
🌻🌻🌻
❤️❤️❤️
Senin pagi, mentang-mentang Qia ada yang ngasuh, aku jadi mager. Jam tujuh masih saja berselimut di atas kasur. Hawa Sukabumi pagi ini masih dingin. Sehingga di dalam selimut membuatku tetap hangat.
Semalam gara-gara memikirkan Li terus, aku jadi tidak bisa tidur. Efeknya sekarang masih mengantuk.
“Bobo lagi ah,” gumamku.
Sedangkan Qia pasti sudah jalan-jalan dengan Datuk-neneknya. Semoga saja Mama-papa masih betah di Indonesia, jadi aku bisa bersantai-santai dalam mengurus Qia. He ….
***
“Hoam ….”
Aku menggeliat. Sinar matahari pagi sudah berhenti menerobos jendela kaca kamarku. Itu artinya ini sudah siang karena sinarnya meninggi.
Lamat-lamat terdengar suara ramai dari luar kamar. Mama papa ngobrol sama siapa, sih? Tanpa memikirkan penampilan aku tarik saja handle pintu kamar. Niat hanya akan menengok sedikit, eh malah ketahuan.
“Tuh, Momi baru bangun,” seru Mama kepada Qia.
Sontak aku malu sendiri. Lebih malu lagi ternyata orang yang tengah ngobrol dengan Mama papa adalah Pak Irsyad alias Li Chen. Hah, bagaimana bisa dia tahu alamat rumah kontrakanku?
Mataku membeliak seketika kesadaran berkumpul.
“Pagi Pak Irsyad, He …,” sapaku salah tingkah.
“Siang juga,” balasnya.
Siang? O iya, ini sudah siang rupanya. Kutengok jam dinding sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB.
“Ih, Sal, yang sopan coba kalau ada tamu. Itu kacau begitu penampilan,” tegur Mama.
Aku malah baru ngeuh kalau aku memang baru saja bangun tidur. Oh maygod! Rambut awut-awutan, ilerku, kostum piyamaku, bagaimana ini? Li sudah terlanjur melihat. Kenapa aku malah nongol dan malu-maluin, sih?
Diam-diam Li curi-curi pandang. Ia menangkup mulutnya seperti yang hendak tertawa, tetapi ditahan.
“Maaf, kalau begitu pamit dulu. Mau mandi,” ucapku.
Aku main masuk saja ke kamar mandi dan segera memakai sabun sebanyak mungkin agar wangi. Usai habiskan waktu setengah jam untuk membersihkan diri, aku jadi kebingungan. Bagaimana tidak? Saat masuk kamar mandi tadi, aku tidak membawa handuk dan baju ganti. Aku lupa kalau di rumah kontrakanku ini, kamar mandi hanya ada satu dan letaknya di luar kamar, lebih tepatnya bersebelahan dengan dapur.
Masa aku pakai lagi baju piyama tadi? Nanti bau lagi dong badanku. Terpaksa deh, aku panggil-panggil Mama pelan. Sebab takut ketahuan sang tamu.
“Mah, mah …,” panggilku dari dalam kamar mandi. “Mah,” ulangku.
“Iya, Sal kenapa?” Terdengar suara bariton milik Li yang menyahut.
Haduh, kenapa dia sampai ada di dapur, sih?
“Itu kamu, Pak Irsyad, ya?” tanyaku masih dalam kamar mandi.
“Iya, aku habis cuci tangan. Mau dipanggilkan Mama? Tapi Mama-nya sedang ngelonin Qia di kamar. Memangnya ada apa? Apa perlu bantuan?” tanyanya dari arah luar pintu.
“Oh enggak. Enggak apa-apa, kok. Sebaiknya kamu, ke depan saja. Papa pasti nungguin.”
“Yakin tidak butuh bantuan?”
“Yakin.”
“Ya sudah, aku mau ke depan lagi. Nanti aku sampaikan kepada mama, kalau kamu manggil-manggil.”
“I-iya. Terima kasih.”
