Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
POV Hans


__ADS_3

KB-16


Kenapa orang-orang selalu memandangku sebelah mata? Padahal aku menikahi Salma murni karena mencintainya. Sebelum menikah, aku memang tahu kalau dia itu seorang wanita karir. Akan tetapi, tidak pernah terpikir berapa gajinya. Setelah menikah, aku sendiri terkejut, ternyata gaji dia lebih besar dariku yang hanya seorang supervisor di sebuah pabrik.


Pantas saja orang tua Salma selalu merendahkanku dan bahkan tidak merestui pernikahan kami. Setelah menjadi wali nikah  karena terpaksa, ayah Salma pun langsung bertolak pulang ke negaranya--Malaysia. Ibunya pun tentu turut serta pindah ke sana. Maka dari itu, aku memperlakukan Salma dengan sangat istimewa. Dia rela jauh dari kedua orang tua demi hidup bersamaku. 


Setahun, dua tahun, pernikahan kami bahagia-bahagia saja, meski belum memiliki anak.  Sebenarnya Salma sempat hamil, tetapi keguguran. Penyebabnya dokter bilang, Salma terlalu kecapean. Aku pernah meminta dia agar berhenti dari pekerjaannya, tetapi ditolak. Menurut ukuran dia, gajiku tidak akan bisa mencukupi kebutuhan hidup kami. Aku tidak bisa memaksanya untuk hidup sederhana tanpa barang-barang branded. 


Hal ini memacu diriku untuk kerja lebih giat lagi. Teman-teman jadi sering menyebutku gila kerja. Ya, setiap ada lembur, aku tidak pernah absen. Segala target perusahaan, selalu diusahakan tercapai. Berkat kerja keras, aku mulai mendapat banyak keuntungan. Termasuk penghasilan yang bertambah setiap bulan, sampai mendapat promosi jabatan.


Sayang sekali, diam-diam ada rekan kerja yang iri hingga dia tega memfitnahku telah menggelapkan produk perusahaan. Entah bagaimana bisa semua bukti mengarah kepadaku? Pada akhirnya dipecat dengan tidak hormat.


Kesuksesan yang sudah di depan mata, hancur begitu saja. Kerja kerasku sia-sia sudah. Padahal terlanjur berekspektasi bahwa Salma akan bangga atas pencapaian suaminya. Sehingga tak akan malu lagi jika meminta dia untuk risegn. 


Namun, semua itu hanya mimpi yang tak bisa terwujud. Aku berada di fase terendah dalam hidup. Semangat kerja hilang tak berjejak. Berbulan-bulan hanya berdiam diri tanpa berniat untuk mencari kerja lagi. Selama itu, kebutuhan hidup Salma lah yang mencukupi.  Beruntung sekali aku miliki istri yang tak pernah perhitungan soal uang. Malah katanya gaji dia semakin berkah setelah menghandle keuangan rumah tangga kami. Karirnya semakin cemerlang dan sering mendapat bonusan dari Bos.


Lama-lama tanpa sadar, aku justru keenakan dengan sikap Salma yang royal. Rasanya sudah tak malu lagi sekadar meminta uang darinya. Toh, selama ini bukankah aku sudah dianggap sebagai lelaki yang memanfaatkan uang Salma semata oleh orang-orang. 


Aku jadi malas sekali mencari kerja. Padahal kadang mendapat rekomendasi dari teman. Sekarang justru lebih suka melakukan pekerjaan rumah dan memasak untuk istri yang kini mulai sangat sibuk.


Perusahaan tempat dia kerja semakin maju dan berimbas ke waktu Salma yang semakin tersita. Efeknya membuatku sering kesepian. Untuk menghibur diri, aku suka kongkow bersama teman-teman. Dari pergaulan itu, sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir. Termasuk kesetiaan yang terus teruji.


Teman-teman sering memperkenalkanku dengan cewek-cewek nakal. Sampai di sini, aku masih bisa setia.


Namun, suatu hari teman terdekatku mengenalkan dengan tidak sengaja kepada seorang gadis dari kampung. Parasnya biasa saja. Hanya saja usianya memang masih muda. Gadis itu bernama Meti. Awalnya kupikir, dia adalah seorang gadis yang lugu dan pemalu. Jadi aman-aman saja kalau dijadikan teman ngobrol.


Perkenalan dilanjut dengan saling tukar nomer ponsel. Akan tetapi, ternyata Meti sangat energik juga menantang. Jujur, aku dibuat penasaran. Perlahan main api pun dimulai. 


Meti benar-benar beda sekali dengan Salma yang lamban dan manja. Dia kebalikannya, cekatan dan mandiri. Semakin jauh mengenalnya, semakin dibuat bergairah hidupku. Entah kapan tepatnya? Jadilah aku dan Meti sepasang kekasih haram yang memabukkan. 


