Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

KB-17


"Ayo, Sal. Mana kunci mobilnya?"


"Memang, kamu sudah lancar nyetir mobilnya?"


"Sudah. Kamu tenang saja!"


"Tapi aku benar-benar enggak perlu ke dokter."


"Aku mau lihat anak kita di layar monitor USG."


"Nanti saja, kalau hamilnya sudah besar. Jadi kelihatan lebih jelas."


"Pokoknya, sekarang juga kita ke dokter kandungan. Ayok!" 


Aduh, kenapa Hans maksa banget sih? Bisa tamat riwayatku kalau begini. 


"Aduh, aku kebelet. Mau pup dulu." Aku cari-cari alasan.


"Iya, hati-hati, Sal," pesan Hans saat aku setengah berlari menuju toilet.


Di dalam toilet sudah setengah jam kuhabiskan. Hans sampai menyusul karena khawatir.


"Iya, aku enggak apa-apa."


"Jangan lama-lama di air! Ayok cepat selesaikan."


Aku pun terpaksa keluar, berdiam lama di toilet juga tidak enak.


"Aw!" teriakku saat membuka pintu, mendapati Hans tengah menunggu.


"Sudah? Yuk, kita berangkat," ajaknya.


"Hoamn... aku kok, ngantuk ya?" Aku pura-pura lagi.


"Bisa tidur di mobil. Ayuk, kita berangkat!"


"Eum ...."


"Udah, jangan banyak alasan!" ucap Hans seraya membopongku menuju carport.


"Turunkan! Aku enggak mau disentuh. Kamu bau!" omelku.


Dia tidak menghiraukan. Didudukannya aku di dalam mobil. Gawat! Bagaimana ini?


"Sal, kamu kenapa? Wajahmu pucat, lho. Kamu sakit? Kalau begitu kita harus cepat-cepat, ya!"


Hans langsung kemudikan roda empat milikku. Jantungku semakin berdebar, kugigit bibir bawah kuat-kuat. Jalanan tampak lenggang, jadi mobil membawa kami sangat lancar. 


Sekitar lima belas menit, sampailah di tempat tujuan. Kini jantungku semakin tidak karuan tatkala Hans sudah memarkir mobil dan siap turun. Apa aku pasrah saja dengan yang akan tetjadi? Oh, no!


"Hans, kita tidak perlu cek kandungan. Karena se--"


"Kamu kenapa? Tidak mau cek, karena apa?"


Keringat mulai mengucur dari sela anak rambut.


"A-aku ... aku se-benarnya ...," kataku tercekat di kerongkongan.


"Ya ampun, Sal. Kamu kenapa?" Hans panik. Diraihnya kedua tanganku. "Dingin sekali," sambungnya.


Mulutku masih menganga hendak mengatakan sesuatu, tetapi sulit terucap. Seketika, kurasakan pasokan oksigen terhenti. Sungguh menyesakan dada dan perlahan penglihatan kabur. Gelap, gelap, dan gelap.


***


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Kubuka mata perlahan. Ternyata sudah berada di kamar sendiri.


Aku pasrah jika Hans marah dan meninggalkanku. Toh, tujuan pura-pura hamil hanya untuk membuatnya meninggalkan Meti. Bukankah sudah tercapai? Lalu kenapa ada bagian hatiku yang keberatan jika Hans pergi, apa lagi membenci. Apa ini artinya? Aku sudah terlena dengan segala perhatian serta kesungguhannya. 


"Sal, sudah siuman? Syukurlah." tanya Hans yang menyembul dari balik pintu.


"Hans?" Aku terperanjat dari alam pikiran.


"Sal, kamu tidak apa-apa 'kan?" Dia duduk di tepi ranjang. "Minumlah dulu!" sambungnya mengulurkan segelas teh manis hangat.


Glek, glek, hingga tandas.


"Makasih."


"Haus banget, ya?" tanyanya seraya tersenyum.


"Hans, dokter sudah memberitahumu 'kan?" Dahinya malah mengkerut saat kutanya. "Silahkan kalau mau marah. Aku salah. Aku terima," lanjutku sambil menghela napas.


"Maksudnya?"


"Tadi dokter bilang apa?"

__ADS_1


"Oh itu. Kan langsung kubawa pulang lagi kamu-nya. Jadi tidak bertemu dokter. Habisnya kamu kelihatan tegang banget hingga pingsan."


"Serius? Jadi tidak ke dokter?" girangku.


"Iya. Emangnya ada apa?"


"Oh, enggak kok."


"Pasti kamu ngerasa bersalah banget, ya? Gara-gara minum air yang bersoda. Maaf, ya, sudah memaksamu untuk periksa tadi."


