Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Curiga Lagi


__ADS_3

❤️❤️❤️


KB 26


Aku tidak menyangka kalau Hans akan semarah ini atas keputusanku untuk memebeli kafe. Apa sebegitu melukai harga dirinya? Sebab ketidakmampuannya itu.


"Batalkan kesepakatan itu!"


"Janga Mas!"


"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Mentang-mentang punya uang."


"Cukup, Mas! Aku memang punya uang. Tapi kali ini, semua aku lakukan demi anak kita," berangku.


"Anak? Apa maksudmu anak?"


"Ya Mas. Aku sedang hamil. Maka dari itu, aku tidak mau kalau sampai kamu terus pengangguran. Sedangkan banyak sekali hal yang harus kita siapkan untuk kehidupan janin ini."


"Hahaha ... apa kamu mencoba untuk menipuku lagi?" ejek Hans.


Aku gegas ke kamar untuk mengambil tes pack dan selembar hasil pemeriksaan dokter Sp.OG berikut foto hasil USG-nya. Lalu kuserahkan kepadanya sebagai bukti.


Seketika mata Hans membeliak setelah dengan teliti memerhatikan apa yang kini ada di tangan.


"Aku bukan penipu," tegasku.


"Kamu hamil, Yang?" tanyanya penuh binar senang. Aku hanya mengangguk. 


Hans langsung memeluk tubuh ini penuh energi hingga sedikit terangkat. Suasana bersitegang berganti haru. Ia bahkan tak henti-henti menciumiku. 


***


"Aku berjanji, akan mengelola kafe kita sebaik mungkin. Ini demi kamu, Nak," ucap Hans seraya mengelus perutku.


Sejak itu, aku merasakan kehidupan kami normal dan sempurna. Kehadiran Meti saat itu hanya ujian bagi rumah tangga kami. Alhamdulillah, kami telah lulus melewatinya. Kejadian itu pula membuat aku dan Hans terus berusaha menjadi lebih baik. Tak ada manusia yang luput dari khilaf.


Setiap bulannya secara rutin kami pun mengunjungi dokter kandungan. Terlebih kandunganku sedikit alami masalah. Aku selalu disarankan untuk rileks dan dilarang mengerjakan pekerjaan rumah. Riwayat keguguran dua kali juga pendarahan mendasari dokter untuk menyarankan agar kami tidak melakukan hubungan intim terlebih dahulu. Kadang kasihan kepada Hans yang hasratnya tidak tersalurkan. 


"Ya dari pada membahayakan dede bayi, lebih baik aku puasa saja lah." Dia berujar.


"Sabar, ya, Mas. Sama sebetulnya, aku juga kepengen," timpalku. 


"Iya, hanya sampai trisemester kedua 'kan kata dokter?"


"Iya. Tergantung perkembangan juga setiap kontrolnya."


Kami pun hanya bisa saling melempar semyum.


Beruntung kafe yang kami beli cukup menghasilkan. Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang sebanyak hingga 2 miliar lebih. Sekurannya kami menjaminkan sertifikat rumah. Syukur lah kami juga tidak kesulitan dalam mengangsur cicilan. Kami pun memperkerjakan pembantu lagi. Akan tetapi, kali ini seorang janda yang sudah tua. Seorang wanita paruh baya yang mustahil Hans tertarik. Karena jujur, aku masih trauma. Takut Hans tergoda lagi.


Meski kehamilan ke-tiga ini mual muntah parah, tetapi kalau soal makanan tidak banyak yang kuinginkan. Justru Hans lah yang tampak ngidam. Ia sering sekali menginginkan makanan yang kadang susah didapatkan. Lucu memang.


***


Pagi-pagi sekali mertuaku sudah bertamu. Beliau membawakanku masakan. Semenjak tahu aku hamil lagi, mertua memang baik sekali. Katanya sangat senang akan memiliki cucu. Karena Dea yang sekarang jarang di rumah, membuatnya kesepian.


"Mantu, ayo makan yang banyak dan bergizi."


"Iya, Bu. Terima kasih."

__ADS_1


"Mantu, kalau misal Hans macam-macam lagi, bilang sama ibu, ya! Ibu harap rumah tangga kalian selalu baik-baik saja."


"Aamiin. Doakan terus, ya, Bu."


"Iya, sudah pasti."


Aku pun mulai merasa nyaman dengan kehadiran ibunya Hans yang sering ke rumah.


***


"Yang, aku nanti mungkin pulang malam. Soalnya mau ke Pelabuhan Ratu dulu."


"Lho, kok ke sana lagi? Minggu kemarin juga 'kan sudah."


"Ayang, stok seafood di resto kita sudah menipis."


"Masa sudah menipis lagi?"


"Ya, baguslah. Artinya resto kita laku."


Kafe yang kami beli, kini tidak hanya menjual minuman dan cemilan, tetapi melebarkan sayap ke olahan seafood. Jadilah namanya Resto & kafe HS, gabungan inisial Hans dan Salma.


Untuk mendapatkan kualitas seafood yang segar dan bagus, Hans sendiri suka langsung datang ke pantai Pelabuhan Ratu. Akan tetapi, aku merasa semakin ke sini. semakin sering dia ke sana. Wajar tidak kalau aku menjadi was-was juga curiga. 


Bagaimana pun, dia pernah berkhianat, jadi tidak mustahil kalau mengulangnya.


Terlebih sering kudengar tentang banyaknya wanita kupu malam di pantai itu. Setelah deal, mereka akan melanjutkannya di penginapan atau di hotel.


Wajar kan jika aku ketakutan? Terlebih karena kebutuhan biologisnya masih jarang sekali aku penuhi di usia kehamilan tujuh bulan ini. Bukan tidak mau, dokterlah yang menyarankan.


