
❤️❤️❤️
Beberapa bulan yang lalu.
Tiba-tiba ada pesan chat masuk disertai foto seorang bayi dengan caption ‘Papa, aku sudah lahir dan tampan seperti Papa.’
Deg! Langsung kena ke titik jantungku berdenyut. Kuperhatikan, lalu zoom foto tersebut, memang mirip sekali denganku. Perasaan pun mendadak hangat dan haru. Seperti ada ikatan batin yang terhubung begitu saja.
“Apa yang kirim ini Meti?” gumamku.
Segera kulakukan panggilan video kepada si nomer pengirim. Selang beberapa detik, pangilan tersambung. Benar, ternyata Meti lah sang pemilik nomer.
“Bang, ayok kita lakukan tes DNA!” ajaknya langsung.
Bayi digendongannya diarahkan ke kamera, dua bola mata mungil nan jernih itu menatap. Kemudian sudut bibirnya ditarik, seolah sedang tersenyum. Hatiku meleleh dibuatnya. Hati ini mengatakan ia adalah darah dagingku.
"Berapa bulan?" tanyaku.
"Baru tiga bulan."
Obrolan kami berlanjut via chat. Semenjak hamil, Meti tinggal di Pelabuhan Ratu, di rumah kakak ibunya. Jelas ia tidak berani pulang ke kampong halaman dengan kondisi hamil tanpa suami. Untunglah Uwa-nya itu berbaik hati sudah mau menampung.
Apa ini suatu kebetulan? Tetapi, kurasa takdir menuntunku kepada anak itu. Pasalnya aku pun sering ke Pelabuhan Ratu untuk membeli bahan baku seafood.
Setelah kami bertemu, keyakinan kalau bayi Meti adalah anak kandungku semakin besar. Aku tak memerlukan tes DNA untuk memastikan. Aku sudah lebih dari percaya.
Namun, Meti bersikukuh ingin melakukan tes tersebut. Agar semua benar-benar jelas. Sewaktu hamil pun bukannya ia tidak mau melakukan tes DNA, tetapi kata dokter tes itu bisa membahayakan janin. Tentu, Meti lebih memilih melindungi bayinya dibanding sebuah pengakuan dariku.
Kami melakukan tes DNA di Rumah Sakit terdekat. Hasilnya sudah pasti, semua sangat cocok dengan sampleku.
“Bang, mau kita kasih nama siapa?” tanya Meti pada suatu hari.
“Kalau ‘Daffa Khair’ bagaimana?” usulku.
Kudapatkan inspirasi nama itu dari situs video berbagi.
“Daffa Khair? Boleh juga. Artinya apa Bang?”
“Daffa itu artinya pelindung, pembela. Sedangkan Khair, artinya Kebaikan. Jadi Daffa Khair bisa diartikan seorang pelindung yang penuh kebaikan,” jelasku mantap.
“Wih, keren, Bang. Semoga namanya menjadi doa yang terkabul.”
“Aamiin.”
Semenjak itu, aku jadi sering ke Pelabuhan Ratu untuk mengunjunginya. Berpisah lama-lama membuatku sangat rindu. Bayi kecil yang menggemaskan sesaat membuatku lupa dengan kehadiran Salma. Padahal dia juga tengah hamil anakku.
“Maaf, ya! Dulu aku sempat tidak mempercayaimu. Bahkan dengan buas mau mencelakai anak kita,” ucapku sambil mengelus pipi si kecil Daffa.
Sungguh jika mengingat waktu itu, rasa sesal begitu sesak menghimpit dada.
“Tak apa, Bang. Semua itu sudah berlalu. Sekarang, aku harap Abang bisa bertanggung jawab dan menyayanginya.”
Tanpa sadar, saking terbawa suasana kami saling rangkul.
“Ekhm,” deham uwa Karsinah, uwa-nya Meti.
“Eh, Uwa,” sahut Meti yang langsung melerai rangkulan.
“Kalian ini bukan mahrom. Tidak halal berbuat seperti itu,” tegurnya.
“Iya, Wa. Maaf, kami khilaf,” kataku.
“Apa kalian tidak berpikir untuk menikah saja?”
__ADS_1
“Menikah?” Aku dan Meti kompak.
“Iya. Terus anak kamu itu, Met, mau dibiarkan tanpa Papa-nya? Tetangga juga sudah bertanya-tanya, siapa lelaki yang sering datang menemuimu.”
“Tapi Wa, aku tidak mau menyakiti istri Hans untuk kedua kalinya. Cukup dengan kesalahan fatal yang telah kami lakukan dulu.”
Mendengar penuturan Meti, jujur aku menjadi salut kepadanya. Jika diperhatikan, Meti yang sekarang memang tampak berbeda. Lembut dan lebih bijaksana. Mungkin kehadiran Daffa menjadikan pribadinya lebih baik.
