Obsesi

Obsesi
Pengakuan dan bantuan


__ADS_3

Entah karna memang mereka seangkatan dan bahkan ada yang sekelas membuat mereka bisa sampai di tempat tujuan secara bersamaan


"wait gue tau nya Chastella pacar N, tapi kenapa turun dari mobil Nathan" pekik Revdian memecah keheningan, semuanya menatap ke arah ketiga remaja yang di bicarakan secara bergantian


"bukan nya yang harusnya lo tanyain tuh kenapa kalian semua ada di rumah gue" pekik Wira tak kalah heboh


"heboh lo berdua, mau ngajak tetangga tawuran apa gimana" Nathan menanggapi dengan malas


"diliat gimana pun Eneas, Nathan sama Chastella kombinasi yang lumayan menarik. threesome juga i**ncest" Chastella yang mendengar hal tersebut mencoba meraih rambut Alfred namun tak sampai karna tinggi badan nya, melihat Chastella yang kesusahan dengan segera Eneas meraih pinggang nya lalu mengangkat tubuh Chastella


Chastella yang mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba tentu saja terkejut namun sedetik kemudian dia menjambak rambut Alfred


"apaan threesome anjir, lo kata gue kupu-kupu" Chastella sudah turun kembali dan tetap berdiri dekat Eneas


"lo ulat sih"


"weh bro gue suka gaya lo" ucap Revdian lalu menepuk pundak Alfred


"ini pemilik rumah gak akan ngizinin tamu masuk? Walaupun tamu tak di undang juga" akhirnya Misaki buka mulut membuat seluruh perhatian beralih padanya, Wira awalnya ingin bertanya tentang kedua gadis yang dia tak kenal wajahnya namun dia mengurungkan niatnya, kemudian Wira membuka gerbang rumahnya dan mempersilahkan para tamu tak di undang masuk


Mereka semua memasuki rumah yang sangat besar dan mewah, di antara semuanya bisa di bilang keluarga Wira yang paling terdepan, bagaimana pun perusahaan kakek nya sangat sangat besar dan sukses


"orang tua sama kakak-kakak gue gak ada di rumah jadi gak usah sungkan" Wira mengajak mereka semua ke kamar nya, saat memasuki kamar lelaki tersebut Chastella dan ketiga temannya mematung melihat kamar tersebut


"kasih tau gue, keluarga gue juga bisa di bilang sangat cukup dalam segi finansial kan" ketiga sahabatnya mengangguk menjawab pertanyaan tersebut, bagaimana mereka tidak terpukau seluruh kamar menggunakan design game, kamar nya sebesar rumah pada umumnya, seperti gaming cafe segala macam game tersedia


"masuk" perkataan Wira memecah lamunan mereka yang baru pertama kali memasuki kamar nya


Tanpa mengambil suguhan di dapur kamar ini pun sudah tersedia mini freezer yang terisi penuh, pantas saja para adam itu senang berkumpul disini


"jadi sekarang jelasin ke gue, ini ada apa?" Chastella tak pernah melihat sosok laki-laki di hadapan nya yang bersikap serius, karna biasanya Wira adalah sosok yang konyol


"gue perkenalin dulu" -Chastella


"ini Alfred Lucretius, Misaki Kyoko, Ivona Yer Zamora" Chastella menunduk sahabatnya bergantian


"gue Chastella Pres Nathalie Gafianarzon" lanjut Chastella membuka kacamatanya lalu membenarkan poni nya yang sengaja di buat berantakan, Wira dan Revdian membulatkan matanya lalu beralih menatap Nathan


"Gafianarzon?" tanya Revdian memastikan yang diangguki oleh Nathan


"gue udah pernah bilang gue punya saudara kembar, gue udah tau kita gak mirip tapi kita 100% dari pabrik juga bahan baku yang sama" Nathan meyakinkan kedua temannya


"gue yakin ada maksud di balik ini semua kan, gak mungkin tiba-tiba mengungkap identitas" ucap Wira tak mengalihkan kedua netra nya dari Chastella menuntut jawaban, dia terlanjur penasaran


