
Aku benar-benar tidak mengerti dengan keributan yang terjadi barusan.
"Mas, apa-apaan ini? Jelaskan!"
"Ayang, maaf!" Dia menggenggam tanganku.
Kutepis kasar. "Dea bukan adikmu 'kan?" Mata ini menyelidik tajam.
"Bukan adik kandung," akunya lesu.
"Sudah kuduga," sinisku.
"Maksudnya?"
"Lekas kemasi barangmu! Angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Satu lagi, jangan bawa mobil yang telah kubelikan untukmu!" Murkaku langsung tersulut.
Meski tungkai terasa lunglai, tetap berusaha berpijak dengan mengepalkan tangan.
"Ayang, ada apa? Kenapa kamu mengusirku?"
"Masih bertanya? Tidak tahu malu!" Hardikku sampai urat-urat leher terasa mau putus saja.
"Yang, sungguh aku tak paham."
"Kamu ada main gila 'kan dengan Dea? Tega kamu, Mas!" Tubuh yang gemetar kini luruh ke lantai. Begitu pun dengan tangis yang pecah.
Pertahananku akhirnya roboh.
"Astaghfirullah, Yang. Pikiran apa yang telah merasukimu?" Hans mendekat dan hendak meraih kedua bahuku yang terguncang hebat.
"Jangan sentuh aku! Jijik!"
"Yang, kumohon, kenapa kamu berpikiran aku serendah itu?"
Aku terus menangis, air mata tumpah ruah seolah tak akan berhenti. Hans duduk tepat di hadapanku.
"Kamu jahat! Jahat!" Ku pukuli dada bidangnya sampai stok energi low.
Akhirnya Hans bisa memelukku erat tanpa mendapat perlawanan. Dia terus mengusap-usap punggung ini, berharap isak istrinya lekas mereda. Benar saja, setelah sekian menit, air mata mulai surut. Entah kenapa? Pelukannya selalu berhasil menenangkan jiwa yang meronta. Meski demikian, rasa benci atas pengkhianatan masih menguasai hati.
Tanpa bicara, lelaki yang masih bergelar suamiku, membopong tubuh lemah ini ke kamar. Setelah membaringkanku, ia gegas keluar.
Tiga puluh menit kemudian.
Aroma masakan yang ia bawa di nampan menguar memenuhi rongga hidung.
"Yang, makan dulu. Karena di kulkas tidak ada sayuran, jadi aku hanya masak ini."
Dia menyodorkan satu mangkuk ikan tuna bumbu kuning dan sepiring kecil nasi.
"Aku tidak lapar!" tolakku meski perut berkata lain.
"Marah juga butuh energi. Ayo dimakan! Ikan tuna bisa memberikan kekuatan dengan cepat, lho!" bujuknya diiringi senyuman.
Ucapan Hans memang benar. Aku juga butuh makan untuk mendinginkan kepala yang terus berasap. Memaknai ini semua butuh energi pula. Sepahit apa pun kenyataan, masalah tetap harus diselesaikan sampai tuntas.
"Aku bisa sendiri," ucapku ketus saat tangan Hans hendak menyuapkan satu sendok ke mulut. Dia menurut untuk hindari ribut.
__ADS_1
**
"Hoam..." Aku menggeliat.
Saat netra terbuka, kudapati Hans masih duduk di tepi ranjang. Rupanya sehabis makan, aku ketiduran. Pasti karena badan benar-benar lelah.
"Yang, sudah boleh kah aku berbicara?"
"Ya."
"Aku masih tidak paham, kenapa kamu bersikap seperti tadi?"
Kuhela napas untuk memasok oksigen lebih banyak, sebab dada terus menerus sesak. Meski kelu, akhirnya bibir menuturkan alasan kenapa aku menyimpulkan kalau dia selingkuh dengan Dea.
"Kamu jujur saja, Mas! Bukti alat kontrasepsi yang kutemukan lebih dari cukup. Di CCTV yang masuk ke rumah ini hanya dia. Tidak ada wanita lain. Kalian memang biadab!" Intonasiku mulai meninggi lagi.
"Astaghfirullah, demi Tuhan. Aku tidak selingkuh dengan Dea."
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan. Dasar laknat!"
Hans meremas rambutnya kuat-kuat. Tak peduli dengan makianku, ia tetap menjelaskan sebisanya. Menyangkal seratus persen tuduhanku. Mendiang ayah Hans sebelum mengembuskan napas terakhir, terus mewanti-wanti agar ia sebagai kakak dapat menjaga juga melindungi sampai kapan pun. Sebab ibu Hans selaku ibu sambung, sedari dulu kurang bersikap baik kepada Dea. Jadi suamiku dan Dea adalah saudara se-ayah.
