Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Malam Pertama


__ADS_3

Part-41


“Astaghfirullahaladzim …,” lirih Li seraya mengusap wajah.


Sorot matanya pun berubah redup. Ia mengalihkan setelah beberapa detik menatapku.


“Eh, ada calon penganten. Silakan duduk,” sambut Hans mencairkan suasana.


“Iya, Li silakan duduk dulu.”


“Maaf, apa saya mengganggu?” tanyanya formal.


“Ah, Bos ini kayak sama siapa saja. Tadi aku hanya bantu Salma pilihkan kebaya.”


“Oh. Iya silahkan bisa dilanjutkan kembali.”


“Sudah kok. Eh Sal, aku mau balik ya! Soalnya harus mangkal lagi.”


“I-iya.”


“Panggilkan Qia, dong!”


Aku gegas mengambil Qia yang baru selesai dibersihkan dari pup oleh Lidia. Segera kukenakan lagi diapersnya.


“Siapa yang datang?” tanya Lidia.


“Li,” jawabku pelan.


Kami pun kembali ke ruang depan.


“Qia anak Papa yang paling cantik, Papa pulang dulu, ya! Nih, sekarang mainnya dengan papa baru.”


“Pa, pa, pa,” celoteh Qia.


Hans menciuminya dan kemudian pamit pulang.


“Eh, ada Teh Lidia juga?”


“Hmm … kamu pikir tadi aku hanya berdua gitu dengan Hans?”


“He … bukan apa-apa, kalau berdua-duaan ‘kan yang ke-tiganya--,”


“Kamu,” selaku.


Li tersenyum malu.


“Mbak Salma ini ada-ada saja.”


“Sal, aku ke sini mau memberikan ini titipan dari Mami.” Li menyerahkan sebuah paper bag.


“Apa ini Li?”


“Katanya Lulur. Lulur apa namanya lupa. Katanya Mami pesan khusus dari kenalannya untuk kamu.”


“Alhamdulillah, punya calon mertua baik bener,” puji Lidia.


“Alhamdulillah, buah dari kesabaran Teh,” timpalku.


Li mengacungkan jempolnya.


** 


Akhirnya hari yang dinanti tiba. Aku menunggu di sebuah ruang khusus yang telah disiapkan. Sementara di pelaminan, Irsyad alias Li dengan lugas dan lantang mengucapkan Kabul atas ijab yang papa akadkan.


“Sah ….” 

__ADS_1


Terdengar para saksi dan tamu yang hadir serempak.


Saat itu aku baru diminta untuk keluar dari ruang tersebut. Lidia menggandengku berjalan menuju lelaki yang kini sudah bergelar sebagai suami.


Langkah demi langkah terayun anggun melewati hamparan kelopak mawar merah. Semua mata seakan tertuju kepadaku yang tampil cantik dengan gaya pengantin hijab adat Sunda. 


Kebaya putih lace desain memanjang beraksen bordir serta payet kukenakan dengan paduan kain batik klasik bernuansa cokelat. Elegan itulah yang terlihat.


Sementara Irsyad tampak gagah sudah menunggu di meja akad dimana prosesi sudah berlangsung. Lelaki bermata sipit itu sangat terlihat tampan dengan memakai beskap putih berornamen silver. Sedangkan untuk bagian bawah, dikenakannya balutan kain batik yang sama sepertiku. Tidak lupa aksesoris blangkon dengan warna senada beskap turut melengkapi kepala.


Lidia melepaskan gandengannya dan aku duduk perlahan. Mahkota siger di kepala terasa sedikit berat saat menunduk. Begitu bersanding dada ini langsung berdegup lebih kencang. Kumencoba menenangkan hati dengan menghirup aroma roncean melati yang menjuntai dari sisi kepala.