Namun, seiring waktu berjalan dengan seringnya bertemu dan kehadiran Daffa diantara kami, jujur ada rasa yang kian tumbuh. Sulit kukendalikan. Rasa ingin memeiliki dan menjadi keluarga, semakin kuat.
“Met, bagaimana kalau kita menikah saja?” Pada akhirnya ajakku.
“Bang ….”
Tentu Meti menolak seperti prediksiku. Akan tetapi, bukan Hans namanya kalau menyerah begitu saja.
“Demi Daffa, Met.”
Aku terus mendesak atas nama kebaikan untuk Daffa. Entah itu benar alasanku, atau justru ada tunggangan nafsu.
“Bang, Salma tidak akan setuju.”
“Kita menikah diam-diam. Aku bisa mengatur semuanya.”
“Kalau ketahuan bagaimana?”
“Itu urusan nanti.”
“Apa Abang akan langsung membuangku dan Daffa?” tatapannya tajam.
“Tentu saja tidak.”
“Tapi aku yakin, Abang akan lebih memilih Salma. Apa lagi kalau bayinya telah lahir.”
Meti meminta waktu hingga seminggu lamanya untuk memngambil sebuah keputusan. Selama seminggu, aku menunggu dengan gusar.
“Baiklah, Bang. Aku setuju menikah denganmu demi Daffa,” Meti memberi jawaban sesuai harapan.
“Yes! Terima kasih,” sorakku yang langsung memelukknya.
“Tunggu, Bang!” Meti melepaskan diri dari pelukanku.
“Ada apa?”
“Jika Abang sungguh-sungguh ingin menikahiku, tandatanganilah surat perjanjian ini!”
Meti mengulurkan sebuah kertas yang katanya surat perjanjian. Setelah kubaca betapa mengejutkan. Kalau sampai suatu hari aku menceraikan atau meninggalkannya, maka Resto Cafe harus jatuh kepemilikannya ke tangan Daffa.
Meski tidak menyangka Meti akan mengajukan surat seperti ini, tetap saja aku menandatangi perjanjian tersebut di atas materai dengan beberapa orang saksi penduduk setempat.
Ada binar di mata Meti saat aku menandatangi dengan cepat tanpa ragu surat tersebut. Acara pernikahan siri berlangsung sangat sederhana. Hanya dihadiri keluarga, beberapa sodara dan beberapa tetangga.
Setelah berhasil menikahi Meti, sejak itu aku bertekad, apa pun yang terjadi, aku tidak akan menceraikan keduanya. Mungkin aku sangat egois, tetapi aku membutuhkan keduanya, menginginkan keduanya. Ya, Salma dan Meti.
Bukankah agama juga membolehkan lelaki memiliki istri lebih dari satu sampai batas empat? Seakan Tuhan merestui, Bisnis Resto Cafeku semakin ramai dan tentu menghasilkan banyak pundi-pundi. Sangat cukuplah untuk membiayai dua istri dan dua anak.
Kujalani hari-hari dengan bangga. Seorang Hans yang sempat direndahkan karena kemiskinannya kini telah sukses. Aku mampu berpoligami, hahaha ….
Semangatku untuk pergi ke Pelabuhan Ratu semakin menggebu. Salma sampai protes karena hal ini. Akan tetapi, kuyakinkan dia kalau kebutuhan bahan baku seafood terus meningkat. Untunglah dia percaya.
Sebagai lelaki yang menyandang status pengantin baru, tentu isi kepalaku tidak akan jauh dari seputar ************. Setelah beberapa bulan menahan hasrat bercinta karena saran dokter untuk tidak menggauli Salma dulu, kehadiran Meti seperti kucuran air di tengah dahaga gurun pasir. Menyejukkan. Membuat ketagihan bukan main.
Meti cukup tahu diri posisinya sebagai istri kedua. Dia pasrah dengan sedikit waktu yang didapatnya bersamaku. Untuk siasati ini, mulai sekarang aku tidak terjun langsung memilih bahan segar seafood. Aku menyuruh orang yang bisa dipercaya. Sementara waktuku kuhabiskan bersama Meti dan Daffa.
Untunglah Daffa juga bukan anak yang rewel. Ia bisa dititipkan kepada uwa-nya. Seakan mengerti bahwa papa-mamanya saat ini membutuhkan waktu lebih banyak untuk indehoy. Servis yang Meti berikan tidak berubah, masih sama menggairahkannya seperti dulu. Membuat kami bisa melakukan beberapa ronde hanya dalam beberapa jam.