"Aku sungguh menganggap dia sebagai adik, tidak lebih."
Hans berlanjut menjelaskan kejadian tadi. Ia marah bukan tanpa alasan. Di Bali Dea kepergok sedang berzina dengan pacarnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu Dea dan pacarnya sedang begituan?"
Hans segera merogoh ponsel di saku. Lalu diperlihatkan foto adiknya yang sedang tak senonoh.
"Oh. Lalu, kalau bukan Dea, dengan siapa kamu melakukan zina di kamarku?"
"Ya ampun! Sebenarnya aku malu mengatakannya. Tapi, aku benar-benar melakukan sendiri. Bisa kamu cek galery di ponsel ini!" Tangan Hans terulur.
Kubuka apa yang ada di dalamnya. Mata memicing, lalu membulat sebentar. Ada beberapa video syur koleksi Hans.
"Kamu suka nonton video begituan?"
"Ini juga gara-gara kamu," tudingnya.
"Kok, gara-gara aku?"
"Ya, kamu sibuk terus kerja. Pulang rumah tampak sekali capenya. Nempel bantal langsung pulas. Malah sering lembur pula. Jadi kebutuhanku tertahan-tahan. Terpaksa salurkan dengan cara sendiri."
"Ih ...." Aku bergidik.
"Tuh kan, aku dibully? Makanya selama ini tidak mau ketahuan."
"Enggak gitu juga kali. Ya, kamu tinggal minta, apa susahnya?"
"Tahu sendiri, aku mana tega bangunin kamu hanya untuk minta nganu."
"Ah, aku enggak percaya!"
"Terserah! Yang penting, aku sudah menjelaskan dan tidak mau pisah dari kamu."
"Ekhm. Terus pesan yang kudapat dari nomer tidak dikenal gimana?"
__ADS_1
"Mungkin hanya orang iseng. Sekarang kamu tidak pernah dapat pesan lagi 'kan?"
"Iya, sih. Kontaknya malah tidak pernah aktif."
"Nah 'kan! Udah jangan merajuk. Makin menggemaskan, deh!" Hans mencubit kedua pipiku.
"Eit, jangan pegang-pegang! Belum clear."
"Ya ampun, apa lagi?" Hans tepok jidat.
"Si Meti. Dia sampai kabur dan tinggalkan surat."
"Pasti gara-gara tempo hari."
Hans pun menjelaskan kalau pernah menangkap basah Hendra keluar dari kamar Meti diam-diam. Waktu itu, dia langsung menegur keras juga memberi peringatan.
Aku coba mencerna penyangkalan serta pembelaan dari Hans. Memang masuk akal. Tetapi, hatiku masih resah, tidak serta merta mempercayainya begitu saja.
"Oya, kalau ru--" Aku langsung tersadar.
Sebaiknya tentang ruang rahasia, untuk sementara pura-pura tidak tahu menjadi pilihan.
"Kalau apa?"
"Kalau sampai, kamu terbukti berkhianat, jangan harap akan dimaafkan."
"Ok, siap!"
Kepala berat dan terus berdenyut nyeri. Ada yang mengesalkan di lubuk hati. Menyadari satu ruang yang ingin terus terisi nama Hans, walau apa pun yang terjadi. Seolah menuntun mata menjadi buta, menuntun telinga menjadi tuli, menuntun akal menjadi bodoh.
**
"Mas, tolong belikan aku asinan Bogor," pintaku pagi-pagi.
"Asinan? Tumben. Ok, aku carikan nanti siang. Jam segini yang jual pasti belum buka."
"Tidak! Kamu harus berangkat sekarang."
"Lho, belum ada yang buka, Ayang."
"Siapa bilang? Beli asinannya harus beneran dari kota Bogor."
"Apa? Ke Bogor?"
"Ya. Pakai saja Pajero yang sudah aku belikan."
"Tapi, Yang, kena--?"
"Jangan banyak tanya. Anggap saja ini hukuman. Nanti sepulang aku kerja, asinan harus udah ada."
Dalam hatinya pasti bertanya-tanya. Tetapi, mukaku sangat serius. Biasanya kalau dibantah akan merajuk. Akhirnya, dia mau pergi juga.
Segitunya kamu cinta sama aku, Mas? Atau semua itu hanya pencitraan sebagai suami yang baik? Yang pasti, selagi Hans ke Bogor, aku akan menggeledah ruang rahasianya.
***
Terima kasih semuanya. Yuk dukung Author dengan cara follow dan like Ceritanya.🥰
__ADS_1