
Selamat membaca 🥰
“Salma sebenarnya tak mengandung. Tengoklah perutnya!” ucap papa puas.
Hans menoleh, kedua netranya tertuju kepada perutku yang tiba-tiba kempis dan baru disadarinya. Debaran jantungku kian meruntut semakin cepat. Sekarang ini hanya bisa pasrah dengan yang akan terjadi di depan mata.
“Jadi, Papa juga sudah mengetahuinya?” Hans balik bertanya.
“Apa? Awak sudah tahu kalau Salma tak mengandung?”
“Iya, Pah.”
“Mas, jadi kamu sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa kamu diam aja? Apa kamu tidak marah?” cecarku karena reaksinya yang tampak santai.
“Mana mungkin aku tidak tahu, Yang. Kita tinggal satu atap. Aku diam, hanya menunggu waktu kapan kamu akan berterus terang. Eh, tapi keduluan Papa. Kamu jangan khawatir, aku tak apa, kok,” jawabnya dengan seulas senyum.
Seketika dada ini plong, bernapas lega. Haru dan senang bercampur menjadi satu. Sungguh tidak menyangka kalau Hans tidak marah. Dia benar-benar berubah. Sungguh membuat hatiku kembali jatuh cinta.
“Ya, sebab awak sudah tahu, lebih baik kalian pisah saja! Toh, tak ada alasan kuat untuk mempertahankan biduk rumah tangga yang ternoda pengkhianatan,” tutur Papa.
“Pah, sebaiknya keputusan kita serahkan saja kepada mereka berdua. Kita sebagai orang tua, jangan terlalu ikut campur.” Mama buka suara.
“Mama ini bagaimana? Mau si Salma menderita lagi gitu?” Papa tidak mau terima.
“Bukan itu maksudnya, Pah,” tutur mama.
“Pokoknya, Papa harap mereka pisah.”
“Saya, mohon, Pah. Jangan pisahkan kami. Saya tidak akan mengulagi kesalahan itu lagi. Saya sangat bersungguh-sungguh.” Hans sampai bersimpuh di kaki papa.
“Apaan awak nih?”
“Saya mohon dengan sangat, Pah. Saya telah menyesali kebodohan itu. Saya janji, akan menebus semuanya dengan cara terus membahagiakan Salma,” ujar Hans.
__ADS_1
“Salma, apa awak mahu terus hidup bersama lelaki ini?”
“Benar, Pah. Salma ingin memberi Mas Hans kesempatan kedua. Maka dari itu, tolong jangan meminta kami bercerai.” Kali ini aku mengambil keputusan mantap.
Hening … papa menarik napas panjang dan tampak berpikir.
“Ok. Pegang ucapan awak! Jangan buat Salma kecewa lagi. Kalau sampai terulang lagi, Papa yang akan langsung turun tangan sendiri untuk memberi balasn,” tegas Papa pada akhirnya meski kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.
***
Papa-mama sudah pulang ke Malaysia. Ucapan papa terngiang-ngiang, ‘Salma, ini sudah menjadi keputusan awak. Kita hanya berharap awak bahagia. Kita ini sudah tua, mungkin umur tak lagi lama. Kita harap, bisa meninggal dengan tenang’.
Aku paham, kasih sayang mereka berdua sangat besar. Keduanya takut dan tidak rela jika anaknya terluka. Akan tetapi, aku yakin dengan keputusanku. Sebisa mungkin, aku pun berusaha untuk mempertahankan rumah tangga ini.
Sekarang aku full menjadi ibu rumah tangga. Aku mulai terbiasa menyiapkan keperluan Hans sebelum berangkat kerja. Seperti pakaiannya yang sudah aku setrika rapi. Sebenarnya belum terlalu rapi, sih. Habisnya susah banget menggosok baju itu. Andai saja masih berpenghasilan besar, mungkin aku akan beli mesin setrika sekaligus lipart otomatis. Itu yang iklannya pernah aku lihat lewat di beranda medos. Harganya pasti butuh kocek tak sedikit. Dulu mana kepikiran. Baju biasa aku laundry atau tidak Hans yang setrika.
Pagi-pagi juga, aku siapkan sarapan di dapur. Meski masak alakadarnya. Karena masak yang aneh dan ribet, aku belum bisa. Untunglah Hans selalu dengan senang hati memakan masakanku yang terkadang keasinan atau hambar.
Oya, Hans sudah memutuskan untuk mengurus kafe temannya itu. Penghasilannya sekitar lima juta sebulan. Bagiku jumlah itu tidak bisa mencukupi. Makanya, aku sudah lama pensiun nyalon, spa, perawatan wajah ke dokter, belanja barang-barang mewah dan makan di restoran mahal. Aku stop semua dan berusaha menahan diri. Sebisanya uang lima juta itu harus cukup sebulan untuk biaya makan, listrik, juga bensin motor Hans. Mobil pun sudah kami jual, uangnya ditabung untuk dana darurat.