Penghulu meminta Irsyad untuk membacakan Shigat Taklik. Yaitu sebuah pernyataan menggantungkan talak jika terjadi kasus yang disebutkan. Dimana sang suami bersedia menerima gugatan cerai jika melakukan pelanggaran. Diantaranya meninggalkan istri selama 2 tahun berturut-turut, tidak memberi nafkah wajib selama 3 bulan, menyakiti jasmani istri, dan membiarkan istri selama 6 bulan atau lebih.


Rangakaian prosesi demi prosesi Alhamdulillah berjalan lancar. Ada yang lucu saat Penghulu mempersilakanku untuk mencium punggung tangan suami untuk pertama kali. Gugup dan malu tentu saja. Sedangkan suami usai memegang ubun-ubunku sambil membaca doa, dipersilakan mengecup kening. Irsyad malah tampak bingung tidak tahu mana yang harus dikecup. Entah grogi, entah apa yang dipikirkannya.


“Ekhm, mempelai pria silahkan mengecup kening istrinya!” ulang penghulu.


Dengan salah tingkah bibir dia malah mengarah ke bibirku. Spontan ini memancing gelak tawa serta godaan.


“Aduh kening, Pak. Yang itu nanti saja!” celetuk asisten pribadinya.


Untung saja belum nempel, Irsyad mengubah haluan. Akhirnya dia mengecup keningku juga  sedikit lama.


“Sudah dulu, ya, Nak Irsyad!” ucap penghulu lagi-lagi memancing tawa para tamu.


Aku dan Irsyad langsung tertunduk malu.


Akhirnya semua prosesi dari yang penuh tawa hingga derai air mata saat sungkeman sudah terselesaikan. Aku dan Irsyad kini bisa bersanding di kursi pelaminan.


Luas sepertiga ballroom hotel gemerlap dengan cahaya lampu. Karena acara kami diselenggarakan dari pukul 19.00 malam, dekorasi pun menyesuaikan. 


Suasana yang biasa telah disulap menjadi lebih intim dengan dipenuhi atmosfer romantis. Seakan masuk ke ruang tiga dimensi, kristal-kristal menggantung cantik di langit-langit.


“Selamat Salma,” serunya. “Hati-hati dengan kehadiran orang ke-tiga!” bisiknya lalu cukup membut kuping panas.


Aku yakin tidak ada yang mengundang wanita licik ini. Lalu kenapa dia bisa ada di sini? Bagaimana cara dia masuk? Bukankah di pintu masuk ada penjagaan. Bagi yang tidak membawa surat undangan, akan dilarang masuk. Apa mereka lengah?


Sementara pertanyaan itu terus berputar di kepala dengan sigap papa Qia langsung menghampiri. Matanya membola dengan tampang galak tertuju kepada mantan istrinya-Meti. Entah apa yang Hans bisikkan kepadanya? Sehingga Meti cepat manut dan turun dari pelaminan. Terlihat dia sedikit diseret agar terus menjauh. Raut mukanya yang tadi sinis berubah asem.


** 


Karena kami sudah menyelenggarakan pernikahan di ballroomnya, pihak hotel memberikan hadiah menginap gratis satu malam pasca resepsi.


Saat pintu kamar terbuka wewangian langsung menguar dari dalam. Terlihat taburan kelopak mawar merah muda di atas bad ukuran king. Di tengah bad ada sepasang handuk berbentuk angsa dalam posisi beradu. Kemudian  ada beberapa balon berbentuk hati menggantung di langit kamar. Serta pencahayaan remang dari lampu tumblr menambah kesan semakin romantis.


Irsyad menggandengku untuk duduk di tepi ranjang.


Tik tok tik tok, bunyi jarum jam yang berputar begitu terdengar jelas bagi kami saat ini. Jarumnya sudah menunjukkan pukul 22.30 Wib.


“Eum … karena kita sudah menikah, enaknya aku panggil apa, ya?”


“Tidak tahu,” jawabku seraya menunduk malu.