"tolongin gue" lirih Chastella, namun suara nya terdengar ragu


"lo yakin? kayaknya lo punya masalah yang gak sepele kan? lo harus minta tolong disaat lo yakin untuk cerita kronologi nya juga ke orang yang lo percaya, lo percaya bukan karna paksaan orang" jelas Revdian, Chastella menarik nafas nya dalam lalu menatap seluruh yang berada di kamar tersebut dengan tatapan yang yakin

__ADS_1


"tolong gue" kali ini tidak ada keraguan dalam perkataan nya


"gue udah cerita ini ke Nathan juga Eneas, sebenernya kalian bertiga yang mau pertama kali gue kasih tau tapi ternyata ngumpulin keberanian gak semudah itu, maaf" Chastella tak berani menatap ketiga sahabatnya, dia tau mereka kecewa


"seharusnya lo minta maaf setelah cerita tella, lagi-lagi lo ngelupain urutan nya" ucap Misaki


"kita semua juga tau kalau tella ada masalah tapi kita gak pernah nanya karna kita yakin tella pasti cerita sendiri" Ivona mengelus tangan Chastella


Chastella menarik nafas lalu mulai menceritakan seluruh kejadian yang dia hadapi di mulai dengan perselisihan nya dengan Atsume dan Hamaru, insiden kematian Atsume dan Hamaru, insiden kecelakaan ketiga sahabatnya hingga siapa pelakunya. Chastella hanya bercerita hingga kejadian saat dia masih di Jepang


Sepanjang cerita ketiga sahabatnya tak berhenti terkejut, bisa-bisa nya Lucifero melakukan semua itu


"wow brutal" ucap Wira setelah Chastella mengakhiri cerita nya, Eneas memberi air mineral kepada Chastella yang langsung di minum dengan tergesa-gesa, Eneas mengelus kepala Chastella


"jadi apa yang lo mau" tanya Revdian tanpa basa basi


"tolong gue, gue gak bisa ngehadapin dia sendiri, gue gak tau cara buat dia berhenti, gue takut makin banyak korban hanya karna gue. maaf gue tau ngelibatin kalian adalah hal yang sembrono karna mungkin kalian juga bisa jadi korban tapi gue udah gak tau harus gimana lagi, bahkan sampe detik ini gue masih inget gimana wajah membusuk nya Atsume yang tergantung, juga suara Hamura meminta tolong lewat telfone malam itu"


air mata yang sedari kemarin Chastella tahan akhirnya keluar dengan deras, Chastella benar-benar lelah menghadapi semuanya, mungkin untuk beberapa orang itu hal yang tidak seberapa tapi tidak untuk Chastella


Nathan memeluk kembaran nya seraya mengelus surai nya, memberi ketenangan yang luar biasa untuk Chastella, memang hanya kembaran nya yang sanggup membuat nya tenang


"Lucifero ada di Indonesia" ucap Eneas tiba-tiba, seluruh perhatian beralih padanya


"gak ada catatan perjalanan dia ke luar Jepang" -Alfred


"lo masih percaya dengan catatan? disaat dia bisa ngelakuin apapun yang dia mau, yah kalau dugaan gue pun salah berarti dia punya kaki tangan" mendengar perkataan Eneas, Chastella tampak berpikir


terasa nafas yang menghembus di telinga nya, nafas Chastella tercekat karna sebuah bisikan yang membuat nya menahan kata-kata yang akan ia keluarkan sebelumnya


"kakak... " pekik Wira melihat kakak nya yang saat ini duduk di kasur nya tanpa mengenakan busana namun menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut tebal milik Wira


tangan yang tadi memegang leher Chastella ternyata kakak sulung Wira yang terpaut umur 7 tahun dengan adik nya, saat ini ia melontarkan senyum manisnya dengan rambut yang berantakan, Aruna Putri Adiwinata.


tercium bau alkohol dari tubuh kakak nya, dengan segera Wira mengambil air mineral dan di berikannya pada Aruna


"haram kak mabok mabok" ucap Wira membalut kepala kakak nya dengan handuk, kebiasaan kakak nya saat pulang setelah sekian lama tidak ada kabar yang pertama kali dia cari adalah adik bungsu kesayangan nya, namun kepulangan nya kali ini karna dia sempat minum dia tak sengaja tertidur dengan telanjang di kamar adik nya, sungguh Wira khawatir jika ada yang melihat kakak nya pasti ada omongan tak enak


