suka sama Omah!” seru Lidia.


Tante Ratna bangkit dari sandaran bad. Ia duduk perlahan. “Sini Sayang!” Ia merentangkan tangan meraih Qia. 


Putriku itu tentu menyambut gembira.


Li pun melepaskan Qia ke pangkuan maminya. Rupanya tante Ratna tidak tahan dengan godaan anakku. Ia terlampau senang dan sangat memang mendambakan anak kecil. Apa lagi Qia itu menggemaskan. Siapa pun mudah jatuh hati kepadanya. Gemoy, pipi bapau, kulitnya putih bersih, iris mata yang hitam pekat, hidung kecil tetapi mancung, serta dua bola matanya yang belo nan jernih.


Setelah kami semua ngobrol kesana kemari, akhirnya lima belas menit kemudian hendak berpamitan.


Namun ponsel Li tidak berhenti berbunyi. Ternyata ia diminta datang ke Yayasannya untuk mendatangani sebuah berkas penting dan ada beberapa urusan mendesak.


“Aduh, Mih. Apa tidak mengapa kalau Li tinggal sebentar?” tanyanya.


“Mami takut Li. Kalau ada apa-apa bagaimana?”


“Kan ada suster, Mih. Apa mami mau Li sewakan orang buat menemani selagi Li pergi?”


“Enggak ah! Mami tidak suka orang lain menunggu Mami.”


“Bagaimana kalau Mbak Salma saja yang menunggunya? Kebetulan Mbak Salma ‘kan sedang santai, waktunya luang. Lagian sepertinya Qia juga masih betah,” cetus Lidia.


Lidia sepertinya betul-betul memanfaatkan momen ini untukku. Sungguh membuat jantung berdebar lagi dan lagi. Takutnya beliau bersi keras menolak.


“Apa bersedia?” tanya Li.


“Emm … boleh-boleh, tentu saja. Tapi kalau tantenya tidak keberatan,” jawabku.


“Gimana Mih? Mau ‘kan ditemani dulu oleh Salma sebentar? Soalnya kalau ibu-ibu ini katanya mau segera pulang.”

__ADS_1


“Iya, maaf Pak Irsyad. Kami sudah ditunggu anak-anak di rumah,” sesal jemaah lain.


“Oh, tidak apa-apa, Bu. Saya paham.”


“Terima kasih. Kalau begitu kami pamit, ya,” ucap mereka.


“Iya, kebetulan saya juga suami sudah menunggu, saya juga harus pamit,” timpal Lidia.


“Iya. Terima kasih sudah menyempatkan untuk menjenguk,” ucap tante Ratna.


"Sama-sama."


Lidia dan dua jemaah lain pun akhirnya meninggalkan rumah sakit. Ponsel Li kembali berbunyi.


“Iya, saya usahakan sekarang ke sana,” jawab Li kepada seseorang yang menghubunginya.


“Li, apa sangat penting?” tanya tante Ratna.


“Iya, Mih. Tidak apa ‘kan ditinggal dulu sebentar dengan Salma?”


“Baiklah. Apa boleh buat.”


Alhamdulillah akhirnya tante Ratna mau juga ditemani. Walau tampak terpaksa.


“Sal, aku titip mami sebentar, ya!”


“Iya, Li.”


Li gegas pergi. Kini di ruangan tinggallah aku bersama Qia yang menemani beliau.


“Ekhm,” dehamnya.


“Iya, Tante. Ada yang bisa saya bantu?” 


“Apa kalian akan tetap menikah, walau saya tidak merestui?” tanyanya tiba-tiba.


“Tidak Tante. Aku dan Li tidak akan menikah tanpa restu.”


“Bohong!”


“Kalau kami berbohong, pasti sekarang status saya sudah menjadi istri Li.”


“Kalian tidak menikah diam-diam ‘kan?”


“Tidak. Bukankah Li juga selalu ada bersama Tante? Kalau kami menikah, pasti Li sering tidak ada di rumah bersama Tante.”


“Lantas kenapa anakmu ini akrab dengan Li?”


“Qia anaknya memang mudah akrab. Dengan Tante juga langsung akrab ‘kan? Padahal baru bertemu.”


Tante Ratna terdiam beberapa saat. Ia memandang lekat Qia yang duduk di hadapannya.


“Apa benar kamu menolak saat Li mengajak menikah tanpa restu saya?”


“Iya, Tante.”


“Kenapa?”


“Saya adalah wanita yang pernah gagal dengan pernikahan. Dulu pun saya menikah dengan restu dipaksakan. Saya tidak mau kegagalan itu terulang kembali. Saya yakin Li adalah lelaki yang soleh dan bisa menerima apa adanya. Bahkan ia juga sangat sayang dengan Qia. Li tumbuh menjadi orang baik tentu tidak terlepas dari peran seorang ibu.


Hubungan Li dengan Tante adalah hubungan darah. Hubungan yang tak akan pernah bisa putus. Saya tidak ingin pernikahan kami merusak hubungan antara ibu dan anak. Karena sejatinya pernikahan itu tidak hanya bersatunya dua manusia, melainkan bersatunya dua keluarga juga. 


Bagaimana bisa menikah dengan lelaki yang ibunya tidak mau bersatu dengan saya? Apa jadinya rumah tangga kami tanpa restu?”


“Bukankah kalian saling mencintai?”


“Iya. Tapi cinta kami adalah cinta antara wanita dan pria dewasa. Cinta itu bisa muncul dan hilang karena suatu sebab. Sementara cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta sepanjang masa tanpa syarat. Jadi tidak mungkin membuat lelaki yang saya cintai jauh dari cinta ibunya.”


Tante Ratna tertegun. Mungkin ia mencoba mencerna kata-kata yang telah kusampaikan. Kemudian dia kembali mengajak main Qia. Sementara aku diabaikannya lagi. Aku hanya bisa menghela napas panjang mendapat perlakuan ketus calon mertuaku itu. 


Calon mertua? Ya, karena aku masih berharap akan restu beliau.


Namun setidaknya aku harus bersyukur. Ternyata tante Ratna mudah menerima Qia. Meski bukan berarti menerima sebagai cucu. Melihat keduanya akrab saat ini, kurasa sudah cukup.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2