Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Terbongkar


__ADS_3

❤️❤️❤️


“Apa?” Mama-papa kompak menganga.


Kenapa Li sampai bisa tahu bahwa aku tidak hamil? Kenapa dia tidak menanyakannya terlebih dahulu kepadaku untuk konfirmasi? Kenapa harus langsung mengatakannya kepada papa-mama? Tidak biasanya, dia tidak pengertian seperti ini.


Setelah menyatakan perasaannya dan setelah membuka rahasiaku begitu saja, aku seperti tidak mengenalnya sebagai sosok Li yang selama ini.


“Iya, Pah-Mah, Salma tidak hamil,” ulang Li Chen.


Aish, betapa lancangnya dia. Benar-benar membuatku tersudut.


“Salma, katakan apa yang Li cakap tuh betul?” tanya Papa.


Aku hanya terdiam. Bingung harus bagaimana?


“Jujurlah, Sal! Bagaimana pun, mereka itu orang tuamu,” desak Li.


Kuhempaskan tangannya yang masih meraih tangan ini. “Ya. Salma memang tidak hamil,” tandasku pada akhirnnya.


Jangan tanya bagaimana rasanya aku ingin marah kepada si Li Chen! Jangan harap semuanya akan tetap sama.


“Oh mygod, tengok Mah, anak kita! Sampai berani menipu.” Papa berujar seraya memegang dadanya yang tiba-tiba nyeri.


“Pah, maafkan Salma, sungguh,” sesalku.


Mama memapah papa agar duduk kembali di sofa. Aku sungguh tidak mengira reaksi papa bisa sampai kesakitan seperti itu. Apa dibohongi anak sangat menyedihkan? Tolong mengertilah posisi anakmu, Pah, Mah ….


“Salma, kasih alasan! Kenapa awak tega tipu kita?” 


“Mah, maafkan Salma.” Air asin mulai menggenang di sudut mata. 


Aku pun menceritakan kenapa sampai berbohong. Awalnya, aku hanya berniat membohongi Hans. Agar dia meninggalkan gundiknya yang tengah hamil. Aku hanya ingin membalas segala rasa sakit yang mereka tusukkan.


“Artinya firasat kita betul, Pah. Anak kita disakiti si Hans,” ucap mama sambil terisak.


“Salma, bercerailah!” titah papa dengan masih memegang dadanya.


“Pah, Salma masih ingin bersama Hans. Dia sudah berubah. Papa-mama bisa lihat sendiri ‘kan bagaimana perlakuannya? Dia gigih bekerja, dia juga sabar dalam menghadapi kerewelan Salma.”


Aku mencoba membela dan meyakinkan, meski kutahu mungkin sia-sia. Ketidaksukaan mereka akan bertambah besar kepada Hans.


“Bukankah dia begitu cuma demi anak dalam kandungan awak? Coba kalau tahu kebenarannya, mungkin awak sudah ditinggal.”


Aku terdiam lagi. Apa yang dikatakan mama memang benar. Hans berubah setelah mendengarku hamil. Dia sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Aku sendiri tidak pernah mau membayangkan seandainya kebohongan ini terungkap.


Namun, setelah menerima perlakuan manisnnya, aku tak rela berpisah darinya. Semakin kupungkiri perasaan ini, justru rasanya semakin menjelma. Sukar untuk dihindari.


“Sal, kami semua sayang padamu. Kami tidak ingin melihatmu terluka.” Li ikut bicara.


“Diam, Li! Kamu jangan ikut campur urusan pribadiku. Ini bukan ranahmu!” balasku sengit.


“Sal, apa tidak akan pernah ada kesempatan untukku bersamamu lebih dari sekadar teman atau rekan kerja?”


“Apa masih kurang jelas? Haruskah kujabarkan agar kamu paham?”

__ADS_1


“Kamu akan selalu lebih memilih Hans?”


“Ya. Hans akan selalu menjadi pilihanku. Lagian sekarang dia sudah berubah. Tolong jangan usik kebahagiaan kami. Jangan lupa, aku pun sudah resmi mengundurkan diri. Sebaiknya jangan kamu cari-cari alasan agar bisa bertemu denganku lagi,” terangku panjang dan lantang.


“Maaf, kalau aku sudah membuatmu tak nyaman. Tapi, bisakah kita masih berteman seperti biasa? Aku janji tidak akan membebanimu atas perasaanku.”


“Apa kamu belum menyadarinya juga? Kini semuanya tidak lagi sama.”


“Apa kamu yakin bahagia bersama Hans?”


“Tentu saja. Kurasa setiap orang pernah khilaf, termasuk Hans. Yang terpenting sekarang dia sudah berusaha memperbaiki semuanya. Kenapa tidak, jika kuberikan kesempatan kedua?”


“Semoga Hans benar-benar sadar dan tidak akan mengulanginya lagi.”


“Ya, baiknya kamu doakan saja,” ketusku.


“Salma,  tengok Papa! Pah … awak kenapa?” teriak mama histeris saat melihat kondisi papa yang semakin meringis menahan sakit.


“Pah, Papa kenapa?” tanyaku panik.


