Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Hans Marah


__ADS_3

Tubuhku terlonjak mundur saat dinding lemari bergeser pelan. Tak ayal seperti sebuah pintu rahasia yang pernah aku lihat di film. Kini dinding lemari yang terbuka setinggi aku berdiri dan selebar satu meteran membuat mata kian membola..


Kuayunkan langkah dengan pelan tapi pasti, melewati pintu yang baru saja terbuka. Ternyata terhubung ke sebuah ruangan berukuran sekitar 3x3 meter persegi. Di dalam hanya ada kardus-kardus menumpuk serta beberapa barang yang telah usang. Seperti sebuah gudang lebih tepatnya. Aku pikir akan ada banyak harta karun atau paling tidak sebuah rahasia.


Tunggu! Kok, ada sebuah pintu lagi? Kumencoba melangkah lebih jauh, menghampiri pintu tersebut. Lalu diputar kenopnya, tetapi terkunci.


"Bagaimana ini?"


Samar getar ponsel terdengar dari arah kamarku. Entah siapa yang menelepon. Aku segera keluar dari ruang rahasia.


"Hans? Ada apa dia menghubungi?"


Mengambil napas panjang, terus embuskan. Aku harus terdengar baik-baik saja. Walau dalam dada bergemuruh. Rasanya ingin meledak, juga memaki dengan kata-kata kasar.


"Hallo, Mas."


"Ayang, aku sudah di jalan."


"Maksud, Mas? Jalan pulang?"


"Iya."


"Bukankah mau pulang besok?"


"Ini si Dea bikin masalah.”


“Oh. Aku juga ada kok, di rumah.”


“Kalau begitu sudah dulu, ya! Mas mau pesan taksi."


Belum sempat aku merespon, sambungan sudah terputus. Dari nada bicaranya, aku menyimpulkan kalau Hans sedang menahan amarah. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Heh, bukankah mereka harusnya bersenang-senang. Apa mungkin ibu mertua sudah mengadu?


Sebaiknya lain kali saja, aku kembali ke ruang rahasia. Segera kubereskan semua ke tempat semula. Aku batalkan rencana ke kelurahan hari ini. Bukan berarti aku berubah pikiran akan gugatan cerai, melainkan harus kusiapkan ulang pada waktu yang tepat.


Tidak lupa kuganti baju terusan dengan piyama. Seolah aku sedang tidak enak badan, makanya tidak masuk kerja. Lagian mataku masih terlihat sembab. Demam akan kujadikan alasan jika Hans bertanya nanti.


Aku juga akan pura-pura tidak tahu atas pengkhianatannya untuk sementara waktu. Banyak hal yang harus kuurus terlebih dahulu. Termasuk bukti-bukti perselingkuhan agar ia tidak bisa mengelak. Ada satu hal yang harus kusiapkan dengan matang. Ya, sebuah pembalasan yang setimpal.


Tiba-tiba perutku mulai keroncongan. Biasanya Hans menyiapkan sarapan setiap pagi. Aku harus belajar untuk tidak bergantung kepadanya soal isi perut. Gegas pergi ke dapur berharap ada sesuatu yang dapat meredakan rasa lapar ini.


Hati mencelos, tatkala di meja tak ada satu pun buah-buahan. Stok roti juga habis. Pun dengan isi kulkas yang kosong dari sayuran. Hanya Tinggal ikan dan daging mentah di freezer. Mana bisa seorang Salma mengolahnya.


Sebenarnya tidak jauh dari rumah ada warung sayur. Apa sebaiknya aku belanja telur? Mudah bukan memasaknya? Dengan malas kaki ini akhirnya kubawa keluar rumah.


Sesampai di warung, ternyata para tetangga sedang asik bergosip.


"Iya, si Hera memang mencurigakan," seru tetangga bernama Lia.

__ADS_1


Rupanya mereka sedang menggosipkan tetangga yang suka pamer di medsos itu. Baguslah! Aku juga entah kenapa merasa sebal sama dia.


"Keenakan, sih, dia! Ada Pak RT yang selalu membela," timpal yang lain.


"Kayaknya Pak RT ada main, deh," imbuh tetangga bertubuh tambun yang namanya aku lupa.


"Huss ... Jangan keras-keras!" Tukang warung memperingatkan saat menyadari kedatanganku.


"Apa kabar Bu-ibu?" tanyaku ramah.


"Eh, Mbak Salma. Tumben nih, mau belanja?"


"Iya. Mau beli telur sekilo, Ceu," jawabku.


"Mbak Salma, maaf nih! Mbak 'kan tetangga dekat Mbak Hera. Apa sering gitu mengobrol?" tanya tetangga yang bertubuh tambun itu.


"Memangnya ada apa, ya?"


"Ah, kamu kenapa menanyakannya sama Mbak Salma?" Si tetangga yang bertanya disikut oleh Lia.


"Oh, tidak apa-apa, kok, Bu. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan."


"Tuh 'kan tidak apa-apa."


