Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Harga Diri


__ADS_3

❤️❤️❤️


Selamat membaca 🥰


Sudah seminggu Hans mencari pekerjaan, tetapi tak kunjung dapat. Bunyi token listrik tandanya harus diisi ulang membuyarkan lamunan. 


"Kok, sudah habis lagi? Perasaan kemarin sudah diisi tanggal 29, deh. Belum juga dua minggu, masa udah habis saja?" Aku bergumam sendiri.


Kuambil kalender duduk di atas meja untuk memastikan. Tiba-tiba netraku merasa ada yang aneh saat mengecek angka-angka. Biasanya dari deretan angka tersebut suka ada yang dilingkari oleh spidol warna merah.


"Astaghfirullah ... Allahu akbar ... Masya allah!" seruku.


Dengan tidak adanya yang dilingkari merah, artinya aku belum datang bulan. Tunggu! Satu, dua, tiga dan seterusnya. 


"Hah, aku sudah telat seminggu!" pekikku.


Hati ini jadi berdebar-debar tak karuan. Tanpa sepengetahuan Hans aku membeli tes pack. Rasanya sudah tak sabar ingin mengeceknya.


***


Kali ini aku terbangun sebelum subuh. Alat tes kehamilan sudah kugunakan sesuai intruksi. Detik demi detik mendadak sangat berharga. Di batas menit terakhir, mata ini memicing, mengintip sedikit garis yang muncul.


"Hah, apa ini garis dua? Oh ya Tuhan, benarkah ini garis dua?" Aku bersorak sendiri di dalam kamar mandi.


"Yang, kok lama di airnya? Lagi ngapain?" tegur Hans sepertinya sedang kebelet.


"Bentar," sahutku cepat.


Kusembunyikan tespack tersebut di balik baju. Karena, aku memilih menunda untuk memberitahu. Gara-gara hamil palsu kemarin, aku menjadi was-was saat ternyata hamil beneran. 


Akankah Hans percaya? Akankah dia mengabulkan segala keinginan ngidamku? Rasa bersalah juga turut membuat bungkam.


"Yang, kamu kenapa? Kayak tegang banget." Hans memerhatikanku yang baru nyembul dari balik pintu.


"Ah, tegang gimana? Enggak juga," sangkalku.


"Aduh, awas! Aku sudah tak tahan," ucapnya sambil memegang perut.


Aku yang berdiri di ambang pintu, langsung bergeser.


Terpaksa kebahagiaan ini untuk sementara kupendam sendiri dulu. Aku akan cari waktu yang tepat untuk memberitahunya.


Kehamilanku kali ini penuh dengan rasa was was dan ketakutan. Aku tidak bisa berpikir santai. Hal apa pun menjadi pikiran. Termasuk keadaan kami secara financial. Hans yang tak kunjung jua mendapat pekerjaan.


"Bagaimana dengan masa depan anak ini kelak?" Aku bergumam seraya mengelus perut.


***


"Yang, aku hari ini sedikit lama ya, soalnya aku mau menemui teman yang di Cibadak. Siapa tahu ia bisa memberi kerjaan."


"Kapan kira-kira Mas pulang?"


"Nanti sorean."


"Iya, kalau gitu hati-hati."


"Iya, Yang. Kamu juga hati-hati di rumah."


Dia pun pergi setelah menghabiskan satu piring nasi goreng. Selagi Hans tak ada, aku sempatkan diri untuk memeriksakan kandungan ke rumah sakit. Betapa senangnya hati saat dokter menyatakan kalau aku memang hamil. Usia kehamilan diperkirakan memasuki minggu ke lima. Dokter menasehati, agar aku tidak stres dan tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat di trisimester pertama ini. Ia juga menyarankan agar aku cukup mengkonsumsi makanan tinggi asam folat.


Setelah dari dokter, aku memutuskan belanja segala makanan yang dianjurkan untuk orang hamil muda. Ada susu ibu hamil, buah-buajan, sayuran hijau, kacang-kacangan, produk susu, daging merah, daging ayam, serta ikan.


Sesampai di rumah kuperiksa lagi belanjaanku. Setelah kuhitung semua pengeluaran hari ini, ternyata lumayan juga. Lima belas lembar sudah kurogoh dari tabungan. Jika perbulan terus menerus mengambil tabungan, bisa-bisa habis uangku. Sebaiknya aku memang harus gunakan uang simpanan itu untuk usaha. Agar tidak habis begitu saja. Akan tetapi, aku bingung harus usaha apa?


