Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
TES DNA


__ADS_3

❤️


"Kamu lupa, ya? Itu baju yang kamu pakai, aku yang belikan."


"Ok. Nih!" Hans membuka, terus melemparnya.


"Celananya juga, aku yang beli."


"Ok. Nih!" Hans melemparkan lagi.


Sekarang dia hanya memakai kolor dan bertelanjang dada. Kemudian pergi ke gudang mencari baju-baju bekas yang ia beli dengan uangnya sendiri. Tidak lama ia keluar dengan baju lusuhnya masih tanpa celana.


"Kenapa? Enggak nemu celana?"


"Iya. Aku lupa, kalau celananya dulu udah aku bagikan ke tetangga."


"Ya, sudah. Go!"


"Aku pinjam dulu, ya! Celana yang tadi. Nanti pasti aku balikkin."


"Enak saja. Itu juga kolor, aku yang beli. Jadi sudah untung tidak kuminta."


"Astaga! Masa aku keluar rumah hanya memakai kolor. Kan malu."


"Tanggung! Kelakuanmulah yang jauh memalukan."


"Ok. Aku tidak akan pernah ngemis sama wanita sombong sepertimu."


Hans pun angkat kaki dari rumahku dengan penampilan kolor serta tanpa alas kaki. Disandangnya sebuah tas dibahu yang berisikan dokumem berharga. Kini ia layaknya gembel baru keluar dari kompleks. 


Keesokan harinya aku mendengar kabar, kalau baju tetangga yang kebetulan menggantung diteras hilang. Begitu pun sandal capit depan rumahnya.


*** 


Hasil sidang warga memutuskan, kalau Pak Rt dicopot dari jabatannya. Karena dia warga asli, begitu pun dengan Hera, maka kesalahannya diampuni. Akan tetapi, mereka diwajibkan ikrar tobat serta diwajibkan rutin hadiri pengajian dengan harapan bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik. Mereka juga akan segera dinikahkan. Sementara si ****** Meti sudah kabur sebelum disidang. Begitu pun Hans yang sudah kuusir.


Ting, tong ... rupanya ada yang bertamu siang-siang begini. Aku lekas membuka pintu dan ternyata ibunya Hans yang datang. Kupersilahkan dia duduk.


"Ibu dengar kamu mau pindah. Untunglah belum, jadi Ibu masih ada kesempatan menemuimu."


"Iya, Bu."


"Mantu, maafkan Ibu," sesalnya meraih tanganku. 


"Maksudnya?"


"Dea itu sebenarnya bukan adik tiri Hans. Tetapi, adik tak seibu."


Dia pun menuturkan dengan berurai air mata. 


Seperti terpaksa membuka luka masa lalu yang sudah mengatup. Ayah Hans selingkuh sampai memiliki anak, yaitu Dea. Ibunya Dea meninggal saat melahirkannya. Bayi tanpa dosa itu dibawa pulang ke rumah oleh ayah Hans. Dengan terpaksa ibu harus merawatnya, bahkan memasukkan Dea ke daftar kartu keluarga.


Ibu Hans berpikir, akan terus ikhlas dalam membesarkan anak hasil zina suaminya tersebut. Tetapi ternyata, semakin besar, paras Dea malah semakin mirip dengan paras mendiang ibunya. Sejak itu, ibu Hans sering berprilaku buruk dan menjadikan Dea sasaran atas rasa sakit yang ditorehkan. Oleh karenanya, ayah Hans berwasiat kepada dia agar terus menjaga sang adik.


"Kenapa Ibu baru cerita?"


"Maafkan, Ibu."


"Maaf juga, aku sudah salah paham."


"Tak apa, mantu. Ibu juga sebenarnya datang ke sini untuk meminta maaf karena Hans sudah mengkhianatimu. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya."


"Ibu sudah tahu?"