Tidak lama kemudian, terdengar ada suara langkah mendekat ke kamar mandi. Apa itu mama?
“Sal ... Irsyad cakap, awak manggil Mama bukan? Ada apa?” rupanya benar mama.
“Mah, tolong ambilkan handuk, dong!”
__ADS_1
“Ampun, Salma. Awak tuh kenapa sampai kacau begini? Tunggu, Mama ambilkan dahulu.”
Entahlah seperti bukan diriku. Mendadak lupa dan salah tingkah setelah tahu siapa yang bertamu. Li bertamu pasti karena ada Papa-mama. Mereka ‘kan memang akrab sedari dulu. Tetapi tahu dari mana ya, alamatku? Apa mungkin mereka masih saling simpan kontak?
Usai mandi dan berpenampilan rapi, tidak lupa memakai jilbab, aku menghampiri Li, Mama dan Papa yang tengah mengobrol di teras.
“Mah, Qia tidur?”
“Iya. Oya, awak tumben betul kenakan jilbab di rumah?” tanya Mama.
“Oh, anu, itu apa? Kita ‘kan memang harus menutup aurat,” ucapku.
“Oh begitu rupanya.”
“Salma, duduklah!” titah papa.
Aku pun duduk ikut nimbrung mereka.
“Li, eh, maksudku Pak Irsya. Tahu rumah kontrakanku dari mana?”
“Dari Teh Lidia. Kemarin, sebetulnya aku balik lagi ke Mesjid. Niatnya mau mengikuti acara penutupan acara yang makan-makan. Tetapi tidak lihat kamu lagi. Kata mereka kamu sudah pulang bersama Teh Lidia. Karena kebetulan, di laporan kepanitiaan, kontak Lidia terdaftar. Jadi, ya aku hubungi dia untuk menanyakan alamat kamu.”
“Kamu tahu juga, kalau aku sudah tidak tinggal di rumah yang dulu?”
“Tahulah. Kan aku sempat ….”
“Sempat apa?”
“Sempat mengecek juga ke sana. He ….”
Li menunduk malu. Sekarnag dia memang tampak menjadi pemalu. Padahal kami sudah berteman dan dekat sejak lama. Mungkin efek karena lama tidak bertemu kali, ya?
“Oh. Kebetulan ada Mama papa juga.”
“Iya.”
“Panggil saja Irsyad atau Li, jangan pake 'Pak'. Oya, aku turut prihatin soal perceraianmu.”
Kok, turut prihatin sih? Padahal aku menyampaikannya dengan senang hati. Ah, dia tidak peka sekali.
“Apa Sal? Yang awak cakap barusan. Jadi awak beli Resto café, tapi si Hans ambil alih demi awak bisa cerai?” Mama memastikan.
Aduh kenapa aku sampai bisa lupa? Kalau Mama papa memang belum aku kasih tahu perihal Resto café itu.
“Apa Resto café yang tempo hari awak tengok?” timpal Papa.
“Iya, Pah.”
“Ekhm, katanya punya teman,” sindir papa.
“Maaf, Pah.”
“Sudahlah, toh semua itu sudah lewat.”
“Iya. Teriam kasih Pah. Oya Li, ngomong-ngomong, kamu bisa jadi mualaf, bagaimana ceritanya?” tanyaku sangat penasaran.
Li pun bercerita tentang pengalaman religinya tersebut. Sewaktu menuju bandara, untuk terbang ke Beijing dan menikah serta menetap di sana. Li mengalami kecelakaan hebat. Nyawa sudah sangat terasa diujung kuku.
Dalam sekaratnya tiba-tiba ia mendengar seruan azan dari sebuah mesjid yang entah mesjid mana. Seruan azan itu terasa seakan memanggilnya. Bertekadlah dalam hati, jika Tuhan memberinya hidup satu kali lagi, maka akan memperlajari agama islam itu sendiri.
