Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Pura-pura


__ADS_3

"Bu Bos, karena biaya tes DNA janin dalam kandungan mahal, jadi Meti belum melakukannya," lapor mata-mataku.


"Terus bagaimana si Hans?"


"Hans sepertinya  masih marah, sebelum Meti membuktikan anak siapa yang dikandungnya."


"Teruskan  tugasmu sampai tes DNA itu gagal!"


"Siap, Bu Bos."


Aku masih bisa bernapas lega karena Meti belum bisa melalukan tes DNA. Pokoknya perempuan tidak tahu diri itu harus merasakan sakit karena tidak dipedulikan orang yang dicintainya.


Selanjutnya, aku akan mengatur pertemuan yang seolah tak sengaja dengan Hans. Segala sesuatunya sudah kupersiapkan.


Sore hari, mobilku sudah terparkir di salah satu pasar. Kususuri tempat dimana orang_orang berlalu lalang. Diedarkan pandangan ke segala pelosok. Sosok yang kucari akhirnya ditemukan. Ia sedang memanggul satu karung kecil dari mobil bak terbuka.


Ekhm, action!


Jebred!


"Aw! Aduh, maaf!" Aku tersungkur seraya memegangi kepala.


"Mbak, tidak apa-apa?" tanyanya belum menyadari siapa yang barusan beradu. 


Kemudian diturunkannya karung yang ia pikul.


"Maaf, aku pusing sekali jadi tidak bisa melihat dengan baik."


Dia mengulurkan tangan menawari bantuan untukku berdiri.


"Sal-salma!" matanya membeliak.


"Hans?"


"Kamu ngapain di pasar?"


"Lho, kamu sendiri ngapain?"


"Seperti yang kamu lihat, kuli. Puas!" sinisnya.


"Oh. Aku nyari buah kupa, tapi kok enggak ada, ya?"


"Buah kupa? Untuk apa?" Matanya memicing.


"Aku mau banget buah kupa," ucapku seraya mengusap-usap perut.


Dia memerhatikan. Dahinya semakin berlipat.


"Di sebelah sini enggak ada. Buah kupa adanya di sebelah sana! Tapi, itu juga harus pagi-pagi. Jam segini pasti sudah enggak ada," terangnya.


"Yah ... padahal udah enggak kuat pengen buah kupa." Kupasang wajah kecewa. Lagi-lagi kuusap perut.


"Ya sudah, besok pagi aku belikan. Kamu ke sini lagi aja besok!" tawarnya ketus.


"Ok. Awas kalau kamu bohong! Nanti anaknya ...." Sengaja kugantungkan kalimat.


"Anak? Maksudnya?" Dia terkejut.


"Oh, enggak-enggak!" Pura-pura gugup.


"Kamu hamil?" Matanya penuh selidik.


"Enggak-enggak. Udah dulu, ya! Aku sibuk." Aku pamit buru-buru.


"Sal, Salma!" panggilnya tidak kuhiraukan.


Sepertinya dia mau mengejar, tetapi teringat akan karung kecil yang harus segera ia angkut.


Kunyalakan mesin roda empatku untuk meninggalkan pasar. Senyumku tersungging mengisyaratkan kemenangan.


"Rasakan kamu! Malam nanti pasti tak bisa tidur."


*** 


Keesokan harinya aku bangun malas-malasan. Ini hari libur. Jadi aku tak masuk kerja. Bukannya aku tak ingat akan janji untuk mengambil buah kupa ke pasar, tetapi memang sengaja tak kutepati.


Pagi pun beranjak siang. Kulirik layar ponsel yang menunjukan lima panggilan tak terjawab. Dari siapa lagi kalau bukan dari Hans. Rupanya dia masih menyimpan nomerku. Pasti dia mau menanyakan perihal aku yang masih belum nongol ke pasar.


Dreett ... ponsel bergetar lagi. Kali ini aku mengangkatnya.


"Hallo," jawabku dengan suara lemah.


"Yang, kenapa baru diangkat teleponnya?" tanyanya menyentak.

__ADS_1


"Yang?"


"Maksudku, Salma. Kenapa kamu baru angkat? Katanya mau buah kupa. Ini sudah aku belikan. Tapi kenapa enggak ke pasar?" cecarnya.


"Aku ... hoek, hoek, hoek." Kutirukan suara muntah.


"Sal, Sal, kamu muntah?"


"Udah dulu, ya! Aku enggak kuat. Hoek, hoek, hoek."


"Sal ...."


Tut ... telepon kuputus.


