Noktah Hitam Perkawinan

Noktah Hitam Perkawinan
Kejutan Untuk Duo Laknat


__ADS_3

KB-11


Gerak cepat aku memasuki ruang rahasia yang tampak seperti gudang itu. Ada pintu terkunci menuju ruang lain. Kuyakin di ruang tersebut akan mendapatkan jawaban. Jika kubuka paksa, pintu pasti rusak dan meninggalkan jejak. Bagaimanapun harus menemukan kuncinya.


Kulihat sekeliling ruangan. Mencari keberadaan kunci pintu. Ada sebuah nakas tua dengan laci-laci. Lekas kuperiksa. Bibir menyunggingkan senyuman, tatkala mata menangkap apa yang kucari di salah satu laci. Terasa begitu Tuhan memberi kemudahan agar aku  mengetahui kebenaran.


Klik, kunci kuputar dan handle ditekan. Berhasil! Lha, jadi ini sebuah kamar juga? Kuedarkan pandangan ke ruang yang didominasi warna merah dan sangat rapi. Kesadaranku tersentak saat melihat tas yang kukira hilang ternyata ada di sini. Kudekati lemari kaca di mana tas bertengger. 


"Benar. Ini tasku." Aku berseru setelah memastikan. 


Selanjutnya meja rias mencuri perhatian. Dari make up yang berjejer, sudah pasti ini kamar perempuan. Jadi si Hans pelihara gundik di sini? 


Dug! Satu kenyataan kembali menghantam jantungku. Dipegangi dada yang berdenyut nyeri. 


"Haha ...." Lamat-lamat terdengar suara tergelak dari ruang lain.


Tunggu! Apa ini rumah ... Hera? Jadi Hans selingkuh dengannya melalui ruang rahasia ini? Berarti barang-barang yang ia pamerkan di medsos bukan hanya mirip, tetapi memang barang-barang milikku.


"Heh, dasar ******! Sekarang juga akan kuhabisi kamu!"


Dengan murka kuraih gagang pintu kamar menuju ke ruang di mana gelak tawa bersumber. Nyaris saja jantung melompat dari raga. Pun dengan mata yang terkesiap saat melihat sosok akrab menjadi lawan bicara tetangga ****** itu. Meti?? Kutangkup mulut agar tak mengeluarkan suara. Bersembunyi di balik dinding agar bisa menyimak apa yang mereka obrolkan.


"Met, kamu punya ide dari mana bisa mengkambing hitamkan si Dea?"


"Ya, idenya muncul gitu aja. Saat si Hans cerita kalau dia ternyata adik tirinya."


"Kamu memang cerdas."


"Meti gitu, lho."


"Iya, sampai si Salma enggak sadar kalau gundik suaminya justru ia pelihara. "


"Dia-nya aja yang bego. Percaya gitu aja sama surat yang kutinggalkan."


"Terus, si Hendra mau kamu apain?"


"Dia cuma cowok bodoh yang bisa dimanfaatkan."


"Keren! Kamu dan Hans emang sebelas dua belas. Kenapa kalian enggak jadi artis aja, sih? Kan jago akting."


Kedua tungkai ku terasa lemas. Getaran hebat hampir tak terkendali. Aku harus bisa menguasai diri. Jangan sampai luruh di sini. Bagaimana pun si Meti harus menerima pembalasanku. Lalu, anak siapa yang dikandung Hera?


"Mbak sendiri gimana dengan Pak RT? Kenapa kalian enggak nikah aja? Pak RT 'kan duda."


"Itu dia. Bilangnya selalu enggak siap. Padahal tetangga sudah mulai curiga."


"Ih, desak terus Mbak. Apa perlu aku turun tangan?"


"Jangan! Biar ini jadi urusan aku saja."


Drett ... terdengar bunyi ponsel bergetar.


"Ssttt ... Hans telepon," ucap Meti.


"Coba loudspeker! Aku mau dengar," pinta Hera.


Meti mengangguk cepat.


"Iya hallo, Bang, ada apa?"

__ADS_1


"Abang kangen banget."


"Ekhm, kangen apa butuh?"