"Hoek, hoek, hoek ...." Aku mual-muntah tiba-tiba.


 Menurut pengalamanku dulu, biasanya mual muntah baru terasa di usia kehamilan dua bulanan. Akan tetapi sekarang, rasanya lebih cepat.


Saking mualnya, aku hanya baringan di depan Tv. Tidak sadar, aku ketiduran sampai Hans pulang tepat jam lima sore.


"Yang, kamu kenapa? Pucat sekali," dia terlihat sangat khawatir.


"Aku hanya enggak enak badan."


Tiba-tiba mual itu datang lagi. Depan Hans, aku tangkup mulut ini. Untunglah tidak sampai keluar muntahan. Jika terjadi, dia pasti bertanya-tanya lebih banyak.

__ADS_1


"Kenapa, masuk angin?"


"Iya."


"Mau aku kerokin?"


"Tidak usah, Mas. Aku mau tiduran saja."


"Oya, sudah makan belum?" Aku hanya menggeleng. "Mau makan sama apa? Biar aku masakin," tawarnya.


"Aku mau rebus pisang."


"Rebus pisang? Tumben sekali."


Karena di rumah dan warung tetangga tidak ada pisang, jadi terpaksa dia pergi ke pasar. Kebetulan pasar tidak terlalu jauh. Padahal dia baru datang dari Cibadak, demi istrinya seperti tak mengenal lelah. Hal ini membuatku merasa beruntung bersuamikan Hans.


Dua puluh menit kemudian.


Hans pulang dengan dua kantong kresek di tangan. Yang satu kantong berisi pisang bangka, yang satu kantong lagi buah mangga muda.


"Mas, kok beli buah mangga muda? Buat apa?"


"Ya, buat petis lah. Seger kayaknya," jawab dia antusias.


"Tumben banget."


"Tadi pas lihat di pasar, tiba-tiba saja aku kepingin."


Aduh, jangan-jangan Hans ngidam makanan menggantikanku? 


"Mas, itu mangga-nya dipotonging sekarang?"


"Iya, kan mau petis sekarang. Oya, ada gula merah sama rawitnya enggak?"


"Ada. Tuh di rak bumbu." 


Hans segera menguleknya, garam, gula merah dan rawit. Dengan tak sabar ia pun menyocol potongan mangga muda.


"Mau enggak?"


Hans tampak sangat menikmati petisnya. Tak memedulikan komentar istrinya. Padahal setahuku dari dulu, ia tidak suka dengan petis atau pun rujakan. Aku semakin yakin kalau suamiku itu sedang ngidam.


Magrib datang.


Kutunaikan solat tiga rakaat dan Hans sebagai imamnya. Selepas solat, juga ngaji beberapa ayat. Terus kami hanya duduk sambil ngobrol-ngobrol depan tv. Tidak ada acara makan malam. Baik aku atau Hans sedang tidak berselera untuk makan nasi.


Hans mencurahkan perasaannya yang hampir putus asa sebab sampai hari ini belum mendapat kerja. Hari ini juga adalah batas akhir ia memegang cafe sahabatnya. Besok katanya cafe akan mulai ditawarkan kepada orang lain. 


"Mas ...," panggilku tak disahutnya.


Rupanya dia ketiduran. Untuk mengisi kebosanan, aku hanya menonton sinetron. 


Tiba-tiba ponsel Hans mengeluarkan nada dering. "Mas, tuh ada yang telpon," ucapku.


Namun, saking terlelapnya dia tidak bangun-bangun. Nada dering dari poselnya terus berbunyi berulang. Terpaksa kuangkat juga.


"Hallo," sapaku kepada pemilik kontak bernama Reihan. Dia adalah pemilik cafe yang besok akan dijual itu.


"Iya hallo. Ini dengan istri Hans, ya?"


"Ya betul. Ada yang ingin disampaikan kepada suami saya?"


"Iya, Mbak. Saya mau bicara."


"Tunggu sebentar," pintaku.


Kubangunkan Hans, tetapi ia hanya mengucek mata, lalu tertidur lagi. Mungkin karena tadi siang ia kelelahan sehingga tidurnya sangat pulas.


"Bagaimana Mbak? Apa Hans-nya ada?"


"Aduh, maaf. Dia sudah tidur. Susah sekali dibangunkan."


"Oh gitu, ya?"


