
Selamat membaca 🥰
"Apa? Di Pasar? Ngojek? Bantu teman di Kafe?"
"Iya, Pah. Tidak apa 'kan? Asalkan halal," sahut Hans.
"Alah, jangan so' religi awak! Awak mau buat cucu kita menderita? Sudahlah, sejak dulu awak tuh memang tak mampu," cecarnya.
"Pah, kita sudah sepakat merestui mereka. Jangan sesali!"
"Mama ini macam mana? Dulu anak kita diperah, sekarang si Salma sudah tak bekerja. Bagaimana dia akan mencukupi kebutuhan anaknya nanti? Dari hasil kuli? Cuih!"
"Rezeki itu Allah yang atur, Pah." Mama tetap membela dan membujuk.
"Iya. Tapi tetap saja kita yang usaha. Harus ada jalannya. Dari kuli, dari ngojek, mana bisa layak!"
"Pah, sudah cukup! Sampai kapan pun Salma akan tetap memilih Hans," tegasku.
Mendengar kalimatku, Hans melirik tak percaya. Sampai-sampai rautnya yang kesal karena dihina Papa sedikit memudar.
"Ya, teruslah hidup dengan pilihan awak yang keliru!" sinis Papa sambil berlalu dari hadapan kami.
Mama kemudian menyusulnya. Mungkin mau memberi pengertian kepada Papi. Orang tuaku sedari dulu memang tidak menyukai Hans. Akan tetapi, Papa lebih parah. Semua gara-gara temannya yang kebetulan mengenal keluarga suamiku.
Dari informasi yang Papi terima, keluarga Hans itu dinilai kurang baik. Apa lagi ayahnya yang dicap tukang korupsi dan main wanita.
Semua itu membuat Papa ketakutan. Kalau anak satu-satunya ini akan disakiti. Buah jatuh tak jauh dari pohon. Pribahasa itu selalu disematkannya. Selain itu dalam memilih jodoh, pertimbangan bibit bobotnya juga tak kalah penting, kata papa.
Aku juga termasuk dari keluarga berada. Hidup berkecukupan sejak lahir. Jadinya Papa sangat khawatir jika aku akan hidup susah dan kekurangan.
Kekecewaannya terhadap pilihanku, membuat mereka memutuskan tinggal menetap di Malaysia. Biasanya papa-mama berkunjung ke Indonesia setiap kali lebaran idul fitri. Sedangkan aku sendiri sama sekali tidak pernah mengunjungi mereka di negaranya. Bukan tanpa sebab, aku sudah terlanjur malas. Ngakunya sudah merestui, tetapi selalu menyarankan perceraian. Mumpung belum memiliki anak, kata mereka.
Andai saja, mama-papa tahu kalau Hans sudah mengkhianatiku dan aku pura-pura hamil, akan selesai pernikahan ini sekarang juga.
"Mas, kamu tidak apa-apa 'kan?"
"Tak apa. Kamu tenang saja. Malah dulu lebih dari ini 'kan? Untung saja ada dede bayi. Jadi Papa tidak melanjutkan marahnya," ucap Hans seraya mengelus perutku.
***
Selama ada Papa-mama di rumah, aku dan Hans jadi tidur sekamar. Akan tetapi, bukan berarti seranjang lagi. Luka di hatiku tidak sembuh secepat itu. Sekamar dengannya membuat hati ini jedag jedug disertai hawa memanas, tidak kupungkiri, rindu rasanya. Akan tetapi, tetap tidak bisa mengalahkan perasaan nyeri dikhianati.
"Yang." Hans memanggil dari bawah lantai yang beralaskan karpet.
"Apa?" sahutku di atas kasur.
"Sebenarnya, aku mendapat tawaran kerja."
"Kerja?"
"Ya. Atasanku yang di pabrik dulu menawarkannya. Ternyata dia sudah tidak bekerja di pabrik itu juga. Dia sudah berganti pabrik dengan jabatan lebih tinggi. Makanya menawarkan posisi supervisor lagi. Dulu memang hanya dia satu-satunya orang yang percaya bahwa aku tak bersalah," papar Hans.
"Oh, bagus kalau begitu."
"Tapi ... bingung."
"Lha, kenapa?"
"Temanku yang punya kaffe, mempercayakan untuk aku mengelolanya."
"Tawaran yang bagus juga."
"Iya, soalnya dia mau fokus di Jakarta saja. Istrinya sudah melahirkan. Jadi ingin punya banyak waktu dengan keluarga."
"Mas bingung pilih yang mana?"
"Begitulah."
__ADS_1
"Gajinya lebih besar mana?"
"Ya, untuk saat ini lebih besar yang supervisor. Gajinya selisih hampir dua juta."
"Ya ambil gajinya yang lebih besar."
"Kalau aku bekerja lagi, Ayang mau 'kan benar-benar berhenti dari kantor Li? Ayang di rumah saja, membesarkan anak kita."
Deg ... auto serangan jantung nih akibat bohong hamil.
"Hoam ...." Aku pura-pura menguap.
Padahal hanya tidak mau membahas soal anak saja. Takut ketahuan.
Melihat Hans yang selalu bersemangat kalau sudah berkaitan dengan anak. rasa bersalah suka menghantui. Tapi, jika kembali ingat perselingkuhannya dengan si Sundal Meti, rasa bersalah itu lenyap. Bahkan ingin membalas lebih dari ini.
"Yang, sudah tidur, ya? Selamat tidur, jangan lupa baca doa."
Hening ....
***
"Nih!" Kuserahkan surat pengunduran resmi saat Li Chen berkunjung.
"Apa ini?"
"Baca saja!"
Dia membuka suratnya.
"Suratnya ditolak!"