Sungguh tidak disangka, seorang yang sudah lama kukenal, seorang teman, seorang rekan, dan seorang Bos, bisa membuat jantungku dag Dig Duk tidak karuan seperti ini. 


“Aku panggil kamu … Sayang?” Aku menggeleng karena mirip dengan panggilan dari Hans. “Kalau Honey?” Aku menggeleng karena ingat dengan madu. Jangan sampai aku dimadu. “Kalau Humaira?” Aku menggeleng lagi karena merasa sangat jauh dari pribadi Siti Aisyah. Itu ‘kan panggilan kesayangan Nabi kepada beliau.


“Adek saja.” Aku buka suara.


“Adek? Baiklah.” Irsyad manggut-manggut. “Kalau begitu panggil aku, Abang!” pintanya. “Dek, kenapa menunduk terus?” lanjutnya seraya mengangkat daguku.


“Malu.”


“Eum ….”

__ADS_1


Aku pun sebenarnya melihat hal yang sama dari Irsyad. Sepertinya dia juga malu. Tetapi berusaha memberanikan diri karena merasa sebagai lelaki. Meski kegugupannya tetap sangat kontras terlihat. Tangan yang masih memegang daguku sedikit bergetar. Kemudian kedua tangannya beralih menangkup pipiku.


“Kenapa?”


“Bolehkah aku, eh, Abang melanjutkan kesalahan yang tadi?”


“Kesalahan yang tadi?”


“Kesalahan sewaktu penghulu menyuruh mengecup kening.”


Aku tersenyum lebar mendengar apa yang disampaikannya. Kepala Irsyad perlahan condong diiringi menelan saliva. Tinggal satu inci lagi bibir kami akan segera bertaut.


Satu, dua ....


Duarr! Tiba-tiba salah satu balon yang menggantung di langit kamar meletus. Seketika tubuh kami terlonjak bersamaan saking kaget.


“Haha ….” 


Kami pun tertawa bersama. Tawa ini cukup mencairkan suasana yang sedari tadi tegang.


“Mari Abang bukain!” 


“Ih, malu.”


“Memangnya buka apa, kok malu?”


“Terus?”


“Itu mahkota di kepala apa enggak berat?”


“Oh, hehe.”


“Adek mikir apa hayo?”


“Enggak ah,” kilahku.


Aduh, kenapa aku jadi malu-maluin, sih? Otakku sudah mulai travelling kemana-mana, nih. Buahaya!!


Aku lekas beranjak dari ranjang dan duduk di depan meja rias. Aku sampai lupa kalau mahkota siger ini lumayan berat. Kucopot segera pelan-pelan. Irsyad tentu tidak tinggal diam. Setelah ia sendiri mencopot blangkon yang sudah berjam-jam menempel di kepala.


 


Kemudian dia membantu membuka setiap hiasan yang menempel di kepalaku sampai tersisa jilbab saja. Jantung kembali berpacu saat aku ditatapnya lekat usai jilbab ditanggalkan.


“Aduh make up-nya tebal banget.” Aku mencoba mengalihkan fokus.


Kutuangkan beberapa kali pembersih wajah ke kapas. Lalu kuoles-oles pelan.


“Bersihkan make-up lama, ya?”


“Iya.”


Irsyad langsung mencekal pergelangan tanganku dan merebut kapas serta pembersih wajah, lalu meletakkannya begitu saja di meja rias.


“Bisa bersihkan ini nanti saja?”


Bibirku merapat. Suasana berubah tegang lagi. Mataku mengerjap beberapa kali. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung dibopong suami ke atas ranjang. Sentuhan hangat penuh gairah mulai kurasakan disetiap jengkalnya.


***


❤️❤️❤️❤️❤️


Novel ini sedang proses terbit, ya. Yang mau peluk novelnya bisa chat othor di nomer 0857 222 009 07


follow IG othor yuk dinarala2022

__ADS_1


__ADS_2