"Kok, gitu?"


"Ya, Abang 'kan selama ini hanya butuh pemuas ranjang saja, karena istrinya payah."


"Kamu memang selalu memuaskan, tapi Abang juga cinta sama kamu."


"Alah, bohong! Buktinya sampai sekarang si Salma masih Abang pertahankan."


"Abang 'kan belum dapat kerja. Jadi kita masih butuh duitnya."


Astagfirullahaladzim, lelaki jahanam! 


"Bang cepat sini! Aku sudah tak tahan mau tempur." Nadanya merengek nakal.


"Nanti, Abang beli asinan Bogor dulu."


"Si Salma yang suruh?"


"Iya. Dia nyuruh ke Bogor langsung."


"Terus, Abang mau aja?"


"Ya enggaklah. Ini Abang lagi nunggu toko asinan buka. Tapi, bilangnya nanti ya, dari Bogor."


"Iya, si Salma 'kan bodohnya parah. Pasti dia percaya."


Isshh ... Ingin rasanya sekarang juga aku bejek-bejek tuh jelmaan siluman. Kurobek juga sungutnya yang asal mangap. Duh ... Sabar Salma! Aku mencoba menenangkan diri.


Kurasa apa yang telah didengar sudah lebih dari cukup. Sebelum isi kepala meledak, sebaiknya gegas pergi. Jangan sampai duo ****** itu menyadari keberadaanku.


*** 


Kutitipkan mobil yang biasa aku pakai di salah satu tetangga. Tentu saja mereka tidak keberatan, karena aku membayar. Bukan hanya itu, aku temui Ceu Lia dan kawan-kawan yang sering bergosip di warung. Mereka akan kuajak menonton sebuah pertunjukan gratis. 


Diam-diam, Kukembali ke rumah. Bersembunyi di kamar tamu yang Hans jarang mendatanginya. Cukup lama juga menunggu kepulangan dia. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba setelah satu jam. Terdengar derap langkah kaki memasuki rumah.


Aku mengintai dengan degup jantung yang tak karuan. Apalagi ketika Hans tampak tak sabar memasuki kamar. Untunglah dia tidak mengunci pintunya, jadi aku bisa leluasa masuk. 


Biipp ... Bahkan dia langsung menuju si gundik--bekas pembantuku melalui jalur rahasia itu. Pertempuran pasti akan segera dimulai sesuai janjinya tadi.


[Ceu, cepat! Tapi pelan-pelan, ya! Jangan sampai gaduh.] Kulayangkan chat dan langsung centang biru. Rupanya Ceu Lia dkk. sudah standby.


[Ok, Mbak Bos.] Balasnya.


Hanya menunggu lima menitan, Ceu Lia dkk. sudah berhasil menyelinap ke rumahku. Seterusnya mereka tinggal mengikuti aba-aba saja. Lekas kuajak mereka masuk kamar. Betapa terlonjaknya mereka saat ku perlihatkan sebuah pintu rahasia di dalam lemari.


"Wow, keren ini mah!" seru salah satu teman Lia.


"Sstt ..." Kutempelkan satu telunjuk di bibir.


Kami semua masuk ke ruangang yang tampak gudang. Saat sudah mendekati pintu yang tersambung dengan kamar si gundik, terdengar lenguhan menjijikan. Kuberi kode apa pun yang akan mereka lihat, sebisa mungkin jangan dulu bersuara. Sebab akan kurekam perbuatan laknat keduanya.


Kamera video sudah dalam keadaan on. Satu, dua, action. Kutekan handle pelan hingga daun pintu terbuka sedikit. Akan tetapi, bidikan kamera bisa dengan jelas merekamnya. Wanita murahan itu melebarkan ************ dan bermain lendir dengan lelaki jahanam.


Kedua tanganku terasa sedingin es, gemetarannya tak bisa berhenti. Dengan sigap Ceu Lia mengambil alih ponsel yang kugunakan untuk merekam sebelum terjatuh. Jantung terus berdegup kencang seiring darah yang mengalir deras dalam pembuluh. Kubiarkan sampai durasi tiga puluh lima detik. 

