Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Lelang


__ADS_3

❤️❤️❤️


Part-33


Kulelang semua tas-tas branded koleksiku via onlen. Sebaiknya aku memang jangan bergantung kepada jatah uang bulanan yang Hans kirim. Kurelakan saja resto cafe yang memang sudah tidak dapat kumiliki. Aku mengaku kalah oleh perempuan licik itu.


Namun yang terpenting untuk saat ini adalah bagaimana caranya agar aku bisa menghasilkan uang kembali?


“Ayok Salma gunakan otakmu! Bukankah kamu cerdas dalam hasilkan uang?” Aku bicara sendiri.


Berusaha mencairkan otak yang membeku karena pengkhianatan. Jujur rasa sakit yang ditorehkan Hans menguras segalanya. Aku benar-benar telah jatuh cinta kepada lelaki yang salah. Meski cinta itu kini sudah tak bersisa.


Kutatap bayi mungilku. Satu-satunya hal yang kusyukuri atas pernikahan kandas itu. Bayiku yang selalu menjadikan kuat dan semangat hidup tetap menyala.


Alhamdulillah, tas-tasku laku terjual. Tentu saja karena selain ori, harga yang kutawarkan lumayan jauh dari harga aslinya. Sebenarnya sayang juga, tapi saat ini aku memang lagi membutuhkan uang. Sebagian besar dari hasil penjualan aku simpan untuk tabungan.


***


Aku memutuskan bergabung di sebuah situs freelance. Aku membuka jasa sesuai pengalaman kerjaku sebagai Konsultan Bisnis di bidang property. Bulan pertama hanya satu dua orang yang berlanngganan. Itu sudah cukup bagiku. Karena berkat saran-saran serta arahan dariku, klien mengaku berhasil dalam bisnisnya.


Bulan ke-dua, ke-tiga, pelangganku semakin bertambah. Pundi-pundi mulai mengalir sampai aku bisa membeli sebuah mobil. Walau hanya mobil dengan harga seratus lima puluhan juta saja. Aku membutuhkan roda empat tersebut untuk bepergian bersama Qia.


Seperti pagi ini aku sudah berkemas rapi segala kebutuhan anakku. Qia sudah siap duduk di kursi mobil dengan tali pengaman yang sudah disesuaikan untuknya. Kami akan pergi ke sebuah tempat wisata terdekat yang rimbun pepohonan.


“Hai, dasar lacur!” suara wanita licik itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku.


“Jaga mulutmu!” geramku.


Dia langsung melemparku dengan sebuah kemasan kotak alat kontrasepsi berwarna merah muda.


“Jangan so' suci, munafik! Aku temukan itu di tasnya Hans. Pasti dia melakukannya denganmu ‘kan?” tudingnya tidak berakhlak.


“Ngaco kamu!” timpalku.


“Alah, hayo ngaku! Aku dan Hans sudah lama tidak memakai alat kontrasepsi. Kami sudah memutuskan akan memberikan adek buat Daffa. Jadi sudah pasti dengan kamu melakukannya. Dasar lacur!”


“Heh! Rupanya kamu mulai menuai karma. Dulu lelaki itu melakukannya bersamamu, sekarang lihatlah suamimu melakukannya bersama wanita lain. Hahaha ….” Aku tergelak begitu saja.


Ternyata tawaku memancing emosi Meti tak terkendali. Ia menarik rambutku yang terikat ke belekang hingga aku terjengkang dan tersungkur ke rumput.


“Rasakan itu!” puasnya.


“Aw!” ringisku. “Kamu melewati kesabaranku ******!”


Aku bangkit dan tanpa ampun menyerang balik bak banteng ngamuk. Bugh! Satu bogem mentah mendarat mulus di pipinya hingga tampak kebiruan. Kuacak-acak rambutnya sampai penampakan sepereti orang tidak waras. Merasa belum cukup, kutarik-tarik dress yang dipakainya hingga sobek.


“Salma stop! Stop!” teriak Meti.


“Enak saja kamu menudingku sembarangan. Nih, buat mulut pedesmu!” Kujejali dia dengan rerumputan yang kebetulan belum dipotong.


“Sial, kamu anggap aku ini kambing apa!"