"Ya sudah, tanyakan, gih!"


"Anu Mbak. Itu Mbak Hera 'kan lagi hamil. Tapi, suaminya kok tidak pernah kelihatan, ya?"


"Oh, begitu, ya, Mbak?"


Aku hanya membalas dengan anggukan.


"Emang, ya, Hera itu orangnya enggak jelas. Tertutup. Hanya Pak RT yang sering ketangkap basah bolak balik ke rumahnya. Secara Pak RT itu duda," terang Lia.


"Sepertinya kita harus ganti RT," seru tukang warung.


Karena tidak terbiasa bergosip, kupingku berasa panas saat mendengar gunjingan mereka. Menyimak sebentar saja, bahuku diam-diam bergidik. Buru-buru kuselesaikan proses transaksi beli telurnya.


"Jadi berapa, Bu?"


"Dua puluh lima ribu, Neng."


Kusodorkan uang selembar bergambar Soekarno-Hatta.


"Mari semua," pamitku setelah mendapat kembalian.


Sehabis dari warung aku langsung menuju dapur. Kuambil wajan dan menuangkan minyak goreng seperti yang biasa Hans lakukan.

__ADS_1


"Telur ceplok sajalah yang gampang." Aku bergumam sendiri.


Satu telur kupecahkan ke atas penggorengan dengan hati-hati. Eh, ya Allah, lupa kompornya belum dinyalakan. Karena api besar, tidak lama minyak panas sampai membuat telur meletup-letup. Spontan tubuh ini mundur untuk menghindar.


Bisa bayangkan bagaimana takutnya aku. Pelan-pelan mendekat lagi untuk membalik terlor. Sejumput garam kutaburkan dengan sedikit dilempar. Setelah dirasa matang, dimatikannya kompor dengan cepat.


Plong, akhirnya bisa juga masak telur. Kuperhatikan telur ceplok buatanku. Kenapa penampakannya jauh sekali dari yang biasa Hans sajikan? Memori mengurai tatkala dia dengan cekatan mengolah segala bahan masakan. Aku selalu tersihir oleh pesonanya tersebut. Tanpa sadar ada rindu menelisik di balik relung hati yang bergelut dengan prasangka.


Kruk, kruk ... usus kecil mengeluarkan suara lagi. Aku tersentak dari lamunan.


"Yah, nasinya tidak ada." Aku tidak mendapati nasi secuil pun di dalam Magic com.


Terpaksa harus makan telur tanpa nasi. Tak apalah! Eh, ternyata bagian dalamnya masih basah. Warna kuning amis sampai lumer di sendok. Telur yang under cook itu, langsung membuatku mual.


"Astaga! Padahal dari luar sudah tampak nyaris gosong."


Apa aku sepayah ini dalam urusan masak? Baru kusadari sekarang, dimana usia mulai memasuki kepala tiga. Sungguh terlalu! Tetapi, Wajar juga sih, dari dulu aku memang terbiasa dilayani oleh pembantu. Jadi tidak ahli dalam urusan memasak.


**


Bel berbunyi. Pasti itu Hans yang datang. Aku berusaha menata hati untuk setenang mungkin. Sebisanya kutekan dahulu ego yang bersarang dalam dada.


Aku beranjak untuk membuka pintu karena tadi sengaja kukunci karena lagi sendirian di dalam rumah.


Begitu kubuka, tak seperti biasa, lelaki yang masih bergelar suamiku langsung merangsek masuk sambil menarik kasar lengan Dea.


"Duduk kamu!" bentak Hans kepadanya.


Namun, adiknya itu tidak mau menurut. Ia tetap berdiri dengan kedua tangan melipat di dada.


"Ini ada apa? Datang-datang kok, marah-marah?" Dahiku mengerut.


Keduanya tak ada yang menjawab pertanyaanku. Sibuk dengan amarahnya masing-masing.


"Keterlaluan, ya, kamu! Tidak tahu malu!" Hardik Hans. Matanya menyalak galak.


"Cukup! Berhenti ikut campur urusanku!" balas Dea sengit.


Baru pertama aku melihat Hans semarah ini. Napasnya terus menderu berat seiring amarah yang meletup-letup. Bak gunung berapi sedang erupsi. Apa ini drama? Tidak! Ini terlihat nyata dan terasa natural.


"Kamu sudah tidak mau mendengarkan Kakakmu ini, hah?"


"Biarkan aku bebas! Jangan atur-atur terus! Kamu itu bukan Kakak kandungku!" Dea memekik.


Plakk!! Secepat kilat tangan Hans mendarat sempurna di pipi tirusnya. Tamparan yang cukup keras tersebut sampai meninggalkan jejak merah mengikuti bentuk jari.


Dea memegangi pipinya yang kuyakin terasa sangat panas. Tidak terima atas perlakuan Kakaknya, dia melengos, kemudian pergi meninggalkan rumahku.

__ADS_1


Wah, wah, ada apa ya, antara Hans dan Dea?


***


__ADS_2