Ingin rasanya kubuntuti dia. Sayang sekali perutku semakin besar dan aku takut kenapa-kenapa jika bepergian jauh.  Sedangkan untuk sewa mata-mata, aku belum mampu lagi. Awas saja kalau berani main api kembali, akan kubuat dia terbakar.


"Astaghfirullah," ucapku menghentak.


Namun, tidak ada salahnya jika aku tetap waspada. Pasalnya kini ada masa depan anak yang dipertaruhkan jika sampai sesuatu yang buruk terjadi.


Selagi Hans ke Pelabuhan, aku putuskan untuk main ke kafe resto milik kami. Karena biasanya Hans suka melarangku. Dalihnya sih, demi kebaikan janin. Dia mau aku diam di rumah terus selama kehamilan.


Nah, mumpung dia tak ada, aku manfaatkan saja untuk berkunjung ke sana.


Sesampai di kafe &  resto, aku disambut ramah oleh para pegawai. Sebenarnya muka mereka terlihat tegang. Mungkin tiba-tiba berasa ada yang mengawasi kerjanya. Aku mencoba membuka laptop Hans dan memeriksa file-file di dalamnya. Cukup lama kududuk sampai pundak terasa sakit. Segera kusudahi saja, kurasa tak ada hal yang mencurigakan.


Sekarang kuberalih ke beberapa pegawai dan menanyakan kegiatan Hans sehari-hari. Kesaksian mereka hampir sama, Bosnya tidak bermalas-malasan dalam menjalankan usaha. Meski Bos, tetapi tidak ongkang-ongkang kaki dan tidak hanya main tunjuk. Katanya dia juga sering terjun ke dapur untuk membantu.Sungguh seorang Bos teladan bukan?


Dreett ... gawaiku bergetar di dalam tas. Segera kukeluarkan benda pipih tersebut. Rupanya Hans menelepon.


"Halo, Mas."


"Yang, katanya kamu lagi di kafe, ya?"


"Iya."


Hmm ... ternyata sudah ada pegawai yang melapor.


"Kok, enggak bilang sama aku?"


"Maaf, tadi di rumah aku jenuh. Jadi main deh, ke kafe. Kenapa emangnya? Enggak boleh? Ada yang kamu sembunyikan dari aku? Takut ketahuan, ya?" brondongku ngegas.


"Astaghfirullah, Yang. Ingat kamu lagi hamil! Jangan ngomong sembarangan gitu dong."

__ADS_1


"Habisnya kayak yang enggak boleh aku main ke kafe."


"Bukan enggak boleh, hanya saja aku sedang tak ada di sana. Lebih aman untukmu tinggal di rumah saja. Semua demi kebaikan anak kita, Yang. Masih ingat kan apa yang dikatakan dok--"


"Ya, ya. Udah hapal malah," ketusku menyela.


"Bagus kalau hapal."


"Kapan Mas pulang?"


"Nih, lagi siap-siap."


"Tumben cepet?"


"Iya, kebetulan tadi langsung menemukan kualitas yang ok, harganya juga lumayan, lebih miring dari yang minggu kemarin."


"Oh."


"Kalau begitu, sudah dulu ya! Sampai ketemu lagi nanti, Yang. Mmuah!"


"Iya. Hati-hati di jalan."


"Balas dulu dong."


"Apa?"


"Ciumnya atuh."


"Ekhm, mmuah," balasku.


"Makasih Ayang, ntar kita lanjutin di rumah, ya ciumannya!" pesan Hans membuatku tersipu sendiri.


Setiap menelepon, sudah kebiasaan harus diakhiri dengan ciuman. Kalau tidak dibalas, teleponnya tidak akan dia tutup.


"Ih, romantisnya Ibu sama Pak Bos. Jadi ngiri," celetuk salah satu pegawai yang bernama Mita sambil senyum-senyum.


Aku yang merasa kepergok sebenarnya malu. Tetapi, aku tidak mau menampakkan di depan pegawai tersebut. Tadi, dia memang kusuruh bawakan segelas jus alpuket. Eh, tahu-tahunya sudah ada di belakang, nguping lagi.


"Lho kamu, sejak kapan ada di situ?"


"Sejak barusan Bu bos. Mau tanya kalau jusnya mau dikasih es segimana? Takutnya kebanyakan."


"Oh, esnya sedikit saja."


"Siap."


Dia lekas pergi lagi untuk membawakan jus sesuai permintaanku. Tidak lama kemudian, satu gelas jus segar pun bisa kunikmati. Sambil memainkan ponsel, kuseruput sedikit demi sedikit hingga tandas.


Kurasa sudah cukup lama di sini. Saatnya pulang dan menunggu suami di rumah.


Prakk ... saat berdiri tak sengaja tanganku menjatuhkan sebuah buku yang dari lembar dalamnya terselip beberapa struk. Karena perut yang sudah membesar, dengan hati-hati aku berjongkok. Lalu kupungut buku dan struk itu. 


"Hah, struk Atm?" 


Kuperhatikan struk Atm tersebut. Ternyata resi transferan. Tunggu dulu! 


"Ini Hans transfer ke siapa?" Hidungku mengerut. "Meti Puspita." Aku membaca nama yang tertera sang pemilik nomer rekening tujuan. Jumlah nominalnya dua juta rupiah.


Jleb! Seketika sebelah dadaku seperti ditusuk belati. Luka yang masih berbekas terasa disiram air perasan lemon. Berdenyut nyeri dan perih.

__ADS_1


Follow IG othor 👉 dinarala2022


Terima kasih yang setia ikuti cerbung ini. Jangan bosan, nantikan selalu kelanjutannya 🥰


__ADS_2