“Bahkan kambing jauh lebih baik dari wanita sepertimu.”


Kurapihkan baju dan rambutku di depan kaca mobil. Sementara Meti masih duduk kesakitan di atas rumput.


“Itu buktinya kamu bisa beli mobil. Pasti uangnya dari suamiku ‘kan?” tudingnya lagi.


“Ish,” desisku sebal.

__ADS_1


Aku segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya cepat. Aku tidak mau anakku menunggu lebih lama gara-gara terus meladeni perempuan stress tersebut.


“Hei, jangan kabur! Urusan kita belum selesai. Awas akan kuberi perhitungan,” teriaknya.


Kuabaikan dan terus melaju.


***


Ternyata yang dimaksud perhitungan yang diberikan si Meti adalah berhenti memberi jatah bulanan kepada anakku yang sejumlah satu juta. Dia pikir, aku bakal kesusahan apa dengan uang yang tidak seberapa itu. Biarkan sajalah. Aku malas menanggapi.


“Permisi Mbak,” ucap seseorang menghampiriku yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.


“Maaf mau ke siapa ya?” tanyaku heran kepada lelaki berkemeja dan bersetelan rapi.


“Saya dari pihak Bank Semesta,” terangnya sambil memperlihatkan idcard.


“Ada perlu apa, ya?”


“Sebelumnya saya meminta maaf, Mbak. Saya mau memeberitahu kalau rumah ini akan segera disita. Ini surat pemberitahuannya.”


Aku lekas membaca surat dalam amplop tersebut. Benar saja pihak Bank menyatakan kalau rumah ini akan di sita karena sudah dijaminkan dan tunggakan tidak dibayar-bayar.


“Lho, kok bisa? Apa Pak Hans tidak mengangsurnya lagi?”


“Iya, Mbak. Kami juga sudah memberi tiga kali peringatan. Akan tetapi diabaikan. Jadi kami terpaksa mengambil kepetusuan terakhir sebagaimana aturan yang berlaku.”


“Ya ampun ….” Aku memijat pelipis.


Setelah pihak Bank menyampaikan maksudnya. Aku harus secepatnya berkemas untuk mengosongkan rumahku ini. Rumah ini memang dijaminkan ke Bank sewaktu mau membeli Café. Karena uang yang kupunya saat itu masih kurang. Tidak kusangka kalau pada akhirnya Hans tidak bertanggung jawab seperti ini.


Ting … notifikasi masuk ke ponselku.


Dasar lelaki brengsek! Sekarang aku sudah kehilangan segalanya. Padahal rumah ini adalah satu-satunya asset yang kumiliki. Tahu-tahu begini, kemarin aku tidak akan membeli mobil.


Ya Tuhan, kenapa kamu terus mengujiku? Tidak senangkah Kau melihatku tenang? Aku ini bukan hambamu yang salehah. Lalu kenapa Kau terus mengujiku? Bagaimana kalau aku berpaling dariMu? Kenapa Kau belum memperlihatkan balasan apa-apa kepada wanita ****** itu? Apa aku harus membalas dendam dengan caraku?


Kutarik napas panjang nan berat. Beranjak untuk mencari sebuah rumah kontrakan. Untunglah tidak terlalu jauh, aku sudah mendapatkan dengan mudah rumah kontrakannya. Meski kecil, cukup nyaman untukku tinggal sementara waktu dengan Qia.


***


“Mbak, penghuni baru, ya?” tanya seseorang berhijab lebar dengan ramah. Dia adalah tetangga sebelah.


“Iya.”


“Perkenalkan saya Lidia. Panggil saja saya Teteh. Oya nama Mbak siapa?”


“Saya Salma.”


“Oh. Subhanallah, anaknya berapa bulan Mbak? Lucu banget.”


“Baru Sembilan bulan,” jawabku seperlunya.


Jujur aku tidak suka sama orang yang so akrab begitu. Aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa rumpi-rumpi dengan tetangga. Jadi kalau ada tetangga yang datang ke rumah dan sapa-sapa, berasa gimana gitu.