Li mengalami kecelakaan cukup parah. Dia juga koma sampai satu bulan. Sungguh keajaiban luar biasa jika sampai detik ini ia masih bisa bernapas. Kesempatan hidup benar-benar ia manfaatkan sesuai tekad. Setelah mempelajari bahwa Tuhan itu satu dalam surat Al ikhlas, hidayah datang. Alhamdulillah Li Chen tidak menyia-nyiakannya. Dia istiqomah menjalani semua dan konsisten.
“Alhamdulillah ya, Allah, akhirnya kita satu keyakinan,” ucapku penuh syukur.
“Sebenarnya, kedatanganku ke sini, ada maksud yang ingin disampaikan,” aku Li.
“Maksud apa, Li?” tanya papa.
“Iya, maksud apa?” timpalku tak sabar.
__ADS_1
Aduh, jantungku tolong! Kenapa jedag jedug begini?
“Ehmm … aku bermaksud ….”
Allahu akbar .. Allahu akbar … terdengar suara azan berkumandang. Menandakan waktu dzuhur telah tiba.
“Azan tuh!” kata Papa.
“Iya. Sebaiknya kita dengarkan azan dahulu,” ucap Li seraya menunduk penuh kekhusuan.
Aish … azan cepat lah! Jangn lama-lama, pliss … aku tak sabar dengan apa yang akan dikatakan Li.
Laa ilaaha illallaah.
Akhirnya azan selesai juga.
“Kalau begitu, kita ke mesjid, yuk! Kebetulan mesjidnya dekat dari sini,” ajak papa.
“Pah, tunggu dulu sebentar. Biarkan Li selesaikan dulu omongannya yang tadi,” pintaku.
“Nantilah, kita sembahyang dahulu, Sal,” tolak papa.
“Ih, Papa ….” Nadaku kesal.
“Pah, aku bermaksud mau melamar Salma,” cetus Li tanpa aba-aba.
“Melamar?” ulang mama.
“Iya, Mah, Pah. Apa boleh aku menikahi Salma?” tanya Li.
“Ekhm … kalau soal ini … sebaiknya kita tanya langsung saja kepada Sal-”
“Mau-mau. Salma mau Pah, Mah,” jawabku mantap tanpa menunggu ucapan papa selesai.
“Awak ini, ditanya juga belum. Sudah bilang mau-mau saja.”
“Eh …” Aku jadi malu dan merapatkan kedua bibir sambil menunduk memainkan ujung kuku.
“Jadi benar kamu mau menikah dengan Li?” mama meyakinkan.
Kali ini aku mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Alhamdulillah, akhirnya …,” ucap Li penuh syukur.
“Alhamdulillah, akhirnya Li jadi mantu kita juga, ya, Mah?”
“Iya, Pah.”
Raut kebahagiaan terpancar dari kedua orang tuaku.
“Oya, tapi sekarang aku sudah punya Qia. Bagaimana?”
“Baguslah, berarti aku dapat bonus,” jawab Li enteng.
“Kamu benar tidak keberatan dan akan terima Qia?”
“Insya allah. Qia akan aku anggap sebagai anak sendiri. Kemarin juga bahkan sudah akrab denganku. Dia tidak rewel ‘kan main bersamaku?”
“Syukurlah, kalau begitu. Aku lega.”
“Kalau begitu, lebih baik sekarang kita solat dulu. Nanti habis solat kita makan siang, sekaligus membicarakan hal ini lebih lanjut,” saran papa.
Papa dan calon suamiku, eh maksudnya Li, mereka berdua pergi ke mesjid dekat rumah. Sedangkan aku dan mama solat di rumah. Solat dzuhurku kali ini begitu khusu dan tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur. Semoga aku dan Li dipermudah serta dilancarkan dalam melaksanakan rencana pernikahan nanti. Aamiin.
Senyum terus mengembang dari bibirku. Serasa musim semi tiba, bunga-bunga bermekaran di taman hati. Wanginya memabukkan rasa yang disebut kasmaran.
Hohohoho .... 🌻🌻🌻
Yuk Follow IG othor--> dinarala2022
__ADS_1