__ADS_1
Sialnya dalam kondisi asik bergelut dalam peluh keringat bersama Meti, aku mendapat laporan dari salah satu pegawai Resto. Jikalau Salma datang berkunjung. Padahal sudah berkali-kali kularang. Tetap saja dia datang juga.
Kelemahan kandungan tentu kujadikan alasan untuk melarangnya. Padahal lebih dari itu. Aku takut dia menghitung keuangan, aku takut dia mengecek segala pengeluaran. Sebenarnya untuk mengantipasi ini aku sudah menyusun semuanya dengan rapi tanpa jejak mencurigakan.
Namun, siapa tahu ada yang terlewat olehku dan bisa mengancam kelanggengan rumah tanggaku dengannya.
Aku gegas pamit kepada Meti dan si kecil Daffa. Awalnya bibir Meti mengerucut tanda tak suka dengan pamitku yang mendadak. Tapi, dia bisa mengerti setelah kuberitahu pesan chat dari karyawan tersebut.
Karena aku selalu membawa mobil sendiri, kukemudikan dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sebisanya harus cepat sampai di rumah.
***
Syukurlah sepertinya tidak terjadi sesuatu yang ditakutkan. Salma masih sama menyambutku dengan ramah dan hangat seperti biasa.
Ini peringatan untukku, agar lebih hati-hati dan waspada. Kalau Salma sampai tahu, bisa tamat riwayatku. Dia pasti memintaku menceraikan istri kedua. Tiba-tiba, aku bergidik saat mengingat surat perjanjian yang sudah kutandatangani bersama Meti.
Jangan sampai aku kehilangan istri dan Resto. Kutenggelamkan segala rasa takut ke dalam lelap menjemput mimpi. Sedangkan Salma sudah terdengar dengkur halusnya sedari tadi.
***
Pagi hari aku terbangun dengan was was. Kenapa aku bisa sebodoh dan seceroboh ini? Kupukul-pukul kepala dengan kesalnya. Betapa tidak? Aku baru saja mengingat kalau di saku celana yang dipakai kemarin ada sebuah kotak alat kontrasepsi. Biasanya juga KB tersebut selalu aku tinggalkan di sana. Kenapa kali ini malah ikut kubawa? Pasti karena aku pulang terburu-buru kemarin.
“Gawat! Gawat!” gumamku.
Ternyata celanaku sudah Salma satukan dengan pakaian kotor lainnya dan sudah dimasukkan ke mesin cuci. Meski belum diputar, sih. Aku ubek berulang kali pakaian kotor tersebut, berharap menemukan kotak merah kecil itu. Sudah jelas di saku celanaku sudah raib. Takutnya Salma menemukannya. Aduh bagaimana ini?
Panik enggak? Panik enggak? Jelaslah aku sangat panik.
“Ekhm, Mas,” deham Salma tiba-tiba seakan membuat jantungku copot.
“Ayang!” seruku.
“Lagi ngapain? Kok, bajunya diacak-acak?” dahi Salma mengerut.
“Eh, anu, itu …,” jawabku bingung.
“Apa Mas? Anu itu apa maksudnya?” Salma malah mendesak.
“Aku cari seseuatu, tapi tidak ada.”
“Sesuatu? Apa itu?” Salma malah bertanya terus.
“Itu, pokonya sesuatu,” jawabku tidak jelas.
“Mau aku bantuin nyari?” tawar Salma.
Tentu saja kutolak tawarannya itu. Aku pun menggiringnya ke depan TV agar dia duduk di sana. Untunglah dia manut begitu saja. Kuusap dada sebagai tanda sedikit lega.
Aku kembali melanjutkan pencarianku. Alat kontrasepsi tidak kunjung kutemukan. Tiba-tiba kuteringat saat membuka celana itu kemarin di kamar. Sesaat sebelum mandi. Apa mungkin jatuh di sana? Aku gegas pergi ke kamar.
Sudah ku periksa setiap sudutnya. Bahkan kolong ranjang tak terlewatkan. Tetapi tidak ada juga. Sudahlah! Semoga benda itu terjatuh di jalan atau di mobil.
“Ekhm, Mas. Belum ketemu?” Salma menghampiri bertanya kembali.
“Belum, Yang,” jawabku dengan mata masih sibuk mengedar ke ruang kamar.
“Apa Mas, cari ini?” tanyanya seraya mengeluarkan sesuatu dari saku baju piyamanya.
Sesuatu yang sejak tadi kucari-cari, ternyata sudah ada di tangan Salma. Oh, maygod! Ketakutanku akhirnya terjadi juga.
Hayo Hans ketangkap basah lagi. Bagaimana apakah dia kan berkelit?
terima kasih buat reader yg sudah mampir. love you sekebon sawit.
Yuk follow IG othor 👉 dinarala2022
__ADS_1