Walau aku selalu menjawab seperlunya dan bersikap acuh, Lidia tetap saja getol menghampiri. Katanya anakku sangat lucu dan dia suka. Ternyata dia belum dikaruniai anak setelah tiga tahun pernikahannya. Ada rasa kasihan terhadapnya sebagai sesama wanita.


Lama-lama aku pun mulai terbuka dan sedikit demi sedikit bergaul dengannya.


Lidia menurutku seseorang yang menyenangkan. Orangnya simple, apa adanya dan tidak kepo. Dia juga sangat lembut sehingga membuat Qia betah bersamanya. Aku jadi sering titip kalau mau mandi atau melakukan aktifitas yang tidak memungkinkan sambil ngasuh Qia. Diusianya sekarang Qia memang sedang aktif-aktifnya. Apa pun yang tergapai, ia akan menariknya. Ia juga sudah bisa merangkak sampai setiap sudut rumah kontrakan dijelajahinya.

__ADS_1


***


“Teh, suaminya kok jarang kelihatan? Kerja diluar kota, ya?” tanyaku pada suatu hari saat main ke rumah Lidia bersama Qia.


“Tidak. Suami sedang di istri mudanya,” jawabnya enteng. Justru aku yang shock saat mendengar.


“Maaf, Teh. Saya tidak bermaksud ….”


“Tidak apa, kok.”


“Jadi Teteh dimadu?”


“Iya. Karena Saya mandul.”


“Tapi bukan berarti suami bisa nikah lagi seenaknya, dong,” ucapku jadi berapi.


“Alasannya menikah lagi ingin memiliki keturunan. Jadi ya, saya belajar ikhlas.”


“Memangnya Teteh tidak sakit hati apa?”


“Ya sebagai wanita biasa, pasti rasa sakit ada. Tetapi, semua ini mengantarkan saya kepada sebuah hikmah yang luar biasa. Saya merasa kini bisa lebih dekat dengan Rabb, bisa lebih banyak habiskan waktu malam-malam bersama-Nya.”


Aku hanya melongo mendengar penuturannya yang diiringi senyuman. Beruntungnya aku memiliki tetangga shaleha seperti Lidia. Penampilannya juga memang mencerminkan perangainya yang lembut dan sabar. Jauh sekali dari pribadiku yang sering lupa syukur. Semakin kagum saja aku kepadanya.


“Oya Teh, setiap hari minggu suka kemana? Aku main sama Qia tidak ada,.” Aku alihkan topik.


“Oh hari minggu, saya suka ke Masjid Raya. Ada acara pengajian rutin dan ada kegiatan lainnya. Seperti bagi-bagi nasi kotak atau berkunjung ke Panti Asuhan. Sesekali coba ikut deh, acaranya seru lho,” ajak Lidia semangat.


“Iya mau deh. Ntar coba ikut. Sekalian ajak Qia jalan-jalan. He ….”


“Nah, begitu dong.”


“Oya, itu bagi-bagi nasi kotak uangnya dari mana? Apa kita harus berdonasi?”


“Kebetulan kami ada donatur tetap. Namanya Pak Irsyad. Jadi beliaulah yang selalu menghandle semua.”


“Wah, baik sekali ya?”


“Iya. Sayang sekali belum menikah. Padahal banyak sekali gadis yang menunggu dan berharap dipinang. Entahlah, mungkin belum ada jodohnya.”


“Beliaunya pilih-pilih mungkin.”


“Mungkin. Wallahualam … siapa tahu berjodoh menjadi papa-nya Qia," guyon Lidia.


“Ah, Teteh apaan sih? Kenal juga enggak. Ada-ada saja.”


“Ya siapa tahu. Jodoh mana ada yang tahu ‘kan?”


“Iya. Tetap saja tidak mungkin. Gadis saja dianggurin, apa lagi janda.”


“Mungkin saja, ya, Qia, ya?” tanyanya iseng.


Tidak disangka Qia merespon lincah sampai mengeluarkan suara jerit-jerit dan tertawa. Kakinya dihentakkan-hentak sambil tepuk tangan. Membuat kami ikut tertawa melihat aksi centilnya.


Penasaran tidak dengan sosok Irsyad?? 🤭😍


tinggalkan jejak dong, agar othor semangat nulisnya.


yuk saling follow IG --> dinarala2022

__ADS_1


__ADS_2