
❤️❤️❤️
Kreett … daun pintu terbuka.
“Meti?”
“Hai, Mbak,” sapanya genit.
“Suamimu tidak ada di sini,” ketusku.
“Siapa bilang aku mau bertemu Hans? Aku mau bertemu kamu, Mbak.”
“Aku tidak punya urusan denganmu.”
“Jangan judes-judes dong, Mbak!”
Tanpa permisi kuraih handle pintu untuk menutupnya. Akan tetapi, tangan Meti tak kalah cepat menariknya lagi.
“Lepaskan! Pergi dari rumahku. Atau mau aku panggilkan Pak RT?”
“Santuy, Mbak. Ingat anak dalam kandungan, enggak boleh marah-marah, ya!”
Meti merangsek masuk ke dalam rumah. Kini dengan santainya dia duduk di kursi tamu.
“Mau apa kamu sebenarnya?”
“Nah, bukannya bertanya dari tadi. Aku ke sini mau memperlihatkan sesuatu. Silahkan!”
Meti mengulurkan selembar kertas yang ternyata isinya adalah perjanjian antara dia dan Hans.
“Perjanjian ini tidak syah! Resto cafe itu milikku.” Aku berujar seraya merobek surat tersebut.
“Hahaha … kamu ini bodoh atau gimana, Salma? Masih sama saja seperti dulu.”
“Keluar sekarang juga dari rumahku!”
“Sabar … aku belum selesai. Percuma kamu sobek kertas itu. Itu hanya salinannya saja. Yang asli aku simpan dengan aman.”
“Bisa-bisanya lelaki brengsek itu menjadikan cafe sebagai jaminan,” gumamku.
“Hahaha … jadi kesimpulannya, jika Mbak tetap bersama Hans, dan Hans menceraikanku, Resto café kalian jatuh ke tanganku. Tak apa aku dicerai, toh tak rugi. Jika tidak ingin café-nya jatuh ke tanganku, berarti Mbak harus rela dimadu. Tentunya rela dibagi.”
“Aku tak sudi hidup lagi bersama dia. Silahkan kamu pungut saja! Aku membuangnya. Aku juga tidak akan membiarkan café itu jatuh ke tangan kalian. Aku akan mengambil alih cafeku,” ucapku berapi.
“Lucu ... lucu! Bagaimana caramu ambil alih? Bukankah resto café itu dibeli atas nama Hans?” tanya Meti sambil menumpangkan kakinya.
Spontan aku menepuk kepala. Kenapa sampai bisa lupa dan terlewatkan? Waktu itu, aku memang lagi ngidam dan tidak mau keluar rumah. Karena rasa mual muntahku tidak memungkinkan. Jadi Hans yang mengurus semuanya dan untuk sementara waktu di akad jual-beli pun namanya yang digunakan. Dia berjanji akan membalik atas namakan secepatnya. Sebab rumah tangga kami yang terasa adem ayem dan aku meyakini Hans tidak akan berkhianat lagi, sampai terlupa lah perihal urusan ganti nama tersebut.
“Astaghfirullah ….” Kepalaku terasa kleyengan.
__ADS_1
“Mbak, tarik napas, Mbak! Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa selagi ada aku di sini. Ntar dikira aku ngapa-ngapain lagi. Ayo, Mbak duduk dulu,” saran Meti.
Aku pun duduk karena memang perut terasa sakit dan dada terasa sesak.
“Lalu aku harus bagaimana, Meti?”
“Nah, ini baru pertanyaan cerdas. Aku suka! Inti dari aku datang ke sini sebenarnya untuk membantu Mbak. Aku bisa bantu Mbak bercerai dengan Hans.”
“Apa kamu sedang tidak menipuku?”
“Ya tidaklah, Mbak. Bukankah, jika Mbak cerai dengan suamiku, aku sangat diuntungkan?”
Perempuan ini sungguh tidak tahu diri, kini dia terang-terangan bilang ‘suamiku’. Tetapi, jika tawarannya benar, mungkin keadaannya akan sedikit lebih baik.
“Terus?”
“Aku tahu, Mbak tidak akan mau hidup bersama dengan lelaki yang sudah dua kali khianati Mbak. Mbak sangat ingin cerai dengan suamiku. Baiklah, aku akan membantumu.” Meti membuka resleting tasnya dan mengeluarkan beberapa foto. “Nih!” lanjutnya.
Ternyata yang dibawa adalah foto-foto pernikahan sirinya dan dia juga memberiku sebuah video yang bisa memberatkan Hans. Sebuah video mesra mereka sebelum pernikahan siri terjadi. Dalam video itu, kata-kata Hans terdengar jelas. Bahwa ia sangat menginginkan Meti dan bisa mengatur semuanya agar aku tidak tahu.
“Kenapa kamu bisa membuat video seperti ini?”
“Aku adalah Meti yang cerdas. Hal-hal seperti ini sudah kuprediksi jauh-jauh hari. Jadi tentu harus kusiapkan untuk antisipasi.”
“Ok, aku terima bantuanmu. Sekarang kamu boleh pergi,” usirku melunak.
“Hei, aku ini membantumu. Masih saja ngusir. Ya, sudah, aku juga mau pergi. Tapi, ingat, Hans jangan sampai tahu kalau aku yang membantumu.”
Meti pun berlalu dengan roda empatnya. Jika kamu bisa licik, maka aku pun bisa. Aku tahu kenapa kamu tidak ingin Hans tahu, jelaslah karena kamu akan kena amuknya. Sudah pasti nanti bukti ini akan kusampaikan sesuai fakta, bahwa kamu yang dengan senang hati memberinya. Heh!
