
❤️❤️❤️
OV. Li Chen
Namanya Salma Ayunda. Sesuai karakteristik dari namanya yang berarti mandiri, pekerja keras, memiliki kemampuan berbicara dengan baik serta berparas cantik. Dia adalah teman sekelasku sewaktu sekolah di SMP. Di saat teman-teman cewek yang lain selalu berbicara so’ imut dan manja, ia justru selalu tegas dan lantang. Ia juga aktif di sebuah organisasi sekolah. Dalam berbagai kesempatan acara, ia selalu tampil percaya diri sebagai pembicara.
“Aw! Dasar anak naka! Kamu ngintip, ya? Ayo ngaku!” cecarnya dalam sebuah toilet sambil melayangkan tinju tepat di hidungku.
Darah segar pun mengalir dari kedua lubang hidung. Tentu saja aku sangat panik. Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku lebih memilih menangis histeris.
“Huhuhu …,” raungku.
“Eh, murid baru, sudah diam! Kamu yang salah, kok, kamu juga yang nangis?” Mata dia menatap tajam dengan bibirnya yang mengatup marah.
Ekpresi itu membuatku semakin takut dan tangisku semakin keras. Hal tersebut membuat beberapa murid penasaran. Tidak lama seorang guru pun datang.
Guru berusaha meluruskan permasalahan kami di ruang BP. Meski guru sudah menjelaskan bahwa aku yang belum lama pindah dari Beijing-Cina, belum lancar dan paham bahasa Indonesia, jadi tidak bisa membedakan antara toilet laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, dia bersikukuh menudingku kalau aku ini penguntit. Sudah pasti sengaja mengintip.
Rupanya dia memang sadar kalau aku ini sering memerhatikan dan mengikuti secara diam-diam di sekolah. Di depan guru aku tidak mungkin mengakui secara jujur. Lagi pula, aku hanya mengagumi, tidak punya niatan nakal apa pun. Maka dari itu, kujadikan serangan balik tentang hidungku yang berdarah akibat pukulan kerasnya.
Penyelesaian semakin alot. Kami sama-sama tidak mau mengalah. Sampai akhirnya, dipanggillah orang tua kami ke sekolah.
Eh, ternyata itu menjadi ajang reuni untuk papaku dan papa Salma. Pasalnya mereka adalah sahabat lama yang baru saja berjumpa kembali. Sejak saat itulah aku dan Salma berteman baik. Dia selalu membantuku setiap kali mengalami kesulitan. Tentu, berasal dari Negara luar yang memiliki bahasa, budaya, agama, serta kebiasaan yang berbeda membuatku tak mudah hidup di lingkungan sekolah umum.
Selama kurang lebih tiga tahun, pertemanan kami terjalin. Selulus SMP, aku disekolahkan di sekolah khusus sesuai agama yang kuanut. Sedangkan Salma tetap melanjutkan ke sekolah SMA umum. Kami tidak punya alasan untuk terus saling bertemu. Pertemanan pun merenggang. Kami tenggelam dengan kehidupan serta kesibukkan masing-masing hingga masa kuliah.
Aku terlahir dari keluarga dengan basik berbisnis. Selulus kuliah pun langsung terjun membantu papa menjalankan perusahaannya yang bergerak di bidang property. Ujian datang ke dalam kehidupanku yang tadinya lurus-lurus saja tanpa hambatan. Papa meninggal karena kecelakaan. Aku yang belum menguasai ilmu bisnis, membuat perusahaan hampir gulung tikar.
Datanglah seorang teman papa yang menawarkan bantuan. Tentu aku dan mama seperti mendapat malaikat penolong di kala kesusahan.
Namun, ujung-ujungnya aku harus mau menjadi calon suami untuk anak bungsunya yang super nyebelin luar biasa. Tidak bisa berkutik untuk menolak, jika mengingat jasa teman papa tersebut. Kuterima dengan lapang sebagai bentuk balas budi. Acara tunangan pun digelar sangat mewah.
Hari demi hari kujalani seperti di neraka. Betapa tidak, tunanganku sangat posesif dan terlalu mengatur hidupku. Semua itu kulampiaskan terhadap pekerjaan. Jadilah aku seperti seseornag yang gila kerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor.
Sampai tibalah, perusahaanku mulai merangkak naik. Perusahaan semakin berkembang, berimbas kepada penambahan jumlah karyawan. Dari sekian C.V yang melamar kerja, terseliplah data atas nama Salma Ayunda. Kuperiksa langsung biodata pemilik nama dari wanita pujaan yang ada di masa SMP tersebut. Aku bersorak senang, ternyata benar dia lah orangnya.
“Ya ampun, jadi kamu Bos pemilik perusahaan ini? Kok, kebetulan sekali, ya?”
“Jodoh kali,” sanggahku.