"Ya, he ... enggak apa-apa." Dadaku langsung plong.


"Aku yakin anak kita tidak akan kenapa-kenapa. Minumnya juga tadi sedikit 'kan?" 


"I-iya."


"Baik-baik, ya, Nak!" Hans mengusap perutku. "Eh, maaf lupa. Tidak boleh sentuh."


"Tidak apa-apa, kok."


"Wah, Nak, dengar tuh kata Mama, akhirnya Papa boleh sentuh kamu," serunya senang.


Dia pun mengusap perutku lagi dan lagi sampai aku merasa geli.


"Hahaha." Kami tergelak bersama.


***


Jam 23.00 Wib.


[Aku mau sate] Kulayangkan sebuah pesan malam-malam kepada Hans.


[Sate apa?] balasnya tidak lama.


[Hah, kamu belum tidur?]


[Sudah pirasat, dede bayi pasti akan meminta sesuatu 😍]


[Hehe]


[Mau sate apa?] ulangnya.


[Sate maranggi]


Setelahnya tak ada balasan kembali. Bibirku manyun lima senti. Apa dia mengantuk dan tertidur? Yah, padahal ngidam satu-satunya alasan agar bisa bertemu dengan Hans kapan pun. Kutarik selimut kembali dan menelan kecewa.


Tok, tok, tok. Karena rumahku yang sekarang tidak besar, jadi kalau ada yang mengetuk pintu akan langsung terdengar jelas. Kuberingsut dari ranjang hendak membuka pintu. Itu pasti Hans. Ternyata dia datang juga.


Ceklek, gagang pintu langsung kutekan dan daun pintu pun terbuka. Akan tetapi, tak kudapatkan sosok Hans di sana. Lalu siapa yang mengetuk barusan?


"Hans," panggilku seraya melangkah ragu ke teras.


"Duar!" Dia mengejutkanku keluar dari persembunyian. "Haha," tawanya puas melihat tubuhku yang berlonjak sambil memegang dada.


"Ih, Hans!" Kucubit keras lengannya.


"Ampun!" Dua meringis.


"Mana satenya?" tagihku.


"Ini." Dia ulurkan satu kantong kresek.


"Asyik!" seruku. "Yuk, temenin makan satenya!" sambungku dengan merengek.


"Ok."


Saat orang-orang terlelap dibuai mimpi, kami malah makan sate tanpa nasi. Sepanjang makan, Hans terus menasehati, agar aku tidak sembarang buka pintu. Pastikan juga, pintu selalu terkunci.


"Iya-iya, bawel."


"Bukan bawel, tapi suamimu ini cemas," katanya penuh penekanan.


"Hans, setelah dipikir-pikir, agar aku selalu aman, eh maksudnya dede bayi. Sepertinya, lebih baik kamu tinggal di sini saja," usulku mengandung modus.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Seketika Hans yang sedang menggigit sate tersedak, lalu batuk-batuk.


Dengan cepat kuberikan dia segelas air.


"Ada yang salah, ya?"


"Serius? Aku boleh seatap lagi dengan kamu?" matanya melebar meminta kepastian.


"I-iya," jawabku sambil nyengir.


"Kalau begitu, malam ini aku tidak usah pulang, ya?" tanyanya antusias.


"Ya, tentu saja."

__ADS_1


"Yes, yes, yes!" soraknya.


"Eit, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Rujuk dulu."


"Emang aku sudah ceraikan kamu ya, secara agama?"


Kebersamaan kami akhir-akhir ini memang melupakan satu hal kalau waktu itu Hans telah mentalakku. Dengan sadar dan tanpa paksaan, akhirnya kami rujuk.


Dalam hati aku terus berucap, untung saja masa idahku belum habis. Tinggal sehari lagi besok. Setahu Hans 'kan aku sedang hamil, jadi dia beranggapan kalau masa idahku masih lama. Ya, karena masa idah wanita hamil sampai melahirkan.


Usai beresin makan sate, ia pun lekas menyuruhku untuk tidur. Aku manut saja, karena memang mataku sudah terasa berat.


"Hans, kamu ngapain?" tanyaku saat melihat dia naik ke ranjangku juga.


"Mau tidur. Terus emangnya mau ngapain?" Dia balik bertanya penuh harap.


"Kamu tidurnya di kamar sebelah. Jangan di sini!"


"Hah, di kamar sebelah? Aku pikir ...."


"Ye, dikasih hati minta jantung. Enak saja! Aku bilang tinggal di sini, bukan tidur seranjang lagi," terangku sambil melempar bantal ke mukanya.