Kita lihat saja! Apa dia mau datang ke sini? Datang tidaknya dia, tetap saja aku harus siap-siap. Kuganti setelan baju dengan daster terusan yang longgar selutut. Baju daster model ini, bukan fashionku selama ini. Kuberantakin rumah seperti tidak pernah dirapihkan. Padahal selama ini, aku paling tidak suka rumah dalam keadaan kacau.


Kuoleskan make up yang bisa membuatku terlihat pucat. Aku mempelajarinya dari tukang make up profesional. Satu lagi tidak ketinggalan, suplemen yang bergambar ibu hamil di kemasannya kugeletakan di atas meja.


Ting tong ... nah, kayaknya ikan sudah memakan umpan. Sengaja tak kubuka. Pintunya juga tidak kukunci, agar dia bisa masuk sendiri. Aku tengah bersiap di atas washtapel dengan suara khas muntah.


Hoek, hoek ... agar tampak seperti muntah beneran, aku sampai colok mulutku sendiri dengan jari telunjuk.


Terdengar derap langkah semakin dekat menghampiri. "Sal, salma!" suara akrab itu akhirnya datang.


"Eh, Hans?" Aku menoleh lemas.


"Sal, kamu kenapa?" Dia langsung meraih kedua bahuku.


"Lepas, Hans!"


"Kamu kenapa? Muntah terus?"


"Aku ...." Badan ini dijatuhkan bak kehabisan tenaga. Dengan sigap dia menangkapnya, lalu membopong. 


"Hans, turunkan aku!"


"Jangan egois, Sal!"


"Kamu jangan so' baik!"


"Diam Sal! Kamu lagi sakit."


Dibaringkannya aku di sebuah sofa panjang. Seketika matanya menangkap suplemen tadi. Kemudian dia mengambil dan membaca tulisan yang ada di kemasan.


"Kamu hamil?" Aku diam dan hanya menunduk. "Kamu hamil 'kan, Sal?" ulangnya. "Ini anakku," sambung Hans seraya tangannya terulur hendak menyentuh perutku.


"Lancang kamu!" Kutepis kasar tangannya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil? Sudah berapa bulan?"


"Satu bulan."


"Jadi benar kamu hamil? Aku akan jadi seorang ayah. Ya ampun! Alhamdulillah," serunya senang sampai matanya berkaca-kaca.


Tangannya hampir saja memelukku. Akan tetapi, ia ingat kalau aku tidak akan mengizinkan.


"Kenapa aku harus hamil di saat seperti ini?" Kujatuhkan air mata palsu.


"Kalau aku tahu, aku tak akan pergi meninggalkanmu."


"Enak saja! Aku tak sudi satu atap denganmu lagi."


"Sal, sebenci apa pun kamu kepadaku, aku mohon izinkan aku merawatmu, menjagamu, demi anak kita. Aku mohon. Aku janji akan memperlakukanmu sebaik mungkin. Apa pun keinginanmu, akan aku turuti," tuturnya sungguh-sungguh. 


Hands terus bersimpuh di kedua kakiku sampai kukabulkan. 


 


Sejak itu, dia rajin sekali berkunjung. Dia tak ubahnya pembantu yang selalu bereskan rumah. Kadang dia juga datang membawa makanan yang aku inginkan. Dalam sehari dia bisa bolak-balik ke rumah berkali-kali. Dia juga membelikannya dengan uang hasil jarih payahnya. Aku puas sekali membuat dia lelah dan kewalahan. Akan tetapi dia selalu bersemangat. Begitu bertanggungjawabnya dia kepada calon anaknya. Bagaimana jika Hans tahu bahwa aku pura-pura hamil?


"Hands, besok aku mau pindah rumah."


"Oh, sudah dapet rumah barunya?"


"Iya."


"Dimana?"


"Di kampung sebelah."


"Kalau begitu, aku bantu packing-packing, ya!"


"Tidak perlu! Aku hanya membawa baju dan barang-barangku saja dari rumah ini. Perabot dan lainnya, aku tinggalkan."

__ADS_1


"Ekhm, sampai segitunya kamu merasa jijik."


"Ya, bahkan tas-tasku yang pernah dipake Hera diam-diam, sudah aku bagikan ke tetangga."


"Maaf. Semua memang salahku." 


Sekarang Hans sering sekali bilang maaf. Sampai aku bosan sekali mendengarnya.


*** 


Hari ini mata-mata melaporkan, kalau Meti tidak jadi melakukan tes DNA. Pasalnya dokter sangat tidak menyarankan. Sebab bisa membahayakan janin, apa lagi usia kandungan Meti baru lima minggu. 