"Kalau ada yang mau dibicarakan bisa lewat saya. Nanti disampaikan."

__ADS_1


"Begini Mbak, mengenai kafe, apa tidak bisa diusahakan dibeli oleh Hans saja? Sayang sekali lho, Mbak. Kataya kafe itu mulai berkembang di tangannya."


"Saya sudah membujuk untuk memikirkannya, tetapi Hans masih tetap pada keputusan awal."


"Begini saja Mbak, mbak bujuk untuk terakhir kali. Tidak apa, saya turunkan harganya lagi. Ya itung-itung demi persahabat kami selama ini. Jujur, sayang sekali kalau cafe itu jatuh ke tangan orang lain. Lagian cari kerja sekarang ini, pasti susah untuk seusia Hans."


"Iya, sih. Sampai sekarang juga Hans memang belum mendapatkan pekerjaan."


"Nah, itu dia. Beli saja ya, Mbak. Yakinlah, pasti ada uang sejumlah itu. Kalau mau dibayar dua kali juga boleh. Semua bisa dibicarakan lagi."


Diam dan berpikir sejenak.


"Ehmm ... berapa harganya setelah diturunkan?"


"Saya kasih harga 2,4 M."


"2,4 M?"


Ternyata harganya masih tinggi. Kalau dihitung-hitung total tabunganku, masih kurang 300 juta lagi.


"Iya, Mbak gimana? Itu kan cafenya strategis. Luasnya juga lumayan. Itu sudah harga paling murah. Harga sahabat."


"Apa tidak bisa 2,1 M saja?"


Aku dan Reihan mulai saling tawar. Jelas saja dia keberatan dengan penawaran yang kuajukan. Setelah beberapa kali saling tawar menawar, sepakatlah dengan harga 2 miliar 250 juta. 


"Deal ya, Mbak. Lusa saya akan ke Sukabumi untuk mengurus proses jual belinya," ucapnya terdengar senang.


"Iya, bismillah."


"Terima kasih, Mbak. Senang bisa bicara dengan Mbak Salma."


"Iya, terima kasih kembali."


Pembicaraan via telepon pun diakhiri. Lumayan panas dikuping. Tak terasa setengah jam lamanya kami mengobrol.


Sungguh aku tidak mengira akan memutuskan untuk membeli cafe tersebut. Padahal Hans sudah mewanti-wanti jangan menggunakan uang tabungan pribadiku. Ya apa boleh buat, dari pada tabungan itu habis ditarik terus setiap ada kebutuhan, lebih baik dipakai usaha kan. Mengingat kini aku hamil, mana mungkin ayah dari anakku pengangguran. 


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku tak kunjung tidur. Rasa kantuk berubah menjadi was was. Bagaimana caraku besok jujur kepada Hans, ya? Aku takut dia marah besar dan merasa tidak dihargai.


***


Karena semalam bergadang, aku bangun pagi ini jadi kesiangan. Cahaya matahari yang sudah menerobos masuk lewat jendela kaca membuatku silau. Kuintip jam beker di meja. 


"Hah, jam delapan?" seruku terperanjat.


Aku segera bangun dan mandi. Kenapa Hans tidak membangunkan? Usai mandi, aku cari-cari dia. Eh, ternyata sedang duduk termenung di depan Tv.


"Mas," sapaku.


"Duduk!" titahnya tanpa menoleh.


"Kenapa, Mas?" tanyaku setelah duduk di sampingnya.


"Kamu bisa tidak, hargai aku sebagai suamimu, sebagai pemimpin rumah tangga ini?" tanyanya dengan membentak membuatku terlonjak.


"Maksud, Mas?" dahiku mengerut.


"Apa maksud kamu memutuskan membeli kafe Reihan?"


"Oh, itu?"


"Apa, hah? Oh, kamu mau pamer, kalau kamu ini selalu punya uang?" nadanya sinis dengan mata memerah.


"Mas, maksudku sama sekali tidak seperti itu."


"Lalu seperti apa? Sejak dulu, kamu memang senang ya, menginjak harga diri suami? Mentang-mentang punya uang, jadi bisa seenaknya begitu?" cecarnya menusuk hati yang puingnya masih belum utuh karena pengkhianatan.


"Cukup, Mas!" teriakku.


Brakk ... meja malah dipukul keras oleh Hans. Membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya.


Tetap setia ikuti terus kisahnya, ya 🥰


Yuk follow IG othor --> dinarala2022

__ADS_1


__ADS_2