"Iya. Hans datang ke rumah Ibu dan menceritakannya. Tetapi, dia sudah Ibu usir juga. Ibu tak sudi miliki anak yang tidak tahu diri. Padahal kurang apa kamu selama ini. Bahkan hidup kami pun kamu yang tanggung. Soal momongan, bukankah masih bisa diusahakan lagi?"


"Hans bicara soal momongan kepada Ibu?"


"Iya. Dia mengaku ingin sekali punya anak. Dan menyalahkanmu karena dulu keguguran. Sungguh maafkan Ibu yang telah gagal mendidiknya."

__ADS_1


"Hans mau punya anak?"


Padahal dia selalu bilang tidak tega, memintaku untuk hamil lagi. Memang sih, dia sering sekali membahas tentang anak-anak. Bahkan dia akrab sekali dengan anak-anak kecil yang ada di kompleks. Rupanya dia memang ingin memilikinya.


"Iya, dan ...."


"Apa, Bu?"


"Dia akan meminta anak dari selingkuhannya."


"Apa?"


"Iya, mantu."


Meski gugatan cerai sudah aku layangkan, tetapi rasanya tidak rela mendengar Hans akan meminta anak dari si ******.


***


Aku memang menyewa jasa seorang mata-mata untuk mengawasi segala tindak tanduk Hans. Tujuannya hanya untuk memastikan hidupnya susah. Akan kupastikan tidak satu pun perusahaan atau pun orang yang memperkerjakan dia. Aku ingin hidupnya terlunta-lunta seperti gembel.


Namun, laporan yang kuterima hari ini sangat mengejutkan. Kupikir si Meti tidak akan mau menerima Hans, lelaki kere yang tak punya harta sepeser pun. Tetapi mereka malah hidup satu atap di sebuah kontrakan yang telah disewa si ******. Kudengar si Meti menjadi buruh cuci-setrika di daerah sana.


Kupastikan, mereka tidak akan bertahan lama. Sebuah rumor segera ditabur. Aku tinggal menunggu hasilnya.


Seminggu kemudian.


"Bu Bos, Hans dan Meti sudah terusir dari kontrakan," lapor mata-mataku.


"Good job!" Terus sekarang mereka tinggal dimana?"


"Mereka menginap di rumah temannya Meti."


"Berapa lama mereka akan menginap?"


"Belum tahu, Bu Bos."


"Terus selidiki!"


***


Sore hari aku hanya duduk sendiri di teras sambil menikmati secangkir teh melati. Tiba-tiba kulihat si Hera membuka pagar rumah. Kemudian dia berjalan pelan menuju ke arahku. Ada perlu apa dia? Bukankah baru saja berkabung? Karena bayi yang dilahirkannya meninggal.


"Assalamualaikum," salam Hera.


"Waalaikum salam."


"Maaf, Mbak mengganggu."


"Ada apa?" tanyaku tanpa mempersilahkan dia duduk.


Rasa benci ini belumlah hilang. Bagaimana tidak? Dia sudah bersekongkol dengan Hans juga Meti. Bahkan ia dengan senang hati menjadikan bagian rumahnya sebagai ruang rahasia jahanam itu. Padahal Hans tidak seberapa membayarnya tiap bulan.


"Mbak, sudah tahu 'kan kalau bayi yang saya lahirkan meninggal?" tanyanya sendu.


"Ya."


"Sa-saya minta maaf!" sesalnya terisak.


"Maksudmu?"


"Sekarang saya bisa merasakan betapa berdukanya kehilangan seorang anak. Saya yakin, waktu keguguran, Mbak pun sangat berduka."


"Ya, semua ibu pasti berduka saat kehilangan anaknya."


"Mak-sud sa-ya, Mbak keguguran yang kedua itu ... ka-karena Meti-lah yang telah mengaturnya," tutur Hera mencengangkan.


"Apa?"


"Maaf, karena baru bisa jujur."