Kami tidak bisa jauh lama-lama. Inginnya bertemu terus bagaimana pun caranya. Padahal niat awal Meti ke kota hanya untuk berkunjung ke saudara. Kalau sudah begini, dia pun jadi berat pulang kampung. Muncullah ide gila untuk memperkerjakan Meti di rumah sebagai pembantu.


"Yang, aku mau mulai kerja lagi," ucapku penuh modus.


"Ya ampun, serius Mas?"


"Serius."


"Baguslah. Akhirnya Mas bisa bangkit juga. Aku pasti dukung. Semangat!" Binar kebahagiaan terpancar dari kedua matanya.


"Tapi ...."


"Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Kalau aku sibuk cari kerja, siapa yang bereskan rumah?"


"Apa kita pekerjakan seorang ART saja?" 


Yes, pancingan berhasil.


"Keluar modal lagi, dong. Aku jadi enggak enak."


"Tidak apa-apa, Mas. Lagian gajiku mulai bulan depan naik."


"Yang benar, Ayang?"


"Iya, Mas." Salma mengangguk seraya tersenyum lebar.


Selanjutnya aku mengatur kedatangan Meti yang seolah tanpa sengaja selang tiga hari dari pembahasan.


Di sore hari yang cerah secerah harapan, aku santai-santai duduk di teras bersama Salma. Karena pagar rumah kami terbuka, datanglah seorang tamu yang tak diundang. Gadis desa dengan penampilannya yang khas serta rambut kepang dua. Ya, gadis itu Meti. Kami berakting sealami mungkin agar Salma tak menaruh curiga. Aku bersikap cuek dan acuh saja. 


Meti dengan tampang putus asa dan kelelahan menceritakan niatannya mampir ke rumah kami. Awalnya hanya basa basi dan mengaku kalau kebetulan lewat. Terus menanyakan apa kami sudah memiliki pembantu atau belum? Salma yang pada dasarnya emang baik hati, terus saja mendengarkan keluh kesah si gadis.


"Tolonglah, Bu. Saya butuh sekali pekerjaan. Sudah sebulan saya cari kerja di kota, tapi tidak dapet juga. Padahal bekal saya tinggal sedikit lagi. Tolong kasihani saya!" Meti memelas terus menerus menjalankan aksinya.


"Mas, bagaimana ini?" Salma meminta pendapat.


"Tunggu dulu, ya! Saya mau bicara dulu dengan suami."


"Silahkan, Bu."


Selama diskusi aku menampakan wajah keberatan kalau Salma mau memperkerjakan Meti. Dengan alasan kami sama sekali tidak mengenalnya. Tapi Salma bersikukuh merasa kasihan.


 


"Mas, tenang saja, nanti aku akan pasang Cctv di setiap ruangan."


"Cctv? Ya, ide yang bagus."


Sejak itu Meti resmi kami terima jadi ART. Keberadaan Cctv membuatku tidak leluasa sekalipun Salma tak ada di rumah. Hanya kamar tidur dan kamar mandi saja yang tidak kami pasang. Tentu aku turut andil dalam pemasangannya. Karena untuk mengatur titik-titik mana saja yang tidak terbidik kamera.


Hubunganku dengan Meti berjalan aman dan lancar. Membuat hari-hari terasa berwarna dengan kehadirannya. Dia sungguh tahu dan paham bagaimana cara menyenangkanku. Aku merasa bak seorang raja, sebuah pelayanan yang tidak pernah Salma berikan. Sungguh istriku itu hanya bisanya menghasilkan uang saja. 


Hingga suatu ketika kudapati kabar kalau Salma tengah hamil lagi. Sebuah kabar yang membuatku gembira tiada tara. Pasalnya aku memang merindukan kehadiran anak kecil di rumah ini. Aku bangga bisa jadi seorang ayah. 


Pikiranku mulai kembali waras. Aku memutuskan akan mengakhiri hubungan terlarang bersama Meti.

__ADS_1


Belum sempat kuutarakan niat tersebut kepada Meti, aku malah kena musibah. Salma mengalami kecelakaan mobil. Bukannya sedih, aku justru ingin marah luar biasa.


Pasalnya, sudah kuperingatkan dia agar tidak usah masuk kerja di hujan lebat. Terlebih dengan keadaannya yang tengah hamil muda. Andai saja aku bisa menyetir, pasti akan diantarkan. Dasar memang keras kepala! Laranganku tidak diindahkan sama sekali. Meeting dengan klien penting selalu dijadikan alasan. Akibatnya kami harus kehilangan calon anak kami untuk kali kedua. Semua gara-gara kelalaiannya.


