
❤️❤️❤️
Aku sudah rela meninggalkan Salma, meski pun sebenarnya aku diusir, sih. Ya, lagian aku juga sudah bosan dengan dirinya yang selalu memerintah sesuka hati. Mentang-mentang memiliki uang, dia selalu berkuasa dan aku hanya kacungnya.
Aku pulang ke rumah ibu. Akan tetapi tidak menyangka kalau beliau pun mengusirku. Ya, aku paham, tentu saja karena aku tak memiliki uang dan pengangguran. Kadang heran, aku ini anak kandungnya, tetapi dari dulu kenapa selalu disayang jika memiliki uang saja. Ibu juga marah besar. Katanya gara-gara aku, dia kehilangan tambang emasnya selama ini.
“Dari mana coba ibu bayar arisan yang masih berbulan-bulan lagi? Dari mana coba ibu, membayar cicilan?” cecarnya kesal.
Padahal gampang, tinggal jual saja perhiasan. Bukankah ibu memiliki banyak perhiasan? Ah, pola pikir orang tua itu sering tak masuk akal, tak sejalan.
Untung saja Meti mengontrak sebuah rumah dan bekerja sebagai buruh cuci-setrika. Jadi aku bisa menumpang cuma-cuma. Awalnya aku hanya menjadikan dia sebagai kesenangan sesaat saja, tetapi dia malah hamil.
Kehamilannya membuatku ingin selalu bersamanya, tak mau jauh darinya dan ingin selalu ada siaga untuknya. Entah aku mulai mencintainya atau ini hanya bentuk rasa dari sebuah tanggung jawab?
Rasanya setiap hari tidak sabar ingin anak itu segera lahir. Aku sangat menyukai bayi, apalagi darah daging sendiri. Akan kulakukan apa pun demi membahagiakan anak kelak.
Namun, kebahagiaan yang kurasa tidak bertahan lama setelah kedatangan Hendra. Dengan sangat yakin, ia mengklaim kalau anak yang tengah dikandung Meti adalah benihnya. Benar-benar tidak menyangka kalau Meti juga sering tidur dengannya. Dasar wanita *****! Memang murahan sekali.
Aku menuntut tes DNA, tetapi Meti seperti ketakutan. Sudah bisa kupastikan kalau dia pasti memang mengandung anaknya si Hendra. Pasalnya kalau diingat-ingat, setiap kali berhubungan aku selalu memakai pengaman. Hanya sesekali saja kebablasan karena keburu keluar.
Untuk melupakan kekecewaan, aku terus sibukkan diri bekerja di pasar sebagai kuli panggul. Kadang ngojek juga. Untunglah ada teman yang memiliki motor nganggur, jadi bisa kupinjam.
***
Pagi ini seperti biasa, aku kuli panggul di pasar.
Bugh! Seorang wanita tanpa sengaja menabrakku. Tubuhnya oleng dan tersungkur. Ia menunduk memegangi kepalanya. Mungkin ia merasa pusing. Lekas kuulurkan tangan untuk membantu.
“Salma!” seruku saat ia berusaha berdiri.
“Hans!” Dia tampak terkejut.
Tunggu dulu, kenapa dia sampai ada di pasar? Setelah kutanya ternyata sedang mencari buah kupa yang rasanya asam itu. Tumben sekali. Akan tetapi, aku tidak bertanya lebih banyak. Karena tahu dia tidak akan nyaman setelah apa yang terjadi diantara kami.
Aku kasih tahu Salma, kalau mau buah kupa harus datang ke pasar yang kutunjukkan pagi-pagi. Sebab, siang biasanya sudah tidak ada. Dia antusias sekali dan tampak bersemangat untuk mendapatkan buah yang diinginkannya. Sepintas layaknya seorang wanita yang sedang ngidam.
Akhirnya, kujanjikan kalau besok pagi akan kubelikan buah kupa dan meminta dia datang lagi ke pasar untuk mengambilnya. Syukurlah, responnya terlihat senang atas usulku. Bukan tanpa alasan kebaikan yang kutawarkan ini, dia benar-benar mencurigakan.
__ADS_1
Wajahnya sedikit pucat, beberapa kali tangannya menangkup mulut yang seperti ingin memuntahkan sesuatu. Makanya aku harus mencari tahu lebih lanjut.
Apa Salma hamil? Pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku.