"Yah ... tapi tak apalah. Hari ini boleh tinggal seatap, siapa tahu besok-besok boleh sekamar. Iya enggak?" Alis Hans terangkat sebelah.


"Idih ngarep!"


"Ya, tak apa. Semua berawal dari sebuah harapan."


Aku hanya menyunggingkan senyuman. Sepertinya masih membutuhkan waktu lama untuk bisa menerima dia tidur di sampingku. Tinggal satu atap sudah lebih dari cukup bagi kami.


***


Gugatan cerai yang sempat terdaftar pun sudah resmi kubatalkan. Semoga keputusanku tidak salah. Melihat Hans yang begitu gigih mencari nafkah, membuatku terenyuh. Perhatiannya kurasa sangat tulus. Meski sering kurepotkan dengan permintaan aneh-aneh, ia tetap tersenyum. Selalu sabar dengan ngidamku yang mengada-ngada.


Aku tak sanggup membayangkan, jika suatu hari nanti dia tahu bahwa aku hanya pura-pura hamil. Apa aku akan terluka dalam untuk kali kedua? Ah, sejenak lupakanlah dulu hal tersebut.


Seperti biasa sore hari aku akan menunggu kepulangannya di teras. Kadang ia memang sangat terlambat. Bagaimana tidak, segala macam pekerjaan dia ambil. Dari kuli panggul di pasar, terus ngojek, bantu temannya berjualan hingga tukang bersih-bersih di sebuah kafe, ia lakoni.


"Assalamualaikum." Dia yang kutunggu pulang juga.


"Waalaikumsalam, Mas." 


Mas? Ya, aku sudah kembali memanggilnya demikian. Begitu pun dia yang memanggilku 'Ayang'.


"Bagaimana kabarnya anak Papa?" Hans mengusap perutku yang tampak sedikit membuncit.


Sebenarnya, setiap kali dia mengusap atau memegang perut, hati ini tak tenang. Pasalnya perut buncit ini dalamnya hanya silikon yang didesain khusus agar tampak seperti hamil lima bulan.


"Kabarku baik, Pah," jawabku mewakili dengan nada so' imut.


"Uh, menggemaskan," balasnya mencubit pipi.


Jujur, aku sendiri sudah bosan berpura-pura terus. Belum lagi rasa bersalah selalu menghantui. Akan tetapi, rasa takut untuk berterus terang jauh lebih besar. Takut ditinggalkan, jika dia tahu kalau ini hamil palsu. Sungguh belum siap untuk semua itu.


Hans duduk di kursi teras untuk melepas rasa  lelahnya. Sementara aku ke dapur membuatkannya teh tawar hangat.


"Minum dulu, Mas," tawarku setelah kembali dengan secangkir teh.


Dia langsung meneguknya hingga tersisa setengah. " Begitu nikmat kalau istri yang buatkan," pujinya membuatku tersipu.


Kadang merasa bersalah, karena dulu aku tidak pernah melayaninya seperti ini. Malah terbalik. Dia lah yang selalu melayaniku. Sekarang seolah ingin memperbaiki semuanya. Kulayani suami sebaik mungkin. Terkecuali pelayanan ranjang. Aku belum siap untuk hal itu. Kalau sampai terjadi, otomatis hamil palsu juga pasti ketahuan.


"Mas, aku mau belajar masak," ucapku.


"Sebaiknya jangan dulu. Nanti kamu kecapean. Apalagi perutmu semakin membesar."


"Aku juga mau masakin sesuatu buat kamu."


"Tidak usah, Yang. Aku cinta kamu apa adanya. Lagian aku masih bisa bagi waktu antara memasak dan bekerja."


"Apa aku kerja lagi aja, ya? Kata Li, aku boleh balik bekerja kapan saja."


"Ekmh, jujur, justru aku lebih keberatan jika kamu bekerja lagi. Meski penghasilanku tidak seberapa, tapi aku ingin kita hidup dengan nafkah dariku saja sebagai suami." Hans menatapku dalam.


"Baiklah. Aku akan jadi istri malas-malasan saja kalau begitu," ujarku seraya mengerucutkan bibir. Dia langsung mencomot bibirku gemas.


Kami pun terkekeh bersama.


"Salma!" seru seseorang tiba-tiba dengan suara baritonnya.


Mataku membola, tidak percaya dengan siapa yang datang menghampiri. Saat itu juga atmosfer hangat yang tengah menyelimuti kami berubah dingin nyaris membeku.


Emm, siapakah gerangan tamu tak diundang???

__ADS_1


__ADS_2