__ADS_1


Gubrak! Kudorong daun pintu sekerasnya. Kedua laknat di atas ranjang langsung menghentikan pergerakan. Spontan tubuhnya melonjak dengan mata membola. Ditariknya selimut untuk menutupi diri.


"Ayang?" seru Hans. Wajahnya pucat bagai mayat.


Kutunjukan power sebagai istri yang dikhianati. "Biadab kamu!"


"A-yang. Ini sa-lah pa-ham." Lucu! Sudah ketangkap basah Hans masih mau mengelak.


"Kesalahannya hanya satu. Selama ini aku bodoh sudah pelihara parasit yang tidak tahu diri." Sinisku dengan mata menyalak.


"Kamu memang wanita bodoh. Jadi jangan salahkan kami!" Meti buka suara.


"Diam kamu, Sundal!" bentakku.


"Suamimu selalu puas denganku. Salahkan dirimu yang memang enggak becus bermain ranjang." Meti berujar dengan entengnya. Bahkan ia cuek dengan keberadaan Ceu Lia dkk.


"Lancang kamu!" Darahku langsung tersirap kepala.


"Eh, ******! Sudah putus, ya, urat malumu?" Ceu Lia angkat bicara.


"Kalau enggak putus, mana berani ia layani suami majikannya," timpal teman Ceu Lia.


"Ya, pembantu makan majikan!" imbuh temannya yang lain.


"Jangan banyak bacot, ayo kawinkan saja kami! Kalian kan udah menggerebek," usul Meti.


"Bener-bener ya, ini ****** tidak tahu diri!" hardik Ceu Lia.


"Eh, ada yang emosi," ejeknya.


Kelakuan Meti sungguh membuat kami naik pitam. Ceu Lia memberi kode, aku sendiri tak mengerti. Tetapi, ternyata teman-temannya sigap. Mereka kompak menyerang pembantu tidak tahu malu itu. Meti teriak-teriak seperti orang kesurupan. Saat ada yang menjambak rambut, ada yang mencubit gemas pipi, ada yang mentoyor kepala, dan ada yang menjewer telinganya. Kelakuan bar-bar Ceu Lia dkk. sedikit menghiburku.


"Abang, tolong!" teriak Meti. Hans di sampingnya hanya melongo terkesima. "Abang, Tolong!" ulang dia.


Hans terperanjat dan hendak membantu.


"Mas! Berani kamu tolong si gundik, hancur hidupmu!" gertakku. 


Dia langsung memaku lagi dirinya. Heh, pengecut sekali lelaki yang selama ini selalu mengklaim dirinya akan selalu melindungi.


"Cukup!" perintah Ceu Lia kepada teman-temannya setelah si gundik kepayahan.


"Hahaha!" tawaku menggelegar seraya menunjuk-nunjuk si gundik yang tak ubahnya orang gangguan jiwa di pinggir jalan. Rambut awut-awutan, pipi bengkak, serta daun telinga memerah.


"Arghh!!" teriaknya dengan napas tersengal-sengal. Bibirnya mengatup kuat seraya tangan mengepal. Dua bola mata miliknya membulat menatap tajam ke arahku.


Kubalas tak kalah tajam. Memangnya kutakut apa? Kuberjalan menghampiri lelaki yang gelarnya akan menjadi mantan.


Plakk! Plakk! Kuhadiahi tamparan bolak-balik dengan kekuatan penuh sampai telapak tanganku sendiri terasa panas.


Hans pasrah, hanya memegangi kedua pipinya yang mengukir merah bentuk jemariku.


"Lakukan kepada gundikmu seperti yang sudah aku contohkan barusan!" titahku seketika membuatnya terkesiap.


"Tapi, Yang ...."


"Kenapa? Enggak bisa?" Dagu dan alisku terangkat sambil berkacak pinggang.


Hans memutar tubuhnya menghadap Meti. Kemudian ... Plakk!! Plakk!!

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti terus ceritanya. Peluk untuk Salma, yuk! 


Komen kalian semua memberi energi positif buat Othor 🙏


__ADS_2