__ADS_1


Ingatanku spontan memindai kejadian waktu itu. Rem mobilku blong hingga mengakibatkan  kecelakaan yang membuatku keguguran. Jadi Sebenarnya Meti di balik kejadian tersebut? Dasar ****** biadab! Keterlaluan. Murkaku berkobar kembali.


"Kamu tahu akibatnya 'kan jika berani membohongiku?" Mataku menyelidik.


"Iya. Saya menyampaikannya karena sekarang bisa merasakan sakitnya kehilangan anak," akunya seraya menatap.


Tentu aku percaya atas apa yang disampaikan Hera. Saat ini dia tak punya motif untuk memfitnah si Meti. Selain itu, aku perhatikan saat dia menuturkan bersungguh-sungguh penuh penyesalan. Pandangan matanya saat bercerita terpusat ke arah kiri. Ia benar-benar mengakses memori, bukan imajinasi.


*** 


"Apa ada berita baru?" tanyaku kepada mata-mata bayaran.


"Tentu saja, Bu Bos."


"Apa itu?"


"Mereka ada rencana pulang ke kampung halaman Meti."


"Pulang kampung?"


"Iya. Hidup di kampung dan menikah di sana. Sebab dia sedang hamil."


"Hamil?" sentakku.


Deng ... kepalaku berasa dipukul palu godam. Luka hati semakin menganga dibuatnya. Kampung bukan ranahku. Apa mereka akan hidup bahagia di sana? Ini tidak adil! Kenapa Hans menanamkan janin di rahimnya? Kenapa lebih memilih hidup dengan si ****** meski kekurangan?


Aku tidak tega dan tidak bisa jika harus membunuh janin tak berdosa seperti yang telah dilakukannya. Tetapi, akan kupastikan hidup dia menderita.


Setelah berpikir keras, akhirnya aku menemukan jalan. Hal pertama yang harus kulakukan adalah memisahkan mereka berdua dengan cara elegan. Ya, aku harus membuat Hans meninggalkan wanita ***** itu. Aku yakin mereka sudah merajut mimpi indah tentang membesarkan anak. Baiklah, sekarang giliranku menghancurkan mimpi kalian!


Tipuan akan kubalas dengan tipuan. Dalam hal ini aku kerja sama melibatkan Hendra. Lelaki yang sudah dimanfaatkan si Meti.


***


"Tega ya, kamu! Aku sudah begitu bahagia saat tahu akan menjadi ayah. Tapi ternyata ... kamu memang perempuan ******!" maki Hans dengan murka.


"Bang, percaya padaku. Ini anakmu! Aku dan Hendra tidak pernah berhubungan badan."


"Alah, terus saja ngeles. Kalau tidak pernah berhubungan, mana mungkin Hendra menganggap janin itu adalah anaknya."


"Bisa saja 'kan ini suruhan si Salma?"


"Ya ampun, apa kamu tidak mikir? Menuduh wanita yang keberadaan kita saja tidak tahu. Salma mana tahu kamu hamil."


"Bisa saja dia memata-matai kita 'kan?"


"Untuk apa? Jangan ngaco kamu!"


"Ya untuk balas dendam."


"Tidak! Dengan mengusirku dari rumahnya dalam keadaan nyaris telanjang, itu bagi dia sudah cukup."


"Serahlah! Yang pasti ini adalah anak Abang. Aku akan membuktikannya."


"Caranya?"


"Tes DNA."


"Berarti harus menunggu anaknya lahir dulu."


"Tidak, aku akan tes DNA secepatnya."


"Memang bisa? Bayinya 'kan masih dalam perut."


"Bisalah."


Itu sepenggal pertengkaran mereka dalam video yang kuterima dari sang mata-mata.


"Sebisa mungkin, gagalkan rencana mereka untuk tes DNA!" titahku di sambungan telepon.

__ADS_1


"Baik, Bu Bos."


Eum, kira-kira berhasilkah Salma menggagalkan tes DNA-nya?


__ADS_2