Salma tersipu malu. Getar tak biasa yang selalu mengisi hari-hariku di masa SMP, kini datang lagi. Sayang sekali, kedekatan kami tidak bisa lebih dari teman atau rekan kerja atau antara atasan dan bawahan. Ada hati yang harus kujaga. Meski tidak mencintainya, akan tetapi aku telah terikat dengan sebuah janji.
***
“Maaf, kamu siapa, ya? Kok, so’ akrab dengan calon suami saya?” tanya Laura-tunanganku dengan tangan di pinggang. Angkuh dan sombong, begitulah dia.
“Calon suami? Li, maksudnya?” tanya Salma menatapku seolah minta penjelasan.
“Iya, kenalkan ini Laura-tunanganku, Sal,” ucapku pada akhirnya.
“Oh. Tunangan, ya? Hei, aku Salma, temannya Li dan bawahannya di kantor.” Salma mengulurkan tangan dengan sedikit gemetar.
__ADS_1
Entah perasaan apa yang ia pendam? Akan tetapi, aku dapat merasakan kekecewaannya melalui sorot mata yang berkaca.
“Laura,” balas tunanganku menyambut uluran tangan Salma sekilas. “Yuk, ah, Honey, kita pergi dari sini. Aku jadi tidak selera makan,” ajaknya lalu sambil bergelayut manja di lenganku.
Itu sepenggal memori, di kala kami tidak sengaja bertemu di sebuah resto. Aku bertemu dengannya, di saat Laura pergi ke toilet. Sekembalinya dia mendapatiku sedang bertegur sapa dengan Salma.
Setelah Salma tahu kalau aku sudah memiliki tunangan, sikapnya di kantor berubah. Bicara seperlunya dan sangat professional. Dia juga terkesan menjaga jarak. Hari-hariku yang sempat berwarna lagi karena kehadirannya, berubah menjadi kelabu kembali.
Aku selalu berdoa setiap pagi, semoga ada keajaiban, yang bisa melepaskanku dari ikatan janji bersama Laura.
Beberapa bulan kemudian, ajaibnya, doaku seperti dikabulkan Tuhan. Laura kepergok selingkuh dengan seorang yang selama ini diakunya hanya sebagai teman biasa. Tentu saja, kesempatan ini aku manfaatkan sebaik mungkin. Bukti-bukti foto perselingkuhannya aku kirim ke ayah Laura. Dengan senang hati kuputuskan tali pertunangan tersebut.
Aku bebas! Aku juga bisa dibilang tengah mapan. Penghasilanku cukuplah untuk membiayai hidup Salma sepenuhnya. Hehe ….
Hendak kunyatakan perasaan ini, eh, Salma-nya malah ambil cuti kerja. Dengan berani kususul ke rumahnya. Zoonk! Salma lagi ke Yogyakarta bersama teman-temannya untuk berlibur.
Baiklah kalau begitu. Karena tidak mau lagi menunggu, aku lamar saja secara pribadi kepada papa-nya. Kalau sudah positif diterima, baru bawa mama juga.
Akhirnya kusampaikan maksud dan tujuanku tanpa berbelit-belit. Papa Salma tentu saja sangat terkejut. Aku sangat tidak sabar untuk mendengarkan jawaban perihal lamaranku yang super mendadak ini.
“Maaf sekali, Nak Li. Papa suka dengan Nak Li, dengan keberanian dan kesungguhannya. Papa juga yakin Nak Li, anak yang baik. Tapi … Nak Li dan Salma berbeda keyakinan. Papa tidak bisa merestui, sekali pun Salma menerima Nak Li nantinya,” jelas Papa Salma tegas dan bijak.
Seketika jawaban itu merontokkan kepercayaan diriku yang menggebu. Aku pun pamit dan meminta papa Salma untuk merahasiakan hal ini dari putrinya.
Namun, perjuanganku tak sampai di situ, siang malam kubujuk mama agar mengizinkanku untuk berpindah agama. Akan tetapi, jelas mama tidak mau mengizinkannya sampai kapan pun.
Apalah daya, cinta terpentok restu. Kuberharap akan ada keajaiban lagi. Entah apa pun itu! Asalkan bisa bersatu dengan Salma. Kuberdoa setiap pagi kepada Tuhan dan ternyata apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Tuhan.
Tuhan mengirim Salma seorang laki-laki bernama Hans yang membuatnya jatuh cinta setiap saat.
“Kamu jangan sumpahin kayak gitu, dong!” deliknya.
“Bukan nyumpahin, aku hanya mengingatkan.”
***
Beberapa tahun kemudian.
Salma sudah menikah dengan Hans dan sampai detik ini masih berstatus sebagai istrinya. Akan tetapi, ada yang mencurigakan dari Salma. Aku yakin rumah tangganya dengan Hans sedang tidak baik-baik saja. Tidak biasanya dia sering bolos dan sering izin cuti kerja. Bahkan katanya mau resign.