***
Semalaman aku sulit sekali tertidur. Pikiranku tak berhenti memikirkan kejadian tadi di pasar. Pertanyaan apakah Salma hamil terus menggelayuti ruang pikiran. Aku yakin kalau pun hamil, ia memang akan menyembunyikannya dariku.
Huh, rasanya tidak sabar dan ingin sekali segera pagi. Sampai akhirnya aku terlelap entah di jam berapa?
Hoam … aku menggeliat dan langsung terperanjat saat mendapati jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi. Gegas mandi dan langsung pergi ke pasar. Teman yang kutumpangi sampai heran melihatku sangat bersemangat di pagi ini.
Sesampai di pasar, tukang penjual kupa menjadi tujuan utama. Untunglah buah asam tersebut masih ada. Kupenuhi janji untuk membelikannya. Dengan deg degan aku terus menunggu di tempat yang sudah disepakati. Akan tetapi, kutunggu-tunggu ia tak kunjung datang juga.
Hari semakin beranjak siang, Salma masih belum terlihat batang hidungnya. Kuberanikan diri untuk menghubungi, dari pada mati penasaran ‘kan?
Sebenarnya saat diusir dari rumah, nomer kontak dia sudah dihapus, tetapi nomernya sudah aku hapal sejak lama. Jadi ya, mudah bagiku untuk mengonteknya kembali.
Tut … beberpa kali panggilan tidak mendapat respon. Aku tidak menyerah, terus kutekan nomernya sampai akhirnya tersambung.
“Hallo,” katanya terdengar lemah.
“Ya, Hans ….”
Ada rasa senang saat dia bisa mengingat jelas suaraku. Apa mungkin kontakku masih tersimpan di ponselnya? Belum sempat kutanyakan kenapa dia tidak datang ke pasar, suara muntah-muntah bisa kutangkap via telepon.
Tentu saja aku panik, suara itu seolah tidak mau berhenti dan Salma sepertinya kepayahan. Tanpa berpikir panjang dan izin, aku langsung pergi menuju rumahnya.
Sesampai di rumahnya, benar saja kudapati dia sedang muntah-muntah di washtapel. Kejadian ini semakin membuatku yakin kalau dia tengah hamil muda. Setiap kali hamil trisemester pertama, Salma memang selalu mual muntah dan ngidam yang asam-asam.
Aku membantu dia sebisanya. Mengurutnya, meski awalnya menolak. Memberikan air minum hangat dan memintanya untuk rehat. Aku yakin, dia pun belum makan. Wajahnya pucat dan terlihat lemah sekali.
Kumasak apa saja yang ada dalam kulkas. Karena dia mual, aku masakin dia rebus-rebusan. Kuterus membujuk dan memaksa agar dia mau memakannya. Setelah itu baru aku mencoba menanyakan apa dia sedang hamil?
Salma tidak menjawab begitu saja. Dia diam sampai terus kutanya berulang. Tidak bisa lagi mengelak saat kutanyakan sebuah suplemen ibu hamil yang ada di atas meja. Ya, Salma ternyata hamil.
Rasa bahagia menghiasi hariku. Terlebih, aku akan memiliki anak dari wanita yang sejujurnya masih bertahta di hati terdalam. Perasaan yang kukubur dengan rasa benci kembali mencuat ke permukaan.
__ADS_1
Sejak hari itulah, hubunganku dengan Salma bisa dibilang mulai membaik. Secara tidak disadari, kami memulainya dari awal. Aku juga membantunya pindahan rumah. Tak akan kubiarkan ibu dari calon anakku kelelahan. Kali ini aku harus memastikan agar anak kami bisa terlahir ke dunia dengan sehat dan selamat.
Aku pun mengontrak sebuah rumah kecil tidak jauh dari Salma. Agar kalau ada apa-apa bisa langsung siap sedia. Kadang malam-malam, ia memintaku untuk membelikan sesuatu yang diidamkannya. Tentu sebagai ayah dari bayi yang dikandungnya, aku selalu memenuhi apa pun itu. Inginnya, kami itu satu rumah saja, biar dia lebih terpantau setiap saat, tetapi tentu saja Salma keberatan. Dia memang belum memaafkanku sepenuhnya. Bahkan sering sekali menolak saat kuingin mengelus perutnya. Ya, dia masih sangat jaga jarak. Apa lagi ngidamnya kali ini, berdekatan denganku membuatnya mual karena merasa bau.