Aku bersantai di depan teras rumah baru ditemani Hans. Dia juga mengontrak rumah tidak jauh dari rumahku. Katanya biar gampang kalau ada apa-apa. Setiap hari dia juga semakin kerja keras untuk mencari uang. Kerjaan apa pun dilakukan selama halal. Sebab, katanya lagi, jangan sampai si jabang bayi memakan makanan yang tidak baik apa lagi haram. Aku tidak menyangka dengan segala perubahannya.


Andai saja kutahu akan seperti ini, pasti dulu aku berusaha untuk hamil lagi. Sekarang semuanya sudah terlambat.


"Hans ...."


"Iya. Bisakah kamu panggilku 'Mas' lagi?"


"Belum bisa."


"Oh. Oya, barusan mau ngomong apa?"


"Hans, aku sudah tidak bekerja lagi. Aku mengundurkan diri. Soalnya tidak enak sering sekali bolos," akuku bohong.


Sebenarnya aku hanya break saja dulu. Untung Bos Li izinkan. Bahkan aku bisa balik bekerja kapan pun aku mau.


"Iya, syukurlah. Kataku juga kamu memang sebaiknya diam saja di rumah. Jaga anak kita baik-baik. Jangan sampai keguguran lagi."


"Kamu tahu, kenapa waktu itu aku sampai kecelakaan sehingga keguguran?"


"Bukannya gara-gara rem blong?"


"Bukan."


"Lantas?"


Aku pun menceritakan apa yang kudengar dari Hera. Tentu Hans terkejut setengah mati. Dia sangat murka setelah mengetahui.


"Andai saja Meti tidak sejauh itu. Anak kita pasti sudah lahir, bahkan sudah bisa berjalan."


"Dasar wanita itu. Awas saja akan kubuat perhitungan." Hans mengepalkan tangan.


Aku senang sepertinya Hans mulai membenci wanita itu.


Tiba-tiba entah kapan datangnya? Meti sudah ada di hadapan kami. Panjang umur sekali dia. Baru saja diomongin.


"Oh, jadi kamu enak-enakan di sini? Dasar cewek gatel! Katanya mau cerai, ini masih aja godain. Munafik!" hardiknya tak tahu malu 


Ingin sekali aku beranjak dari kursi dan menjambak rambutnya. Akan tetapi, aku harus tetap berpura-pura dalam keadaan lemah. Karena ngidamku parah sampai mual muntah terus menerus.


"Oh, kebetulan sekali. Eh penipu, jangan harap aku mau bertanggungjawab atas yang bukan darah dagingku!" balas Hans menghardik.


"Ini anakmu, Bang! Aku tidak melakukan tes DNA bukan karena takut, tapi dokter melarangnya. Bisa membahayakan janin!"


"Alah! Kamu pikir, aku akan percaya akal bulusmu. Dasar lacur!"


"Bang, tega kamu! Hei, kenapa kamu diam saja Salma? Bilang sama Bang Hans, kalau ini semua pasti hanya rencana busukmu!" Telunjuknya teracung ke mukaku.


"Kamu yang busuk Meti!" bentak Hans seraya menepis kasar tangannya.


"Hans, kepala sakit sekali. Usir wanita ***** ini!" titahku.


"Dasar, kamu yang *****!" balas Meti sengit.


Plakk! Tangan Hans mendarat cepat di pipinya.


"Diam kamu! Oya, ternyata kamu 'kan dulu yang membunuh anak kami?" Mata Hans menyorot tajam seperti akan menerkam.


"Mak-sud, Abang?"


"Ya, kamu yang buat Salma kecelakaan hingga keguguran. Apa harus kubalas sekarang juga?" 


"A-aku enggak nger-ti, Bang." Meti gemetaran.


"Haruskah kubuh anakmu sekarang juga, Hah?"


Hans wajahnya merah menyala dikuasai amarah. Dia mendorong keras Meti sampai tersungkur dan kepalanya terbentur kaki tiang di terasku. Darah keluar dari pelipis menuruni sudut mata. 


"Bang!" Meti histeris, tetapi Hans tampak belum puas. 


Bukannya kasihan atau merasa bersalah, dia malah jongkok menyambar kerah baju Meti yang tengah ketakutan.

__ADS_1


Akankah Salma membiarkan Hans celakai Meti seperti Meti celakai dia dulu? Atau Salma akan menghentikan Hans yang tampak kerasukan itu?


__ADS_2