Ada hal yang paling mencurigakan, kenapa Salma pura-pura hamil?
Hari ini aku dapat telepon dari papa Salma, diminta untuk menemaninya jalan-jalan lagi. Oya, sebenarnya orang tua Salma sudah lama pindah ke Malaysia. Papanya memang asli orang sana. Sekarang ini, beliau sedang mengunjungi putrinya sudah beberapa hari di Indonesia. Kemarin pun aku menemaninya jalan-jalan ke pantai Pelabuhan Ratu. Dari situlah kutahu, kalau Salam sedang pura-pura hamil.
Kedatanganku ke rumah Salma, disambut jutek olehnya. Dia juga menyodorkan surat pengunduran diri, meski kutolak mentah-mentah.
Salma melengos meninggalkanku dan papanya begitu saja di ruang tamu. Masa bodoh! Aku ke sini memang untuk bertemu papa-nya.
“Li, awak kenapa belum kawin?” tanya papa Salma.
“Belum menemukan yang cocok, Pah.”
__ADS_1
“Kamu masih mengharapkan si Salma?”
Deg, pertanyaannya langsung menembus jantungku. Beliau seperti mengerti perasaan ini.
“Entahlah, Pah. Perasaan ini sulit sekali dihapus. Aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, tapi, tetap saja hati menolak.”
“Papa hargai perasaan awak itu. Jujur, salut sangat saat awak dulu langsung melamar Salma kepada Papa. Awak adalah laki-laki terbaik yang Papa kenal. Sayang sekali, kalian berbeda keyakinan. Jadi, Papa tak boleh beri restu,” penuturannya seperti mengangkatku tinggi-tinggi, lalu dihempaskan pada waktu yang sama.
“Iya, Pah. Aku mengerti Papa adalah orang tua yang ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya.”
“Sebenarnya, jika saja Salma tak mengandung, mungkin Papa mahu suruh cerai.” Penuturan papa mencengangkan. Seperti dugaanku, beliau memang belum merestui Hans seratus persen.
“Cerai? Kenapa, Pah? Apa karena pekerjaan Hans?”
“Hans bukan lelaki yang baik. Firasat kita sebagai orang tua, Salma tersakiti. Papa baru saja mendapat khabar, kalau si Hans sempat selingkuh dengan pembantu,” tuturnya dengan perasaan hancur menerima kenyataan kalau putrinya dikhianati.
Sama sepertiku. Aku tidak rela wanitaku disakiti oleh lelaki lain. Apa lagi itu suaminya, orang yang dicintainya.
“Apa? Itu kabar dari siapa Pah?”
“Tidak sengaja Papa berjumpa dengan salah satu jiran Salma di rumah yang lamanya.”
“Terus Papa mau bagaimana? Apa kata Salma itu benar?”
“Papa belum membicarakannya. Biar saja nanti malam, menunggu si Hans pulang. Akan Papa tanyakan langsung kepadanya.”
“Pah, aku tidak bisa terima, kalau Salma disakiti.”
“Aw!” jerit Salma tiba-tiba.
Rupanya Salma terkejut karena ditegur mama-nya sedang kedapatan menguping. What? Menguping? Itu artinya Salma mendengar apa yang sudah aku obrolkan kepada papa-nya.
Aku langsung menanyakannya. Ternyata benar. Dia mengangguk sebagai jawaban dari ‘iya’. Wajahku mendadak terasa menghangat. Aku pasti sudah seperti kepiting rebus. Papa juga menegurnya dan mengatakan dia berlaku tidak sopan.
Namun, keberanian besar mendorongku tiba-tiba. Berhubung Salma sudah terlanjur mendengar, sebaiknya kugunakan saja kesempatan ini. Aku meminta dia menghampiri.
“Bercerailah! Menikahlah denganku!” Aku meraih tangannya.
“Tapi, Li—“ sela papa-nya.
“Pah, restuilah! Aku akan jadi mualaf,” ucapku mantap.
Sebenarnya apa yang telah merasuki raga ini? Aku sendiri tak percaya, kalau bisa seberani dan sepercaya diri seperti sekarang. Bahkan bilang akan jadi mualaf dengan sepenuh hati.
“Li, Salma sedang hamil.” Mama-nya angkat bicara.
“Sebenarnya, Salma tidak hamil!” tukasku yakin.
Tentu saja, saat di pantai Salma sempat tertidur di sofa balon. Angin tanpa sengaja menyibakkan bajunya hingga bagian perut yang berbalut benda semacam silicon terlihat.
“Apa?” sontak mama-papa Salma terkejut setengah mati.
__ADS_1
Sementara yang membuatku setengah mati adalah menunggu jawaban apa yang akan Salma berikan dalam hitungan detik ke depan.
Hadeuh, jawaban apa yang akan kau beri Salma 😁