Tumbuh dari keluarga berkecukupan, sedari kecil bisa membeli apa pun yang diinginkan, tidak disangka kalau aku bisa berubah juga. Sebenarnya papa-mama sering menawariku bantuan yang biasa mereka bilang uang jajan, tetapi kutolalak. Rasanya malu saja. Terlebih, hidup bersama Hans adalah pilihanku sendiri yang mereka kurang suka.
“Yang, kamu masih datang bulan?” tanya Hans hampir setiap malam.
Pasalnya sudah tujuh hari aku menstruasi. Akan tetapi, di hari ke delapan ini aku sudah benar-benar bersih dan mandi besar. Rencananya mau memberi tahu, Hans pasti senang.
Namun, kali ini dia sama sekali tidak menanyakan apa aku masih datang bulan atau tidak? Malah sibuk menghitung laba-rugi pendapatan kafe. Padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Mungkin dia bosan dengan jawaban yang sama.
Katanya dalam keadaan seperti ini, istri harus mengajak duluan atau bertanya kepada suami? Rasanya kok, malu banget, ya? Soalnya selama ini Hans lah yang selalu minta terlebih dulu. Kalau tidak kucoba, hasrat ini kayaknya tidak akan tersampaikan dan aku tidak akan tidur nyenyak. Seharian di rumah, ya pastilah, membuatku jenuh juga. Kalau dulu, karena rasa lelah bekerja, kadang hasrat ingin berhubungan terlebur begitu saja oleh kantuk. Beda dengan sekarang, aku memiliki tenaga berlebih untuk melakukannya.
Teori menggoda suami lebih dulu telah hatam di kepala. Katanya istri malah akan mendapat pahala. Beruntung ‘kan? Enaknya dapat, pahalanya dapat. Kapan lagi coba kesempatan ini datang lagi? Aku terus bermonolog dengan hatiku antara malu-malu dan dorongan maju pantang mundur.
Akhirnya, ilmu pengetahuanku perihal mengajak lebih dulu akan kupraktekkan. Bukankah, sayang sekali jika ilmu itu hanya dihapal? Sia-sia saja.
__ADS_1
Kukenakan lingeri hitam yang panjangnya sepaha dan transparan. Renda brukat turut menghiasi pinggirannya. Membuat pakaian seksi ini terlihat cantik. Rambut kuikat tinggi, untuk memperlihatkan leher jenjang nan menantang untuk ditandai. Kupoles sedikit riasan untuk mempermanis wajah. Tak ketinggalan semprotan parfum yang akan membuat dia mabuk kepayang.
Satu, dua, tiga. Kukeluar dari kamar. Menuju Hans yang berada di ruang depan TV. Matanya masih sibuk dengan angka-angka di lembaran nota. Tangannya pun sibuk dengan balpen serta kalkulator. Sesekali tangannya memijat pelipis. Dia tampak begitu serius sehingga tidak menyadari kehadiranku.
“Ekhm,” dehamku.
“Ya Yang, belum tidur?” tanyanya tanpa menolehku yang duduk di tepi meja, di hadapannya.
“Ekhm,” dehamku lagi.
Kali ini dia mengangkat wajah dan … matanya langsung terbuka lebar tanpa berkedip. Betapa tidak, istrinya duduk menyilang kaki, lingeri tersibak hingga menampilkan kedua paha yang mulus. Kubusungkan dada untuk menonjolkan bagian terseksi dan satu lemparan senyum memikat dengan kerlingan mata nakal.
Puas dengan pose menggoda tersebut, kulanjutkan dengan aksi yang lebih berani. Berdiri dan melenggok, duduk di pangkuannya.
“Aku sudah bersih,” bisikku menggelitik telinganya. Bahunya langsung bergidik. “Jangan kelamaan, istrimu sudah tak tahan,” bisikku lagi, kali ini dengan *******.
Seketika Hans mendekap tubuh ini. Seperti yang baru tersadar. Bibirnya tak henti menghujani wajah, turun ke leher, turun lagi ke area bawahnya. Tangannya bergerilya ke sana ke mari sambil meremas. Napasnya terdengar ngos-ngosan.
“Yang, kenapa tidak dari tadi?” tanyanya di sela-sela pergulatan.
“Mas, pindah, yuk ke kamar!” ajakku.
“Tanggung, di sini saja,” sahutnya dengan napas memburu.
Cling, guprak, klotak ... benda-benda di atas meja berjatuhan ke lantai.
Mak, ada yang langsung ingat suami setelah baca ini?? Hihihi 🤭
Part ini bikin adem ya? Tunggu part selanjutnya, darah akan mendidih kembali. 🔥
Reader semua mohon dukungannya dengan cara follow akun Othor Dinara L.A. biar semangat up bab-nya. terima kasih.
__ADS_1