Salma ditunggui ibu dan Dea selama di rumah sakit. Sedangkan aku melampiaskan rasa kekesalan kepadanya dengan cara yang asik. Ya Meti selalu menghiburku siang malam. Dia berhasil membuatku melupakan semua kesedihan tentang kehilangan calon anak.


Namun, dengan banyaknya Cctv di rumah, membuatku dan Meti kesusahan untuk menyalurkan hasrat terlarang. Masa kami harus melakukannya di kamar mandi belakang? Terlalu sempit. Sementara depan pintu kamar Meti dan kamar tamu terbidik kamera. Hanya pintu depan kamarku dan Salma lah yang tidak terbidik. Akan tetapi, aku merasa bersalah jika melakukannya di kamar tersebut. Janjian di luar rumah memang bisa, tapi harus ekstra hati-hati. Takutnya terciduk tiba-tiba.


Sampai akhirnya, Hera tetanggaku yang ternyata sudak akrab dengan Meti, sekaligus satu-satunya orang yang tahu perselingkuhan ini menawarkan jasa. Dia tidak keberatan kalau kami mau berkencan di rumahnya. Biaya sewa kamar lumayan murah. Akan tetapi, lagi-lagi kami was was, takutnya pas hendak memasuki rumah Hera, ada tetangga lain yang lihat. Nanti dikira aku ada main dengannya.


Cling! Meti tidak kehabisan cara. Ia menyarankan agar aku membuat pintu rahasia saja ke rumah Hera. Awalnya aku merasa ini ide konyol. Setelah dipikir-pikir boleh juga. Kutitipkan Salma di rumah ibu. Alasannya untuk masa pemulihan pasca rawat inap dari rumah sakit. Biar ada yang merawatnya dengan baik. Untunglah Salma menurut kepadaku.


Untuk biaya pintu rahasia itu, aku sampai meminjam ke seorang teman yang kebetulan kerja di lising. Setiap bulannya aku setor dengan jatah uang dari Salma. Konsep pintu rahasianya menggunakan media lemari. Sebuah lemari khusus yang didesain oleh temanku sendiri.


Pintu rahasia itu dibuat melalui Rumah Hera. Agar tidak ada orang yang curiga saat tukang mengerjakannya. 


Walau telah banyak mengeluarkan uang demi ruang rahasia itu, akan tetapi aku puas. Bisa bebas memasukinya bersama Meti kala Salma tak ada di rumah.


Nikmat dunia itu kudapatkan hampir setiap hari. Kini aku tidak uring-uringan lagi saat Salma sering tertidur langsung pas pulang kerja. Meti benar-benar lincah di ranjang. Aku tidak menyangka gadis desa itu lihai sekali saat bermain. Tentu membuatku ketagihan sampai mau lagi, mau lagi. 


***


Tidak terasa perselingkuhanku dengan Meti sudah berjalan satu tahun lebih. Hari ini untuk pertama kali dia merajuk. Gara-gara aku sibuk menyiapkan perayaan anniversary pernikahan yang ke-5 dengan Salma.


Kubuat kamar seromantis mungkin dengan taburan kelopak mawar. Meti terus mendesis sebal melihatnya. Aku hampir kehabisan kata membujuk dia agar menegrti posisi. Bagaimana pun Salma adalah istri sah yang sampai kapanpun harus kuperlakukan spesial. Meti malah semakin tersinggung dan mengancam tidak mau melayaniku lagi. Akhirnya dia mengajukan permintaan, sebagai syarat akan berhenti merajuk.


Syarat yang ia ajukan adalah berhubungan intim di kamar yang sudah kusiapkan untuk Salma. Dia ingin menikmati suasana romantis kamar tersebut lebih dulu. Dengan kata lain nanti Salma akan menikmati bekas pergulatan kami. Ya, mau tidak mau aku harus menuruti permintaannya itu. Meski menurutku dia sedikit kekanak-kanakan. Wajar, mungkin cemburu.


Untunglah Salma juga sepertinya lembur. Sudah malam belum datang juga. Aku dan Meti mulai ritual layaknya sepasang pengantin baru. Banyak sekali pemanasan yang kami lakukan. Hingga sampai pada titik dimana akan *******.


Tok, tok, tok, bunyi daun pintu kamar diketuk.


"Mas, buka!" Suara Salma nyaring terdengar dari luar.


Aduh gawat! Repelks kami menghentikan aktifitas yang padahal dalam hitungan detik akan memuncak.


"Aish, sial!" umpat Meti pelan.


Aku langsung membekap mulutnya, takut Meti lepas kontrol dan bersuara keras.


"Cepat buka!" titah Salma kembali.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2