Entah itu benar bawaan janin, atau karena rasa bencinya kepadaku masih besar. Tak apa, dengan dia mengizinkan kami selalu bertemu, itu sudah lebih dari cukup.
***
Sungguh aku tercengang saat Salma bercerita, bahwa kecelakaan yang membuat kehamilannya yang ke-dua sampai keguguran itu adalah ulah Meti. Hera tetangga kami yang memberitahunya. Sungguh aku tidak sangka, wanita murahan itu menghalalkan segala cara agar bisa memilikiku.
Rasa bersalah semakin besar. Betapa jahatnya aku karena selama ini selalu bersenang-senang dengan wanita yang telah membunuh anakku sendiri. Ya, Tuhan … masih adakah jalan tobat untukku? Aku benar-benar malu.
Aku berjanji kepada diri sendiri, apa pun yang terjadi mulai hari ini, akan kutebus segala kesalahan kepada Salma. Sekuat tenaga, semampuku, akan berjuang untuk memberikan yang terbaik untuknya.
Aku bekerja semakin keras dan bersemangat. Rasa gengsi sudah kuhilangkan jauh-jauh. Selama pekerjaan itu halal, aku akan terus melakukan sebisanya. Setiap rupiah yang kisarannya tak seberapa itu, selalu kusetorkan kepada Salma. Berharap ada barakokah dalam lembaran uang tersebut untuk kami.
Sepulang kerja, Salma menyambutku dengan hangat. Kami duduk di teras sekadar melepas rasa lelahku. Suasana ini sangat kusukai. Akan tetapi, tiba-tiba si Meti datang merusaknya. Tidak tahu malu, memaki dan menuding istriku yang tidak-tidak. Mengingat dia adalah pembunuh janin anak ke-duaku, rasa marah langsung menguasai.
Ingin kulakukan hal yang sama, yaitu membunuh bayi yang ada di rahimnya. Dia mimpi sekali berharap aku akan termakan omongan untuk mempercayai bahwa janinnya adalah benihku. Emosiku meledak-ledak, kudorong ia hingga tersungkur.
Merasa masih kurang, aku mencoba akan menyakitinya lebih jauh, tetapi Salma menghentikanku. Dia menyadarkanku, seberapa marah pun, apa yang akan kulakuakn kepada bekas gundikku itu salah. Kami yakin, anak kami kelak tidak mau memiliki seorang ayah yang menyebabkan calon bayi orang lain dalam bahaya.
***
Hubunganku dan Salma semakin membaik. Kini bahkan kami satu rumah. Walau pun tidur masih terpisah. Dari sinilah, aku mulai mencurigainya.
Beberapa kali aku memergoki Salma meminum obat saat kepalanya sakit. Padahal, obat itu dilarang dikonsusmsi ibu hamil. Apa dia tidak tahu? Rasanya tidak mungkin. Apa lagi ini bukan kehamilan yang pertama untuknya.
Hari ini kecurigaanku terjawab. Diam-diam dia mengoleskan make up yang membuatnya tanpa pucat. Dia juga sengaja memasukkan jarinya ke tenggorokan untuk memancing muntah. Tak sampai di situ, saat aku beres-beres dapur, dalam tong sampah, kutemukan bekas pembalut. Rupanya dia menstruasi. Kutengok kalender, benar saja, ini adalah tanggal jadwal datang bulannya.
Ada rasa kecewa, karena di saat aku terbuka dan jujur tentang semuanya, dia malah membohongiku. Apa lagi ini perkara anak. Sesuatu yang sangat kutunggu-tunggu dan inginkan.
Namun, aku terus berpura-pura tidak tahu dan terus menuruti ngidam palsunya itu. Kuberharap, suatu hari ia akan berterus terang. Sampai kapan ia akan bertahan dengan kebohongannya? Akan tetapi, ia malah membuat silikon khusus untuk perutnya agar terlihat membuncit layaknya orang hamil. Ukuran silikonnya semakin membesar seiring bertambahnya bulan kehamilan. Segitunya dia menjalankan hamil palsunya.
Lalu apa yang akan kulakukan? Aku masih setia menunggu sampai Salma memberitahu sendiri kebenarannya. Entah kapan itu?
Terima kasih, sudah mampir 🙏🥰
__ADS_1