"Serah deh, yang penting bagiku aku sudah mengundurkan diri."
"Kamu kalau tidak mau masuk kantor, ya, bisa kerja dari rumah."
"Jangam gitu, nanti nyesel. Lahirkan saja anakmu! Nanti setelah lahiran, kamu bisa bekerja kembali."
"Betul apa kata Bos-mu, Sal. Apa lagi setelah punya anak, kebutuhan akan meningkat. Mana boleh suamimu yang tiada guna tuh mencukupi." Tiba-tiba papa muncul dan nimbrung.
"Eh, Pah?" sapa Li Chen.
"Kacak (tampan) sangat awak hari ini," puji papa.
"Aduh, terima kasih, Pah." Dia tersenyum lebar sampai mata sipitnya tampak merem.
"Kamu mau apa ke sini?" selaku.
"Awak ini macam mana. Li Chen tamu spesial Papa," tegasnya.
"Aku disuruh Papa ke sini karena katanya mau diantar jalan-jalan lagi," imbuh Li.
"Oh. Aku enggak mau ikut."
"Siapa juga yang mau ajak kamu, Sal?" ejek Li Chen.
"Bodo amat!" ketusku seraya beranjak meninggalkan mereka.
Mereka malah asik melanjutkan obrolan. Mumpung mama masih di kamar mandi, tidak ada salahnya 'kan kalau aku nguping sedikit obrolan mereka? Kepoku meronta melihat mereka selalu ngobrol seakrab itu.
"Li, awak kenapa belum kawin?"
"Belum menemukan yang cocok, Pah."
Ah, kenapa ngobrolnya pelan-pelan gitu, sih? Aku 'kan jadi harus ekstra lebarkan kuping.
"Kamu masih mengharapkan si Salma?"
__ADS_1
Apa? Papa apaan, sih? Harapan apa yang dimaksud?
"Entahlah, Pah. Perasaan ini sulit dihapus. Aku udah coba menjalin hubungan dengan wanita lain, tetapi hati tetap menolak."
"Papa hargai perasaan awak itu. Jujur, salut sangat saat awak dulu langsung melamar Salma kepada Papa. Awak adalah laki-laki terbaik yang Papa kenal. Sayang sekali kalian beda keyakinan. Jadi, Papa tak boleh beri restu."
Hah? Li pernah melamarku langsung kepada papa? Ditolak karena kami beda agama? Sebagai seorang wanita, aku memang bisa merasakan perhatian dan kebaikan Li Chen yang tidak biasa. Akan tetapi, karena dia tidak pernah menyatakan apa-apa kepadaku, aku ya, tidak mau kepedean. Padahal dulu ... sebelum kenal Hans, aku juga menyimpan rasa terhadapnya. Kupikir saat itu tak terbalas. Makanya aku move on dan bertemulah Hans.
"Iya, Pah. Aku mengerti. Papa adalah orang tua yang ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya."
"Sebenarnya, jika saja Salma tak mengandung, mungkin Papa mau suruh cerai."
"Cerai? Kenapa Pah? Apa karena pekerjaan Hans?"
"Hans bukan lelaki yang baik. Firasat kita sebagai orang tua, Salma tersakiti." Papa berucap sambil menarik napas panjang. "Papa baru saja dapat khabar, kalau si Hans sempat selingkuh dengan pembantu," jelasnya kemudian.
"Apa? Itu kabar dari siapa Pah?" Li Chen sangat terkejut. Begitu pun denganku.
Jadi papa sudah tahu? Siapa orang yang memberi tahu? Tadi pagi papa memang sempat joging. Apa mungkin ....
"Tidak sengaja Papa berjumpa dengan salah satu jiran (tetangga) Salma di rumah lamanya."
Tuh 'kan! Dengan tetangga mana papa bertemu? Gawat ini.
"Terus Papa mau bagaimana? Apa kata Salma itu benar?"
"Papa belum membicarakannya. Biar saja nanti malam, menunggu si Hans pulang. Akan Papa tanyakan langsung kepadanya."
"Pah, aku tidak bisa terima kalau Salma disakiti."
Aduh, Li, kamu so' sweet banget, tidak ingin aku tersakiti.
"Aw!" jeritku spontan saat tiba-tiba tangan mama menepuk bahuku dari belakang.
"Sal, awak lagi apa di sini? Awak curi dengar (menguping)?" tanyanya.
Aduh, ketahuan deh. Mau taruh dimana ini muka?
"Salma? Apa kamu mendengarkan apa yang tadi aku bicarakan?" tanya Li dengan ekpresi tegang bercampur malu. Kulitnya yang putih seketika memerah.
Aku menjawab dengan anggukan.
"Salma, tak sopan awak curi dengar!" tegur papa.
"Tak apa, Pah," ucap Li. "Sal, kemarilah!" pintanya lalu dengan gugup.
Aku pun menghampiri. "Iya, Li."
"Bercerailah! Menikahlah denganku!" Dia meraih tanganku.
Seketika mata ini membeliak karena pernyataannya yang berani dan mendadak.
"Tapi, Li--" sela papa.
"Pah, restuilah, aku akan jadi mualaf." Pengakuan Li Chen sungguh mencengangkan.
"Li, Salma sedang hamil." Mama angkat bicara.
"Sebenarnya, Salma tidak hamil!" tukas Li Chen lantang.
"Apa?" mulut papa-mama menganga kompak.
Ooo ... ketahuan. Hadeh, kacau!
Akankah Salma menerima lamaran Li Chen--sahabat sekaligus Bosnya itu??
Tolong tinggalkan jejak like dan komen agar othor tambah semangat melanjutkannya. 🌻🤩
__ADS_1
❤️❤️❤️