Aku gegas mengecek rekaman cctv yang menunjukkan Meti bertamu. Kuambil rekaman itu sebagai pendukung kalau dia benar-benar datang ke rumahku menawarkan bantuan. Tidak apa, harta sudah jelas jatuh ke tangan mereka, tetapi setidaknya aku bisa terlepas ikatan dari lelaki egois seperti Hans.
***
Sidang selanjutnya digelar kembali. Kali ini aku merasa bersemangat dengan adanya bukti baru. Hans yang awalnya terus memamerkan senyum tiba-tiba matanya membeliak saat bukti-bukti baru yang sungguh tidak ia duga dibeberkan.
Wajah Hans merah padam. Percuma sekarang dia mau menyangkal bagaimana pun. Hakim menganggap dia telah mengelabui pengadilan karena selama sidang terus-terusan menyangkal perselingkuhan tersebut.
Akhirnya keputusan pun diketuk palu. Gugatan ceraiku dikabulkan oleh pihak pengadilan.
Kudengar beberapa kata makian dan umpatan keluar dari mulutnya untuk Meti.
***
Dengan murka Hans mengemasi barang-barangnya dari rumahku.
“Ingat Salma, sebentar lagi kamu akan melahirkan. Aku akan lihat, wanita sombong sepertimu apa bisa tanpa aku?”
“Tidak usah banyak bicara, Mas! Pergi saja sana.”
__ADS_1
“Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu itu sudah tidak memiliki uang. Tabunganmu sudah habis ‘kan untuk biaya pengacara? Jangan harap aku akan menafkahimu lagi, walau sepeser pun.”
“Tak apa, Mas. Asal aku sudah lepas dari lelaki laknat sepertimu. Bisa-bisanya kamu membuat surat perjanjian dengan si ****** dan menjaminkan café milikku. Aku muak sama kamu, Hans!” pekikku.
“Andai saja kalau kamu mau bersabar, kamu tidak akan hidup susah setelah ini. Memang apa masalahnya sih, jika lelaki kawin lagi? Ribet banget jadi perempuan.”
“Pergi kamu! Pergi!” teriakku.
Melihat aku yang hampir luruh ke lantai sambil memegang perut, Hans jadi panik.
“Sal, apa kamu akan melahirkan? Ayok, kita ke rumah sakit,” ajaknya.
Ternyata dia masih peduli denganku, lebih tepatnya mungkin peduli dengan anaknya. Tanpa persetujuan, ia membopongku ke mobil yang terparkir di carport. Aku pun pasrah tidak melawan. Rasa mulas yang bertubi mengalahkan segalanya.
Sesampai di rumah sakit, benar saja, kata dokter aku mau melahirkan. Hans terus menemani, tidak jauh sedikit pun. Meski aku terus mengabaikan keberadaannya.
“Yang kuat, kamu pasti bisa. Semangat! Ayok, ini semua demi anak kita,” serunya tak henti-henti.
Beberapa jam kemudian.
Proses lahiran normal dimulai. Asisten dokter mengecek kalau pembukaanku katanya sudah lengkap. Peluh keringat sudah membanjiri tubuh ini.
“Terus, Bu! Tarik napas! Dorong! Ya, ya sedikit lagi, Bu. Ayo, ayok, terus ….” Dokter memberi komando.
Saat kulirik sekilas, wajah Hans tampak begitu tegang. Ada buliran air mata di pipinya. Tangannya terus mengelus pucuk kepalaku dan sesekali melap keringat yang tumpah ruah.
“Argh ….” Sekuat tenaga kuberusaha untuk mengeluarkan si jabang bayi agar tidak ketarik lagi ke dalam.
“Ayo, bagus! Siap, siap, satu, dua …,” seru dokter kandungan.
Oa, oa, oa, akhirnya terdengar tangisan bayiku. Seketika dada terasa plong. Kulirik Hans yang meringis, meski bibirnya sedang tersenyum lebar. Dasar aneh ekpresinya, sebenarnya dia senang tidak, sih atas kelahiran anak kami?
“Alhamdulillah, normal. Bayinya perempuan,” terang salah satu sisten dokter.
Dia pun memperlihatkan bayi mungil kami dan menengkurapkannya di dadaku untuk melakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Hal ini dilakukan segera setelah dilahirkan. Bayi dibiarkan mencari ****** ibunya sendiri. IMD akan sangat membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI eksklusif dan lama menyusui.
Namun, saat tangan ini sedikit kuangkat untuk mendekap sang bayi, tiba-tiba mata menangkap banyaknya rambut di tangan kananku.
“Ini rambut siapa yang rontok?”
“Itu rambutku, Yang,” jawab Hans lemes.
Ternyata benar saja saat kulirik, sebelah kepalanya sedikit pitak.
“Tak apa, Pak, ikut berkorban juga. Rasanya melahirkan jauh lebih sakit ketimbang rambut dijambak,” ujar dokter seraya tersenyum.
Sementara asistennya hanya bisa menangkup mulut menahan tawa. Sungguh aku baru menyadari semua ini. Pantasan dia meringis. Padahal terakhir kali kuingat, tanganku hanya mencengkram erat bahunya. Eh, tahu-tahu nih tangan naik ke kepala.
😂😂😂
__ADS_1
tinggalkan jejak like dan komen ya. terima kasih.
Yuk saling follow IG othor 👉 dinarala2022