"kakak gak mabuk kok cuman minum sedikit" jawab sang kakak


"kenalin kakak gue Aruna Putri Adiwinata, omong-omong nama gue Wira Alexandro Adiwinata, ini Fahry Revdian, ini Eneas Gerald. biar sekalian aja" Wira menunjuk secara bergantian kepada Eneas dan Revdian


"kayak nya kalian lagi bahas hal yang seru, makanya kakak ketagihan nguping nya, sorry" Aruna melirik ke arah Chastella lalu mengelus pipi Chastella


"pikirin apa yang ku bilang, dunia lebih kejam dari yang kamu bayangin sayang" setelah berbisik hal tersebut Aruna beranjak keluar dari kamar adik nya dengan menyeret selimut yang masih membalut tubuh nya


"sorry yah kakak gue emang agak stress" -Wira

__ADS_1


"tadi apa yang mau tella omongin" Ivona memecah lamunan Chastella


"ahh anu sewaktu Eneas ke kantor polisi ponsel dia gue pegang, terus Lucifero nelfone ke no Eneas" jelas Chastella, namun jelas di mata Eneas bahwa Chastella sedang gugup


"apa yang dia omongin?" -Ivona


"tentang Fara hari itu"


"wahh gila, hebat banget blm ada 3 bulan tella pindah udah ada korban aja" ucap Misaki


"lo kembaran sahabat gue, lo juga cewek sahabat gue, gue bantu sebisa gue" ucap Revdian menepuk bahu Chastella


"thank you" ucap Chastella dengan senyum yang merekah di wajah cantik nya


"weh ternyata Chastella toh" ucap Wira saat mengingat polaroid di ponsel Eneas


"Chastella mending sama gue, Eneas banyak cewek nya" Revdian tampak menggoda Chastella, mendengar hal tersebut Eneas mendaratkan bogem nya tepat di perut Revdian namun tentu saja tidak menggunakan kekuatan pulang


"gue antar pulang" Eneas mengambil tas nya dan tas Chastella tak menghiraukan ringisan Revdian lalu beranjak keluar, Chastella hanya mengikuti Eneas


Sebelum keluar Chastella akhirnya bertanya "Wira, kakak lo kerja apa?" tanya Chastella


"gue juga gak tau, dia gak mau megang perusahaan kakek atau papih gue, dia juga gak mau megang rumah sakit punya keluarga mamih, padahal dia kuliah jurusan kedokteran tapi orang tua gue bilang dia bukan dokter. Katanya sih ada pekerjaan yang lebih dia nikmatin" Chastella akhirnya mengangguk lalu melanjutkan jalan nya, tak lupa teman-teman nya mengikuti mereka


saat sampai di lantai bawah terlihat Aruna yang sudah berpakaian rumah tengah berkutat dengan laptop nya, namun sedetik kemudian Aruna mengalihkan perhatiannya kepada Chastella, Aruna tersenyum manis lalu mengedipkan sebelah matanya


"kak kita izin pulang" -Revdian


"hati-hati kalian" seluruh teman Wira menunduk dan meninggalkan ruangan tersebut menuju parkiran


"besok kalau bisa kumpul di sini lagi sepulang sekolah, kalau ngaret gue hajar" ucap Eneas menekankan kepada seluruh temannya, terutama ketiga sahabatnya


"rumah gue terus, besok-besok kalian pindah aja kesini" Wira memutar bola matanya, namun di balas kekehan oleh teman-teman nya


"kita pulang"


.


.


.


saat ini Chastella tengah berdiri di balkon kamar nya memikirkan apa yang di bisikkan oleh Aruna


"hey, yakin kamu kasih tau semuanya? perhatiin baik-baik gimana kalau di antara mereka bertiga ternyata ada pengkhianat, apa yang akan kamu lakuin? gimana kalau kita bertaruh"


Chastella mempercayai ketiga sahabatnya sangat. namun setelah di pikirkan kembali bagaimana Lucifero bisa tau kalau saat itu Alfred akan menjemputnya

__ADS_1


bagaimana pun yang mencurigakan adalah Aruna karna dia seakan-akan sangat paham akan hal ini


karna belum banyak bukti Chastella tak mempercayai bahwa ada pengkhianat di antara sahabatnya, namun Chastella pun tetap waspada


__ADS_2