“Allahu akbar,” seru papa seraya terus memegangi dadanya dan semakin merunduk kesakitan. Napasnya terengah, memburu oksigen yang tampak semakin menjauh. 


“Mari kita bawa Papa ke Rumah Sakit saja,” usul Li.


Dengan sigap ia memapah papa menuju mobil. Untung saja ada Rumah sakit swasta yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Sesampainya, papa langsung dilarikan ke ruang IGD dan diberikan tindakan oleh tim medis.


Aku, mama, juga Li menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga papa tidak kenapa-kenapa. Dalam hati terus berdoa tanpa henti sambil terus menenangkan mama. 


“Semua akan baik-baik saja, Mah,” ucapku seraya memeluknya.


Tidak lama kemudian, dokter yang menangani papa memanggil keluarga pasien. Syukurlah, saat kami menghampiri, papa sudah terlihat stabil dengan bantuan masker oksigen. Mama langsung menanyakan sebenarnya apa yangn terjadi kepada suami tercintanya?


Keluhan yang dialami selain sesak napas, yaitu, sakit kepala, mual muntah, sakit perut, gangguan tidur, gemetar, berdebar dan nyeri dada.


Bila keluhan ini dirasakan lagi oleh papa secara berulang, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis jiwa. Tindakan sementara yang harus papa lakukan yaitu, atasi stress, istirahat cukup, hindari kelelahan, minum air yang cukup, makan yang bergizi, berpikiran positif serta lakukan meditasi atau olah raga yoga dengan istruktur terpercaya.


Untunglah papa juga tidak sampai harus dirawat inap. Setelah keadaannya benar-benar membaik, kami pun bisa meninggalkan rumah sakit.


***


“Assalamualaikum,” salam Hans yang baru pulang kerja.


“Waalaikum salam,” jawabku.


“Yang, kamu kenapa? Ada apa? Terlihat tegang banget.” Hans langsung bisa menangkap riak wajahku yang gelisah dan gugup.


“Tak apa.”


“Mama-papa mana? Jadi enggak jalan-jalannya tadi?”


“Ada di ruang Tv. Papa sedang kurang sehat.”


“Papa sakit? Sakit apa?”


Aku tak menjawab. Hanya mengekor suamiku masuk ke ruang Tv menghampiri papa-mama.

__ADS_1


“Pah, kata Salma sakit? Sakit apa?” tanya Hans sambil meraih punggung tangan papa.


Bugh! Papa langsung melayangkan sebuah tinju ke wajah Hans.


“Astaghfirullah, ada apa ini, Pah?” tanyanya terkejut sambil memegangi pipi yang kena pukulan.


“Brengsek awak!” hardik papa.


“Pah, sabar! Tahan Pah! Ingat apa kata dokter tadi.” Mama mengingatkan.


“Pah, tolong, Pah! Semua bisa dibicarakan secara baik-baik,” pintaku.


“Yang, ini ada apa?”


“Papa tahu kalau kamu selingkuh dengan pembantu,” terangku.


Hans menangkup wajahnya, kemudian menyugar rambut. Lalu bersimpuh di kaki papa. “Maafkan saya, Pah. Saya sungguh sangat menyesal,” ucapnya seraya tertunduk.


“Kenapa awak tega sakiti istri sebaik Salma? Apa kurangnya dia, hah?” 


“Saya khilaf, saya mengaku salah. Saya berusaha untuk memperbaikinya.”


“Ceraikanlah Salma!” titah papa lantang.


“Cerai? Pah, saya mohon jangan pisahkan kami. Papa boleh memukul saya lagi sepuas hati, boleh memaki apa pun, tapi mohon jangan meminta saya menceraikan Salma.”


“Awak tidak akan bisa memberinya kesenangan. Awak cuma buat dia menderita.”


“Pah, sampai kapan pun saya tidak akan menceraikannya.”


“Apa awak yakin?”


“Tentu saja, Pah. Mohon jangan pisahkan kami. Sebentar lagi kami akan memiliki anak, saya tidak ingin, anak itu lahir dalam keadaan broken home. Izinkan kami untuk membesarkannya bersama. Bagaimana pun anak ini cucu Papa juga. Papa mau ‘kan anak ini tumbuh dengan baik?” Hans terus memohon.


“Heh, anak?”


“Iya, Pah.”


“Apa demi anak dalam kandungan Salma, awak akan rela melakukan apa pun?”


“Tentu saja, Pah.”


Mama dan aku hanya diam menyimak dua lelaki yang tengah berbicara tegang.


“Jadi, kalau anak itu tidak ada, awak bersedia berpisah dari Salma?” Nada papa penuh penekanan.


“Maksud, Papa?” dahi Hans mengkerut.


Deg, deg, deg … debaran ini semakin menggila. Panik dan takut mendominasi. Meski sudah pasrah dengan kebohonganku yang dalam hitungan detik akan terungkap.


“Salma sebenarnya tidak hamil. Tengoklah perutnya!” ucap papa puas.


Hans menoleh, kedua netranya tertuju kepada perutku yang tiba-tiba kempis dan baru disadarinya.


Hey, hey, kira-kira Hans akan bereaksi seperti apa, ya? Setelah papa Salma memberi tahu kebenarannya.

__ADS_1


   


  


__ADS_2